Menu
Menu

— jangan sentuh aku dulu, ini terlalu cepat. / — tentu tidak sekarang, manis. aku menunggu ibumu / lebih bahagia lagi. begitulah cara mainnya.


Oleh: Surya Gemilang |

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia telah lulus dari Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019), Icy Molly & I (novel, 2022), dan Mama Menelepon dari Neraka (kumpulan cerpen, 2023).


Ode untuk Kata-Kata Kasar

terima kasih kepada kata-kata kasar
yang tak mungkin kusebutkan satu pun di sini
yang tangan halusnya menyelamatkan
kepala atasan dari bogemku
kepala bawahan dari sol sepatuku
kepala teman dan keluarga dari pelorku
dan tangan lembut kata-kata itu
penuh kesabaran menggandengku
menjauh dari gerbang penjara
pun gerbang neraka

terima kasih kepada kata-kata kasar
yang tak mungkin kusebutkan satu pun di sini
yang ledakannya setia mengisi hati kosong
dan memelankan detak jantungku
mencegahku menyayat leher sendiri
lalu penuh sopan santun mengingatkanku
untuk terus menerima mereka
yang tak mungkin kuterima

terima kasih kepada kata
yang berawalan b dan berakhiran t
yang berawalan k dan berakhiran l
yang berawalan t dan berakhiran i
karena dengan kalian
yang cukup kuucapkan dalam hati
aku masih bertahan hidup
dan orang-orang lain masih kuizinkan hidup

(Jakarta, Desember 2023)

.

Musim yang Buruk untuk Berdoa

musim hujan bukan musim baik
untuk berdoa: kalimat-kalimat terbang
hanya untuk terempas ke bumi
dibawa hujan

mama yang bilang begitu

di musim hujan kalimat-kalimat terserak
di jalan, terseret ke selokan
hanyut di sungai bersama sampah dan tahi
dan sebaiknya kita hanya berdoa
di musim panas

tapi aku tetap berdoa di musim hujan
karena aku terbiasa berdoa

dan aku tak rugi:
suatu hari di musim panas
aku berlayar dan kapalku karam
dan mayatku terombang-ambing

tapi tak lama

doa-doaku di musim hujan
menunggu di laut
sebelum menguap
dan membawaku ke langit

(Jakarta, Desember 2023)

.

Maut Menunggu Waktu yang Tak Tepat

ketika ia nongol dari vagina ibunya
maut telah memantau dari balik pundak
perawat yang menariknya keluar

ketika ia menyesap puting ibu untuk pertama kali
maut berlutut di samping ranjang
mendekatkan wajah hingga napasnya
menyentuh pipi merah sang bayi

— jangan sentuh aku dulu, ini terlalu cepat.

— tentu tidak sekarang, manis. aku menunggu ibumu
lebih bahagia lagi. begitulah cara mainnya.

ketika ia pulang, ayah telah menyiapkan satu kamar
untuknya: dinding biru dengan gambar awan-awan
dan kawanan pelikan; ranjang bayi dengan ikan-ikan
mainan menggantung di atasnya; salib di dinding
dan maut tersenyum di bawahnya

— jangan sentuh aku dulu, jangan di sini.

— tentu tidak sekarang, manis. tapi mungkin nanti di sini.
atau entahlah, aku masih berpikir. mari kita tunggu ayahmu
mengeluarkan belasan, puluhan, ratusan juta lagi untukmu.
begitulah cara mainnya.

ketika tengah malam, ia menangis dan ibu memasuki
kamarnya, lalu menggendong dan meletakkannya
di tengah ranjang yang lebih luas, di antara pelukan
ayah dan ibu dan tatapan maut yang nakal

— jangan sentuh nanti, sekarang saja.

— tentu tidak sekarang, manis. aku menunggu waktu
yang paling tak tepat. begitulah cara mainnya.

(Jakarta, Desember 2023)

.

Via Suara

evolusi kami tak pernah mampir di pikiran para ilmuwan
evolusi kami, mentok-mentok, hanya mampir di pikiran penulis
fiksi sains yang entah dipuji atau ditertawakan

pendahulu kami tak pernah berhenti berjalan
lewat bersinmu, lewat ciprat ludahmu
lewat lukamu, lewat segala sentuhanmu

pendahulu kami hanya sembunyi sejenak
dari badai pahit pil
dari jarum-jarum suntik
sampai pelan-pelan—yang seolah tiba-tiba—lahirlah
jenis kami secara tak terduga

jenis kami melayang bersama halo
yang kau lontarkan ke tetanggamu
jenis kami melayang bersama aku cinta kau
yang pacarmu bisikkan atau teriakkan padamu

jenis kami menyebar bersama pengumuman, pengumuman
yang pak rt serukan lewat pengeras suara
jenis kami menyebar bersama selamat pagi, pemirsa
yang pembawa acara katakan di tv

dan tak cukup sampai di situ

kami menyusupi kupingmu bersama sambutan
yang vlogger itu ucapkan di awal video
bersama lirik lagu paling hit
yang musisi favoritmu lantunkan
bersama desas-desus samar
yang tak sengaja kau dengar entah dari siapa

ketika kau mulai tumbang
semua terlambat:

kami hadir bersama kata pertama
dari resepsionis rumah sakit
kami hadir bersama diagnosa-diagnosa
yang dokter ucapkan

dan ketika jalan satu-satunya hanyalah berdoa
kami menghantammu lewat allahu akbar
dari masjid terdekat

(Jakarta, Desember 2023)

.

Tabrakan Brutal

di perempatan itu, lampu lalu lintas korslet
dan kata-kata bertabrakansecarabrutaldar!dar!dar!
semuaterlukaparahsulitterbaca

beberapakatamengalami   patah tu
                                    l
                                    a
                                    n
                                    g
bebera  pa kata ters  e  r  a  k  angg  ot a
         t
                      u
            b
   u
                             h
                      n
         y
                          a
hngga bbrp kta taklg mnja di kta

dan ambulans tiba
kata demi kata pun dibawa ke rumah sakit

tak sedikit dari mereka yang ingin bunuh diri
karena kata yang tak terbaca tak lagi ada artinya
tapi tak sedikit juga yang menerima kenyataan
karena, toh, meski kecacatan bersifat permanen
mereka msih mmpnyai a
                         r
                         t
                         i
mrka mash bs dpahmi

(Jakarta, Desember 2023)

.

Apa yang Bisa Puisi Lakukan?

puisi cuma pria tua dengan sebelah kaki ditelan ranjau
dan kantuk mengayun pelan kursi goyangnya
lalu ketakutan membakar ruang dalam mimpinya

puisi cuma wanita tua dengan doa setiap malam
agar almarhum anaknya pulang dengan selamat
dari medan penuh peluru melesat

demikianlah kenapa puisi tak mampu menolong kau
mendapatkan pujaan hatimu
apalagi meruntuhkan rezim itu
memberimu makan tiga kali sehari
apalagi membuatmu dikenang abadi

puisi cuma orang tua
yang tak bisa lagi kau harapkan
—atau sekilas terkesan begitu

tapi percayalah
orang tua dalam belenggu trauma
dalam satu atau dua kesempatan
mengalirkan cairan emas dari sudut matanya

(Jakarta, Desember 2023)


Ilustrasi: Angel of Death (Horace Vernet), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Oliena Ibrahim – Hari-Hari adalah Perkabungan
Puisi-Puisi Ama Gaspar – Berita Bahagia yang Tak Pernah Lengkap
Puisi-Puisi Gody Usna’at – Semografi


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *