Larao
17 Agustus 2025| | 9 CommentsLarao bangun dengan separuh amarah dan rasa tak berdaya karena kematian yang terjadi lagi di atas kapalnya.
Oleh: Sayyidati Hajar |
Perempuan Timor yang kini mengajar pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kupang. Kumpulan antologi cerpen pertamanya berjudul Menyudahi Kabair (2019). Pada tahun 2020 menjadi salah satu emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF).
Lelaki itu berdiri di ujung perahu. Di langit, awan seperti arakan rumbai-rumbai yang menyelingi cahaya bulan purnama dari hamparan laut yang misterius. Kapal motor berkekuatan dua puluh tiga PK itu cukup bergoyang mengikuti ombak yang sesekali datang. Jangkar sudah dilepas. Mesin perahu sudah mati beberapa jam, hanya bunyi kompresor yang terus memekik mengabarkan pada penjuru laut bahwa ada kapal yang tengah mencari kehidupan pada hamparannya yang luas. Delapan penyelam berganti-gantian ke dasar laut. Tak ada kaki katak, juga masker yang disyaratkan pemerintah. Hanya dengan dua kompresor dan selang puluhan meter, para penyelam lompat ke dasar laut. Bila mujur, sekali menyelam mereka kembali membawa puluhan hewan gempal bertubuh lunak yang begitu dicari pasar.
Bunyi cipratan air pecah sesaat sebelum seorang laki-laki tua muncul ke permukaan laut sambil memegangi bibir perahu. Ama, angkat ini dulu, pintanya sambil menarik karung jaring. Anak buah yang bertugas menjaga selang kompresor mendekati bibir perahu.
“Banyak sekali ni, Paman!” sambutnya girang.
Air meleleh sebentar sebelum jaring itu berdentum di dasar perahu. Satu demi satu penyelam kembali meninggalkan bunyi bising pada permukaan laut yang semula hening. Laki-laki tua yang muncul pertama tadi telah memanjati sisi perahu. Tubuhnya langsung disambut angin subuh. Ia duduk sebentar, membiarkan sisa air di tubuhnya mengalir ke lantai perahu sambil meminta sebatang rokok. Terlihat seseorang memunggunginya—seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut sebahu yang dibiarkan teracak angin. Sudah beberapa malam, tempatnya selalu di sana. Lelaki tua itu mengerti betul apa yang tengah melanda hati menantunya. Tetapi ia tak mau mencampuri urusannya, ia yakin setiap pelaut punya kekuatan untuk berdiri tegak di tengah gelombang. Sambil menarik asap ke mulut, ia meneriaki Larao, Ama, mari isap rokok dulu.
Hening.
Laki-laki di ujung perahu itu—Larao, dihantam angin subuh. Dingin terasa menusuk-nusuk kulitnya. Keheningan yang merambah di dadanya menjalar hingga ke kaki dan lutut, seketika tubuhnya seperti balon udara yang akan terbang bersama sedikitnya satu dua bayangan yang menerjang pikirannya. Rasa sepi yang mendidih itu, meletup-letup di dadanya. Angin yang kencang dan ombak yang sesekali menghantam sisi perahu tak lantas membuatnya aman dari hampa yang terus meledak seperti kawanan bom di hari pertempuran. Hanya suara kompresor yang meringkik itu, yang sesekali membuatnya sedikit sadar bahwa ia masih di laut bersama anak buahnya yang sedang terjun mencari teripang.
Aba, pulang sudah! Berenti cari teripang la!
Larao seperti melompat ke malam saat ia mendengar suara istrinya timbul tenggelam di permukaan laut. Ketika itu, anak buah penjaga mesin kompresor tengah bersiaga sementara ia tertidur karena lelah menjadi pengawas. Rasanya ia baru memejamkan mata sebentar, tetapi kecemasan telah menguasai penghuni kapal. Para penyelam bergantian terjun ke dasar laut. Apa yang terjadi? Tiba-tiba Larao begitu menyesali tidurnya yang sebentar itu. Ia tahu bukan angin atau badai yang menghantam seisi kapal, tetapi mereka mungkin akan kembali membawa mayat lagi.
“Biar dulu, jangan sampai dia masih di bawah,” dengan setengah sadar Larao berteriak, “Kenapa tarik dia punya selang!!!” suaranya memekak melawan degup di dadanya.
“Kami sudah tunggu hampir satu jam, Opung!” petugas kompresor terus menarik selang.
Larao bergegas meraih selang dan senter lalu melompat ke laut. Hanya dalam hitungan detik, ia telah mencapai karang-karang yang bersimpuh agung seperti kerajaan di negeri dongeng. Larao menggerak-gerakan kedua tangannya sambil menghindari satu dua unggukan karang. Ia menyenteri karang dan pasir yang nampak keruh, tetapi tak menemukan tanda-tanda keberadaan Opung Arnes. Nihil. Selain ikan-ikan yang berkilau, juga beberapa ekor lobster yang merangkaki dasar karang, tak ada apa-apa. Dada Larao pun kembang-kempis menahan tekanan air laut yang tiba-tiba tak bisa dilawannya. Ia seperti hendak kehabisan napas, sehingga memutuskan kembali ke atas.
Opung! Opung Larao! Opung!
Di sebelah jaring berisi teripang yang dilempar sembarangan. Larao dibaringkan, dadanya ditekan berkali-kali. Kedua bahunya diguncang secara bergantian. Di atas perahu yang telah membantu hidup banyak orang itu, ia seperti anak kecil kehilangan rumah. Apakah Larao begitu kewalahan menahan air laut yang mengamuknya di bawah? Atau ia takut kehilangan lagi? Beberapa bulan lalu, seorang anak buah yang telah bersamanya puluhan tahun mati.
Opung! Bangun sudah opung!
Larao tak sadar. Tegang.
Suara-suara yang memanggilnya menjelma lagu tidur. Larao seperti berada di sebuah suasana yang tenang. Ia seperti berdiri di tengah kapal, ditemani seorang laki-laki berperawakan kecil dengan rambutnya yang selalu dicukur rapi. Kulitnya hitam legam sedikit bercahaya di malam purnama yang penuh. Kedua bahunya yang tangkas memberinya ruang utuh untuk melempar teripang ke dasar palka seperti anak kecil melempar gasing. Laki-laki kecil itu tersenyum pada Larao—senyum yang aneh, seperti senyum kepulangan yang ditunggu. Opung, saya punya istri ada tunggu mau lebaran sama-sama, katanya sambil melipat karung jaring. Tak ada bunyi kompresor, tak ada bunyi mesin kapal, hanya keduanya yang terombang-ambing pelan mendengar nyanyian laut. Laki-laki kecil itu naik ke atas badan perahu, bersiul pelan dan rebah sambil menatap langit.
“Ai, ini malam teripang banyak sekali la. Sa mabok memang, Besok mungkin tidak ada teripang lagi. Ini malam Tuhan su kasih keluar dorang semua,” kelakarnya sambil tertawa. Larao ikut rebah di di sisi lain kapal.
“Itu karena Ina Wae sudah berdoa siang malam,” timpal Larao.
Keduanya tertawa mengingat istri laki-laki kecil itu—Ina Wae. Ketika mereka menikah dulu, Larao sama sekali tak keberatan karena ia kenal betul siapa laki-laki kecil itu. Mereka sama-sama tak menerima ijazah sekolah menengah lantaran Larao menikah muda, sementara ia kabur ke pulau Lapang ikut bapaknya ikat rumput laut. Dua sahabat masa kecil itu lebih banyak menghabiskan waktu di laut. Ketika beranjak remaja, mereka sudah ikut dalam kapal teripang milik keluarga Larao.
“Sa mau pulang lebaran dengan mo pu Bineng,” gumam laki-laki itu lagi. Samar-samar, ia mendengar laki-laki kecil itu seperti menyinggung kaleso buatan istrinya yang gurih. Katanya Ina Wae selalu menambahkan sedikit tumbukan pala sehingga ada sensasi pedis di mulut. Kalau pakai kuah asam, enak sekali, katanya lagi sebelum benar-benar menutup mata. Larao yang tak punya teman bicara pun ikut tidur. Dari arah ruang mesin, seorang pria bertubuh gempal tengah membereskan beberapa barang. Semua orang kelelahan, Larao terlihat tidur menjulurkan kakinya ke sudut buritan, juga seorang laki-laki kecil di sisi yang lain. Pria itu keluar dari ruang mesin dan berdiri sebentar membereskan tali layar yang putus. Lalu dengan gesit melompat ke arah buritan, menyasar laki-laki kecil yang tidur memeluk istrinya dalam mimpi. Tak ada suara teriakan karena pria itu langsung mencekik lehernya dan lompat ke atas perut laki-laki kecil itu. Ia berupaya mengamuk, tetapi napasnya terus sesak, kakinya sengaja dihantam keras-keras ke lantai perahu untuk membangunkan Larao. Tetapi takdirnya tak sampai untuk selamat, ketika Larao sadar dan melompat ke arahnya. Laki-laki kecil itu telah terkapar—tak bernapas lagi.
Pahlawan!!! Suara Larao bergema membelah ombak yang tiba-tiba beribut bersamaan dengan angin.
Opung! Opung Larao!
Ketika membuka mata, semua anak buah ada di sekelilingnya. Larao bangun dengan separuh amarah dan rasa tak berdaya karena kematian yang terjadi lagi di atas kapalnya. Ketika ia pingsan, ia seperti bermimpi bertemu kunyadunya, Opung Pahlawan. Ah, Pria gempal, Larao mengingat-ingat pria yang ada di mimpinya. Apakah benar ada yang sengaja membuat orang-orangnya celaka?
“Opung Arnes sudah ketemu?” tanya Larao.
Hening. Tak ada jawaban. Hanya satu orang yang berusaha menggelengkan kepala, sisanya diam. Memang ini bukan kali pertama, tetapi ini yang paling cepat. Ini belum genap tiga bulan Opung Pahlawan mati. Mereka tak bisa menyangkali rasa ngeri yang tiba-tiba menyerang. Larao pergi ke buritan, kapal-kapal yang lain berdiri cukup jauh dari mereka. Apa yang akan ia katakan pada istrinya? Ketika Opung Pahlawan hilang, Ina Wae—adik perempuannya itu menangis bermalam-malam di pelukan istrinya. Bagaimana sa punya anak Wia, bagaimana kami punya nasib Wia? Begitulah yang dipertanyakan Ina Wae setiap malam sebelum jatuh tertidur. Maka pada malam-malam itu, istrinya yang tengah hamil tua itu juga terus menerus membuang muka.
“Aba, ini kita punya keluarga sendiri sudah kena tapi mo masih mau cari teripang terus?” tanya istri Larao, “Mo puas bikin Ina Wae jadi janda Aba? Mo lihat dia, setiap hari kurus kering. Tidak mau makan, tidak mau minum. Sa su bilang berhenti saja Aba, cari ikan lebih baik. Mo mau kaya-raya dengan itu hasil teripang dorang tapi orang mati terus?” lanjutnya ketika tak ada tanda-tanda suaminya akan menjawab.
Sejujurnya, Larao masih tak bisa memutuskan. Menjadi nelayan teripang adalah warisan keluarganya. Sebagai keturunan Bajo, ia hanya meneruskan apa yang telah diamanahkan kepadanya. Meski telah kawin-mawin dan bercampur darahnya dengan suku Alor di Pantar, Larao tak bisa melepas semua begitu saja. Ia punya janji pada bapaknya. Pertengkaran dengan istrinya selalu pecah jika ada anak buahnya mati di laut. Meski sudah ia rahasiakan, perempuan itu selalu mendapat kasak-kusuk dari berbagai sumber. Tetapi memang, malam ketika Pahlawan hilang, Larao mempertimbangkan pendapat istrinya. Terlebih, perempuan itu mengancam akan bercerai jika sampai ada anak buah yang mati di laut lagi.
Larao memalingkan wajah dari lautan lepas, ia melihat pulau Pantar dari kejauhan. Bayangan demi bayangan, ia menampung mimpi dan kenyataan dalam satu tubuh yang kian ringkih. Kematian demi kematian, apakah cukup menjadi alasan baginya untuk berhenti mencari teripang? Opung Arnes benar-benar ditemukan terapung beberapa waktu setelah ia bangun dari pingsannya. Apakah istrinya benar-benar akan menggugatnya untuk bercerai? Larao gemetar memegangi tiang layar. Laki-laki tua yang menawarkan rokok padanya telah berada di samping. Tubuhnya yang gemetar itu didudukkan di atas tumpukan tali. Larao masih ada di atas kapal, bersama mertua dan anak buahnya—pelayaran pertama setelah Opung Arnes hilang.
“Ama, kita ba masih di laut ni. Jangan berdiri menghayal terlalu lama,” bapak mantunya mengingatkan.
Suara orang tua itu membuat rasa sesak bertambah di dadanya. Pada dirinya yang menggigil itu ada ketakutan yang datang mendegup-degupkan dadanya, juga berlapis-lapis sesal yang tumbuh bagai tunas muda rumput laut yang pelan-pelan membuat pucuk-pucuk kehidupan yang baru. Ia telah berpikir untuk menjual kapal itu, juga semua kenangan buruk dari satu kematian ke kematian yang lain. Tapi apakah keluarganya setuju dengan keputusannya itu? Terakhir kali ketika ia memberitahu alasannya berhenti mencari teripang, keluarganya menyalahkan istrinya karena tidak mendukung pekerjaannya. Larao memegang pundak orang tua yang menemaninya di ujung perahu. Wajah istrinya menguasai pandangan, rasanya Larao akan rebah lagi sebelum memutuskan akan berhenti atau tetap menjadi nelayan teripang.[*]
Ilustrasi: Scenery With Ocean (Kansuke Yamamoto), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Neraka yang Turun di Kebun Kelapa – Ida Fitri
– Magi dan Molko – D. Hardi

cerita nya sangat bagus, kata katanya sangat mudah dipahami, saya suka..
seru banget cerita cerpen ini
Kekuatan cerpen ini terletak pada detail suasana laut, perahu, hingga dengung kompresor yang menegangkan, seolah membawa pembaca ikut menyelam dalam kecemasan para nelayan. Pada akhirnya, kisah Larao bukan hanya soal mencari teripang, tetapi juga tentang keberanian mengambil keputusan di antara tekanan ekonomi, keluarga, dan rasa kehilangan yang tak henti-henti.
Cerpen ini menghadirkan gambaran getir kehidupan nelayan pencari teripang yang terus dibayangi maut di tengah laut. Melalui tokoh Larao, kita melihat pergulatan batin seorang kepala keluarga: antara menjaga warisan leluhur sebagai nelayan Bajo atau mendengarkan jeritan istri dan kenyataan pahit kematian yang silih berganti merenggut sahabat-sahabatnya. Laut dalam cerita ini bukan sekadar ruang mencari nafkah, melainkan medan pertempuran antara hidup dan mati, antara tradisi dan keberlangsungan keluarga.
Laut memberi rezeki,tetapi laut juga mengambil apa yang paling berharga, hidup selalu penuh resiko,sebab itu rasa syukur harus selalu hadir, karena rezeki akan datang jika kita mencarinya kembali,tetapi kehilangan orang tersayang bahkan terkasih adalah luka yang tak akan pernah bisa hilang jika tidak diobati dengan doa dan keikhlasan
Terima kasih telah membaca Kak.
Mbak Sayyidati Hajar, gokil. Cerpen yang cukup kuat membahasakan manusia dan laut.
Meski demikian, saya cukup tertarik mendalami dialek2 Flores Timur dan Bajawa.
Saya ingin bekerja menjadi penulis cerpen
Ceritanya meaningfull sekali, jadi teringat film when lives give you tangerines, keren