Puisi-Puisi Afrizal Malna – Panggung Demokrasi dalam Mulut Kodok
10 Agustus 2025| | 2 Commentsoksigen menipis/ sel-sel otaknya mulai gemetar/ politik membutuhkan drama/ panggung demokrasi dalam mulut kodok
Oleh: Afrizal Malna |
Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Banyak membuat performance puisi melalui media digital, dapat dilihat dalam channelnya di Youtube. Salah satu di antaranya serial “teater masker” yang dibuatnya pada masa pandemi. Sebagian lain diposting melalui akunnya di instagram (@malna.a). Tahun 2021 membuat “Festival Puisi Jelek” bersama Syska La Veggie melalui akun @artdown forum. Mengikuti Jan van Eyck Literature Festival, Maastricht, 2022.
festival sastra dan kursi roda
pesawat atr 72 mendarat
“selamat datang pintu belakang”
sebuah festival sastra
mengirim kursi roda untuknya
dan hujan baru saja pindah
migrasi translokal lempengan-lempengan tektonik
angin teluk dan batu-batu kerikil
di atas landasan pendek maumere
teman-teman telah menunggu
oman, etak, maria, eko, armin
kuah ikan asam dan sambal lu’at
bangkai mesin cetak antara prosa dan puisi
sebuah kursi roda – buatan ai
bergerak ke dalam lubang bahasa
di sebuah dermaga
yang telah hilang
yang namanya telah kau ganti
seorang kekasih menunggu
yang tak ada menunggu
yang tak datang menunggu
hujan berteduh di bawah telapak tangannya
(suara dian sorowea – seperti bayangan
merayap dan sendiri
“sadang bui, sadang bui” dari black finit
nyanyian dalam bahasa krowe yang menangis)1)
satu botol moke – ayolah, bro
bersama pak pastor dan pak dosen
jiwa menembus batas-batas ontologis
“bebaskan aku dari diriku sendiri”
sebuah kursi roda
masuk ke dalam pesawat
“perhatian-perhatian
festival sastra sudah dimulai
tolong matikan handphone anda”
.
negara dalam menu penghancuran
kamar gila begitu kacau
ketika begitu kacau mulai membuka pintu
begitu panik – sabun dan handuk
ketika begitu panik mulai membuat kacau
sabun dan pestol
di depan pantat panci
seperti sebuah sound horeg
menggelepar dalam atap rumahmu
genteng berhamburan
membacakan kisah-kisah korupsimu:
2013: rp3,46 triliun
2014: rp10,69 triliun
2015: rp1,74 triliun
2016: rp3,08 triliun
2017: rp29,42 triliun
2018: rp9,29 triliun
2019: rp12 triliun
2020: rp56,74 triliun
2021: rp62,93 triliun
2022: rp48,79 triliun
pt timah: 300 triliun
pertamina: hampir 1 kuadriliun
“ini subversif, setan”
sebuah negara tidak pernah tolol
dan tidak pernah gila walau begitu kacau
untuk tetap bisa berdiri (panik)
dan berjalan (panik) dan tetap bisa tersenyum
(panik) seperti gila dan selalu berdoa
pertumbuhan ekonomi 5,12 cm
“semua baik-baik saja, bangsat!”
.
mas kawin cincin pasifik dan gereja sikka
siang itu bahasa sikka menatapnya
dari pintu gereja
ia mengenakan kain tenun
senyum manise matahari timur
tatapannya erupsi gunung lewotobi lelaki
batu-batu menyala, debu 18 km dari kawah
birahi gunung
awan panas merontokkan drone
dentuman magma dalam gemuruh mesin masa kini
detak jantungnya getaran seismograf
mas kawin telah dipersembahkan
lewat tradisi leluhur di puncak gunung
sebuah untaian cincin api pasifik
lempengan-lempengan tektonik terus bergerak
tabrakan, longsor, dan gempa
bayangan patah sebuah jurang di dasar laut
pulau babi tenggelam
di bawah 26 meter gelombang tsunami
semua benda, bangunan, perahu, disapu
dibawa ke tengah laut
manusia bergelantungan pada pohon-pohon kelapa
dan suara notif dari gereja tua:
sawe-sawe potat dese
poi tuhan gera hude
(armin bell memotretnya
seperti memesan peta nasib
dari ujung barat nusa nipa ke ujung timur
memanjang kalung gempa di lehernya)
misa sedang berlangsung
berjalan di bawah salib senhor
lilin dan peta masa depan
sejak 130 tahun lalu
berdiri dalam ratusan kubik kayu jati
dinding-dinding gereja
dari suara deburan ombak
dari 4000 meter
kedalaman laut sawu
(kafe dan hotel buat ikan paus dan lumba-lumba)
arsitektur barok dan renaisans di batas pantai
tiga lempeng tektonik
eurasia, indo-australia, lempengan pasifik
saling menatap – navigasi – mitigasi:
kiamat sedang tidur siang
di kamarku, bro
.
ambulans buah batu mondar-mandir
buat wail
dua lembar selimut telah melapisi tubuhnya
baju hangat, jaket, dan kampanye pemilu
dari dingin ac kereta malam
sidoarjo – bandung
dingin – (dingin)
seperti taring-taring kampanye
garang
mencakar nafasnya: oksigen!
“betapa aku rindu bubur ayam,
cakwe, pidato indonesia menggugat,
sambal kacang, dan kecap asin”
stasiun kereta bandung
berdiri di atas koper-koper bergerak
matahari pagi turun dari eskalator
cantik – berambut panjang
sebuah pintu dan kunci masa lalu
dalam sebuah kamar hotel
memburu paru-parunya
(rokok, korek, mie goreng, celana dalam,
kopi panas, sayur asam parahiyangan)
nafas yang gagal melompat
ke ujian teater pascasarjana
tentang sebuah pertunjukan
yang dibunuh dalam mesin komunikasi
– mobile phone
dor! dor! dor!
(dijual dodol asia-afrika
dijamin non-blok
halal)
oksigen
oksigen
oksigen
wail berputar-putar membawa ambulans
malam yang liar
buah batu ke kanan
buah batu ke kiri
(seekor kelinci menyetubuhi kecemasan
kelaminnya terbakar
pintu ambulans muntah)
oksigen
oksigen
oksigen
oksigen menipis
sel-sel otaknya mulai gemetar
politik membutuhkan drama
panggung demokrasi dalam mulut kodok
pagi hari
bandung tertidur tenang dalam paru-parunya
di atas kursi roda – syska mendorongnya
membawanya dalam kamar penuh oksigen
dinding kaca rumah sakit
bandung di lantai 11
“dokter, bisakah anda
memberikan oksigen
untuk demokrasi”
.
perahu di atas pasir
ia hanya seekor burung
rapuh
yang mengenang terbang
lewat bulu-bulu sayapnya
yang rontok
helai-helainya
yang terbang
dalam terbangnya
dalam senyap
dalam jatuhnya
yang burung
(tuhan
biarkan dia sendiri
tanpamu)
.
foto selfie di kandang buaya
seekor anak buaya mengamuk di masa depan
gigi, taring, dan ekornya liar mencari masa lalu
– sialan –
masa depan yang dipotretnya
bukan miliknya
.
interview dengan badai
cuaca sedang buruk, kata kaşır supermarket
internet error
pesawat ditabrak burung
kami berduka untuk “jeju air”
badai mengangguk
membayar dengan uang palsu
ia baru saja meninggalkan sebuah perpustakaan kampus
dan mesin percetakan “man of the year”
palsu
kampus badai
polisi badai
atm badai
bank badai
doa badai
badai keluar dari super market itu
membawa pisang, roti gandum, tusuk gigi
dalam kantong plastik:
apakah kamu bahagia
apakah ini baik
apakah kamu ingin usia panjang
dan badai awet muda
hujan turun sangat deras
badai meneduh di halte bus
angin kencang
badai melihat
sebuah kota tenggelam
dalam mesin percetakan kebenaran
.
bangkai hukum dalam pesta ulang tahunmu
aku kirim 1000 ekor tikus
untuk memburu burung-burung hantu
yang berkeliaran dalam mimpi-mimpimu
– tidak
kami lebih membutuhkan 1000 ekor burung hantu
untuk menangkap
tikus-tikus dalam gedung pengadilanmu
.
ontologi “f”
fuck
fucked
fucker
fuckin
fucking
fuck up
fuckfest
Aktivitas terkini (2024) Afrizal Malna
Performance lecture Jogja Art + Books Festival, Yogyakarta; Performance lecture Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok; narasumber Festival Seni Budaya Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara, Kendari; Performance Puisi Festival Sastra Kota Malang; juri Airlangga Cinema Festival (AICI), Surabaya; juri “Sayembara Naskah Drama”, Dewan Kesenian Jakarta; narasumber dalam workshop video puisi, Kultur Lampung; Narasumber “Forum Festival Arkipel”, Forum Lenteng, UI, Depok; narasumber Djakarta International Theater Platform, Dewan Kesenian Jakarta. 2025: Performance lecture “Aku OTW sayangku”, On Stage, Studio Plesungan; narasumber Workshop puisi Komunitas Puisi Kata Pengantar, Malang; Buku-buku terbarunya: Performance Art. Dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta 2023); Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta 2023); Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta. 2024); Document Shredding Museum. Terjemahan Daniel Owen (New York: World Poetry Books, 2024).
Ilustrasi: Gloucester Inner Harbor (Childe Hassam), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Gerson Jehamun – Bekal Masa Depan
– Puisi-Puisi Dunstan Obe – Menyala, Kuinyadu!
– Puisi-Puisi Salvatore Quasimodo – Laude

Teks ini bukan sekadar puisi, melainkan rangkaian performance poetry yang memadukan antara pengalaman personal, kritik sosial-politik, serta eksplorasi budaya lokal dan global. Dari biografi singkatnya, penulis lahir tahun 1957, aktif di media digital, dengan karya-karya yang memanfaatkan medium puisi performatif seperti teater masker hingga festival puisi eksperimental.
Secara tematik, puisi ini menampilkan perpaduan antara tubuh, ruang, dan geografi. Kursi roda yang berulang kali muncul menjadi metafora keterbatasan tubuh sekaligus alat mobilitas untuk menembus batas bahasa, festival, hingga dunia. Simbol-simbol lokal seperti moke, sambal lu’at, kain tenun, gunung Lewotobi, hingga bahasa Krowe, dipadukan dengan isu-isu global seperti migrasi tektonik, ekonomi, hingga korupsi miliaran.
Bahasa yang digunakan bersifat fragmentaris, kolase, dan teatrikal. Ada percampuran antara narasi puitis, data statistik, doa, hingga percakapan sehari-hari. Gaya ini memberi kesan puisi sebagai ruang perlawanan dan dokumentasi, sekaligus mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi.
Kritik sosial-politik juga sangat menonjol, terutama pada bagian yang menyebut data kerugian negara triliunan rupiah akibat korupsi. Penulis menggunakan strategi cut-up dan montase, sehingga puisi terasa seperti arsip ingatan yang berlapis-lapis: pribadi, sosial, budaya, sekaligus politis.
Akhirnya, teks ini tidak hanya dapat dibaca sebagai puisi, tapi juga sebagai performans budaya, sebuah dokumentasi tubuh, sejarah, dan politik yang dipentaskan melalui bahasa.
Puisi puisi ini sangat bermakna dan mengandung arti tersendiri, sangat kaya akan bahasa dan indah sekali