Menu
Menu

X-Ray Mission dipentaskan di Ruteng pada tanggal 14 Desember 2024.
Pemberitahuan: Catatan ini berisi bocoran.


Oleh: Yuan Jonta |

Penonton X-Ray Mission. Yuan adalah juga cerpenis asal Ruteng. Karya-karyanya pernah ditayangkan di Harian Kompas, Tempo, dan Bacapetra. Tahun 2024 diundang sebagai Emerging Writers di Makassar International Writers Festival.


Ruteng, 14 Desember 2024, Teater Saja menghadirkan X-Ray Mission, sebuah pementasan teater yang terinspirasi dari pahlawan nasional asal Nusa Tenggara Timur: Wilhelmus Zakaria Johannes, pelopor radiologi dan pejuang kemanusiaan di Indonesia. Bertempat di Aula Effata, pertunjukan ini mengangkat isu personal dan kompleksitas diri manusia.

Pertunjukan ini dibuka dengan suasana tegang dan dramatis: pencahayaan mati, suara alarm, mesin tik, napas tersengal, diikuti dengan perabot pecah dan sirene ambulans. Di tengah kekacauan suara itu, tangis lirih seorang anak berpadu dengan suara isak wanita dewasa, menambah tegang atmosfer. Kegelapan perlahan-lahan menghilang di hadapan audiens, menampakkan set panggung: sebuah kamar rawat, ruang tunggu, dan meja administrasi—lokus rumah sakit yang dikemas dalam ruang teater yang terbatas.

“Enu kenapa? Enu apa keluhannya?” Sebuah pertanyaan pembuka dari seorang petugas kesehatan kepada seorang wanita yang hanya diam di hadapannya. Dialog pembuka ini langsung menegaskan sentuhan lokal yang dipilih Teater Saja dalam karya ini.

Sinopsis

Berpusat pada seorang penjaga pasien yang diperankan Rini Temala, cerita ini membuka potret penuh dilema yang dialami oleh keluarga pasien. Drama ini mempertontonkan bagaimana karakter utama berinteraksi dengan ayahnya—seorang pasien patah tulang yang direkomendasikan untuk dirujuk—anaknya, serta relasinya yang kompleks dengan seorang adik sambung yang menetap jauh. Karya ini menampilkan kehidupan tokoh penjaga pasien: peran sebagai ibu, tekanan finansial, relasi rumit dengan saudari sambung, serta interaksi dengan para tenaga medis yang merawat lebih dari satu pasien.

Naskah, Penokohan, dan Simbol

Naskah pementasan ini berhasil menciptakan harmoni antara simbolisme, kompleksitas pribadi, pergelaran interaktif, serta dialog yang lugas dan dalam. Dikemas dalam fragmen-fragmen progresif, naskah ini menampilkan pementasan yang berlapis, namun tetap ringkas dan mudah diikuti.

Apresiasi untuk seluruh tim kerja Teater Saja: pencahayaan, kostum, pengaturan suara yang cermat, serta pembagian waktu yang ketat di setiap adegan membuat cerita yang dikemas dalam fragmen progresif ini tidak menjemukan. Salah satu upaya menyeragamkan elemen-elemen pendukung dengan warna utama cerita yang ‘di tengah-tengah’, tidak ada upaya mencolok melebih-lebihkan satu adegan—sebuah tanda penghargaan, bahwa audiens dapat menginterpretasi pertunjukan.
Simbolisme ini tak hanya hadir dalam properti panggung, tetapi juga merasuk ke dalam dialog para tokohnya.

Pasien: “Saya tidak mau jadi beban kalian.” Titik. Sebuah ungkapan sederhana yang sarat makna, berhasil menarik perhatian audiens. Aktor menyampaikan kalimat ini dengan tekanan suara yang meyakinkan, tetapi raut wajahnya tetap menunjukkan kondisi tidak berdaya.

Selain itu, salah satu adegan yang menarik bagi saya adalah ketika dua saudara sambung saling adu argumen sambil mendorong properti yang menyerupai pintu putar (revolving door):

Anak 1: “Kalau tidak niat, tidak usah datang saja.”
Anak 2: “Dari dulu kau begitu terus.”
Anak 1: “Begitu bagaimana? Hah? Kami perlakukan kau dengan baik.”

Pintu semula berputar searah jarum jam, lalu berbalik arah ketika anak kedua berkata: “…dari dulu kau…” Perubahan arah ini menunjukkan arah argumen dari yang menyerang ke yang diserang. Selain memperkeruh situasi, dialog ini juga memperjelas posisi dan sikap tokoh: anak pertama yang menuntut kehadiran fisik adiknya, sementara penonton juga diperlihatkan rasa bersalah besar yang dialami anak kedua.

Bagian ini dibawakan dengan sangat baik oleh aktris Rini dan Rossy. Tokoh ayah, sebagai pengalih, masuk untuk memecah pertengkaran, membawa cerita ke narasi masa lalu.

Pada kesempatan setelah pementasan, saya meminta konfirmasi tentang simbol arah perputaran pintu. Karena hanya menyaksikan sekali, saya tidak berhasil menangkap bahwa arah melawan jarum jam menunjukkan waktu di masa lalu, begitu pun sebaliknya.

Seluruh aktor membawakan karya ini dengan gemilang. Mereka berhasil menunjukkan ambivalensi: empati vs profesionalitas, cinta vs tanggung jawab, karakter yang dimainkan vs diri mereka sendiri.

Namun, sebagai penonton, saya sedikit terganggu dengan dialog seorang perawat yang menanyakan handphone. Bagi saya, bagian ini terasa inkonsisten dan sedikit keluar dari penokohan yang serba multidimensional. Dialog ini sebaiknya diperhalus agar tidak keluar dari nuansa multidimensional karakter tenaga medis.

Di sisi lain, kehadiran beberapa tokoh yang menembus dinding keempat memberikan kesegaran lebih. Interaksi langsung dengan audiens menciptakan dinamika yang menarik—nuansa sedih dan jenaka yang berganti-ganti terasa seperti menumpangi rollercoaster perasaan.

***

Penjaga Pasien: Kenapa. Tadi mau omong apa, Enu?
Anak: Dingin.
PP: Memang dingin. Sudah musimnya. Tapi sepertinya lebih cepat tahun ini.
A: Bukan itu, Ma. Air di ini termos. Padahal baru isi ulang tadi pagi.
PP: Dingin datang lebih cepat, termos cepat rusak, tiba-tiba sudah Desember. Semua seperti berlomba berlari meninggalkan kita.
A: Kayanya kita perlu beli termos baru, Ma. Yang ini kayanya sudah rusak. Cepat dingin.

Lihat bagaimana ucapan sang ibu keluar dari gaya bahasa (logat Ruteng). Dialog ini kembali membenturkan dua narasi: melankolis dan satir. Kepolosan anak menyumbat ungkapan klise sang ibu, yang rupanya tidak membicarakan cuaca, melainkan air termos yang diminumnya. Termos yang cepat dingin menjadi objek terakhir yang disorot saat pementasan ditutup.

Saya menginterpretasikan simbol ini sebagai kondisi pasien (dingin lebih cepat). Namun, ketika bertemu sutradara, beliau menyampaikan bahwa termos itu melambangkan para penjaga pasien. Misinterpretasi saya terhadap simbol pintu putar dan termos justru menambah daya tarik pementasan ini. Karya yang baik memang selalu membuka ruang interpretasi.

Pertunjukan ditutup dengan lagu “Gloria” setelah sebelumnya dibuka dengan lagu “Syukur Kepadamu Tuhan,” berturut-turut lagu Natal dan Paskah. Dua lagu ini, seolah merangkum peralihan antara harapan dan penderitaan—dua suara tangis yang mengawali pementasan menjadi cerminan siklus kehidupan itu sendiri.

Di tempat lain saya menyukai transisi antar adegan. Menggunakan teknik blackout, pementasan ini berpindah dari satu adegan ke adegan lain dengan elemen suara yang tertib waktu untuk mempertahankan keterhubungan suasana selama waktu transisi.

Memanipulasi Ruang Sempit dengan Siaran Langsung

Set panggung utama cukup terbatas, dengan luas sekitar dua koma lima kali tiga meter, dan sudut pandang memanjang. Set panggung lain justru tersembunyi di balik sekat panggung utama. Dengan bantuan kamera video dan layar di hadapan penonton, Teater Saja membuka akses ke ruang yang ditutup tersebut. Tanpa saya sadari, audiens dan kamerawan sebenarnya adalah bagian dari pertunjukan ini. Marselus Ungkang menjelaskan bahwa teknik visual film ini dipakai untuk memanipulasi ruang sempit agar menjadi dinamis, menciptakan kesan ruang yang lebih luas dan fleksibel.

Selain itu, dalam catatannya, sudut pandang kamera juga dipakai untuk menghadirkan relasi vertikal melalui teknik jukstaposisi. Pada adegan ruang rawat, penonton memandang ke arah panggung secara horizontal, tetapi di layar, kamera merekam situasi ruangan dari atas, menampilkan hubungan antara kondisi manusia yang rapuh dengan lagu rohani yang dinyanyikan.

Kamera, selain mendukung kebutuhan estetik, juga memperkuat interaksi antara aktor dan penonton. Misalnya, saat adegan pengisian TTS bersama penonton, kamera menyorot penonton yang terlibat, sehingga menciptakan koneksi yang lebih intim. Secara tidak langsung, pentas ini mengintegrasikan operator kamera—yang tanpa menarik perhatian berada di panggung—sebagai bagian dari pertunjukan, turut menjadi elemen yang hidup di dalam pertunjukan dan mendukung keseluruhan pengalaman visual.

Penutup

Awalnya, saya sempat sangsi bahwa pertunjukan ini akan sulit diikuti. Karya ini begitu universal; respons audiens membuktikan bahwa pementasan ini mampu menjangkau semua kalangan. Mengikuti Teater Saja sejak 2018, saya menyaksikan pertumbuhan penonton yang kian hari kian banyak, yang memberi saya keyakinan bahwa karya teater perlahan-lahan menemukan penggemarnya di Ruteng. Di sisi lain, melihat aktor dan aktris yang belum pernah saya kenal sebelumnya begitu menyenangkan. Beberapa audiens maju ke panggung untuk bercerita tentang relevansi pertunjukan ini dengan pengalaman personal mereka.

X-Ray Mission adalah pengingat akan peran seni dalam membuka ruang dialog tentang isu-isu kemanusiaan. Pementasan ini menegaskan bahwa teater lokal di Ruteng memiliki potensi besar untuk berkembang dan menyuarakan realitas sosial kita. Karya ini juga dapat menjadi inspirasi bagi benih-benih kelompok seni lokal lainnya untuk berkarya, memperkaya ekosistem seni dan budaya di daerah. [*]


Foto: Dokumentasi Komunitas Teater Saja Ruteng.

Baca juga:
Flores Writers Festival 3: Sadang Bui
Peluncuran Album Musik dan Puisi Perempuan Sabana


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

3 thoughts on “Pentas Teater X-Ray Mission: Melampaui Batas Panggung”

  1. adrian maulana berkata:

    cerita ini sangat menarik dan banyak pertunjukan pertunjukkan , tetapi cerita ini sulit di mengerti karena setiap paragraf terpisah pisah

  2. Gracia berkata:

    Ulasan Singkat:
    Teater Saja kembali menghadirkan pementasan yang kuat dan emosional melalui X-Ray Mission, sebuah karya yang terinspirasi dari sosok Wilhelmus Zakaria Johannes, pelopor radiologi asal Nusa Tenggara Timur. Berlatar di sebuah rumah sakit, cerita ini menggambarkan dilema seorang penjaga pasien dan kompleksitas relasi keluarga di tengah tekanan ekonomi dan beban emosional.

    Kelebihan:
    Pementasan ini tampil kuat berkat naskah yang padat dan simbolisme yang cermat. Dialog-dialognya lugas namun sarat makna, menyisipkan sentuhan lokal Ruteng yang menambah keotentikan cerita. Fragmen yang progresif serta teknik panggung seperti blackout dan pemanfaatan kamera live memperkaya dinamika visual dan emosional pertunjukan.
    Salah satu kekuatan utama terletak pada penyutradaraan yang membiarkan penonton bebas menginterpretasi simbol, seperti pintu putar dan termos rusak yang mewakili konflik internal serta kondisi para penjaga pasien.

    Aktris Rini Temala dan Rossy tampil gemilang, terutama dalam adegan pertengkaran yang emosional namun terkontrol. Aktor-aktor lain pun mampu menampilkan ambivalensi yang nyata: antara profesionalitas dan empati, cinta dan tanggung jawab.

    Catatan:
    Meski hampir seluruh aspek berjalan mulus, ada satu momen yang terasa keluar dari nuansa multidimensional, yakni dialog seorang perawat tentang handphone yang terasa sedikit discordant dengan atmosfer serius dan personal yang dibangun sejak awal.

    Teknis:
    Panggung utama yang terbatas justru dimanfaatkan maksimal dengan kehadiran layar live streaming yang membuka ruang tersembunyi di balik panggung. Teknik ini sukses menciptakan kesan ruang yang lebih luas dan memperkuat pesan visual, seperti kontras antara kerentanan manusia dan kekuatan spiritual.

    Kesimpulan:
    X-Ray Mission adalah pementasan yang bukan hanya menyuguhkan cerita yang menyentuh, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan relasi antar manusia dan isu-isu kemanusiaan. Pertunjukan ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan sumber daya tidak menghalangi sebuah karya untuk tampil kuat dan berkesan.

  3. avera renita berkata:

    Menurut saya cerita ini penuh dengan dramatis di dalam suatu pertunjukan teater. terlihat seru, namun ada beberapa kata” yang sulit untuk di mengerti yang membuat cerita ini jadi terpisah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *