Siapakah Keluarga dari Tubuh yang Kacau Itu?
7 September 2025| | 12 CommentsBerpuluh-puluh sesenggukan dan bermuntah-muntah air mata di depan mayat yang mereka yakini bukan anggota keluarga mereka.
Oleh: Radja Sinaga |
Lahir di Medan dan kini bermukim di Yogyakarta. Peserta Residensi Belajar Bersama Maestro Kementerian Kebudayaan 2025. Alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara. Bergiat di Medan Teater.
Hari sudah makin gelap. Di tenda-tenda yang berdebu itu tersisa beberapa lelaki yang berjaga dengan wajah sayu, marah, sedih, dan penuh harapan. Namun kenapa kali ini, hanya hari ini, para lelaki itu lebih lama menunggu?
Sementara itu, di atas, langit yang awannya berwarna ngilu memudar, menjadi tegas dan penuh kematian. Tak lupa gagak-gagak melantunkan puja puji dengan harapan yang nyaris hancur sebab para lelaki di bawah mereka masih saja berdiri, masih saja menunggu, masih saja.
Barangkali, Anda bertanya-tanya apa sebab para lelaki itu di sana? Bukankah malam hampir tiba, bukankah hari sudah makin sunyi—dan mungkin juga sepi karena jumlah mereka semakin saja berkurang belakangan hari? Namun begitulah yang terjadi: para lelaki akan meninggalkan tenda-tenda itu jika semua kantong hitam yang sedikit terbuka telah dijemput masing-masing keluarganya. Tunggu, tunggu, apakah benar tempat para lelaki itu berdiri masih pantas disebut bangunan? Tidak. Tidak.
Di sana, jauh-jauh hari telah menjadi tanah. Tak ada bangunan yang bisa berdiri. Bahkan, tenda-tenda, yang mereka bangun kini, yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari tempat tinggal mereka juga babak bundas, tertiarap sudah. Lihatlah saat ini, tenda-tenda itu, yang jika Anda sedikit jeli melihat, terdapat sejumlah barisan kata-kata yang membentuk nama-nama dari berbagai organisasi kemanusiaan, dari negara-negara yang prihatin sekaligus ikut menghancurkan mereka. Namun kini tulisan-tulisan itu tak lagi terbaca. Sekalipun Anda memangkas jarak untuk lebih dekat ke tenda-tenda itu sebab udara buruk, abu melayang-melayang di udara, penerangan yang sayup, dan mungkin tertutup bercak-bercak darah sekaligus noda hitam dari ledakan-ledakan yang dimuntahkan berbagai arah.
Dan tiba-tiba, di saat Anda masih saja berkeras kepala dan berusaha membaca tulisan-tulisan di nama itu, seorang ibu terlunta-lunta menghampiri ke arah para lelaki. Dan jika Anda sedikit peduli, tebersit sedikit kerutan yang bahagia di wajah para lelaki, sehingga wajah para lelaki tak lagi pualam bercampur sayu, marah, sedih, dan penuh harapan. Ibu itu, tentu datang sebatang kara. Tak ada siapa pun yang dia punya. Padahal dahulu sekali, Anda pasti paham bagaimana kategori sebuah keluarga kan? Ya, Anda pasti paham.
Dahulu sekali….
***
Itu hari ketiga ratus empat belas. Mungkin. Tidak ada yang pasti saat ini, kecuali kehancuran dari pasukan cepak yang mengenakan baju loreng, yang menenteng sejumlah pencabut nyawa, yang mengendarai kuda-kuda besi penghancur rumah serta burung-burung ketika berak membuat lubang-lubang di daratan—dan jangan tanya apakah ada manusia yang mati juga.
Selain itu, tak ada tempat di hippocampus yang tersisa untuk mengingat tanggal, hari, dan tahun. Sudah jauh juga hari yang tersisa di kepala hanyalah cara-cara bagaimana mengungsi, bagaimana menghindari kematian bukan dari tangan Tuhan, kiat sukses mengencangkan perut di tengah bahan makanan tak lagi bisa didapatkan. Benar, hampir saja lupa, ada satu ingatan lagi yang tak bisa terkelupas: masa-masa sebelum genosida datang.
Itu hari ketiga ratus empat belas. Tentu angka itu tak benar. Berhitung tak lagi sesuatu yang penting. Kecuali satu: berhitung berapa banyak yang telah meninggalkan dunia. Anda tahu, saat ini telah lebih 43 ribu orang yang dipulangkan. Tunggu. Anda jangan langsung protes terkait kata dipulangkan. Anda pasti ingin mengatakan berpulang kan? Ya benar. Anda sepenuhnya tak salah. Namun tepatkah mereka yang hidup lantas dibunuh masih saja disebut berpulang? Anda tahu kan, Anda sendiri yang mengatakannya saat sebuah laporan jurnalistik menuliskan “died” bukannya “killed” atas orang-orang yang tak perlu kita sebutkan asalnya?
Itu ketiga ratus empat belas. Apakah benar? Masa bodoh tentunya. Di hari itu, yang diingat hanyalah kesepakatan dan sebuah serangan yang makin menyulitkan hari-hari ke depan. Serangan yang berbeda. Sangat berbeda bahkan.
Anda pasti mengira jika serangan itu berbeda karena kali ini serangan tidak lagi dengan deretan peluru, melainkan dengan menyirami sekitaran tenda-tenda dengan minyak dan kemudian menyulut sedikit titik api. Atau menyerang dengan gas beracun saat mereka—sekali lagi, kepada orang-orang yang tak perlu kita sebutkan asalnya—tengah melakukan ibadah.
***
Sejak saat itu, serangan yang kesekian kali, mereka yang tak perlu disebutkan asalnya menandai tubuh mereka. Khususnya kepada anak-anak.
Itu pagi yang tak cerah. Sebab tak pernah ada lagi pagi cerah semenjak bertahun-tahun lamanya. Meskipun demikian, pagi itu anak-anak tampak bersemangat. Mereka dibariskan, seusai sarapan yang kelu dengan makanan nyaris basi, di tenda utama.
Di tenda itu, anak-anak menyodorkan tangannya. Orang-orang dewasa kemudian menuliskan sejumlah barisan huruf yang membentuk nama. Barisan huruf itu juga membentuk kode-kode tersendiri tiap anak-anak: mencatat nama orang tua atau kerabat mereka yang masih hidup.
Tidak. Tidak. Tanda itu bukanlah sebuah tato. Tanda itu, jika Anda tahu, hanya dibuat dengan pena. Tak ada jarum dan tinta yang menembus kulit. Tak ada tisu yang menyeka kulit ketika tanda itu dibuat. Sembari tanda itu dituliskan, beberapa anak mengacungkan dua jari yang menandakan perdamaian.
Tanda itu datang setelah malam yang begitu merah dari serbuan lidah-lidah api. Usai pemadaman, ratusan tubuh tak bernyawa dibariskan. Tubuh-tubuh itu tak lagi dikenali.
Mereka yang masih hidup menangisi tubuh-tubuh itu dengan sia-sia. Pasalnya, mereka bersujud di sembarang tubuh yang mungkin saja bukan anggota keluarganya.
Dan setelah tubuh-tubuh itu dimakamkan, mereka yang telah kehilangan seluruh keluarganya marah. Namun kali ini, marah itu begitu pecah. Pasalnya, mereka tak mampu menangisi keluarga masing-masing dengan layak. Berpuluh-puluh sesenggukan dan bermuntah-muntah air mata di depan mayat yang mereka yakini bukan anggota keluarga mereka. Dan setelah tangis, kata-kata yang terdengar hanyalah makian. Dan sebuah keputusan membuat tanda, semata untuk penghormatan terakhir bagi mereka yang gugur tak ditangisi dengan cara yang getir.
Tapi yang mereka punya hanyalah pena.
****
Tak sampai sepuluh menit, seorang ibu itu kembali menyusuri langkah yang sama saat dia muncul. Wajahnya, Anda pasti tak menyangkal, seperti beberapa lelaki yang tengah berjaga: sayu, marah, sedih. Langkah ibu itu terasa berat. Tapi bukankah setiap hari terasa berat setelah serangan pertama yang dilancarkan berpuluh-puluh tahun silam? Sekalipun akhirnya ada keputusan yang sia-sia.
Barangkali ibu itu akan membawa sesuatu yang membuatnya sedikit lega. Ketika akhirnya ibu itu berhadapan dengan beberapa lelaki itu dan kemudian berbicara dengan bahasa yang samar.
“Aku mencari anakku,” itu yang terdengar dari mulutnya.
Beberapa lelaki itu tak berbicara. Mereka saling memandang. Kemudian salah satu di antaranya membuat bahasa tubuh yang mengisyaratkan ke beberapa kantong berwarna hitam. Dan ucapan terima kasih pun terdengar.
Ibu itu melihat beberapa kantong hitam itu. Mendekat. Namun ketika jaraknya dengan beberapa kantong itu hanya sedepa, sontak dirinya seperti batu. Tentu ibu itu tak sedang menghitung jumlah kantong hitam itu.
Dan sebuah suara lelaki menyadarkannya. “Kami minta maaf. Kami tidak bisa membantu. Tak ada tanda di sana.“
“Tidak. Aku hanya mengumpulkan keberanian. Aku mengenali anakku,” jawab ibu itu.
“Itu mustahil. Ibu bukan satu-satunya yang ke sini dengan kalimat seperti itu. Sudah ada 7 orang. Ya tujuh mungkin. Kami tak menghitung pasti. Ibu tahu kan, berhitung tak lagi sesuatu yang penting.”
Namun ibu itu tampak keras kepala. Sambil merendahkan tubuh, tangannya kemudian membuka satu persatu kantong hitam itu. Tak ada tanda. Dan raut wajahnya tampak garam.
“Bu,” lelaki yang sama memanggil, suaranya parau.
“Aku ingat warna pakaiannya,” balas ibu itu sambil memeriksa kantong yang kesekian.
Lelaki itu dan teman-temannya menghirup napas. Betapa dalam. “Bu, kami tak ingin membuatmu kecewa. Tak ada tanda di sana. Tak ada, Bu.”
Tapi ibu itu keras kepala. Tujuh, delapan, sembilan, hingga tumpukan kantong hitam terakhir, tak ada tanda. Lelaki itu benar, pikir ibu itu. Semua kantong sama belaka. Ibu itu tak menemukan warna pakaian dan corak yang dikenalinya.
“Mereka yang di sini tak memiliki tanda. Wajahnya juga. Ledakan terlalu besar. Mengenai semuanya. Bahkan pakaian mereka. Dan sialnya tanda itu juga hancur.”
Ibu itu bangkit. Dirinya menghadap arah yang berlawanan dengan kantong-kantong hitam itu. Semakin jauh. Semakin hilang di antara udara buruk, abu melayang-melayang di udara, penerangan yang sayup, dan bangunan yang mungkin tertutup bercak-bercak darah sekaligus noda hitam dari ledakan-ledakan yang dimuntahkan berbagai arah.
Dan saat itu Anda masih saja melihat ke arah lain. Namun alat perekam Anda masih saja menyala dan tangan Anda terus mencatat dialog-dialog mereka hingga Anda lupa ada tombol rana yang gagu ditekan untuk menangkap kejadian-kejadian itu.[*]
Ilustrasi: Over My Dead Body (Ramon Casas), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Ruang Negatif – Cerpen M. Z. Billal
– Kesaksian Mata Cecak – Cerpen A. Warits Rovi

Cerpen “Siapakah Keluarga dari Tubuh yang Kacau Itu?” merupakan karya yang berhasil menggambarkan sisi paling kelam dari perang dan genosida melalui sudut pandang yang emosional. Penulis tidak hanya menampilkan kehancuran bangunan dan banyaknya korban jiwa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kehilangan identitas menjadi luka yang sama menyakitkannya bagi keluarga yang ditinggalkan. Alur cerita dibangun secara perlahan sehingga pembaca diajak merasakan kecemasan, harapan, hingga keputusasaan para tokohnya.
Bagian yang paling berkesan adalah ketika para orang tua menuliskan nama anak-anak mereka di tangan menggunakan pena agar jasad mereka dapat dikenali apabila terjadi serangan. Adegan tersebut menjadi simbol betapa berharganya identitas manusia di tengah situasi yang tidak lagi menghargai kehidupan. Klimaks ketika seorang ibu mencari anaknya di antara kantong-kantong jenazah tanpa berhasil mengenalinya menjadi penutup yang sangat menyayat hati.
Dari segi bahasa, penulis menggunakan diksi yang puitis dan penuh metafora sehingga suasana duka terasa hidup. Namun, penggunaan bahasa yang cukup padat dan simbolis mungkin membuat sebagian pembaca perlu membaca ulang beberapa bagian untuk memahami maknanya. Secara keseluruhan, cerpen ini berhasil menyampaikan pesan tentang kemanusiaan, kehilangan, dan pentingnya perdamaian. Cerita ini meninggalkan kesan mendalam serta mengajak pembaca untuk lebih menghargai nilai kehidupan dan empati terhadap sesama.
benar-benar terbayang suasana kesedihan dan keikhlasan, juga kekejaman para pembunuh.
ceritanya sangat menarik dan seru
Menangkap jadian jadian
Saya wanita usia 50 tahun lulusan sarajana kesehatan Saya tertarik untuk membaca dan mengirim tulisan
Silakan kunjungi halaman Kirim Tulisan.
Terima kasih sudah berkunjung.
para lelaki itu berdiri di tempat yang sudah tak bisa di sebut bangunan
Lelaki itu
Cerpen ini mengandung banyak sekali kesedihan dan makna yang mendalam, saya sangat menyukai cerpen ini. Cerpen yang begitu menarik perhatian saya yang pertama kali buka website ini. Semangat terus ya! ๑•͈ᴗ•͈๑
Ceritanya bagus, pilihan katanya juga bagus dan mengena di hati
tobatlah, radja sinaga.
menarik