Menu
Menu

Sudut pandang yang beragam dapat ditemukan dalam kumpulan cerpen Perempuan dan Anak-anaknya yang berkisah tentang peristiwa ’65.


Oleh: Boy Doreng |

Anggota Klub Buku Petra.


Cerita dan narasi merupakan cara untuk membangun dan menghancurkan kemanusiaan. Kalimat tersebut bisa menjadi nada dasar dalam bincang buku yang digelar oleh Klub Buku Petra. Bincang Buku Petra ke-69 menghadirkan kumpulan cerpen Perempuan dan Anak-anaknya (PAA). yang mengambil pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pendukung komunisme di Indonesia pada tahun 1965-1966 (selanjutnya peristiwa ’65).

Cerpen-cerpen yang terbit pada rentang waktu 1965 hingga 1970 dikumpulkan kembali oleh Yosep Yapi Taum dan Romo Antonius Sumarwan sebagai editor dengan intensi dasar mengangkat narasi dari pinggir seputar peristiwa ’65. Narasi para korban dan penyintas yang seringkali terlupakan, tidak terekam dalam memori dan tercatat dalam sejarah besar bangsa Indonesia.

Narasi Kebencian dan Memori Kolektif

“Marilah kita berkisah sehingga para eksekutor tidak dibiarkan menjadi pemilik kata terakhir. Kata terakhir adalah milik para korban.” Kalimat ini disampaikan oleh Elie Wiesel, seorang penyintas tragedi kemanusiaan Auschwitz yang dikutip oleh kedua editor Perempuan dan Anak-anaknya dalam halaman awal buku. Bagi Wiesel, sejarah kehidupan adalah cerita tentang para pemenang dan orang-orang kalah. Dia mengalami sendiri kekejaman dan penderitaan karena sebuah narasi dan cerita. Tragedi kemanusiaan dalam sejarah seringkali lahir dari sebuah narasi yang dipropagandakan secara luas. Narasi kebencian terhadap Ras Yahudi oleh Hitler menimbulkan serangkaian kekejaman perilaku manusia membasmi manusia lain. Kamp-kamp konsentrasi merupakan saksi sejarah kekejaman sebuah narasi kebencian tentang yang lain (the other). Kekejaman dan penderitaan itu digambarkan oleh Wiesel ketika ia menulis demikian: “Celakalah kami! Sekurang-kurangnya dalam satu hal musuh kami telah menang, yakni saat dia melakukan terhadap kami hal-hal yang tak dapat kami lukiskan dengan kata-kata yang kami miliki.” (Wiesel, 1987).

Narasi yang sama juga melumpuhkan sendi-sendi kemanusiaan dalam diri seorang Adolf Eichmann, seorang tokoh kunci yang bertugas menggiring orang-orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi. Dalam kesempatan sidang atas keterlibatan dalam tragedi Aushcwits, Eichmann menunjukkan ketenangan seorang pembunuh berdarah dingin. Hannah Arendt yang menyaksikan sendiri sidang itu-yang kemudian ia tulis dalam Eichmann in Jerusalem-terkejut dengan jawaban-jawaban dan sikap tubuh Eichman yang sangat tidak menunjukkan ekspresi kekecewaan dan penyesalan. Sebaliknya dengan santai dan tanpa merasa bersalah menjawab satu per satu pertanyaan hakim. Ia menjawab jika dirinya hanya menjalankan perintah atasan (baca: Hitler). Kemanusiaan mati dalam diri Eichmann. Dalam kondisi demikian, menurut Arendt kejahatan adalah sebuah banalitas, sesuatu yang biasa dan lumrah. Banalitas ini terjadi juga dalam sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru.

Orde Baru adalah suatu masa ketika sejarah adalah milik para pemenang dengan jalan menghancurkan orang-orang kalah yang lain melalui bangunan narasi dan cerita yang hegemonis. Narasi dan cerita itu diproduksi dalam ‘dapur rezim’ dan disemai dalam bentuk produk hukum, film, buku pelajaran hingga proses rekrutmen birokrat. Hegemoni semakin kokoh dengan membangun memori kolektif yang kuat tentang musuh bersama (common enemy). Pada masa Orde Baru musuh bersama itu adalah PKI.

Memori kolektif PKI sebagai musuh bersama membekas dalam hasil bacaan beberapa peserta bincang buku. dr. Ronald membaca kumpulan cerpen itu dalam kerangka pengalaman pribadinya sebagai orang yang melihat dan mendengar tentang penggolongan dan klasifikasi orang-orang yang dituduh terlibat atau terafiliasi dengan PKI. Pada masa itu, orang-orang yang terlibat atau terafiliasi dengan PKI diklasifikasi atau digolongkan dalam golongan A-F menurut kedekatan dan keterlibatan langsung dalam organisasi PKI.

Frans Posenty mengibaratkan pengalaman membaca Perempuan dan Anak-anaknya seperti mengunyah makanan keras yang butuh kekuatan emosional kuat. Dia menceritakan kembali kisah ayahnya yang menjadi salah satu saksi mata pembataian di Pasar Puni Ruteng dan ketika dia mengikuti tes Pegawai Negeri Sipil. Dalam tes itu salah satu hal yang menjadi poin penting adalah soal hubungan dengan PKI. “Pada masa Orde Baru, ada istilah bersih-bersih yang terdiri atas ‘bersih diri’ dan ‘bersih lingkungan’. Bersih diri berkaitan dengan keterlibatan dengan PKI,” katanya.

Senada dengan Pak Frans, Beato Lanjong menceritakan pengalamannya sebagai anak seorang PNS yang banyak mendengar gambaran negatif tentang PKI dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. “Sebagai anak PNS, saya merasakan bagaimana propaganda kebencian terhadap PKI dalam cerita-cerita ayah,” tuturnya.

Propaganda dan kebencian terhadap PKI juga ditampilkan dalam film seperti Penumpasan Pengkhianatan Gerakan 30 September, karya Arifin C. Noer yang menjadi tontonan wajib setiap tanggal 30 September pada masa Orde Baru. “Dulu, setiap tanggal 30 September diputar film “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Setiap orang wajib menonton film tersebut,” ungkap Maria Pankratia. Narasi kebencian tentang PKI cukup mengakar dan memengaruhi politik pada masa setelah Orde Baru.

Armin Bell bercerita tentang pengaruh memori kolektif itu ketika ia terlibat dalam sebuah kegiatan untuk mendata orang-orang di desa bergabung dengan partai politik. Kuatnya memori kolektif tentang PKI membuat masyarakat ‘trauma’ untuk mendaftar sebagai anggota partai politik. Sebab di masa itu, banyak orang yang tidak mengenal PKI secara mendalam menjadi korban pembantaian hanya karena ‘terdaftar’ sebagai anggota partai.

Nilai Kemanusiaan dari Keragaman Sudut Pandang

Narasi negatif tentang PKI yang digaungkan oleh Orde Baru pada akhirnya menenggelamkan cerita-cerita tentang korban dan penyintas peristiwa ’65 yang sangat miris. Jika pemerintah mengedepankan cara pandang pelaku dalam seluruh bangunan ceritanya, cerpen-cerpen dalam Perempuan dan Anak-anaknya mengangkat perspektif korban dan penyintas.

Menurut Lolik Apung, kumpulan cerpen ini mengedepankan banyak sudut pandang untuk melihat peristiwa ’65. Banyaknya sudut pandang itu sekaligus menjadi kritik terhadap narasi tunggal pada masa Orde Baru yang kental dengan perspektif pelaku. Sejarah selalu diceritakan dari sudut pandang rezim yang berkuasa.

Sudut pandang yang beragam dapat ditemukan dalam Perempuan dan Anak-anaknya. Cerita “Pada Titik Kulminasi”, Satyagraha Hoerip mengedepankan sudut pandang Soesatio, seorang tokoh pemerintah yang anti-Lekra yang harus mengalami dilema ketika hendak mengeksekusi suami dari adiknya yang terlibat Lekra. Di satu sisi, harus menjalankan perintah politik untuk membunuh setiap orang yang terlibat dalam Lekra, organisasi sayap PKI, tetapi di sisi lain ia memikirkan nasib adik dan keponakannya jika suami dan ayah mereka dibunuh. Ambisi politik untuk menghancurkan Lekra harus terbentur dengan kasih sayang terhadap adiknya yang harus hidup tanpa suami dan mengurus anak-anak.

Pada cerpen “Perempuan dan Anak-anaknya”, Gerson Poyk mengangkat sudut pandang A, seorang pegawai pemerintahan, yang berada dalam situasi dilematis antara menyelamatkan anak-anak seorang anggota PKI dan tuntutan untuk tidak berhubungan dengan mereka yang terlibat dalam PKI. A pada akhirnya memilih untuk merawat semua anak-anak Khadijah, istri anggota PKI. Gerson Poyk menurut para peserta diskusi pada malam itu sangat bagus dalam mengangkat narasi yang tidak ada dalam sejarah peristiwa ’65, yaitu nilai kemanusiaan dari sudut pandang perempuan dan anak-anak.

Dalam “Bintang Maut”, Ki Panjikusmin mengangkat cerita Ktut Geria yang hidup dalam pelarian karena keterlibatan dalam PKI. Sudut pandang orang yang pernah terlibat dengan PKI juga tampak dalam “Musim Gugur Kembali di Connecticut” karya Umar Kayam. Dalam cerita “Domba Kain”, sudut pandang seorang tentara yang pulang ke rumah mendapati keluarganya dibunuh karena dituduh terlibat dalam PKI.

Sudut pandang yang berbeda juga muncul dalam cerpen “Malam Kelabu” karya Martin Aleida dan “Bawuk” karya Umar Kayam. Martin dalam “Malam Kelabu” mengangkat cerita peristiwa ’65 dari sudut pandang seorang pemuda, Kamaludin Armada, yang jatuh cinta dengan anak seorang pimpinan komunis. Perjalanan Kamaludin ke wilayah asal kekasihnya berakhir tragis. Ia patah hati dan memutuskan bunuh diri ketika tidak mendapati kekasih dan keluarganya yang telah dibunuh. “Bawuk” karya Umar Kayam tampil dengan sudut pandang seorang perempuan, Bawuk, istri anggota PKI. Dalam cerita itu, Bawuk menjadi metafora yang baik untuk menggambarkan idealisme seseorang berhadapan dengan realitas sosial yang penuh dengan ekspektasi sosial yang tinggi. Sisi lain yang kuat dalam cerita “Bawuk” juga adalah tokoh anak-anak yang ditampilkan.

Keseluruhan cerita dalam Perempuan dan Anak-anaknya, menurut Opin Sanjaya, kuat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Konflik yang dibangun dalam keseluruhan cerita dibangun dalam kacamata nilai-nilai kemanusiaan berhadapan dengan realitas sosial yang keras dan seakan melawan nilai-nilai tersebut. Aspek-aspek nilai kemanusiaan dalam cerita-cerita tersebut juga merupakan gambaran narasi dari pinggir yang tidak terekam dalam catatan sejarah dan tertutup oleh cerita kekejaman pembantaian dan pengejaran.

Cerita sebagai Upaya Melawan

Cerita adalah upaya membangun dan menghancurkan kemanusiaan. Pembantaian besar-besaran yang terjadi setelah peristiwa 30 September 1965 hilang dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia karena kokohnya hegemoni narasi kebencian terhadap PKI melalui kebijakan politis dan produk seni seperti film. Namun, upaya untuk melawan narasi kebencian terhadap PKI kemudian muncul perlahan-lahan.

Upaya itu dapat kita baca dalam Dalih Pembunuhan Massal karya John Rossa yang mengangkat narasi lain tentang peristiwa setelah 30 September. Dalam karya seni, publik terkejut ketika “Jagal” dan “Senyap” karya Joshua Oppenheimer tampil dalam layar sinema Indonesia. “Jagal” bercerita tentang Anwar Congo, seorang jagal yang bertugas untuk membantai orang-orang yang terlibat dalam PKI, sedangkan “Senyap” mengangkat perspektif korban pembantaian. Film ini bercerita perjalanan Adi menjumpai para pelaku pembunuhan keluarganya. Dalam karya sastra, novel Pulang Leila S. Chudori dan karya-karya Martin Aleida banyak mengulas cerita dari perspektif korban tentang peristiwa ’65.

Hal yang sama telah dilakukan oleh Yosep Yapi Taum dan Romo Antonius dalam kumpulan cerpen ini. Hal ini menurut mereka adalah upaya membaca kembali tragedi masa lalu. Membaca tragedi masa lalu melalui cerita juga merupakan upaya melawan ingatan buruk tentang suatu kelompok serentak membuka horizon-horizon pemahaman yang lebih luas atas sebuah peristiwa.

Arsy Juwandi dan Reta Janu mengapreasiasi usaha kedua editor untuk menerbitkan cerita sebagai upaya dokumentasi atas peristiwa. Pendokumentasian sangat penting untuk ‘melawan’ narasi besar yang menguasai buku-buku sejarah bangsa.

Upaya melawan narasi besar dimulai dengan cerita. Bercerita membuka ruang-ruang pemahaman yang lebih luas sekaligus mempertanyakan kembali ingatan kita atas sebuah peristiwa besar sebuah bangsa. Cerita juga menjadi cara untuk menenun kembali nilai-nilai kemanusiaan yang luput dalam sejarah. Para peserta bincang buku malam itu sepakat untuk memberi bintang empat untuk Perempuan dan Anak-anaknya.[*]


Baca juga:
Leak Tegal Sirah dan Hal-Hal yang Belum Selesai dari Tragedi ’65
Pentas Teater X-Ray Mission: Melampaui Batas Panggung


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *