Menu
Menu

Dia belum menyiapkan apa-apa untuk bekal masa depan/ Dirinya yang masih ingin belia/ Diceritakan oleh ponakannya, …


Oleh: Gerson Jehamun |

Mencoba menulis apa pun, seperti puisi. Hidup berpindah-pindah. Punya hobi bermain ABC lima dasar dan menyetel alarm.


Sebuah Epilog bagi Industri Hijau Kita

Apa yang benar-benar terlintas di garis pinggir pikiranmu setiap hari

Mungkin lebih ke perkara skincare, wisata terviral, atau kuliner mewah
Yang kau takut jika itu tak tersentuh
Hidup jadi lebur dan kau hancur sekudet-kudetnya

Yang tak kau sadar, dunia terlalu berpura-pura
Orang-orang itu bilang, “Semua ini akan hijau atau biru
sebagaimana planet ini digambarkan dalam kitab paling suci.”

Tapi ternyata: Nihil
Entah usahanya
Atau seluruh kehidupan ini?

Bahwa semulanya kosong, tanpa makna
Maka kau sendiri yang mencarinya

Sebenarnya perlu sekali sesekali mengenakan jubah Nietzsche
Merasakan hidup dalam dunia “Orang Asing”
Berkaca diri
Menemukan tubuhmu sebagai seekor kecoa yang berusaha menjelma burung

.

Ida

Suster, laki-laki itu membunuh orang tuamu
Ayahnya terbaring di rumah sakit
Dan tidak dapat memberikan pengakuan sebenarnya-benarnya
Jati diri manusia sesungguhnya adalah binatang, penuh birahi dan serakah

Sore ketika laki-laki itu menemuimu di hutan, menangis
Dan mengaku bahwa ia yang merenggut nyawa dua sesayangmu

Kau tak bisa menangis dan tak ingin terlihat menangis

Kau pikir inilah kegilaan yang hanya bisa terlihat dari luar jendela kamar biara
Selebihnya kau hanya melihat Yesus tersalib
Dibaluti taring-taring manusia yang haus darah

Ketika di menit keempat puluh
Gelap datang
Kau mabuk
Sontak mengelap bibirmu dengan bibir seorang pemain saksofon

Paginya kau bangun dengan tubuh telanjang
Atau pikiranmu yang terbuka
(Kau menangis)

Tak lama, kau mengenakan lagi pakaian biara itu
Serasa telah tahu semua rahasia kehidupan

Kau tentu tak lagi mencari jalan pulang
Kau hanya ingin kembali

.

Alleluya

Getaran suara malaikat menggema sampai ke tiang-tiang tempat tidur
Dan ketika lantunan alleluya terdengar
Matamu terbuka

Sepi dirimu

Senja kemarin, lelaki tua itu telah bersabda,
“Tuhanmu tidak saja berdiam di rumah yang nyaman.
Ia juga tinggal di rumah-rumah yang bahkan belum pernah kau kunjungi, gubuk sekali pun.”

Kau bertanya-tanya apakah hatimu adalah sebuah gubuk reyot atau istana berlapis emas

.

Leni, 77 Tahun

Kedatanganku disambut hujan dan petir yang menyapaku dengan sedikit permisi

Di bangunan yang kau tempati, hidup bercerita mengenai kisah lain
Tentang orang-orang yang ditinggalkan

Kau meracau, kukira, ketika kau bilang,
“Sudah tak ada yang mencintaiku lagi.”

Tubuhmu yang mungil terpenjara di kursi roda
Tapi kau bilang,
“Inilah rumah.”

Seketika aku ingin sekali bertemu bapa dan mama
Lalu memberitahukan bahwa rumah adalah diri kita
Yang entah tahu mau ke mana atau tidak
Tinggal atau berpindah
Kita adalah rumah

.

U

Dia belum menyiapkan apa-apa untuk bekal masa depan
Dirinya yang masih ingin belia
Diceritakan oleh ponakannya,
“Beliau masih rajin menulis puisi, kadang nganggur dan jadi orang aneh. Kau tahulah, hobi om-om yang tidak menikah. Kadang juga banyak menasehati. Aku malas.”

Tiap kali menghitung hari, dia kerap merasa ganjal
Seperti tak merasa hidup di setiap tanggal ganjil
Atau demikianlah hidupnya
Malamnya kopi dan wiski mendengkur di ginjalnya
Sebelum ia bangun esok pagi dan menggigil seperti anjing yang terguyur hujan lebat seharian


Ilustrasi: Loneliness (Koloman Moser), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Giovanni A. L Arum – Di Ruang Pengakuan
Puisi-Puisi Afryantho Keyn – Sesaat Sebelum Kau Berlabuh
Puisi-Puisi Andria Septy – Menyapu Lamunan di Musim Kemarau


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

8 thoughts on “Puisi-Puisi Gerson Jehamun – Bekal Masa Depan”

  1. adrian maulana berkata:

    bagus dan menarik sekali

  2. Elinda Arifah berkata:

    bekal masa depan itu ilmu cukup ingat pepatah ini berbuat baik lah seperti anda akan mati esok hari dan cari ilmu dunia lah seakan akan kamu hidup di dunia selamanya atau kekal jangan ragu untuk meraih masa depan manusia pusing karena mereka memikirkan tugas tuhan SWT

  3. Dzaka Naufal Rauf berkata:

    Sangat menarik sekali

  4. habib maulana berkata:

    bagus banget sih, menarik juga

  5. Shokhibatun Naja berkata:

    Bagus ceritanya menarik sekali

  6. Shokhibatun Naja berkata:

    baguss ceritanya menarik

  7. Vranz berkata:

    Bagus, menarik banget.

  8. Muhammad Fathir berkata:

    bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *