Menu
Menu

segala sesuatu yang belum pasti apa warnanya apa bahasa tidurnya tak akan pernah menjadi senyum di lesung pipi pagi yang dingin.


Oleh: Michael Djayadi |

Lahir di Batu, 21 Mei 2000. Telah menerbitkan dua kumpulan puisi: Sebelum Burung-Burung Melawan Gravitasi (Pelangi Sastra, 2021) dan Kalau HAM Bisa Keseleo, Kenapa Puisi Enggak (Penerbit Ramu, 2025). Puisi-puisinya dimuat beberapa media daring, serta termaktub dalam beberapa antologi bersama.


sebelum pagi yang dingin

apa yang akan kauceritakan padaku, bila gelisah dan rumah sama-sama tak menawarkan getah nama yang sama, saat malam basah selalu hutan lama, pangkal pergi dan kembali. bagaimana rencanamu jika di awal temu kita dulu, kau cuma rusa penuh janji akan menyerahkan nyawamu pada liang rahangku, yang seharusnya tak pernah ada percaya terlepas dari sepasang taringku, yang setipis detik terakhir kan mengirim lehermu ke ujung neraka dan bahasa yang serakah. biarlah kau mengenalku sebagai singa jantan yang bapuk dan selalu mengalah pada mangsa penuh pesona sepertimu. biarlah kaupikir sepasang mataku akrab dengan rabun, dan rumpun dahan mudah patah oleh kedip bulu matamu. biar segalanya terjadi seperti dongeng para orang tua dan nasihat orang lampau, sampai akhirnya kau lengah tak sadar bayanganku telah berlari mendahului mimpi dan igau masa muda. di sana, di ujung bahasa yang serakah, kau akan mengenal namaku sebagai neraka yang selalu, selalu, selalu kaurindukan panas menebas demam dan egoismu, sebelum pagi dingin menyapa punggungmu yang tinggal kulit dan tipu daya.

2025

.

mendengar pagi yang dingin

suatu waktu kau pergi mengabarkan duka itu sekali lagi padaku. kausauhkan derak sampan terakhir pada sudut pulau terjauh, jauh dari jangkauan kobar mercusuarku. pulau dengan segala kebutuhan menghadapi kesepian akhir zaman, dan resep-resep kasual berkemah sendirian ketika ujung langit mendamparkan dirinya sebagai rupa-rupa kecemasan. kau tak perlu memikirkan hari esok ingin bersantap apa, di mejamu telah tersedia segalanya: seikat kepergianku dan kecup basah gincu pemegang meterai pulau itu.

2024

.

membakar pagi yang dingin

mengapa setiap kali aku memandang perempuan lain, tak ada perumpamaan liyan yang terbit memelukku dari belakang. di sela pucuk-pucuk binar bola mataku selalu hidup seseorang yang mirip dirimu. wajahnya umpama kilat wajah perempuan pertama, yang menemani mimpi basah remajaku setiap kali aku ingin melupakan merah pipimu, ketika pertama kali kau bertanya siapa namaku dan kujawab dengan kedipan mata seribu lampion. tapi, ketika aku merasa gagal mencintaimu sepenuh usia jiwa, justru aku semakin terbayang gelegak pertama saat kau kelabakan menyiapkan teh hangat pertamaku saat aku berkunjung ke beranda rumah ayahmu. hingga hari ini sebelum mataku buta menolak dijamah doa para kaum kudus, aku bertahan hidup di antara ingatan merah rona pipimu dan gelegak ceret cerewetmu. hingga aku semakin yakin bahwa semestinya pagi yang dingin terus menciumi kelopak mataku sendiri setiap kali perempuan lain yang bukan dirimu selalu penumpang asing di buritan.

2024

.

memahami pagi yang dingin

saat sekilas kisah menyilih suara kantukmu di sebuah pagi yang jauh dari ranjangku, adakah cinta tersendat itu masih tak jua menemukan muara? aku tak tahu bagaimana memberi jawab yang tidak merugikan siapa-siapa di antara sepasang sayap waktu menjauhi pagi yang dingin: aku yang terlampau merepotkan hari-hari dan malam-malammu, atau kau yang selalu memberikan dirimu pada seseorang yang bukan diriku. kau mungkin tak tahu banyak hal tentang segala sesuatu, apalagi sesederhana betapa rindunya hatiku memangkas jarak terjauh mendekati pipih gerimis tipis di belakang rumah masa kecilmu. kau selalu menolak menjadi peri berteman liliput saban sore sebelum air sungai meluap dan kau akan segera melupakan siapa diriku di dongengan negeri seribu umpama. mata malam redup mengosongkan hatimu tiba-tiba. kau seperti melepaskan sebuah anak panah mengincar sepasang kelenjar bahagia di dada kiriku, atau kau ingin sekali melupakan sebuah negeri yang sebenarnya tak iba kau lepaskan. adakah sekilas peristiwa kita adalah jembatan putus dan kau enggan mencari pertolongan merapatkan jarak antara tangis dan gelap kita berdua. tak ada malam yang sama semenjak namamu menggantungi langit-langit kamarku yang sialnya selalu bocor, dan aku tak tahu putih lebur mana lagi yang sanggup melabur lubang di sana: nganga hatiku meratapi jarak begitu jauh.

2024

.

menyangkal pagi yang dingin

kau tak percaya pada segala sesuatu yang tak pasti apa warnanya apa bahasa tidurnya. seperti kaudengar doa yang berdansa di senyap udara tiba-tiba menjadikan namamu sebagai bangsa terakhir di muka bumi. di utara pernah kausaksikan dongeng tanpa isyarat memanggil gembala nazaret mengumpulkan nama-nama raja dan iblis, tapi kau begitu sempurna menolaknya, betapa lembutnya lidahmu melepeh tuhan-tuhan selain ibu dan masa muda. segala sesuatu yang belum pasti apa warnanya apa bahasa tidurnya tak akan pernah menjadi senyum di lesung pipi pagi yang dingin. seperti saat tiba-tiba kau bangun dengan luka gigitan serigala di nyeri betismu, dan kau bertanya-tanya seperti apa warna taringnya apakah bahasa tidurnya selalu memanggil namaku, nama gembala dari nazaret.

2024

.

mencintai pagi yang dingin

kau meracik mimpi sehalus wangi pelangi fasih mengembangkan senyum bintang jatuh, harapan lamamu. pada setiap hal kecil yang jadi kegemaranmu menghabiskan hari, aku limpahkan seluruh malaikat terang di dalam kepalaku merangkul semua yang kaucinta: doa keselamatan di ujung hari, berharap surga jangan pergi dulu mengemasi segala bayang-bayang hari lalu. seperti rusa rindu aliran tigris dan efrat, aku akhirnya selalu lepas dari genggamanmu menujum hari depan. doa tak hanya mahir berdansa di senyap udara, ia mudah terbakar disengat lidah cemas dan panas akhir zaman. mimpimu yang sejak lama juga mimpiku tak pernah sanggup menyatukan kita sebagai bahasa terakhir di muka bumi. jika di suatu pagi yang dingin pernah sama-sama kita impikan masa depan adalah doa penuh keselamatan, tapi mengapa Tuhan tak sedekat napas sendiri, habis semua cara membuat cinta bertahan di udara dan berharap hidup jangan mati dulu, sebelum sungai meluap dan kau sengaja melupakan siapa namaku di pagi yang jauh lebih dingin, seperti mimpimu, bukan mimpiku.

2024

.

selepas pagi yang dingin

—untuk b

bagaimana perasaanmu setelah menyerah seorang diri seolah aku tak pernah hadir dalam perjalanan sekali seumur hidupmu, seolah aku bukan petualang dalam rute ajal terakhirmu. apakah cinta yang selama ini menyaru sebagai umban bagi ketapel masa kecilmu, semudah dan secepat itu kaubayangkan sebagai batu usang tak berarti apa-apa buat segala kemenanganmu menaklukkan raksasa negeri terjanji, masa depan seribu cahaya. mungkin pertanyaan-pertanyaan ini terlalu biasa dan teramat biasa bagi kesenanganmu mengelabui cinta dan menyudahi harapan. aku tahu cinta memang perkara besar bagi manusia di bumi yang sangat kecil ini, tapi bukankah kau pernah mengatakan bahwa tak ada cinta sebesar pengorbanan dan luka karena tulus dan penyerahan diri, seperti salib terbalik: biar kepala menggantikan kaki, biar kaki mengatasi kepala. bagaimana mungkin pekerjaan setiap saat seperti mencintai, membuat kau melupakan semua yang pernah aku lakukan demi mengusir mimpi buruk dan cerita pesimismu akan masa depan. di mana mata seribu lampion yang pernah kaukecup penuh kelembutan menyarangkan doa hari esok. apakah masa depan memang kabut yang teramat payah kausibak, karena kau selalu dan terlalu takut mengakui betapa cinta bapa begitu nyata dan sempurna.

2025


Ilustrasi: Morning Mist (Hans Hofmann), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi A. C. W. Staring
Puisi-Puisi Puji Pistols – Memoria Mario Ruoppolo
Puisi-Puisi Erich Langobelen – Hati yang Patah …


 

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

4 thoughts on “Puisi-Puisi Michael Djayadi – Mencintai Pagi yang Dingin”

  1. Andri berkata:

    Komentar saya tentang web bacapetra adalah luarbiasa

  2. Ibnu berkata:

    Tulisan ini sangat emosional dan puitis, menggambarkan kekecewaan mendalam atas cinta yang dilupakan. Bahasa simbolis dan religius memperkuat makna tentang pengorbanan, penolakan, dan kehilangan arah. Sebuah refleksi tajam tentang cinta, harapan, dan iman yang dikhianati.

  3. Andi berkata:

    menakjubkan

  4. aura berkata:

    sangat bermakna dan juga bermanfaat puisi tersebut karena mengandung cerita sedih dan juga makan di pagi yang dingin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *