Puisi-Puisi Imam Budiman – Lapar yang Lebih Panjang untuk Sebuah Kerja Kebudayaan
10 Januari 2025| | 4 CommentsPremis: hanya ada lapar yang lebih panjang untuk sebuah kerja kebudayaan di masa kiwari.
Oleh: Imam Budiman |
Pemenang terbaik pertama dalam sayembara cerita pendek pada perhelatan Aruh Sastra 2015 dan Sabana Pustaka 2016. Pada tahun 2017 mendapat Penghargaan Student Achievement Award, kategori buku sastra pilihan, dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku kumpulan puisinya: Kampung Halaman (2016) dan Salik Dakaik; Mencari Anak dalam Kitab Suci (2023).
Dua Dekade Terakhir Ini Ciputat Terbuat dari
Pecahan Puisi yang Terpaksa Harus Diselesaikan
Headline 1 – (29/5/2004)
Seorang penyair terkena serangan jantung
setelah membacakan sebuah puisi—sejak
peristiwa itu, kau mulai memperhitungkan
muslihat jitu dengan cara mati yang aduhai.
Tubuhnya mendadak jatuh dan semua mata
sadar bahwa ini bukan semacam atraksi.
kata-kata menyusup halus, menyerbu
ke dalam pori kulit dan tulangnya.
Mikropon masih menyala dan panggung
seketika dingin—izrail menyelesaikan
tugasnya dengan cermat dan teliti.
Dari kesaksian sejumlah mahasiswa yang menyaksikan
malam pentas seni itu, ada jutaan kekunang menyerbuk
ketika jasad penyair dijemput ninuninu suara ambulans
—sebelum tubuhnya benar-benar pecah menjadi puisi.
Headline 2 – (10/4/2018)
Seorang penyair cum perupa tanpa sengaja tertabrak
satria f yang dikendarai dengan kecepatan kilometer
di atas seratus—tolol betul pemuda yang ngebut di
siang bolong, di tengah jalan padat pejalan kaki itu.
Tubuh ringkihnya yang 85% tersusun
dari cat akrilik, terpental beberapa
meter di seberang dealer kawasaki.
Orang-orang tak mengenali selain ciri:
rambutnya putih, perawakan gendut,
serta mengenakan topi buluk.
“Betapa membahagiakan sebuah kematian,”
kelakarnya dahulu. jibril eksentrik yang pernah
dilukisnya, tiba terlambat dan segera menggotong
tubuhnya serta menghapus sisa darah di jalan itu.
Headline 3 – (19/7/2020)
Seorang penyair pernah merawat hujan
penuh kasih meski sering misuh, dari
belakang situ gintung—mengalami sepi
hari tua dengan lutut yang kerap terasa nyeri.
Apakah masih ada jam mengajar hari ini?
tidak, cuma satu lokakarya di awal bulan
nanti dan dua kali menguji sidang disertasi.
Menjadi pensiunan guru besar sastra
tidak lantas berhenti mengulik teori.
Apakah di surga masih ada puisi?
sontoloyo, masih tersisa kitab suci
beserta gerombolan woyo jason ranti.
Sedari dulu ia selalu menolak untuk merasa
sendiri meski harus menyerahkan rasa sakitnya
berakhir dirajah pandemi.
2024
.
Yang Masih Tersisa dari Puisi
Tapi nasi tetaplah nasi, perut kosong
Mana mempan dikasih puisi.
—Blues Lendir, Jason Ranti
Premis: hanya ada lapar yang lebih panjang untuk sebuah kerja
kebudayaan di masa kiwari. Menambah jadwal asketik, betapa
tipis antara keinginan martir dan seorang penyair, selangkah
lebih dekat dengan kematian. Atas nama work life balance
kau merawat hal-hal yang tak pernah menjadi apa-apa.
Delapan jam bekerja, delapan jam istirahat,
delapan jam lain mencintai yang tersisa dari
tubuhmu sendiri. Industri mengejar profit dalam
lembur, manusia mesti lebih mahir dari mesin.
Sedangkan puisi? Buang saja jauh-jauh—kau
mengucapkannya dengan pedih dan sinis.
Berapa harga puisi? Rubrik sastra di koran dan majalah sudah
dihapuskan, tak menguntungkan pengiklan, menambah bujet
redaksi saja. Berapa royalti buku tahun ini? Potong pajak,
sisanya untuk bayar pajak tahunan, dan kau miskin lagi.
Negara adalah hantu di saldo m-banking. Berapa honor
menjadi pembicara? Cukup untuk satu minggu dan
setelahnya memeluk lapar yang lebih nyeri.
2024
.
Menyimak Kajian Pak Faiz
di Masjid Jenderal Sudirman
Tempo suaranya pelan dan cenderung lambat—sebuah
antitesis dari kota yang bergerak semakin lekas dan kerap
serampangan. betapa tipis batas antara kantuk dan menjadi
sufi—polusi jakarta rupanya masih menempel di pakaian.
Intonasi stabil yang melipat masa tahun ke tahun, semacam
lagu pengantar tidur, yang beredar dan dikutip ulang di ruang
digital—dan kita harap-harap cemas ketika kanal MJS sempat
diambil alih para peretas. barangkali sudah ratusan tema dirinya
menjelma penafsir kesekian dengan kepala baru—serta jokes
Plat O dari antah berantah yang sungguh out of the box.
Gesturnya serupa mitos purba di kepala mahasiswa yang
kalah menyiasati akhir bulan. kepada salindia dan sinyal
internet kita bermunajat: mensyukuri pengetahuan baru
diproduksi dan diakses secara rutin seminggu sekali.
2024
.
Membaca Prakiraan Cuaca BMKG
Kita amati sekali lagi peristiwa di luar jendela. langit pucat, tanah yang
lembab, dan suhu lemari es menyebar sampai ke teras—tetapi seorang
anak kecil masih menyangka bahwa polisi yang mahir pura-pura dan
polusi perusak paru-paru adalah kabut pagi yang mencintai Jakarta.
Bantal menyisakan hangat yang ganjil. musim sebelumnya tidak
pernah membangun sarang di tempat tidur. dalam sebuah breaking
news: nujuman pawang hujan hanya bualan. mesin-mesin pencetak
dingin mati suri. menyusun mimpi-mimpi utopis terasa lebih masuk
akal—sebab berangkat kerja adalah rutinitas yang ingin kita sudahi.
Kita pun menyerah—ninuninuninu, kini kita telah terkepung
menjadi petarung terakhir yang melarikan diri ke bawah selimut.
2024
.
Percakapan Diaspora, Makan Malam,
Merayakan Kakek Jumpa di Kedai JBS
Pertama
Tidak ada nyala di rumah kayu itu—sedikit cahaya lampu
rinai sesekali singgah di kota ini tanpa jadwal yang pasti.
Malam menyusut dari pintu belakang. sebuah percakapan
tentang kota lahir yang jauh serta pertanyaan-pertanyaan
mengenai identitas yang semakin lama semakin kabur.
Di mana kita lahir, tumbuh, dan menyisipkan nama?
Kedua
Seekor kucing, bulunya menyisakan kemegahan masa lalu
berkisar di antara buku-buku, menggenapi kaifiat bekerja
sepasang penyair yang mencintai kata-kata—setiap hari.
Tiga belas tahun ia merawat dirinya dan tetap terlihat
bahagia di antara rak-rak buku—barangkali, ia kisah
lain dari spesies milik sosuke notsugawa yang belum
sempat tercatat: kucing, penulis, dan kedai buku.
Ketiga
Apakah di surga masih ada dapur harum masakan
beserta satu menu ajaib ikan belida sambal merah?
Yang dibawa dari laut yang jauh di pesisir sumatera
yang meruahkan sedikit kenangan tentang masa kecil.
Dan segala macam lidah timur ke barat, tunduk
di piring masing-masing, merayakan ritual
yang sebelumnya tak terencanakan itu.
2024
.
Menyaksikan Arwah Sapardi
Kembali ke Rumah Nomor 113
[babak satu]
Dalam sebuah pesan—yang tak kusangka ia akan
lekas membalasnya 1×24 jam, aku berniat datang
bertamu ke kompleks dosen UI, rumah nomor 113
yang halaman belakangnya menghadap langsung
ke situ gintung, dan sekadar berbincang perihal apa
yang dikatakannya: tirani dalam lelaku demokrasi
yang kita alami saat ini. datanglah besok sore, anak
muda. tak hanya tirani—kekuatan bunyi, barangkali
kita juga bisa saling berbagi kisah dan sedikit puisi.
[babak dua]
Datanglah besok pagi, pukul enam, sebelum saya
berangkat mengisi ceramah di IKJ. pesan singkat
itu masuk, seusai upaya mencintai nabi bersama
para masyaikh di halakah pagi dengan sanad dan
matan yang didedahkan imam bukhari. dua buku
puisi yang baru saja terbit, kukemas di tas jinjing
untuk kuberikan kepada si tuan penyair tersebut.
Tiba di rumahnya, kami berbincang
dua buku puisi kuberikan kepadanya.
Apa yang belum kau punya, penyair bertanya.
mata pisau, perahu kertas, akuarium, jawabku.
bubuhkan tanda tanganmu, anak muda, pintanya.
tidak, tuan, aku yang harusnya meminta itu darimu.
lalu kami saling menandai buku puisi—garis hidup
dan berpisah dari ruang tamu setelahnya, selamanya.
[babak tiga]
Di suatu pagi yang dingin, aku berjalan melewati
halaman belakang rumah itu—di pagarnya masih
menguarkan aroma puisi. meski ia telah pergi.
2024
Ilustrasi: Philosoper and Poet (Giorgio de Chirico), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Adhimas Prasetyo – Kalau Dunia Berakhir
– Puisi-Puisi Ama Gaspar – Matahari dan Bulan di Sikka
– Puisi-Puisi Erich Langobelen – Hati yang Patah Biarlah Diberkati

sering melihat nama ustadz imam budiman lewat sw teman2 darsun yang aktif menulis.
kemarin sempat baca di postingan lain yang isinya adalah puisi adaptasi kisah2 nabi yang dihias kental diksi serapan bahasa arab. di postingan ini saya lihat ustadz menjemput puisi dari setiap fenomena. puisi dengan latar yang berkali-kali menyebut daerah tangerang selatan itu terasa jadi amat akrab.
bagus
Menurut saya, tulisan ini menangkap kegetiran hidup gitu sih karna tentang kematian, seni yang makin dilupakan, dan juga kenangan yang perlahan hilang. Bahasa yang indah tapi penuh ironi, kita diajak merenungi hidup modern yang serba sibuk sambil tetap mencoba mencari makna di dalamnya.
Sangat baik