Menu
Menu

oksigen menipis/ sel-sel otaknya mulai gemetar/ politik membutuhkan drama/ panggung demokrasi dalam mulut kodok


Oleh: Afrizal Malna |

Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Banyak membuat performance puisi melalui media digital, dapat dilihat dalam channelnya di Youtube. Salah satu di antaranya serial “teater masker” yang dibuatnya pada masa pandemi. Sebagian lain diposting melalui akunnya di instagram (@malna.a). Tahun 2021 membuat “Festival Puisi Jelek” bersama Syska La Veggie melalui akun @artdown  forum. Mengikuti Jan van Eyck Literature Festival, Maastricht, 2022.


festival sastra dan kursi roda

pesawat atr 72 mendarat
“selamat datang pintu belakang”

sebuah festival sastra
mengirim kursi roda untuknya
dan hujan baru saja pindah
migrasi translokal lempengan-lempengan tektonik
angin teluk dan batu-batu kerikil
di atas landasan pendek maumere

teman-teman telah menunggu
oman, etak, maria, eko, armin
kuah ikan asam dan sambal lu’at
bangkai mesin cetak antara prosa dan puisi
      sebuah kursi roda – buatan ai
bergerak ke dalam lubang bahasa

di sebuah dermaga
yang telah hilang
yang namanya telah kau ganti
seorang kekasih menunggu
yang tak ada menunggu
yang tak datang menunggu
hujan berteduh di bawah telapak tangannya

   (suara dian sorowea – seperti bayangan
   merayap dan sendiri
   “sadang bui, sadang bui” dari black finit
   nyanyian dalam bahasa krowe yang menangis)1)

satu botol moke – ayolah, bro
bersama pak pastor dan pak dosen
jiwa menembus batas-batas ontologis
“bebaskan aku dari diriku sendiri”

sebuah kursi roda
masuk ke dalam pesawat
“perhatian-perhatian
festival sastra sudah dimulai
tolong matikan handphone anda”

.

negara dalam menu penghancuran

kamar gila begitu kacau
ketika begitu kacau mulai membuka pintu
begitu panik – sabun dan handuk
ketika begitu panik mulai membuat kacau
sabun dan pestol
di depan pantat panci
seperti sebuah sound horeg
menggelepar dalam atap rumahmu
genteng berhamburan
membacakan kisah-kisah korupsimu:

2013: rp3,46 triliun
2014: rp10,69 triliun
2015: rp1,74 triliun
2016: rp3,08 triliun
2017: rp29,42 triliun
2018: rp9,29 triliun
2019: rp12 triliun
2020: rp56,74 triliun
2021: rp62,93 triliun
2022: rp48,79 triliun
pt timah: 300 triliun
pertamina: hampir 1 kuadriliun

“ini subversif, setan”

sebuah negara tidak pernah tolol
dan tidak pernah gila walau begitu kacau
untuk tetap bisa berdiri (panik)
dan berjalan (panik) dan tetap bisa tersenyum
(panik) seperti gila dan selalu berdoa
pertumbuhan ekonomi 5,12 cm

“semua baik-baik saja, bangsat!”

.

mas kawin cincin pasifik dan gereja sikka

siang itu bahasa sikka menatapnya
      dari pintu gereja
ia mengenakan kain tenun
senyum manise matahari timur
tatapannya erupsi gunung lewotobi lelaki
batu-batu menyala, debu 18 km dari kawah
      birahi gunung
awan panas merontokkan drone
dentuman magma dalam gemuruh mesin masa kini
detak jantungnya getaran seismograf

mas kawin telah dipersembahkan
lewat tradisi leluhur di puncak gunung
sebuah untaian cincin api pasifik
lempengan-lempengan tektonik terus bergerak
tabrakan, longsor, dan gempa
bayangan patah sebuah jurang di dasar laut
      pulau babi tenggelam
di bawah 26 meter gelombang tsunami
semua benda, bangunan, perahu, disapu
      dibawa ke tengah laut
manusia bergelantungan pada pohon-pohon kelapa
dan suara notif dari gereja tua:
      sawe-sawe potat dese
      poi tuhan gera hude
(armin bell memotretnya
seperti memesan peta nasib
dari ujung barat nusa nipa ke ujung timur
memanjang kalung gempa di lehernya)

misa sedang berlangsung
berjalan di bawah salib senhor
lilin dan peta masa depan
sejak 130 tahun lalu
berdiri dalam ratusan kubik kayu jati
dinding-dinding gereja
dari suara deburan ombak
      dari 4000 meter
      kedalaman laut sawu
(kafe dan hotel buat ikan paus dan lumba-lumba)
arsitektur barok dan renaisans di batas pantai

tiga lempeng tektonik
eurasia, indo-australia, lempengan pasifik
saling menatap – navigasi – mitigasi:

kiamat sedang tidur siang
di kamarku, bro

.

ambulans buah batu mondar-mandir

buat wail

dua lembar selimut telah melapisi tubuhnya
baju hangat, jaket, dan kampanye pemilu
dari dingin ac kereta malam
     sidoarjo – bandung

dingin – (dingin)
seperti taring-taring kampanye
     garang
mencakar nafasnya: oksigen!
“betapa aku rindu bubur ayam,
cakwe, pidato indonesia menggugat,
sambal kacang, dan kecap asin”

stasiun kereta bandung
berdiri di atas koper-koper bergerak
matahari pagi turun dari eskalator
cantik – berambut panjang
sebuah pintu dan kunci masa lalu
dalam sebuah kamar hotel
     memburu paru-parunya
(rokok, korek, mie goreng, celana dalam,
kopi panas, sayur asam parahiyangan)
nafas yang gagal melompat
ke ujian teater pascasarjana
tentang sebuah pertunjukan
yang dibunuh dalam mesin komunikasi
     – mobile phone
dor! dor! dor!

(dijual dodol asia-afrika
dijamin non-blok
halal)

oksigen
     oksigen
          oksigen

wail berputar-putar membawa ambulans
malam yang liar
     buah batu ke kanan
          buah batu ke kiri
(seekor kelinci menyetubuhi kecemasan
kelaminnya terbakar
pintu ambulans muntah)

          oksigen
     oksigen
oksigen

oksigen menipis
sel-sel otaknya mulai gemetar
politik membutuhkan drama
panggung demokrasi dalam mulut kodok

pagi hari
bandung tertidur tenang dalam paru-parunya
di atas kursi roda – syska mendorongnya
membawanya dalam kamar penuh oksigen
dinding kaca rumah sakit
bandung di lantai 11

“dokter, bisakah anda
memberikan oksigen
untuk demokrasi”

.

perahu di atas pasir

ia hanya seekor burung
       rapuh
yang mengenang terbang
lewat bulu-bulu sayapnya
yang rontok
helai-helainya
yang terbang
dalam terbangnya
dalam senyap
dalam jatuhnya
yang burung

(tuhan
biarkan dia sendiri
tanpamu)

.

foto selfie di kandang buaya

seekor anak buaya mengamuk di masa depan
gigi, taring, dan ekornya liar mencari masa lalu
       – sialan –
masa depan yang dipotretnya
bukan miliknya

.

interview dengan badai

cuaca sedang buruk, kata kaşır supermarket
internet error
pesawat ditabrak burung
kami berduka untuk “jeju air”
badai mengangguk
membayar dengan uang palsu
ia baru saja meninggalkan sebuah perpustakaan kampus
dan mesin percetakan “man of the year”
        palsu

      kampus badai
      polisi badai
      atm badai
      bank badai
      doa badai

badai keluar dari super market itu
membawa pisang, roti gandum, tusuk gigi
dalam kantong plastik:

apakah kamu bahagia
apakah ini baik
apakah kamu ingin usia panjang
dan badai awet muda

hujan turun sangat deras
badai meneduh di halte bus
angin kencang
badai melihat
sebuah kota tenggelam
dalam mesin percetakan kebenaran

.

bangkai hukum dalam pesta ulang tahunmu

aku kirim 1000 ekor tikus
untuk memburu burung-burung hantu
yang berkeliaran dalam mimpi-mimpimu
       – tidak
kami lebih membutuhkan 1000 ekor burung hantu
untuk menangkap
tikus-tikus dalam gedung pengadilanmu

.

ontologi “f”

fuck
fucked
fucker
fuckin
fucking
fuck up

fuckfest


Aktivitas terkini (2024) Afrizal Malna

Performance lecture Jogja Art + Books Festival, Yogyakarta; Performance lecture Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok; narasumber Festival Seni Budaya Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara, Kendari; Performance Puisi Festival Sastra Kota Malang; juri Airlangga Cinema Festival (AICI), Surabaya; juri “Sayembara Naskah Drama”, Dewan Kesenian Jakarta; narasumber dalam workshop video puisi, Kultur Lampung; Narasumber “Forum Festival Arkipel”, Forum Lenteng, UI, Depok; narasumber Djakarta International Theater Platform, Dewan Kesenian Jakarta. 2025: Performance lecture “Aku OTW sayangku”, On Stage, Studio Plesungan; narasumber Workshop puisi Komunitas Puisi Kata Pengantar, Malang; Buku-buku terbarunya: Performance Art. Dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta 2023); Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta 2023); Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta. 2024); Document Shredding Museum. Terjemahan Daniel Owen (New York: World Poetry Books, 2024).


Ilustrasi: Gloucester Inner Harbor (Childe Hassam), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Gerson Jehamun – Bekal Masa Depan
Puisi-Puisi Dunstan Obe – Menyala, Kuinyadu!
Puisi-Puisi Salvatore Quasimodo – Laude


 

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Puisi-Puisi Afrizal Malna – Panggung Demokrasi dalam Mulut Kodok”

  1. fivi berkata:

    Teks ini bukan sekadar puisi, melainkan rangkaian performance poetry yang memadukan antara pengalaman personal, kritik sosial-politik, serta eksplorasi budaya lokal dan global. Dari biografi singkatnya, penulis lahir tahun 1957, aktif di media digital, dengan karya-karya yang memanfaatkan medium puisi performatif seperti teater masker hingga festival puisi eksperimental.

    Secara tematik, puisi ini menampilkan perpaduan antara tubuh, ruang, dan geografi. Kursi roda yang berulang kali muncul menjadi metafora keterbatasan tubuh sekaligus alat mobilitas untuk menembus batas bahasa, festival, hingga dunia. Simbol-simbol lokal seperti moke, sambal lu’at, kain tenun, gunung Lewotobi, hingga bahasa Krowe, dipadukan dengan isu-isu global seperti migrasi tektonik, ekonomi, hingga korupsi miliaran.

    Bahasa yang digunakan bersifat fragmentaris, kolase, dan teatrikal. Ada percampuran antara narasi puitis, data statistik, doa, hingga percakapan sehari-hari. Gaya ini memberi kesan puisi sebagai ruang perlawanan dan dokumentasi, sekaligus mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi.

    Kritik sosial-politik juga sangat menonjol, terutama pada bagian yang menyebut data kerugian negara triliunan rupiah akibat korupsi. Penulis menggunakan strategi cut-up dan montase, sehingga puisi terasa seperti arsip ingatan yang berlapis-lapis: pribadi, sosial, budaya, sekaligus politis.

    Akhirnya, teks ini tidak hanya dapat dibaca sebagai puisi, tapi juga sebagai performans budaya, sebuah dokumentasi tubuh, sejarah, dan politik yang dipentaskan melalui bahasa.

  2. Nuellash berkata:

    Puisi puisi ini sangat bermakna dan mengandung arti tersendiri, sangat kaya akan bahasa dan indah sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *