Karavansara, Bicara Relasi Homoseksual Tanpa Menuliskannya
14 September 2023| | 0 CommentOrientasi seksual para tokoh dalam Karavansara hampir menjadi topik yang dibicarakan oleh semua peserta Bincang Buku Petra.
Oleh: Nadya Tanja |
Anggota Klub Buku Petra, Ruteng.
Bincang Buku yang ke-51 berlangsung pada tanggal 1 April 2023 di Perpustakaan Klub Buku Petra. Novel Karavansara karya Rio Johan berhasil menarik 16 orang pembaca pada malam itu. Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini hadir cukup petite dengan 46 halaman bersampul khas cerita 1001 malam. Novel yang terbilang tipis ini justru berhasil memantik api diskusi di antara peserta. Karavansara adalah salah satu novel yang disiapkan oleh Gramedia sebagai bagian dari kerja sama Klub Buku Petra dan Gramedia Pustaka Utama tahun 2023 ini.
Secara garis besar novel ini menceritakan kisah perjalanan saudagar kaya yang bernama Tuan Babak dan rombongannya (Surin, Shirin, dan Shazad) melintasi jalur dagang di Timur Tengah. Jika hari sudah malam, rombongan itu akan beristirahat di sebuah karavansara, yaitu sebuah penginapan tradisional, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain. Inti cerita yang berada di dalam karavansara-karavansara inilah yang membuat peserta bincang buku menggebu-gebu mengungkapkan hasil pembacaannya.
Meski beberapa peserta berusaha menemukan kelemahan kepengrajinan dari gaya mengarang Rio Johan, tampaknya hal itu membutuhkan energi dan ketekunan tingkat tinggi. Karena itu hampir semua hasil pembacaan berbicara tentang tema yang membingkai isi seluruh novel. Pembacaan-pembacaan itu akan saya rangkum dalam perjalanan kepengrajinan Rio Johan dan tema hubungan sesama jenis, homoseksual, sebagai relasi yang normal.
Perjalanan Kepengrajinan
Tentang karya ini, Lolik Apung yang bertugas sebagai pemantik menemukan adanya ketimpangan relasi antara penokohan Tuan Babak dan Tokoh Surin sebagai narator. Menurutnya pihak lemah yang menjadi narator menyebabkan suara narator hampir sama besarnya dengan kefiguran Tuan Babak. Tuan Babak yang diceritakan sebagai seorang laki-laki kaya dan berkuasa membuat Lolik hampir kehilangan gambaran tentang tokoh antagonis dan protagonis. Efek dari hal ini adalah ambiguitas nilai seputar hubungan sesama jenis. “Gaya kepengrajinan Rio Johan menggambarkan bagaimana pandangan dunia tentang relasi homoseksual, yaitu perdebatan tak berujung tentang apakah relasi ini normal atau tidak,” ujarnya.
Kehebatan Rio Johan bisa jadi terletak pada kesadarannya untuk menulis apa adanya tentang kenyataan perdebatan itu. Hal ini disadari oleh Maria. Buku ini menurutnya berbeda dengan buku-buku terdahulu dari Rio Johan. Buku ini membuatnya nyaman, mengejutkannya beberapa kali melalui banyak istilah baru, gaya yang lebih lugas, dan cerita-cerita yang segar dan masuk akal. Ia sangat menyukai penggambaran tempat jalur sutra terutama interior karavansara milik Tuan Babak. “Sangat menarik membayangkan ruangan segi delapan dengan jendela yang banyak, dan lampu-lampu berwarna warni yang bergantungan,” ujarnya.
Seperti itulah kira-kira buku ini berhasil disukai pembaca hingga pada cerita tentang masa lalu Tuan Babak yang menurut Armin Bell terlampau dipaksakan: bahkan jika bagian itu tidak dimasukkan, Karavansara akan tetap berjalan dengan baik. Novel ini menurutnya adalah novel yang baik dan masuk akal, sampai pada saat Rio Johan mulai bercerita tentang relasi masa lalu Tuan Babak dengan ayahnya agak mengganggunya. Namun bagi Yuan Jonta, kepandaian Rio Johan menyamarkan tema relasi homoseksual membuat kelemahan-kelemahan dalam cerita yang dianggap mengganggu bisa ditutupi.
Satu-satunya kelemahan dari novel ini menurut Afin adalah jumlah halamannya yang terlalu sedikit. “Rio Johan berhenti ketika semua orang penasaran dengan kisah yang terjadi selanjutnya. 45 halaman terlalu sedikit untuk tema sebesar ini,” ujarnya.
Relasi Homogen sebagai yang Normal
Orientasi seksual para tokoh dalam Karavansara hampir menjadi topik yang dibicarakan oleh semua peserta Bincang Buku Petra. Para peserta berusaha mencari tahu dan merenungkan faktor-faktor yang membentuk orientasi seksual pada seseorang.
Lolik menyimpulkan bahwa berubahnya orientasi seksual seseorang sebagian besar disebabkan karena pengaruh lingkungan: Tuan Babak karena tindakan pelecehan sang ayah sewaktu kecil; demikian juga Shazad dan tokoh utama. Tokoh utama yang bernama Surin mulai berorientiasi homoseks setelah melihat Tuan Babak dan Shahzad tidur sekamar dalam perjalanan pertama mereka dari Shiraz menuju Ishafan (hal. 5).
Pada awal-awal pembacaan, sebagian besar peserta merasa bingung dengan gender dari Surin, sang tokoh atau narator utama, sebab bagi beberapa peserta Rio Johan menjabarkan perilaku Surin yang terkesan ambigu. Di satu sisi, ia menyertakan petunjuk maskulinitas pada Surin (berjaga malam, pujian Tuan Babak atas ketampanannya, dll) tetapi di sisi lain, ia menceritakan pencirian feminin (malu-malu pada Shahzad, kagum pada tubuh Shahzad yang berotot).
Seorang peserta mahasiswi dari Unika St. Paulus Ruteng yang bernama Nia, harus membaca buku ini dua kali untuk memastikan jika Surin adalah laki-laki. Demikian juga dr. Ronald. Ia sempat terkecoh dengan sisi feminin tokoh Surin sebelum memastikannya dengan membaca ulang-ulang. “Bisa jadi ini adalah strategi Rio Johan untuk menggarisbawahi tema relasi homoseksual yang kerap menimbulkan pro-kontra dan membingungkan semua orang,” ujar Arsy.
Saya sendiri dan peserta lain yang bernama Febry Djenadut meyakini bahwa Surin memiliki orientasi seksual gay sejak awal. Hal ini terindikasi dalam perdebatan sengit antara Surin dan Shirin tentang siapakah yang selalu dilirik oleh Tuan Babak saat awal perjumpaan mereka di Kedai paling mewah di Shiraz ketika mereka menyantap sup delima dan daging domba (hal. 2).
Saya berpendapat: “Bila Surin tidak memiliki kelainan seksual, ia tidak mungkin merasa ada tatapan khusus dari Tuan Babak kepadanya.” Febry memiliki pandangan yang senada. “Surin jelas menyukai Shahzad, karena Surin menyukai saat Shahzad memandangnya, dan berfokus pada ekspresi Shahzad saat digarap oleh Tuan Babak,” kata Febry.
Maria dan Ajin menuturkan faktor-faktor yang menurut mereka menjadi latar belakang orientasi seksual Surin.
“Surin dan saudarinya adalah yatim piatu yang hidup di jalanan tanpa role model atau orang dewasa yang menjadi panutan sebelum bertemu dengan Tuan Babak. Di usia akil balignya, Surin menyaksikan secara langsung hubungan badan antara Shahzad dan Tuan Babak, sehingga tanpa disadari Surin mendambakan hal itu terutama bagi dirinya yang tanpa pengalaman seksual,” kata Maria.
“Tokoh Surin tidak mempunyai pengalaman berkenalan dengan perempuan lain selain saudarinya, Sirin. Usia yang masih remaja, perasaan yang menggebu-gebu, dan dalam proses pencarian jati diri membuat Surin jatuh dalam ilusi romantis saat mengalami pengalaman pertamanya menyaksikan hal berbau seksual,” kata Ajin.
Novel yang memilih relasi homoseksual sebagai landasan cerita membuat beberapa peserta laki-laki lebih sensitif dan risih. Iwan, seorang mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng mengaku tidak nyaman saat adegan seksual sesama jenis dimunculkan. Begitu pula dengan Beato yang secara pribadi tidak anti dengan LGBT tetapi tidak bisa menyukai perilaku mereka. “Dalam cerita ini Tuan Babak seperti menyembunyikan sisi gelapnya dengan jubah agama, setelah malamnya berhubungan dengan Shahzad atau Surin, paginya menjadi imam,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Afin juga tidak membenarkan perilaku manipulatif dari Tuan Babak yang dipantulkannya dengan kehidupan bermasyarakat saat ini.
“Kita tidak dapat menilai orang hanya dari sisi luarnya saja. Tuan Babak yang terlihat sangat baik mau menjadi ayah dan memelihara anak yatim piatu ternyata memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Begitu pula dengan orang terpandang, atau para pemimpin agama yang dipercaya dan dipuja dalam masyarakat ternyata berperilaku menyimpang dengan melecehkan para pengikutnya,” ujarnya.
Mengomentari hal ini, Grace juga melihat perilaku yang timpang dari Tuan Babak. Tuan Babak adalah seorang ayah yang mengasihi dan memelihara, suami yang baik dan setia, dengan memenuhi kebutuhan para istrinya dan menolak Shirin yang ingin tidur dengannya. Namun di balik itu Tuan Babak berlaku eksploitatif dengan menjadikan Shazad dan Surin sebagai budak dan ‘istri di perjalanan’.”
Perilaku menyimpang Tuan Babak ini oleh Arsy bukan hanya kesalahan Tuan Babak. Situasi miskin yang dialami oleh budak-budaknya dibayar oleh Shazad maupun Surin dengan menjadi ‘istri perjalanan’ Tuan Babak. “Surin dan kawan-kawan tidak mempunyai daya tawar apa-apa di hadapan Tuan Babak. Situasi ini membuat mereka menyerahkan harta terakhir kepada Tuan Babak tanpa perlawanan,” sebut Arsy.
Eby Irene melihat semua ini telah dirangkum lewat cover novel Karavansara. “Latar belakang ungu melambangkan harta dan kekuasaan. Demikian pun posisi berbaring Tuan Babak di tengah karavansara dengan kaki sejajar dengan bulan dan kepala sejajar dengan matahari. Matahari adalah simbol terang, di mana Tuan Babak menampilkan citranya yang sempurna, sedangkan bulan adalah sisi malam yang mewakili sisi gelap Tuan Babak,” ujar Eby.
Sementara bagi Ucique Jehaun, merupakan suatu hal yang menyenangkan dan manusiawi saat membaca dan membicarakan seksualitas. “Kromosom atau hormon kita pasti akan bereaksi saat kita menemukan atau menonton adegan-adegan hubungan seksual dalam film,” kata Ucique. Hal ini juga dikaitkannya dengan apa yang dialami Surin pada saat melihat adegan seksual Tuan Babak dan Shahzad. Menurutnya sebelum menyadari bahwa dirinya seorang gay, tokoh Surin yang polos tentu akan memilih melihat hal yang ‘nyaman’ bagi matanya sehingga akan berfokus pada tubuh Shahzad yang liat dan berkeringat saat berhubungan dengan Tuan Babak.
Homoseksualitas dianggap sebagai orientasi seksual yang normal, ditimpali juga oleh beberapa peserta. Dokter Ronald telah cukup banyak melakukan studi kedokteran terkait kecendrungan ini, dan ia hanya bisa menyimpulkan jika kecendrungan ini adalah kecendrungan normal, yang hampir mudah ditemukan dan dimiliki oleh orang-orang di sekitar, baik pada perempuan maupun pada laki-laki. Ia menganjurkan hal terakhir untuk menguak hal ini adalah dengan meneliti hormon-hormon yang menyusun tubuh manusia, namun hal ini adalah jalan terjal di bidang kedokteran.
Yuan Jonta dalam nada yang sama juga menyebutkan jika hal yang perlu dilakukan dalam melihat kelompok LGBT adalah memandang mereka sebagai manusia. Yuan Jonta melihat perjalanan homoseksualitas dalam level pemahaman manusia sepanjang sejarah, khususnya dalam bidang psikologi. Dalam buku panduan ilmu psikologi dan psikiater (DSM), homoseksualitas mengalami pembedaan-pembedaan klasifikasi sesuai perkembangan temuan para ahli. Homoseksualitas pernah dianggap sebagai disorientasi seksual, lalu pernah juga dianggap sebagai penyakit gangguan jiwa, hingga yang terakhir dianggap sebagai sesuatu yang normal, sehingga hal yang perlu dilakukan terhadap mereka adalah menerima mereka apa adanya.
Malam itu, hampir semua peserta memuji kepandaian Rio Johan dalam meramu tema ini dan tak sekalipun ia menulis secara langsung kata-kata seputar relasi homoseksualitas, gay, dan lain-lain. Oleh karena itulah novel Karavansara ini mendapatkan Bintang 4 dari peserta Bincang Buku Petra. Lalu masing-masing peserta pulang dengan sudut pandang yang lain dalam kepala mereka. Sampai jumpa di bincang buku selanjutnya, Peters…[*]
Program Bincang Buku Petra ke-51 ini didukung oleh Gramedia Pustaka Utama.
Baca juga:
– Gentayangan: Bincang Para Tualang pada Sebuah Proyek Intelektual
– Metafora Baru dalam Penggambaran Peristiwa 1965
