Puisi-Puisi Widya Mareta – Semua yang Menyembul dari Balik Tirai
10 September 2025| | 5 CommentsPuisi-Puisi Widya Mareta – Semua yang Menyembul dari Balik Tirai
Oleh: Widya Mareta |
Penyair asal Tangerang, Banten. Buku puisi yang pernah diterbitkan adalah Puasa Puisi (2021). Saat ini karya-karyanya banyak mengangkat budaya Tionghoa khususnya Cina Benteng.
Anakku
Jika kesepianmu serupa kapal karam
maka kujadikan seluruh rerangka
wahana yang dipelajari ikan-ikan.
Jika kepalamu seberisik kota yang gawat
maka kubentangkan jalan pelarian
menuju rimba tak bernama.
Jika yang tersisa dari malammu hanya bulan separuh
maka kubuat semua nama yang tertulis di cerita cinta
tokoh-tokoh tabah yang tak lagi menunggu purnama.
Jika tak ada lagi musik yang menyelamatkanmu dari bosan
maka kubawakan ingar suara-suara lapar
dan lenguh paling panjang
di penjagalan.
Jika matamu langit yang tersayat hebat
maka kuhapus payung dan atap
dari ingatan manusia.
(2025)
.
Sambal Goreng Nyonya Oey
Belum juga hilang panas di tubir kuali
dan aroma petai masih belajar mengikat diri
dengan udara.
Nyonya Oey mulai meraih mangkuk sambil bertanya-tanya
bagaimana jadinya bila cita-cita perempuan
boleh semerah ini.
Meja altar seperti sebuah miniatur bahtera
menunggu semua penumpang tiba
lengkap dan siap dijejalkan doa.
Irama lagu gambang menyambut mangkuk itu tiba
tepat saat lilin-lilin berhasil ditempatkan.
Segalanya serentak merah
genapi ruang mengisi pesta.
Bakaran dupa pertama selalu yang paling harum
begitu juga sambal ini
saat pertama disajikan.
Tidakkah kita juga semerah ini pada awalnya?
Seperti pada masa yang jauh itu
yang terang menyala
sebelum padam.
(2025)
.
Cakwe Pak Tua
Hanya beberapa saat lagi tersisa
setelah waktu yang keji itu
menjahitkan keriput
di sekitar mata.
Meja di dapurmu pun makin menua
dan sihir yang baru matang itu kini terlihat
seperti sepasang jasad
berdekap erat.
Tidak banyak syarat untuk hidup
selain merestui perih satu kali
dan berkali-kali lagi.
Seperti itu juga zaman berkali-kali
membawamu mengepalkan tangan pada tepung,
mengajaknya bicara tentang api,
dan mengasuhnya hingga terberkati oleh ragi.
Masih ada yang menunggu di jalan ini.
Wajah-wajah lapar dan tangan-tangan menggapai
bercampur sebuah upaya
untuk mengeruk dalam-dalam pada sebuah ingatan jauh.
Kau dan dapurmu kini menjadi jalan pulang
bagi yang masih mencari dan merindukan
kesenyapan paling hangat
seperti pelukan
dua raga.
(2025)
.
Kebaya Nenek Sie
Mulanya belum pernah ada yang berhasil
menjangkau rambut perempuan itu
selain asap dupa di keremangan altar
pada malam-malam ketika para dewa mau mendengar
siapa saja yang butuh bicara.
Berpuluh-puluh tahun setelah dadanya jadi peperangan,
Sie masih di sini—bahkan setelah usia memoles kulitnya
kian kekuningan
dan urat-urat yang terbentang
seperti garis tempat musibah tinggalkan jejak.
Sie mengingat air susunya yang dulu selalu menemukan muara
juga putranya yang kini telah masuk biara.
Dada itu hanya tak sama di dalam sana
tapi tidak pada kainnya.
Maka Sie masih tetap di sini
bersanggul dan berkebaya
menyanyikan lagu-lagu Kanton
atau tembang Jawa.
Pada tengkuknya,
angin bertiup pelan sekali.
(2025)
.
Wayang Potehi
Didudukkannya rasa lelahmu pada kursi
malam beribu perayaan.
Merahnya merah menyala
pusaka zaman.
Dalam lengang itu kau dengar lagi deru tambur
seperti meniru
suara leluhur.
Semua yang tersuguh di sini masih berhasil memaku matamu ke arah panggung
walau kau bilang—tak ada lagi yang mampu mengejutkanmu saat kau makin menua.
Tuturan cerita merasuk kain dan kayu
hidupkan denyut seribu nyawa.
Kau diam tanpa bertanya lagi
ke mana potongan-potongan ingatan yang dulu berdiam lama di kepala.
Dari Sun Go Kong sampai Sie Jin Kwie
atau masyhurnya kisah Sam Kok hingga kebaikan Zhong Kui.
Kau belum mau tinggalkan tempat ini sebelum pertunjukan selesai
sebab semua yang menyembul dari balik tirai
telah menyerahkan hidupnya
ke tangan dalang.
Tapi malam ini maukah kau kembali percaya
pada megahnya pesta tempat kau pernah semerah nyala lilin,
ruang kecil di mana simbal selalu menyebarkan gema,
tubuh-tubuh yang belum mau menyerah pada usia,
atau anak-anak dari kota yang jauh
yang masih sabar
mengajarimu bicara?
(2025)
.
Stagen
Pagi yang baru
belum menjadikannya siap
pada apa-apa yang perlu dilakukan
setelah tangis pertama.
Nyeri sekujur daging
mulai dirawat
sesuai anjuran para tetua.
Pada tubuh itu pula
kini dipasangkan sehelai pusaka; kulit terluar membalut nasib
sambil mempelajari cara kerja puting
dalam memelihara.
Begitulah hari-hari berikutnya terbentuk.
Menjaga yang elok agar kekal
sebab kecantikan
tak boleh dimangsa.
Dewa dan dewi menaburkan berkat.
Pada seluruh kamar juga mantra terikat.
Di depan cermin,
ia ingin kembali dibebat
dalam pelukan ibunya.
(2025)
Ilustrasi: The Yellow Curtain (Henri Matisse), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Ama Gaspar – Matahari dan Bulan di Sikka
– Puisi-Puisi Gerson Jehamun – Bekal Masa Depan
– Puisi-Puisi Oliena Ibrahim – Hari-Hari adalah Perkabungan

bagus sekali
sangat menarik dan gak gampang bosan dibaca
Terima kasih asiknya yg kau selit dicela kalimat
Bagus
tidak ada yang perlu di komentar kan, karna sudah bagus untuk dari bahasanya, dan kalimat kalimatnya