Puisi-Puisi Polanco S. Achri – Apa Ular Boleh Bersedih?
20 Desember 2024| | 3 CommentsIni malam, kau ingin sekali menjabat tangan seorang yang/terkena paku pula, tetapi lebih dalam dan besar. Di hadapannya,/kau ingin berkata: Apa ular boleh bersedih?
Oleh: Polanco S. Achri |
Lahir di Yogyakarta, Juli 1998; dan menetap di Yogya pula. Ia menulis puisi, prosa-fiksi, dan esai-esai tentang seni. Ia tergabung di Komunitas Utusan Negeri Dongeng, sebagai penulis naskah dan penata artistik. Selain menulis, ia mengelola Pendjadjaboekoe dan Majalah Astro. Kini, ia tengah melanjutkan studi sastra di kampus utara Yogya.
Paku dan Ular
Saat sekolah menengah, kau pernah terjatuh; dan tanganmu
terkena paku. Kini, kau sudah tak kanak lagi; dan bekas luka itu
masih ada. Saat itu, kau tidak menangis—meski jelas kesakitan.
Ini malam, kau ingin sekali menjabat tangan seorang yang
terkena paku pula, tetapi lebih dalam dan besar. Di hadapannya,
kau ingin berkata: Apa ular boleh bersedih?
(2024)
.
Sayap Malaikat
Saat remaja, kau bercita guna mengumpulkan bulu-bulu malaikat
yang tersangkut di atap-atap rumah—termasuk rumah-Nya. Akan tetapi,
kini, kau tak lagi ingin mengubah bulu-bulu itu sebagai sepasang sayap
seperti kisah Ikarus. Bukan sebab takut terjatuh seperti anak Daedalus,
atau sebab takut pada panah-panas yang dilesat bagi yang ingin
menembus Atas. Namun… Aku ini ular, ucapmu pelan setelah tersadar
sambil memandang bulan bundar, mana boleh jadi burung camar,
jadi burung berparuh-bercakar.
(2017—2024)
.
Anak dan Malaikat
Anak itu bertanya padamu: Apakah seorang malaikat
yang tak lagi bersayap masih bisa disebut malaikat?
Dan tak genap kau beri jawab. Anak itu kembali
bertanya padamu: Apabila manusia diberi
sepasang sayap, apa ia dapat disebut malaikat?
Dan tetap tak genap kau beri jawab—sambil tetap
memberi sepasang sayap pada anak yang malang itu.
(2017—2024)
.
Burung
Sebab mencinta, Gusti pun mencipta hutan
untuk burung bernaung. Sebab mencinta,
seorang raja pun memasukkan burung
ke dalam sarang yang mengurung.
Sebab mencinta, penyair pun membuka
lebar-lebar hati, membebaskan burung guna
datang dan pergi—bernyanyi tralala dan trilili.
(2022—2024)
.
Adegan Akhir dari Penyair yang Hendak Menambal Celana
Ah, alangkah konyolnya diriku ini, Gusti,
mencari jarum sampai ke jauh, untuk menjahit
lubang yang telah lama Kau tambal.
(2019—2024)
.
Kepada Penyair Joko
Di surga, atau sejenisnya, apa kau masih butuh
sarung dan celana, juga kemeja bersaku dua
guna menyimpan bolpoin di salah satunya?
Mungkin saja, Anak Manusia memanggilmu
supaya bisa berbincang tentang sebuah kota—
yang menyimpan getir gelak tawa penghuninya.
(2024)
.
Sebuah Kejadian Lanjutan yang Dikisahkan Anak Manusia
pada Penyair Joko pada Sebuah Senja
Setelah diseberangkan lembut gerimis, gadis kecil itu pun sampai
pada padang rumput gembala; mengumpulkan dan merangkai
liar mungil bunga-bunga menjadi mahkota. Setelah jadi,
berkata ia kepadaku, oh, Penyairku, dengan begitu suka cita:
Paman, tukarkanlah mahkota duri, dengan mahkota bungaku ini…
(2024)
.
Percakapan-Percakapan
antara Penyair Joko dan Anak Manusia
I.
Apakah karena aku, kau mesti menderita di bumi; jadi mesti
memanggul duka bermahkota duri, jadi mesti terluka
di sepasang tangan dan lambung teramat nyeri?
Semua itu telah menjadi tugasku, Penyairku; dan tugasmu
adalah menjahit puisi-puisi yang usil dan lucu, sehingga
bisa kukenakan kini di Sini ini. Sentuhlah luka di tanganku,
juga lambungku, agar kau tahu, aku mencintaimu—
II.
Dengan sepasang tangan yang diluka, telah kubawa
segar tirta, untukmu, Penyairku. Jadi teguklah supaya
dahagamu sirna.
Apa dengan meneguknya maka dahagamu
juga akan sirna, juga akan segar terasa?
Anak Manusia mengangguk; dan Penyair Joko
meneguk setengah sebelum kembali bertanya—
Kenapa kau boleh terluka, agar aku bisa bersuka cita;
sedang aku kau larang terluka, sebagai bukti cinta
yang amat maha?
Teguklah lagi, Penyairku, dan habiskanlah. Dan mari,
berbincang tentang ibu kita saja—yang mesti melihat kita
berangkat menuju semacam sunyi sebuah Surga.
III.
Duduklah di kursi yang telah kubuat dari
batang Pohon Khuldi, Penyairku; dan mari,
kita berbincang tentang puisi lagi—juga
tentang ibu kita, yang gemar mendongengi.
Aku sungguh penasaran, apa yang dirasa
ibumu, ketika mengandungmu, ketika tahu
tengah mengandung seorang yang mana
akan menanggung duka dari seluruh segala?
Tidakkah sama seperti ibumu, Penyairku,
ketika mengandungmu, yang akan jadi
penyair yang dilimpahi nasib getir, tetapi
piawai membuat tawa dan geli-nyengir?
(2024)
Ilustrasi: Nor do I see heaven … in clinch (Alekos Kontopoulos), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Mariati Atkah – Lukisan Perahu
– Puisi-Puisi Setia Naka Andrian – Surga Itu
– Puisi-Puisi Toni Lesmana – Selarik yang Sering Meminta Lebih

Ah, alangkah konyolnya diriku ini, Gusti,
mencari jarum sampai ke jauh, untuk menjahit
lubang yang telah lama Kau tambal.
Ah… Bagus
mantap lah
bagus