Menu
Menu

Istri dan anak-anak Sordidus terlambat menjemput ayahnya karena sibuk menyiapkan segala macam kejutan. Benar, kejutan.


Oleh: Aveus Har |

Tinggal di Pekalongan. Bekerja di Laboratorium Ide dan Cerita (LABITA). Novel terbarunya berjudul Tak Ada Embusan Angin dari Naskah yang Menarik Perhatian Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2023. Cerpennya yang berjudul “Istri Sempurna” menjadi cerpen terbaik Kompas 2023.


Sordidus memilih pergi.

Sejak masuk penjara dua puluh tahun lalu dia sudah merasa dunianya salah. Dia tidak mengerti apa yang terjadi ketika polisi menjemputnya dari rumah. Istrinya menangis. Anak-anaknya menangis. Namun, dia sungguh tidak mengerti mengapa polisi menjemputnya.

Dalam pemeriksaan polisi, Sordidus telah diduga sebagai pembunuh seseorang berinisial X. Kejadiannya tiga bulan sebelumnya, tepatnya 12 Desember 2012, pada kisaran pukul 22.00 di hotel B. Sordidus tentu saja tahu tentang kematian perempuan berinisial X itu karena dia membaca beritanya di koran. Namun, seorang saksi konon melihat Sordidus di tempat kejadian perkara (TKP) dan atas kesaksian itu Sordidus diduga sebagai pembunuh seseorang berinisial X itu.

“Tunggu,” kata Sordidus, menyela. “12 Desember 2012 pada kisaran pukul 22.00 saya sedang berada di Hotel C,” katanya lebih lanjut.

“Apa yang Anda lakukan di Hotel C?”

“Menginap, tentu saja.”

“Dengan siapa Anda menginap di Hotel C?”

“Rombongan staf kantor.”

“Baiklah.”

Sordidus berpikir bahwa polisi salah tangkap dan dia akan bebas, tetapi dia salah. Polisi datang dengan lembaran kertas berlogo Hotel C dan menyatakan bahwa pada hari itu tidak ada rombongan staf kantor sekretariat daerah yang menginap di sana.

Ini karena …. Rumit untuk menjelaskannya. Sordidus merasa dirinya berada dalam labirin ketika berusaha menjelaskan mengapa tidak ada catatan administrasi atas penginapan rombongan itu di Hotel C.

Penjelasannya demikian:

Rombongan staf kantor itu memang menginap di Hotel C, tetapi secara administrasi mereka menginap di Hotel B. Karena biaya menginap di Hotel C lebih murah dari Hotel B, para staf itu mendapatkan uang kelebihan penginapan. Bagaimana caranya bisa melakukan semacam itu, tentu saja, karena ada kongkalikong antara bendahara staf kantor dengan manajemen Hotel B dan C. Dan, semacam ini bukan persoalan benar karena bagi para staf, hal terpenting adalah mendapatkan uang kelebihan penginapan dari pada benar-benar menginap di hotel berbintang yang mahal itu, karena itu toh hanya sekadar tidur.

Namun, kali ini menjadi masalah karena ada perempuan yang mati dibunuh di Hotel B pada hari itu. Dan ada kesaksian bahwa Sordidus diduga pelakunya.

“Tanyakan saja pada anggota staf yang lain,” kata Sordidus.

“Baiklah.”

Sebuah stop map dibuka. Ada lembar pernyataan bahwa pada waktu itu mereka—para staf kantor itu—menginap di Hotel B. Tiga belas orang bertanda tangan di lembar dengan kop sekretariat dewan dan itu termasuk dirinya, Sordidus, yang juga menandatangani.

“Bagaimana menjelaskannya?” Sordidus tidak mengerti.

“Apakah Anda bertanya?”

“Semua bertanda tangan di situ untuk mendapatkan kompensasi kelebihan anggaran penginapan.”

“Dan sesungguhnya Anda dan staf lain menginap di Hotel C?”

“Tepat. Itu buruk, itu korupsi, tetapi itu hal yang wajar dan biasa, bukan?”

“Pengadilan yang akan memutuskan.”

Namun, yang terjadi bukan pengadilan korupsi anggaran penginapan, melainkan pembunuhan. Sordidus duduk di bangku terdakwa, dan segala drama disajikan: pembacaan tuntutan, kesaksian-kesaksian, pembelaan-pembelaan, pengunduran keputusan, negosiasi.

Sordidus bertemu orang-orang yang dia kenal, mereka saling berbicara, tetapi segala pembicaraan hanya mengarah pada sebuah drama pembunuhan yang direncanakan yang dilakukan Sordidus. Sesuatu yang seolah mimpi buruk baginya dan tidak mungkin terjadi pada kenyataan.

Apa yang tidak mungkin? Sordidus harus menerima itulah kenyataannya: seseorang telah membunuh perempuan di Hotel B dan dia yang menjadi pelakunya.

Pelaku tanpa pernah melakukan. Meskipun Sordidus bersumpah tidak melakukan itu, tidak mengenal perempuan itu, tidak tahu menahu soal kematiannya, tetapi apakah sebuah sumpah bisa diterima di pengadilan? Tidak. Semua saksi dan bukti telah membawanya pada jeruji besi.

Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dua puluh tahun adalah siksaan kemarahan yang tidak tahu harus diarahkan pada siapa. Dua puluh tahun memberitahunya bahwa hidupnya ini kotor dan dia harus pergi selepas hukuman di balik jeruji.

Di tahun-tahun awal hukumannya, anak-anak dan istri Sordidus rajin menjenguk, tetapi mereka nyaris tidak berbicara apa-apa. Bungkam yang membuat Sordidus berpikir bahwa sebagai seorang laki-laki, seorang suami, seorang ayah, dia telah gagal.

Tahun-tahun kemudian mereka semakin jarang datang. Lalu di tahun-tahun akhir tidak pernah lagi datang. Anehnya, ketika mereka tidak datang itu Sordidus merasa tenang. Dia merasa bahwa anak dan istrinya telah menerima kenyataan yang tidak nyata ini bahwa laki-laki ini telah melakukan kesalahan yang tidak lagi bisa diperbaiki. Karena anak dan istrinya telah menerima itu, Sordidus pun akhirnya menerima kenyataan bahwa dia telah membunuh seorang perempuan yang merupakan selingkuhannya yang sedang hamil dan memaksanya untuk menikahi perempuan itu.

Kapan Sordidus mengenal perempuan itu? Tidak pernah. Kapan Sordidus menggauli perempuan itu? Tidak pernah. Namun, segala catatan, surat-surat, saksi-saksi telah bersumpah bahwa Sordidus mengenal perempuan itu dan menggaulinya.

Berita pembunuhan yang dia lakukan telah menjadi kabar ke seluruh pelosok negeri, dan seluruh orang di kota mereka pasti tahu, dan seluruh orang di pemukiman mereka pasti tahu, dan jika setelah dua puluh tahun ini Sordidus kembali ke rumahnya, apakah dia bisa kembali menjadi Sordidus yang dua puluh tahun lalu?

Tidak.

Itulah mengapa Sordidus memilih pergi.

***

Istri dan anak-anak Sordidus terlambat menjemput ayahnya karena sibuk menyiapkan segala macam kejutan. Benar, kejutan. Semacam perayaan atas penebusan dosa ayahnya yang memberi mereka—istri dan anak-anak Sordidus—berkah.

Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, tetapi hidup yang menyenangkan telah membuat mereka merasa waktu berlalu bergegas-gegas. Lalu tiba-tiba ada kabar Sordidus dibebaskan setelah mendapatkan remisi ini-itu. Mereka gembira, tentu saja, tetapi belum menyiapkan perayaan, bahkan belum memikirkannya, dan segera saja mereka melakukan itu: menyusun rencana-rencana.

Sejak Sordidus masuk penjara untuk kasus yang tidak dia lakukan, utusan dari seorang-yang-tidak-boleh-disebut-namanya, atau kita singkat saja SyTBSN, telah menemui istri dan anak-anak Sordidus dan membicarakan kompensasi. Ini mencakup kesejahteraan dan masa depan untuk mereka: tunjangan bulanan selama Sordidus dipenjara, biaya pendidikan dan jaminan kerja untuk anak-anak Sordidus, dan kemewahan untuk istri Sordidus. Masih ada lagi, jaminan kembali bekerja untuk Sordidus, tentu saja, tetapi karena usianya, yang terjadi adalah jaminan hari tua alias tunjangan pensiun.

Atas inisiatif istri Sordidus, rumah tempat tinggal mereka dijual dan mereka pindah ke lain kota. Di kota lain itu mereka menjalani kehidupan yang jauh lebih menyenangkan. Mereka menjadi orang kaya, anak-anak Sordidus bekerja dan menikah, dan istri Sordidus sibuk bersosialita.

Demikianlah, karena satu dan lain hal maka keterlambatan penjemputan Sordidus itu niscaya.

“Bapak Sordidus telah keluar dari penjara dan pulang,” kata sipir.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah. Bapak Sordidus katanya masih ingat di mana rumahnya.”

“Tapi kami sudah pindah!”

Di rumah mereka yang lama, yang sekarang telah menjadi gudang toko sembako, tidak ada yang tahu apakah Sordidus ke situ atau tidak.

Ke mana Sordidus pergi?

**

Sordidus pergi ke barat.

Dia pergi mengembara meninggalkan dunianya yang kotor dan penuh kemunafikan untuk mencari kesucian.

Usianya 75 tahun ketika keluar dari penjara dan dia melakukan perjalanan tanpa bicara dan selama bertahun-tahun kemudian bukan saja tubuhnya semakin renta tetapi dia pula semakin lupa bahasa.

Dia sudah tua sekarang dan pikun dan karena lama tidak berkata-kata bibirnya terasa sulit untuk berkata, tetapi dia berpikir memang tidak memerlukan kata-kata sebagaimana pengadilan tidak membutuhkan sumpah dan pembelaannya.

Setelah melewati kota-kota yang semuanya bobrok, Sordidus tersesat dalam hutan. Dia tidak peduli lagi pada dirinya, pada hidupnya, pada apa-apa yang melekat di tubuhnya, yang telah compang-camping dan akhirnya pakaiannya lepas dan Sordidus telanjang, kurus, dekil, bau, tetapi masih waras.

Di kedalaman hutan, serombongan orang menghadangnya. Orang-orang suku primitif, pikir Sordidus, dan barangkali mereka akan membunuhnya, tetapi Sordidus sudah tidak peduli.

Seorang dari mereka berbicara dengan bahasa yang tidak Sordidus pahami. Sordidus berkata-kata, tetapi mulutnya telah asing dengan kata-kata sehingga apa yang keluar dari mulutnya tidak jelas bahasa apa. Sordidus berusaha menemukan bahasanya, tetapi tetap saja mulutnya meracau entah.

Mereka, orang-orang primitif itu, bersimpuh dan menjura pada Sordidus, kemudian mereka menandu Sordidus ke pemukiman.

Sordidus hidup damai di sana. Dia semakin tua dan lupa pada masa lalunya, tetapi itu tidak penting. Selama di pemukiman hutan itu, Sordidus diperlakukan dengan kemuliaan. Dia berkata apa saja sekeluar mulutnya dan mereka menafsirkan entah apa dan Sordidus tidak peduli.

Sampai ujung hayatnya, Sordidus hanya tahu satu kata “Awokwok” yang mereka pakai untuk menyebut dirinya. Dia tidak tahu bahwa itu artinya adalah nabi. [*]


Ilustrasi: Old Man in Warnemunde (Edvard Munch), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Panakkok Gana – Cerpen Christiaan Rahmat
Pengakuan – Cerpen Ken Hanggara


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

11 thoughts on “Sordidus”

  1. noblue berkata:

    hah hahaha ‘awokwok’

  2. alexx berkata:

    apakah praktek seperti ini memang ada di negara kita ngeri juga…

  3. firman berkata:

    asik sih ceritanya tapi endingnya 😭😭

  4. cl0udpyy berkata:

    ending nya gong bgtt

  5. Muhamad Ikhsan berkata:

    Endingnyaa 😭😭

    1. Naina berkata:

      Sukaa endingnyaa hahaha. Mau ketawa tapi ini sedih 🥲

      1. Juwita berkata:

        Plot twist yang amat sangat tidak terduga.

  6. Qiyayy berkata:

    Menarik

    1. idnakra pp berkata:

      aveus har sudah sepatutnya jd nabi 🤣

    2. Lail berkata:

      Secara keseluruhan bagus bah ceritanya mengingatkan saya pada sebuah kasus di negara Konoha, cuman agak terkejut aja sama endingnya 😭😭😭

  7. Febi susanti berkata:

    Sangat menarik sekali 🤩🤩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *