Menu
Menu

Kompleksnya bangunan naratif sekaligus bangunan makna dari Malam Seribu Jahanam membuat Boy berpikir bahwa memang Intan adalah seorang pembelajar.


Oleh: Beato Lanjong |

Pustakawan Klub Buku Petra.


“Kita akhirnya tiba di malam seribu jahanam,”  demikian moderator kami, Lolik Apung membuka bincang buku ke-58 di Klub Buku Petra. Ada yang tertawa dan ada yang merasa aneh dengan sapaan pembuka tersebut. Namun sapaan itu menjadi masuk ketika novel yang dibincangkan adalah Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha; novel yang berkisah tentang tiga perempuan/tiga dara yang memiliki beban sekaligus tanggung jawab memori kolektif dalam rupa ramalan nenek Victoria. Ketiga tokoh meniti jalan yang berbeda untuk keluar dari ramalan, tetapi justru menyeretkan mereka dalam pusaran ramalan yang tak terelakan.

Bincang Buku yang dilaksanakan di Perpustakaan Klub Buku Petra pada hari Sabtu, 25 November 2024 itu adalah bagian dari kerja sama Klub Buku Petra dengan Gramedia Pustaka Utama.

Bersama novel Malam Seribu Jahanam itu, kami membagikan pergulatan perihal rumah dan keluarga, tentang kisah horor, feminisme dan identitas.

Rumah dan Keluarga

Mutiara, Maya, dan Annisa adalah tiga dara yang berjuang menyingkap tabir ramalan sang nenek. Boy Doreng yang malam itu bertindak sebagai pemantik, datang membantu mereka, sekaligus membantu peserta lain untuk mengerti ramalan tersebut. Novel itu dibacanya selama empat hari. Ia juga menggali bacaan-bacaan lain tentang Intan Paramaditha.

Pertama, Mutiara, si anak sulung diramal akan menjadi penjaga. Sebagai penjaga ia akan senantiasa berjaga-jaga, hidup di antara dua dunia, cemas sekaligus berani, maju sekaligus mundur, hidup sekaligus mati.

Bagi Boy, secara sosial, Mutiara adalah gambaran anak sulung kaum kelas menengah yang bekerja keras sambil memikul tanggung jawab sebagai anak sulung. Sementara, Arsy Juwandi melihat karakter ini merupakan konstruksi sosial yang dikonsumsi anak-anak sulung dalam masyarakat. Posisi sebagai anak sulung kadang membuat Mutiara merasa perlu memastikan kehidupan semua orang. “Padahal sebenarnya anggota keluarga yang lain tidak membutuhkan hal itu,” ujarnya.

Kedua, tokoh Maya, putri kedua yang dalam ramalan nenek akan menjadi pengelana: Kau di perahu, bersama buku-buku. Sebagai pengelana, hidup Maya lebih banyak dihabiskan dalam perjalanan mengelilingi dunia. Berjalan. Transit. Berjalan lagi. Dalam perjalanan itu ia berjumpa dengan manusia dan pemikiran-pemikiran baru. Perjalanan membuatnya berbeda dari kedua saudaranya. Menurut Boy yang membuatnya menjadi pengelana adalah karena Maya tumbuh sebagai anak yang dibesarkan oleh neneknya, bersama Rohadi, anak dari pembantu sang nenek.

Boy melihat perjalanan “ke luar” membuat Maya akhirnya mampu melihat rumah dan keluarga dari sudut pandang orang luar. Ia mengkritik Mutiara yang menjadikan agama sebagai pelarian dari realitas sosial yang menindas. Meski demikian, lanjut Boy, Maya juga dibayang-bayangi ramalan sang nenek. Karena itu, ia gelisah dan bersedih ketika mendengar Annisa benar-benar menjadi pengantin, menjadi pelaku bom bunuh diri. Kejadian ini membawanya pulang di bawah bayang-bayang kematian Annisa: kembali ke rumah sebab aku telah terlalu lama berlari. Apakah pulang sedemikian buruk?” (hal.66).

Boy mengutip catatan Eat, Pray, Love, yang mengatakan bahwa “journey is the vehicle of the eternal journey, perjalanan keluar adalah kendaraan menuju ke dalam diri.” Lolik Apung menafsir hal tersebut sebagai suatu pilihan yang diupayakan tokoh Maya untuk menentukan arah perjalanannya kemudian: “Pulang kepada kebebasan atau pulang pada ikatan.” Hal ini juga yang kemudian membuat Maya bertukar posisi dengan kakaknya.

Bagi saya, tokoh Maya berhasil membalikan ramalan nenek Victoria. Gambaran nenek di kepala Maya “sering sok tahu” (halaman 66). Maya tidak menginginkan seorang yang “sok tahu” itu memengaruhinya. Sedangkan Boy melihat perjalanannya itu sebagai sebagai perjalanan revolusioner yang dimulai ketika ia berjumpa dengan Rosalinda, atau yang pada awal cerita dikenal sebagai Rohadi.

Tentang tokoh Rohadi yang kemudian menjadi Rosalinda ini, Armin Bell berkomentar: “Haehh, Rohadi masih ada ternyata.” Ia sempat berpikir bahwa Rohadi akan hilang. Transformasinya menjadi Rosalinda dan beberapa detail lain dalam Malam Seribu Jahanam membuat Armin berpendapat bahwa Intan Paramaditha adalah salah satu penulis yang tahu memanfaatkan semua instrumen dalam cerita yang dia buat.

“Tidak ada tokoh  yang disia-siakan. Dia tampak adil sebagai penulis, karena dia menciptakan tokoh dan tokohnya ‘dimanfaatkan’, diberi ruang untuk bicara” lanjutnya sambil mengingatkan peserta Bincang Buku Petra malam itu tentang “Klub Solidaritas Suami Hilang”, cerpen Intan—cerpen terbaik pada Kumpulan Cerpen Kompas 2013—yang juga menampilkan ‘keadilan’ yang sama.

Tokoh ketiga, Annisa, putri bungsu kesayangan ayah. Bagi Arsy, kasih sayang berlebihan sang Ayah malah menjadi bumerang bagi si bungsu, sehingga menjadi masuk akal ketika Annisa melakukan hal-hal yang tidak diketahui keluarga. Bungsu merasa di dalam keluarga, dia tidak mendapat tempat untuk membagikan persoalan. Relevansi pertanyaan ini bagi Arsy adalah bisakah kita menjadi telingga untuk anggota keluarga lain? Dalam cerita, “Intan menggambarkan semua anggota keluarga seolah menjadi mulut, tidak ada yang menjadi telinga,” ujarnya.

Boy membaca hal lain yang ia sejajarkan dengan cerita lain yang diambil Intan dalam novel ini yaitu kisah tentang King Lear sebuah drama karya William Shakespeare. Bagi Boy, Annisa adalah Larat, Cordelia putri bungsu king Lear. Bedanya, sekalipun jujur tentang sikap setelah menikah, Cordelia dibuang Raja Lear, sedangkan Annisa tetap dicintai bahkan hingga detik-detik sebelum ia menjadi pengantin. Namun, nasib keduanya berakhir tragis, Cordelia dibunuh sedangkan Annisa bunuh diri. Bagi Boy, Annisa sebagai tokoh yang memilih jalan kekerasan memiliki intensi dasar untuk mengkritik dan melawan materialisme, sekularisme, dan modernisme.

Kepandaian Intan megubah kisah-kisah lain seperti kisah Raja Lear dalam novel ini disebut Kaka Armin sebagai strategi yang menyenangkan: pembaca terhubung dengan banyak teks tetapi teks-teks itu tidak dipakai selurusnya. Intan mengubah karakter tokoh, intensi, dan nasib para tokoh. “Intan merujuk cerita lama tanpa mewajibkan kita harus mengetahui cerita itu. Ini berbeda dengan beberapa penulis yang merujuk cerita lama tetapi seperti mewajibkan kita membaca cerita terdahulu itu agar bisa masuk dalam cerita baru. Dalam Malam Seribu Jahanam, ada yang bahkan tidak pernah membaca cerita yang “diambil” Intan, tetapi kita mampu memahami novel ini secara utuh,” ucap Kaka Armin.

Apakah Kisah ini Menakutkan?

Membaca karya Intan Paramaditha, bagi Maria Pankratia adalah seumpama memasuki dunia horor. Intan selalu berhasil membangkitkan rasa takut sekaligus magis dari setiap ceritanya. Ini adalah novel dengan genre horor lain dari Intan. Karya-karya horor lain sebenarnya sudah muncul di beberapa cerpen Intan seperti dalam Budak Setan, kumcer keroyokan Intan Paramaditha, Ugoran Prasad, dan Eka Kurniawan.

Tendensi horor ini oleh beberapa peserta dinilai sudah muncul dari bentuk dan warna cover novel. Nadya menemukan ilustrasi ‘seperti kuntilanak’ pada bagian atas sampul novel ini, yang menghubungkannya dengan Rosalinda; Rosalinda yang datang kembali untuk menagih hutang darah dari keluarga itu. Ia seperti hantu masa lalu yang datang kembali setelah peristiwa berdarah yang dialami Annisa. Ia datang sebagai penuntut; mengintimidasi Mutiara dan Maya yang tidak memperhatikan adik mereka, Annisa. Namun demikian bagi Nadya membaca kisah ini seperti membaca sebuah “kejadian tragis yang tidak traumatis” dan sebuah kisah yang “menyenangkan meski gelap”.

Sampul buku ini menjadi perhatian saya juga. Ada gambar air mata (seperti gambar watermark) di bagian pojok kanan. Gambar mata ini rupanya hanya ada pada sampul buku milik saya. Tidak pada peserta lain. Kami kemudian mendapatkan informasi dari Mirna Yulistianti, selaku penyelia naskah novel ini, jika Wulang Sunu, desainer sampul novel ini merasa dirinya seperti sedang diawasi saat mengerjakan sampul novel. Mbak Mirna juga merasakan hal yang sama ketika membaca buku ini dan indikasi itu sedikit didapatnya dari frasa “jangan lihat” yang diulang sebanyak enam kali.

Nada horor itu bisa didapat pembaca melalui cerita mitos. Mitos kucing hitam misalnya. Anabul yang ditemukan Mutiara, atau lebih tepatnya menghampiri Mutiara itu dianggap sebagai tanda bahaya. Kucing itu kemudian diberi nama Laila sebab ia datang di malam di bulan Ramadan; Lailatulqadar: malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Kucing ini menurut para tetangga adalah kucing pembawa sial.

Mitos kucing hitam mendapat perhatian dari peserta lain.  Retha Janu menemukan jika mitos kucing hitam tidak selamanya penanda malapetaka. Dalam beberapa kepercayaan, seperti di Jepang, kucing hitam dianggap sebagai tanda pembawa keberuntungan. Bukan kebetulan juga jika menurut Arsy, Intan adalah seorang yang menyukai kucing.

Membicarakan Feminisme dan Hal Lainnya dalam novel Malam Seribu Jahanam

Kalimat pembuka dari novel ini bagi Boy semacam manifesto: “Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa. Entah apa yang mengendap di kepala adik kita, yang tak buruk rupa maupun revolusioner, saat ia melilitkan bom di pinggang dan meledakkan tubuhnya.” Ada pertanyaan yang muncul dari Boy: Apakah ini merupakan caranya untuk membongkar gambaran perempuan yang tidak mungkin melakukan tindakan revolusioner seperti dalam cerita Cinderella karena bila demikian maka akan bertentangan dengan gambaran dirinya yang cantik, anggun, patuh, dan taat sebagai pendamping seorang raja. “Revolusi hanya ada dalam pikiran orang-orang yang tertindas sebab mana ada orang kaya rupawan menginginkan perubahan?” (hal. 64).

Bagi Boy, hal di atas adalah upaya penulis menjungkirbalikkan berbagai mitos besar yang melanggengkan patriarki, kekuasaan, dan dominasi laki-laki atas perempuan; yang dalam banyak hal mewujud dalam UU Pornografi dan UU Tindak Kekerasan Seksual. UU ini tidak memberi tempat pada kaum LGBT. Mereka sering menjadi sasaran diskriminasi entah itu kelompok beragama maupun masyarakat umum.

Kisah Rohadi, misalnya. Rohadi yang menjadi Rosalinda, bagi Boy, adalah tokoh revolusioner yang ingin mengkritik wajah agama sekaligus wajah masyarakat (negara). Kompleksnya bangunan naratif sekaligus bangunan makna dari Malam Seribu Jahanam membuat Boy berpikir bahwa memang Intan adalah seorang pembelajar yang memiliki wawasan luas yang menjadikannya sebagai seorang penulis, akademisi, dan aktivis.

Karya-karya Intan banyak dipengaruhi oleh sastra dan literatur Inggris tentang postkolonialisme maupun feminisme. Hal ini pada tataran selanjutnya memampukan Intan untuk membaca dan menafsir ulang mitos, dongeng, dan cerita sihir. Tulisan Intan dalam berbagai bentuk adalah upaya membumikan dan membongkar wacana dan mitos, menggugat kekuasaan dan dominasi, lalu melakukan resistensi.

Dalam konteks Indonesia, resistensi itu terjadi melalui dua jalan, membongkar mitos patriarkat dan mencari serta membangun rumah bagi feminisme dan kelompok marjinal, liyan (the other). “Membaca buku ini seperti membaca perkembangan feminisme di Indonesia sebagai gerakan post-otoritarian,” ungkapnya.

Pertama, Mutiara sebagai Penjaga. Relasi Mutiara dan Ayahnya yang tua dan sakit-sakitan sebagai bentuk perlawanan feminis melalui kuasa modal. Modal ekonomi karena Mutiara menjadi tulang punggung keluarga. Krititik terhadap tokoh Ayah sebenarnya adalah gambaran dari rezim Orde Baru, yang mengkampanyekan bahwa negara adalah sebuah keluarga, dan bapak punya kuasa penuh untuk melanggengkan kekuasaan. Sebuah upaya kritis yang dibaca Boy sebagai upaya melawan konsep state-motherism, atau ibuisme negara. Mutiara memilih menjadi wanita karir ketimbang menjadi istri, yang memilih memelihara kucing ketimbang anak-anak, dan saat bersamaan seorang pribadi religius yang taat. Karena itu, ia bimbang ketika ditanya perihal nasib Gibran, anak Annisa. Bukankah itu sesuatu yang kontradiktif? Mengapa Mutiara enggan untuk menikah? Apakah karena ia memilih untuk fokus memelihara keluarga, ayah-ibu? Sebab menikah adalah meninggalkan keluarga menuju keluarga baru, seperti Annisa. Apakah karena ia hendak berbakti kepada sang ibu yang selalu bilang cari uang sebanyak-banyaknya dan jangan bergantung kepada siapa pun: Muti anak mama. Harus kuat. Harus bisa cari uang sendiri?” Atau apakah ada sesuatu yang membayangi kehidupan Mutiara yang membuat dia berpikir untuk tidak hidup bersama laki-laki? Ataukah sebaliknya, tidak menikah adalah cermin resistensi sosial yang tampak dalam komentar om dan tanta yang selalu bertanya perihal kapan kamu menikah?

Pada perhentian terakhir, Mutiara memilih untuk pergi ke luar, meninggalkan rumah Victoria dan rumah orang tua, membuka lembaran baru. Tapi dia tetap terbayang oleh kegagalan menjaga Annisa, adiknya. Ia tidak berjalan sesuai dengan ramalan nenek Victoria, menjadi penjaga bagi adik-adiknya dan rumah. Ia “melawan” ramalan neneknya dan memilih untuk tetap menjadi penjaga untuk dirinya sendiri. Ia pergi ke negeri lain untuk “keluar” dari bayang-bayang mama, keluarga, dan rumah. Aku menempuh jalan yang tak dipilih ibu: terus hidup dengan bau busuk yang kututup dengan kerudung.

Kedua, Maya Pengelana. Maya sebenarnya mendambakan rumah dalam diri Nadir, lelaki yang tengah dekat denganya. Namun Rosalinda mengingatkannya untuk tak berpikir tentang rumah (simbol lelaki). Nadir di hadapan Maya dan istrinya dibikin jadi bingung apakah harus memilih Maya atau istrinya?

Tentu saja, ada sisi berbeda dari ketiga adik-kakak ini. Bagi Erni Adar, Mutiara adalah sosok yang mandiri dan keras; sedangkan tokoh Maya masih berkutat seputar pencarian jati diri, berkelana, dan ingin bebas dari hal-hal yang mengungkung; dan Annisa, adalah model perempuan yang menyembunyikan diri. Terkadang pandangan masyarakat tentang perempuan seperti Annisa adalah mereka baik-baik saja. Tetapi ternyata perempuan-perempuan seperti itulah yang mempunyai banyak perang dalam dirinya. Tentang Annisa, bagi Boy, si bungsu ini tokoh yang melambangkan pengorbanan akan idealisme tentang gerakan pembebasan perempuan. Annisa merupakan gambaran seseorang yang menyimpan dendam dan amarah dengan cara yang rapi sembari menunggu saat untuk memberontak. Pertanyaannya, bagaimana pembaca dapat menafsir feminisme Intan dan apakah ada male-feminism yang dia bangun dalam novel ini?

Menurut Armin beberapa tulisan Intan seolah berintensi mematikan laki-laki atau mengubah laki-laki menjadi perempuan; Rohadi diubah menjadi Rosalinda.  Ada kesan bahwa Intan tidak percaya revolusi feminisme bisa dilakukan laki-laki. Fahri, suami Annisa tunduk pada Annisa; atau Rohadi yang muncul sebagai laki-laki di awal cerita, lalu dalam perjalanan menjadi tokoh yang berpengaruh gara-gara ia sudah mengubah namanya menjadi Rosalinda. Laki-laki yang melakukan kesalahan harus mati atau harus bingung atau dirubah.  Bagi Armin, hal-hal itu seperti serangan yang tidak adil; apakah ini semacam konsep berpikir para pegiat feminisme perempuan yang suka atau tidak suka lahir dari dominasi yang amat lama oleh patriarki.

Menimpali ini, Arsy berkomentar jika tidak selamanya jika perempuan menomorduakan laki-laki ketika membahas perempuan. Bagi Lolik, mungkin benar laki-laki dominan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak determinan. Perempuanlah yang menentukan segala hal, dari sudut yang tersembunyi. “Mungkin feminisme tidak selamanya berproyeksi untuk meruntuhkan dominasi laki-laki, ia cukup berada di sisi tersembunyi tetapi kehadirannya menentukan,” lanjut saya. Maria yang mengenal Intan secara personal juga merasa Intan tidak anti laki-laki dan justru karena feminisme itu adalah topik yang rumit dan luas, laki-laki mesti terlibat di dalamnya.

Selain membicarakan feminisme, identitas turut diulik para peserta. Ini bermula dari pertanyaan Boy tentang nenek Victoria; mengapa ia mengambil nama Victoria binti Haji Tjek Sun. “Apakah itu menandakan sesuatu? Misalnya genealogi sejarah bangsa Indonesia? Yang dimulai dengan penjajahan barat yang diwakili Victoria, lingkaran agama Islam yang diwakili ‘binti’ dan Tionghoa yang diwakili Tjek Sun?”

Novel ini di ujung acara mendapat bintang empat. Para peserta membincangkannya dalam waktu dua jam tujuh menit. Semuanya tampak puas dengan karya ini. Terima kasih Intan Paramadihta. Sampai jumpa di bincang buku berikutnya.[*]


Program Bincang Buku Petra ke-58 ini didukung oleh Gramedia Pustaka Utama.

Baca juga:
Karavansara, Bicara Relasi Homoseksual Tanpa Menuliskannya
Kereta Semar Lembu, Kereta Ingatan


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Kita Akhirnya Tiba di Malam Seribu Jahanam”

  1. Vi C berkata:

    Menarik dan bagus

  2. Abdulazisfarhan berkata:

    Saya sangat suka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *