Menu
Menu

Anak-anakku sayang, aku tidak bisa tidur dengan damai dalam keabadian jika tidak menyampaikan pengakuan ini, pengakuan atas suatu kejahatan …


Oleh: Lara Alexandra Syahrial |

Pegawai Negeri Sipil kelahiran 1990, yang memiliki pengalaman bekerja di beberapa perusahaan multinasional, dan memiliki pengalaman menerjemahkan teks untuk audiobook dan audioseries di platform Noice.id.


Seluruh penduduk Veziers-le-Rethel mengikuti prosesi pemakaman Tuan Badon-Leremince hingga ke liang lahat, dan kata-kata terakhir pidato perpisahan yang disampaikan oleh perwakilan distrik mengiang-ngiang di benak semua orang: “Setidaknya dia adalah pria yang jujur!”

Seumur hidupnya ia menjadi pria yang jujur dalam segala tindakan, perkataan, perbuatan, perilaku, usaha, bahkan dalam potongan janggut dan bentuk topi yang ia kenakan. Ia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak menjadi teladan, tidak pernah memberi sedekah tanpa menambahkan nasihat, tidak pernah menjabat tangan seseorang tanpa terlihat seperti sedang memberikan berkat.

Ia meninggalkan dua anak, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Putranya adalah seorang penasihat umum, dan putrinya, yang menikah dengan seorang pengacara, Tuan Poirel de la Voulte, bergaul dalam kalangan masyarakat terbaik di Veziers.

Mereka sangat berduka atas meninggalnya ayah mereka, karena mereka begitu tulus mencintainya.

Begitu prosesi pemakaman selesai, si anak laki-laki dan perempuan beserta menantu laki-lakinya kembali ke rumah duka, mengurung diri mereka di perpustakaan, lalu mereka membuka wasiat yang segelnya hanya boleh dibuka oleh mereka setelah peti mati masuk ke liang lahat. Keinginan ini dinyatakan melalui catatan yang tertera pada amplop.

Tuan Poirel de la Voulte merobek amplopnya, sesuai dengan profesinya sebagai pengacara sehingga terbiasa melakukan hal-hal semacam ini, dan setelah membetulkan kacamatanya, ia membaca dengan suara datar, suara yang biasa digunakan untuk membaca rincian kontrak:

Anak-anakku, Anak-anakku sayang, aku tidak bisa tidur dengan damai dalam keabadian jika tidak menyampaikan pengakuan ini, pengakuan atas suatu kejahatan, penyesalan yang karenanya telah menghancurkan hidupku. Ya, aku telah melakukan kejahatan, kejahatan yang mengerikan dan menjijikkan.

Saat itu usiaku 26 tahun, dan baru saja diterima menjadi pengacara di Paris, hidup sebagai anak muda dari daerah yang terdampar di kota ini tanpa kenalan, sanak saudara ataupun teman.

Aku punya kekasih. Ada orang-orang yang tidak dapat hidup sendiri. Aku adalah salah satunya. Kesendirian memenuhi diriku dengan kegelisahan yang mengerikan. Kesendirianku di kamar, di perapian pada malam hari. Saat itu aku merasa seolah sendirian di bumi ini, dikelilingi oleh bahaya yang samar, hal-hal asing dan mengerikan; dan dinding yang memisahkanku dengan tetangga, tetangga yang tidak kukenal; menjauhkan aku darinya sejauh bintang-bintang yang kulihat dari jendela kamarku. Demam menjalari tubuhku, demam karena kegelisahan dan ketakutan, dan kesunyian dari tembok-tembok yang membuatku ngeri. Kesunyian dari ruangan tempat seseorang hidup sendirian sangatlah intens dan melankolis. Bukan hanya dalam pikiran; ketika ada perabot berderit, tubuhmu gemetar karena kau tak mengharapkan suara apa pun dari tempat tinggal yang suram.

Betapa seringnya, karena cemas dan takut akan kesunyian yang tak bergerak, aku mulai bicara, mengulang-ulang kata tanpa tujuan hanya untuk menciptakan suara. Suaraku terdengar aneh pada masa itu, sampai aku pun takut pada suaraku sendiri. Adakah hal yang lebih mengerikan daripada berbicara sendiri di rumah tak berpenghuni? Suara seseorang terdengar seperti suara orang lain, suara asing yang berbicara tanpa arah, ke udara kosong, tanpa telinga yang mendengar, karena kita sudah tahu sejak awal apa yang akan diucapkan bahkan sebelum kata-kata tersebut dilepaskan dalam kesunyian. Dan ketika kata-kata itu bergema dalam kesunyian, mereka tak lebih dari sekadar gema, gema aneh yang dibisikkan dari pikiran sendiri.

Kekasihku seperti gadis muda pada umumnya yang hidup di Paris dengan penghasilan pas-pasan yang tidak cukup memenuhi kebutuhannya. Ia lembut, baik, dan sederhana. Orang tuanya tinggal di Poissy. Kadang ia pergi ke sana untuk tinggal beberapa hari bersama orang tuanya.

Aku hidup dengan tenang bersamanya selama setahun, sampai aku memutuskan untuk berpisah dengannya untuk menemukan orang yang cukup kusukai untuk kunikahi. Aku memberinya sedikit bekal, karena hal yang umum di masyarakat kita bahwa cinta seorang wanita harus dibayar—dengan uang jika ia miskin, dan dengan hadiah jika ia kaya.

Namun pada suatu hari ia mengatakan bahwa ia sedang hamil. Aku seperti tersambar petir, aku melihat hidupku akan hancur. Aku melihat belenggu yang harus kupakai sampai aku mati, di mana pun, di kehidupan keluargaku kelak, di masa tuaku, selamanya; belenggu yang diikatkan pada hidupku melalui seorang anak; anak yang harus kubesarkan, kuawasi, kujaga, sambil menyembunyikan diriku darinya dan menyembunyikannya dari dunia.

Aku sangat terguncang oleh kabar ini, dan dalam benakku muncul hasrat yang kacau; aku tidak menciptakannya, namun aku merasakannya dalam hatiku, siap muncul ke permukaan, seolah seseorang bersembunyi di balik tirai sedang menunggu sinyal untuk keluar. Andaikan ada kecelakaan! Banyak dari makhluk-makhluk kecil seperti itu yang mati sebelum sempat dilahirkan.

Oh! Bukannya aku mengaharapkan kekasihku mati! Gadis malang, aku sangat mencintainya! Tapi mungkin aku berharap, anak itu mati sebelum aku melihatnya.

Ia pun lahir. Aku mulai membangun rumah tangga di apartemen kecilku yang khas bujangan—rumah tiruan, dengan anak yang mengerikan. Ia terlihat seperti anak-anak pada umumnya; aku tidak memedulikannya. Para ayah, kau tahu, tidak langsung menunjukkan kasih sayang mereka. Mereka tidak memiliki insting dan naluri kelembutan seperti para ibu; kasih sayang mereka harus dibangkitkan secara perlahan, ikatan emosional mereka tumbuh dari hari ke hari melalui kebersamaan yang mereka jalani.

Setahun berlalu. Aku mulai menghindari rumahku sendiri, yang terlalu kecil, di mana kain linen, baju bayi dan kaus kaki seukuran sarung tangan berserakan, di atas perabotan, di atas kursi malas, di mana-mana. Aku jadi lebih sering keluar rumah, supaya tidak mendengar tangisan anak itu. Ia menangis karena hal paling kecil sekalipun—saat dimandikan, saat disentuh, saat ditidurkan, saat dibangunkan di pagi hari—tak henti-hentinya.

Aku mendapatkan beberapa kenalan baru, dan dalam sebuah pesta aku bertemu seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu kalian. Aku jatuh cinta padanya dan sangat ingin menikahinya. Aku mendekatinya, melamar menemui orang tuanya, dan mereka menyetujuinya.

Aku berada dalam sebuah dilema; aku harus menikahi gadis muda yang kucintai itu, padahal aku sudah memiliki anak, atau aku mengatakan yang sebenarnya dan melepaskannya, melepaskan kebahagiaanku, masa depanku, segalanya; karena orang tuanya yang berpegang teguh pada prinsip moral; tidak akan menyerahkannya padaku jika mereka tahu kebenarannya.

Aku melewati satu bulan penuh penderitaan, siksaan batin, sebulan yang dihantui oleh ribuan pikiran menakutkan; dan aku mulai merasakan kebencian tumbuh dalam diriku terhadap anakku sendiri—terhadap segumpal daging yang menangis itu, yang menghalangi jalanku, menghukumku untuk menjalani keberadaan tanpa harapan, tanpa segala impian samar yang memberi pesona masa muda.

Namun saat itu ibu kekasihku jatuh sakit, aku ditinggalkan bersama anak itu. Saat itu bulan Desember, dan cuaca sangat dingin. Malam yang sungguh mengerikan!

Pasanganku pergi. Aku makan malam sendirian di ruang makanku yang kecil dan aku masuk perlahan ke kamar tempat si kecil sedang tidur.

Aku duduk di kursi berlengan di depan perapian. Angin bertiup membuat jendela bergetar—angin yang kering yang dinginnya menggigit; melalui jendela aku melihat bintang bersinar dengan cahaya tajam yang khas pada malam yang beku.

Lalu pikiran yang menghantuiku selama satu bulan muncul kembali. Begitu aku berada dalam ketenangan, hal itu mulai mengusik. Menggerogoti pikiranku, seperti kanker yang melahap daging dalam tubuh. Ia ada, di kepalaku, di hatiku, di seluruh tubuhku, rasanya ia memakanku seperti binatang buas. Aku berusaha mengusirnya, menolaknya, membuka pikiranku untuk hal-hal lain, sebagaimana seseorang membuka jendela untuk menghirup udara pagi yang sejuk dan mengusir udara yang busuk. Namun, sulit menghilangkannya dari pikiranku, bahkan untuk sedetik. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan penyiksaan ini. Ia menggerogoti jiwaku, dan aku merasa sangat sakit, rasa sakit yang nyata, baik fisik maupun batin.

Hidupku hancur! Bagaimana caranya agar aku keluar dari situasi ini? Bagaimana aku mundur, bagaimana aku mengakuinya?

Dan aku sangat amat mencintai wanita yang adalah ibu kalian, yang diperparah dengan rintangan yang tak teratasi ini.

Amarah yang mengerikan mulai menguasai diriku, mencekikku, amarah yang membawaku ke kegilaan! Pasti aku benar-benar gila malam itu!

Anak itu sedang tidur. Aku bangkit dan melihatnya terlelap. Dialah penyebabnya, makhluk gagal ini, benih malapetaka ini, yang menghukumku pada penderitaan ini!

Ia terlelap, mulutnya menganga, terbungkus selimut di ranjang bayi di samping tempat tidurku—di mana aku sendiri tak bisa tidur.

Bagaimana aku bisa melakukan apa yang kulakukan? Bagaimana aku tahu? Kekuatan apa yang memaksaku? Kuasa jahat apa yang menguasai diriku? Oh! Godaan melakukan kejahatan datang tanpa peringatan apa pun. Yang kuingat hanyalah detak jantungku yang berdegup kencang. Sangat kencang sampai aku bisa mendengarnya, seperti pukulan palu di balik tembok. Hanya itu yang kuingat—detak jantungku!

Di dalam kepalaku terjadi kekacauan yang aneh, hiruk pikuk, kekalutan tanpa arah, hilangnya kesadaran diri. Itu adalah saat-saat kebingungan dan halusinasi ketika sesorang tidak sadar akan tindakannya dan tidak bisa mengendalikan kehendaknya.

Aku menyingkap selimut dari tubuh anak itu secara perlahan. Aku menyelipkannya hingga ke kaki ranjang, dan ia terbaring di sana, terbuka, dan telanjang.

Ia tidak terbangun. Lalu aku berjalan menuju jendela, sangat perlahan, dan aku membukanya.

Embusan angin dingin merasuk seperti pembunuh; udara sangat dingin hingga aku mundur, dan dua lilin berkedap-kedip. Aku tetap berdiri di dekat jendela, tidak berani menoleh, seolah takut melihat apa yang terjadi di belakangku; udara dingin terus menerpa dahiku, pipiku, tanganku, udara mematikan itu terus mengalir masuk. Aku berdiri cukup lama di sana.

Aku tidak berpikir, tidak merenung. Tiba-tiba sebuah batuk kecil membuatku menggigil hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki, menggigil yang masih bisa kurasakan sampai akar rambutku. Dan dengan gerakan tak terkontrol aku menutup kedua sisi jendela, berbalik, dan lari ke keranjang bayi.

Ia masih tertidur, mulutnya terbuka, benar-benar telanjang. Aku menyentuh kakinya yang sedingin es dan aku menyelimutinya.

Hatiku tiba-tiba tersentuh, diliputi kesedihan, dipenuhi dengan rasa iba, kelembutan, dan cinta terhadap makhluk kecil tak berdosa yang tadi ingin kubunuh. Aku cium rambutnya yang halus dan lembut dengan lama dan penuh kasih, lalu aku duduk di depan perapian.

Aku merenung dengan takjub sekaligus ngeri atas apa yang kulakukan, aku bertanya pada diriku sendiri dari mana godaan itu datang hingga aku kehilangan akal sehat, kendali diri dan bertindak seperti orang gila, tidak tahu arah tujuan—seperti kapal di tengah badai.

Anak itu batuk lagi, dan itu menghancurkan hatiku. Ia bisa saja mati! Ya Tuhan! Ya Tuhan! Apa yang terjadi padaku?

Aku bangkit dari kursiku dan melihatnya, dengan lilin di tanganku aku membungkuk ke arahnya. Melihatnya bernapas dengan tenang membuatku lega. Namun ketika ia batuk untuk ketiga kalinya, aku begitu terkejut sampai terhenyak ke belakang, seolah baru saja melihat pemandangan yang mengerikan, dan aku pun menjatuhkan lilinku.

Ketika aku berdiri setelah mengambil lilin, aku sadar pelipisku dibasahi oleh keringat—keringat dingin yang muncul akibat jiwa yang menderita. Aku membungkuk di atas anakku sampai fajar menyingsing, tenang untuk beberapa saat, dan diliputi rasa sakit yang mengerikan ketika batuk yang lemah keluar dari mulutnya.

Ia bangun dengan mata yang merah, kerongkongannya tercekat, dengan wajah menderita.

Saat pembantu wanita masuk untuk membereskan kamarku, aku langsung menyuruhnya memanggil dokter. Dia datang satu jam kemudian, dan setelah memeriksa anak itu, ia berkata:

“Apakah dia masuk angin?”

Aku mulai gemetar seperti orang terkena parkinson, dan aku tergagap menjawab:

“Tidak, kurasa tidak.”

Lalu aku bertanya:

“Apa yang terjadi? Apakah serius?”

“Aku belum bisa memastikan,” jawabnya. “Aku akan datang lagi malam ini.”

Ia pun datang malam itu. Sepanjang hari anakku berada dalam kondisi mengantuk, sesekali batuk-batuk. Sepanjang malam itu paru-parunya mulai membengkak.

Keadaan itu berlangsung selama sepuluh hari. Ia tidak bisa mengungkapkan betapa aku menderita di jam-jam tanpa ujung itu, yang memisahkan pagi dari malam, dan malam dari pagi.

Ia meninggal.

Dan sejak saat itu, aku tidak pernah melewatkan bahkan untuk satu jam pun tanpa ingatan yang membakar dan membekas tersebut, ingatan yang terus menggerogoti, kenangan yang seolah meremas-remas hatiku, bangkit seperti binatang buas yang terkurung dalam diriku.

Oh! Andai saja aku bisa menjadi gila!

Tuan Poirel de la Voulte menaikkan kacamatanya dengan gerakan khas yang biasa ia lakukan setelah membaca kontrak; dan ketiga pewaris tersebut saling melihat satu sama lain tanpa sepatah kata, pucat, tak bergerak.

Satu menit kemudian, sang pengacara berkata:

“Itu harus dihancurkan.”

Dua orang lainnya menundukkan kepala tanda setuju. Ia menyalakan sebatang lilin, dengan hati-hati memisahkan lembaran yang berisi pengakuan yang dapat memberatkan hal-hal yang berkaitan dengan pembagian harta, lalu memegangnya di atas lilin dan melemparkannya ke perapian.

Mereka memandangi lembaran kertas putih yang terbakar, sampai berubah menjadi gumpalan hitam yang rapuh. Dan karena tulisan di kertas tersebut masih terlihat samar-samar, sang anak perempuan menghancurkan sisa serpihan kertas itu dengan hak sepatunya, mencapurnya dengan abu lama di perapian.

Kemudian ketiganya berdiri di sana beberapa saat, seolah mereka takut rahasia yang telah mereka musnahkan bisa lolos dari sana.[*]


Tentang Guy de Maupassant |

Guy de Maupassant (5 Agustus 1850 – 6 Juli 1893) adalah seorang penulis Prancis populer abad ke-19 dan dianggap sebagai salah satu pencetus cerita pendek modern. Cerita Maupassant dikenali dari ekonomi gaya dan efisiensinya. Banyak ceritanya berlatar belakang Perang Prancis-Prusia tahun 1870-an. Beberapa di antaranya menceritakan kekejaman perang dan warga tak bersalah yang terperangkap dalam konflik. Ia juga menulis enam novel pendek serta beberapa buku laporan perjalanan.


Ilustrasi: Ben vous confessera, puis après derrière, vous pourrez vous suicider; dari WikiArt.org.

Baca juga:
Bayi Désirée – Cerpen Kate Chopin
Uang – Cerpen Osamu Dazai


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

7 thoughts on “Pengakuan Ayah – Cerpen Guy de Maupassant”

  1. Fitrianti Tandipanga berkata:

    Saya bisa membayangkan betapa bertahun-tahun Tuan Badon-Leremince hidup dengan menanggung rasa bersalah sebagai penyebab anaknya dari kekasih pertamanya meninggal. Melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat dan makmur, melihat keluarganya sangat rukun dan dihargai membuat rasa bersalah itu semakin menggerogoti hati dan pikirannya. Sukaa banget ama alur cerita yang simple tapi menyentuh kedalaman hati

  2. Pitri sumarni berkata:

    Dari cerpen yang di baca di atas terasa banget nyesek nya, bagus banget ceritanya, walaupun gak buat cerita dari awal langsung ke ending si bapaknya tapi di sana pelajaran nya pikirkanlah dua kali sebelum bertindak, karna kita gak tahu hal itu akan aik atau enggak.

  3. Lly berkata:

    Saya mau daftar

    1. BACAPETRA.CO berkata:

      Daftar apa, Kaka?

  4. rifa berkata:

    cerita ini sangat menarik untuk kita yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah

  5. Rohib Baihaqi berkata:

    Cerita Ini sangat menarik dan membuat saya lebih mengerti tentang sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *