Menu
Menu

Tersedia pula/ Kupon tahan banting/ Berlaku/ Selama kekuasaan/ Belum terguncang// Dapatkan bonus stiker/ “hemat ala rakyat”/ ….


Oleh: Listio Wulan Nurmutaqin |

Penulis asal Brebes yang kini berdomisili di Bekasi. Buku puisi tunggalnya berjudul Tokoh Utama (Sastranomina, 2023). Pada 2024, salah satu puisinya terpilih dalam ajang Payakumbuh Poetry Festival. Ia aktif di komunitas sastra Kelas Puisi Bekasi, Penyair Berkarya (PB), dan berbagai ruang sastra offline lainnya.


Flashsale

Selamat datang
Di toko kami

Yang hanya buka
Lima tahun sekali

Silakan lihat-lihat
Produk unggulan kami:

Impian
Dengan cashback 90 persen
Berlaku
Untuk syarat dan ketentuan
Yang selalu dicetak
Kecil sekali

Realitas
Rusak pabrik
Tanpa garansi
Tak bisa dikembalikan

Kami juga punya
Promo cicilan
Untuk rasa percaya diri

Cukup bayar tiga kali
Lunasi dengan
Bunga kesepian

Tersedia pula
Kupon tahan banting
Berlaku
Selama kekuasaan
Belum terguncang

Dapatkan bonus stiker
“hemat ala rakyat”
Untuk pintu kulkas
Yang bersih
Dari isi

Di sudut rak
Tersedia paket bundling:

Minyak goreng
Beras lima kilo
Makan siang gratis
Dan satu undangan
Tersenyum
Di balik pencitraan

Jangan lewatkan
Flash sale janji kampanye
Yang cepat habis

Diborong influencer
Berwajah ramah
Pandai berjoget
Di depan kamera

Jika kamu kecewa
Jangan mengadu

CS kami
Sudah pulang lebih dulu
Dan chatbot kami
Hanya tahu
Satu kalimat:

“Terima kasih
Atas
Ketidakpedulianmu.”

Bekasi, 18 Mei 2025

.

Update Sistem

Negaramu
minta rakyat sabar

tapi sinyal
bantuannya
masih buffering

Dana bansos
kayak diskon di keranjang:
ada di layar,
hilang
pas dibayar

2025

.

Lampu

Harapan kami
lampu
ngedip
di malam
paling gelap

Nggak
pernah
mati

Tapi lampu itu
suka
ngambek

padam
pas surat
bayar
datang

Di kota ini
negara
jadi tukang listrik
yang kehabisan
kabel

Tapi
tagihannya
selalu
nyala

nyala

nyala

Bekasi, 18 Mei 2025

.

Lirisme Mengantre

Negeri ini antre
Di loket janji
Semua berharap
Giliran tiba
Tapi mikrofon
Selalu dipegang
Pejabat yang
Suaranya serak
Putus-putus
Kadang hilang koneksi

Seorang menteri bilang
“Keadilan sedang diproses.”
Tapi pengeras suaranya
Rusak
Sejak pulsa terakhir
Habis entah kapan

Hidup ini formulir
Tanpa ujung
NIK penghasilan
Golongan darah
Tapi kolom
Harapan kosong
Seperti dompet
Pas akhir bulan

Nasib kita mesin
Cetak KTP
Sering macet
Karena kertas habis
Mungkin dipakai
Cetak undangan
Makan siang gratis
Yang tak kunjung datang

Bekasi, 2025

.

Jika Ada Dua Matahari Kembar

Jika langit
Punya dua matahari,
Apakah bumi
Cium tangan dua kali?

Kupastikan konstitusi
Hanyalah bayangan panjang
Di tengah panas
Yang ganda.

Dan rakyat
Tak lagi tahu
Ke mana arah siang,
Karena semua sisi
Terbakar terang
Hingga akal sehat
Butuh SPF
Tinggi.

Siapa berani bicara
Di hadapan dua singgasana,
Apalagi cuma
Penyair biasa?

Di negeri ini,
Kadang cahaya
Lebih menakutkan
Dari gelap
Itu sendiri.

Bekasi, 2025

.

Efisiensi Anggaran Negara dan Daftar Belanjaan Para Menteri

Kita diminta
Hidup sederhana

Di negara
Sedang diet ini:

Mengurangi subsidi,
Menambah skema bantuan
Yang menguntungkan
Siapa saja
Selain
Yang butuh bantuan.

Menteri A
Memotong anggaran
Untuk rakyat,
Tapi menambah anggaran
Seminar

Dengan tema:
“Cara Mendengar Suara Miskin”
(biaya konsumsi:
Tiga kali UMR).

Menteri B
Mencoret
Program pangan,
Tapi membeli
Karpet merah baru

Untuk menyambut investor
Yang katanya
Akan memberi kerja
(tapi datang
Dengan kontrak outsourcing).

Menteri C
Menunda
Pembangunan sekolah
Demi studi banding
Ke luar negeri.

Belajar tentang sistem
Pendidikan Finlandia,
Sambil belanja
Mantel musim dingin.

Sementara rakyat
Belajar
Cara bertahan hidup

Dengan satu liter
Minyak goreng,
Dua belas
Utang kecil,
Dan doa
Yang panjangnya
Melampaui
Pidato kenegaraan.

Dan di tengah
Efisiensi
Besar-besaran,
Seseorang dari istana
Berkata:

“Kita semua
Harus berkorban,”

Kata seorang menteri
Dari balik
Mobil kaca dinas baru
Yang belum
Seminggu dibeli.

2025

.

Tata Tertib Dunia Ketiga

Di negeri kami,
Tata tertib tertulis rapi di buku pelajaran,
Tapi di gedung dewan,
Dicoret-coret sesuka hati.

Nomor satu
Jangan menyontek,
Kecuali saat bagi-bagi proyek.

Nomor dua
Datang tepat waktu,
Kecuali sidang yang molor
Karena rebutan kursi makan siang.

Nomor tiga
Berpakaian rapi dan sopan,
Seperti para koruptor tangan basah
Yang tampil seperti tokoh teladan
Dengan senyum paling menawan.

Disiplin diajarkan oleh yang nyalip antrean.
Karena aturan terpenting:
Keadilan,
Di sini, selalu bisa dinegosiasikan.

Bekasi, 2025


Ilustrasi: Building More Stately Mansions (Aaron Douglas), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua
Puisi-Puisi Surya Gemilang
Puisi-Puisi Alexander Robert Nainggolan


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

9 thoughts on “Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin – Selama Kekuasaan Belum Terguncang”

  1. Fe'i berkata:

    Haha, ngena banget puisi-puisi ini 🤣

  2. Rie berkata:

    Luv banget ✨

  3. Iyah berkata:

    Wow, menarik sekali. Sangat out of the box.

  4. adan berkata:

    luar biasa

  5. R. Bella Nurfadhillah berkata:

    Kata kata mudah dipahami dan di mengerti oleh pembaca pada saat waktu luang

  6. Celi berkata:

    Tulisan ini bagus. Menggunakan bahasa yg mudah di pahami pembaca.

  7. amelia berkata:

    wow puisi ini sangat menarik dan bagus di baca pas waktu luang

  8. adel berkata:

    sangat keren! kata-kata tersusun rapi dan mudah dipahami

  9. OCTAMA DWITANINGSIH berkata:

    kerenn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *