Menu
Menu

Ia bekerja sama dengan ilmuwan lainnya yang tergabung dalam sebuah kelompok bernama panjang: Komite Riset Proyek Pembekuan Manusia Seribu Tahun.


Oleh: Wahyu Widyaningrum |

Sesekali menerjemahkan cerpen dan esai dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Dapat dihubungi melalui akun Twitter @wahyudhea.


Mati Beku

Tujuh hari berlalu sejak Furuhata, ilmuwan muda berambisi tinggi, terbangun di dalam peti mati.

“Aneh sekali. Mestinya sudah ada orang yang mengetuk tutup peti.”

Dengan sabar, Furuhata menunggu bunyi ketukan dari luar.

Meski disebut peti mati, benda ini sungguh berbeda dengan peti mati kayu yang selama ini kita tahu. Peti mati ini berlapis lima, dibuat dari logam berkualitas tinggi yang disebut Mo902—campuran molibdenum yang sulit dilebur. Selain itu, tidak seperti peti kayu yang sempit yang bahkan untuk berbaring saja sulit, ruang di dalam peti ini cukup luas. Luasnya kira-kira seperti ruangan seukuran 16 meter persegi dengan langit-langit tinggi. Di dalamnya ada kasur, lemari pendingin, dan alat pengatur suhu. Berbagai mesin pun berjejeran, seperti mesin penghasil gas, listrik, dan sinyal. Buku referensi banyak bertumpuk. Ada pula beragam barang lain yang diperlukan sehari-hari, misalnya asbak, sikat gigi, dan pisau cukur. Singkatnya, seperti gabungan dari laboratorium dan perpustakaan.

Furuhata telah tidur beku di dalam peti mati aneh ini selama lebih dari seribu tahun.

Istilah “tidur beku” di sini berarti seseorang dibekukan dalam kondisi tetap hidup, lalu dibiarkan begitu saja selama jangka waktu tahun tertentu. Tekniknya cukup sulit, terutama penentuan tingkat pembekuannya. Kalau tekniknya salah, orang yang dibekukan akan tewas saat itu juga. Kalau tekniknya benar, jangankan tiga hari, seratus tahun setelahnya pun kehidupan seseorang tetap bisa terjaga. Dalam kasus Furuhata, misalnya: seribu tahun kemudian. Pada waktu yang tepat, orang yang dibekukan ini bisa diawabekukan, kemudian bisa hidup kembali seperti kondisi semula. Teknologi untuk mencairkan tubuh beku dan memulihkannya terbilang masih cukup sulit saat ini, tetapi dalam kasus Furuhata semuanya berjalan baik.

Wajar saja, sebab eksperimen Furuhata si ilmuwan muda ini tidak dikerjakannya seorang diri. Ia bekerja sama dengan ilmuwan lainnya yang tergabung dalam sebuah kelompok bernama panjang: Komite Riset Proyek Pembekuan Manusia Seribu Tahun.

Bagian dalam peti ini berupa ruangan kubus, tetapi luarnya berbentuk bola sehingga mampu menahan tekanan dari segala arah.

Tujuh hari berlalu sejak bangun dari tidur seribu tahun, Furuhata telah sepenuhnya pulih dari kelelahan yang mendera tubuhnya. Tapi ia merasa seolah-olah baru kemarin masuk ke dalam peti. Sungguh ia tidur nyenyak selama seribu tahun.

Namun benarkah ia tertidur selama seribu tahun? Jam radium yang tergantung di dindinglah yang menjamin hal itu. Jam ini mengukur kondisi peluruhan radium sebab radiasi yang konstan, sehingga bisa mencatat waktu dalam periode yang sangat lama secara otomatis. Ketika baru terbangun, hal pertama yang Furuhata lakukan adalah melesat ke depan jam tersebut lalu membaca waktu yang telah berlalu. Menurut jam itu, ia tertidur selama seribu tahun lebih sedikit. Jam menunjukkan bahwa ini adalah hari ke seribu tahun seratus enam puluh sembilan atau sesuai dengan musim dingin bulan Februari tahun 3600 menurut perhitungan kalender masehi. Dengan kata lain, mesin di peti ini melakukan kesalahan pembacaan hanya 169 hari. Kalau dibandingkan dengan seribu tahun, jelas 169 hari bukanlah suatu kesalahan yang signifikan; apalagi mesin itu punya keunggulan yang layak dipuji: Furuhata mampu tetap hidup selama seribu tahun dalam kondisi membeku.

Namun, di luar segala kehebatan itu ada kekhawatiran, yaitu harus ada seseorang yang mengetuk peti dari luar setelah seribu tahun. Dan hingga saat ini, bunyi ketukan itu masih belum terdengar. Padahal, sebagaimana tercantum dalam buku panduan, peti mati kokoh yang mustahil dibuka selama seribu tahun ini dirancang dengan mekanisme khusus agar hanya bisa dibuka dari luar. Hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan kekuatan struktur peti mati tersebut.

“Kira-kira, kenapa, ya? Jangan-jangan, karena aku terlambat bangun 169 hari, orang yang seharusnya membukakan pintuku sudah pergi ke suatu tempat.”

Di sebuah ruang tertutup yang tak bisa terbuka, serangan kekhawatiran semacam ini jauh lebih menakutkan ketimbang hukuman mati.

Ia curiga ada kerusakan pada alat sinyal, jadi ia lekas pergi mengecek peralatan tersebut. Namun, tak ada kesalahan yang ia temukan di sana. Selain itu, berita bahwa ia telah sadar dan bangun kembali semestinya telah ditransmisikan ke tiga kota: Tokyo, New York, dan Khabarovsk.

“Kenapa tidak ada yang datang menolongku? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Apabila tidak ada seorang pun yang kunjung datang untuk membukakan pintu baginya, Furuhata masih bisa bertahan hidup selama 30 hari ke depan. Tapi lewat dari itu, tak ada kemungkinan baginya untuk terus hidup. Namun, alih-alih memikirkan masa hidupnya yang nyaris habis, sebetulnya yang lebih disayangkannya adalah kalau ia akan mati tanpa sempat melihat kondisi dunia saat ia terbangun kembali seribu tahun kemudian.

.

Profesor Perempuan Telanjang

Tibalah waktunya.

Kriiing, kriiing….

Bunyi bel sekonyong-konyong terdengar nyaring membahana, seolah menyemarakkan suasana di dalam ruangan.

“Oh, akhirnya! Akhirnya ada yang datang! Ada orang yang mengetuk tutup peti.”

Sistemnya memang dirancang agar bel itu meraung ketika tutup peti diketuk. Akhirnya aku terselamatkan, batinnya gembira. Lalu terasa goncangan yang sangat kuat. Sebentar lagi peti mati ini akan terbuka.

Setelah keriangannya sedikit mereda, Furuhata mulai bertanya-tanya: siapa gerangan yang akan datang untuk membukakan petinya. Sesaat sebelum pintunya yang terkunci terbuka, goncangan semakin hebat.

Lalu pintu terbuka lebar. Saat itulah, seseorang masuk dari luar ruang yang remang-remang.

“Ohh!!!” Furuhata memekik—jelas ia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Matanya menangkap sesosok manusia yang pertama kali mengunjunginya setelah ia terbangun dari tidur lamanya: manusia itu telanjang. Telanjang dalam arti sebenarnya dan bukan sebuah kiasan. Sosok tersebut adalah seorang wanita—siapa pun bisa tahu hanya dengan melihatnya sekilas. Wajah Furuhata memerah memendam malu. Namun, wanita itu tidak tersipu, ia justru berdiri di depan Furuhata tanpa ragu.

“Asisten Profesor Furuhata. Benar?”

“Betul. Saya Furuhata. Terima kasih telah membukakan pintu ini.”

“Saya yang berterima kasih; saya senang bisa berjumpa dengan seseorang yang hidup di dunia seribu tahun lalu. Saya menemukan catatan Anda di dalam sebatang pipa panjang berbahan baja anti-karat, saat menghancurkan pertahanan udara di Distrik 199.”

“Oh, ya?” timpal Furuhata. Ia ingat, dulu teman-temannya membuat catatan tentang penguburannya. Catatan itu dimasukkan dalam dua ratus tabung kokoh; sebagian dipendam di bawah tanah di banyak lokasi, sebagian lainnya dipajang di museum.

“Lalu, siapa nama Anda?”

“Saya? Saya Chita, Dekan Fakultas Arkeologi di Universitas Khabarovsk.”

“Dekan? Tentu Anda sangat luar biasa, bisa menjadi dekan di usia semuda ini. Ah, maafkan kelancangan saya.” Furuhata blak-blakan mengutarakan keterkejutannya.

Profesor Chita hanya terkekeh.

“Haha. Apanya yang muda? Tahun ini saya berulang tahun ke-903.”

“Wah, kalau begitu usia Anda 903 tahun, ya. Sulit dipercaya.”

Jelas sulit dipercaya: seorang wanita enerjik yang tak ubahnya seperti masih berusia 19 atau 20 tahun dengan kaki jenjang, rupanya sudah berusia 903 tahun. Pertanyaan mendasarnya adalah, memangnya ada orang yang berumur sedemikian panjang?

“Hihi. Saya senang sekali kalau Anda bilang seperti itu. Sekarang saya seakan bisa melihat jelas bagaimana tingkat kecerdasan umat manusia seribu tahun lalu. Saya jadi sangat terbantu,” sahutnya senang. “Tetapi, tidak adil kalau hanya saya yang senang. Saya sendiri tidak sabar untuk mengenalkan pada Anda wawasan dasar tentang kondisi dunia saat ini,” lanjutnya.

Sembari membelai rambut pirangnya, Profesor Chita juga mengatakan bahwa 900 tahun lalu manusia telah menaklukkan dewa kematian. Dengan kata lain, umat manusia menjadi lebih baik tanpa adanya kematian. Ini adalah sebuah penemuan besar.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena riset mengenai fisiologi tubuh manusia semakin maju. Penyakit didiagnosis dengan alat elektronik, kemudian disembuhkan dengan terapi listrik. Pasien dengan kondisi jantung yang sudah memburuk, misalnya, jantungnya bisa segera diganti dengan jantung pengganti. Lalu orang-orang dengan tekanan darah tinggi, pembuluh darah mereka bisa diganti hanya dalam setengah hari. Jadi, kalau seseorang tidak ingin mati, pasti ia tak akan mati.

Ketika dunia kedokteran berkembang pesat saat itu, harga organ dalam pengganti sangat mahal. Belum lagi bobotnya juga cukup berat karena terbuat dari logam. Itu sebabnya orang yang memakai organ pengganti jadi tidak bisa berjalan.

Kalau ketiga organ dalam—jantung, paru-paru, ginjal—diganti, bobot totalnya menjadi kira-kira sama dengan bobot tiga orang. Dengan kondisi ini, seseorang tentu tidak mampu berjalan seorang diri. Agar bisa bepergian leluasa, orang itu jadi harus terus ditumpangkan ke dalam mobil.

Tapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Sekarang, mereka bisa berjalan lebih mudah. Itu karena organ pengganti tadi ukurannya jadi semakin kecil. Selain itu, materialnya tidak lagi menggunakan logam, melainkan daging tiruan yang tahan tekanan sehingga lebih ringan.

“Karena semua itulah, sekarang coba lihat tubuh saya. Tidak ada yang aneh, ‘kan? Dan tetap bisa bergerak bebas,” ujar Profesor Chita. Di hadapan Furuhata, ia melekuk-lekukkan lengan dan kakinya seperti seorang gadis penari pentas.

Furuhata tak berkedip, tercengang dihadapkan pada kejutan di depannya.

“Lalu, Anda bisa berusia sepanjang ini sampai 903 tahun, apakah itu berkat organ pengganti?”

“Tentu saja.”

“Begitu rupanya. Ini mengejutkan bagi saya. Dari tampilan luar, sangat sulit untuk menebak di mana organ pengganti itu berada. Dan organ pengganti itu pasti jauh lebih ringan dan kecil. Tapi sejujurnya, ada yang mengganjal pikiran saya. Saya merasa Profesor sedang mengolok-olok saya.”

“Oh, kenapa Anda berbicara begitu? Saya sama sekali tidak melakukan yang Anda katakan.”

“Sebab ini aneh. Kalau memang ada organ pengganti yang dipasang, seharusnya ada luka bekas operasi, entah di dada atau di perut. Tapi sejauh yang saya lihat, tubuh Anda seindah gadis 19 atau 20 tahun. Tidak ada luka apa pun, bahkan bekas tusukan jarum pun tidak. Bukankan ini sangat aneh?”

Mendengar penuturan Furuhata, Profesor Chita tersenyum simpul, seakan bersimpati atas kolotnya pemikiran Furuhata.

“Begini. Sejak 950 tahun lalu, teknologi pembedahan telah disempurnakan, sehingga tidak lagi meninggalkan bekas luka operasi. Tetapi bukan karena teknologi itu saya tidak punya bekas luka. Ini karena saya pakai kulit sintetis.”

“Kulit sintetis?”

“Mirip daging sintetis, lah. Nah, karena sintetis, jadi bisa dipakai kapan saja, dan bisa juga diganti dengan yang baru.”

“Oh, ya?” timpal Furuhata singkat. Ia kehabisan kata-kata. Sejak tadi ia tersipu melihat Profesor Chita dalam kondisi telanjang. Begitu mengetahui bahwa itu adalah kulit sintetis, ia tahu bahwa tidak seharusnya ia tersipu malu.

“Kalau begitu, sebelumnya maaf kalau saya lancang, tubuh Anda yang sekarang ini banyak berubah, bahkan berbeda, dari yang dulu dilahirkan oleh ibu Anda?”

“Mmm…. bukan perubahan yang besar, sih.”

“Bukankah yang masih bertahan dari tubuh Anda yang dulu hanya otak, tulang, dan bentuk wajah?”

“Anda salah.”

“Berarti masih ada lagi yang tidak berubah sejak dulu?”

“Justru sebaliknya. Barusan Anda bilang bentuk wajah adalah yang masih bertahan. Nah, justru bentuk wajah adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Sejujurnya, dulu saya tidak terlalu cantik. Jidat jenong, mata sipit, bibir lebar, hidung bengkok. Pada suatu waktu, saya ingin mengubah wajah saya. Awalnya saya melihat-lihat katalog wajah, memilih satu yang paling saya suka, lalu minta agar wajah saya diubah seperti yang saya pilih. Manusia pada masa itu tidak punya kebimbangan apa pun selain perihal baik buruknya wajah, tapi memang bisa dibilang belum memiliki kebijaksanaan yang cukup. Di sisi lain, baik buruknya wajah ditentukan oleh bentuk dan susunan bagian-bagian yang membentuk wajah, yaitu mata, alis, hidung, bibir, dan gigi. Mata cekung misalnya, bisa ditanamkan daging. Tidak perlu operasi besar untuk melakukan itu. Dan sejak daging sintetis dan kulit sintetis berhasil dibikin, orang-orang dengan tampang buruk semakin banyak yang memermak wajahnya, mengubah diri mereka menjadi pria dan wanita cantik. Setelah ini kita akan pergi ke kota. Pasti di sana Anda tidak akan menemukan satu pun orang yang berwajah buruk.”

“Hm….” sahut Furuhata pendek, lidahnya kelu.

Baik buruknya wajah ini mungkin sudah jadi bahasan yang mendominasi sejarah umat manusia selama 30.000 tahun; tetapi sekarang, hanya ada penyesalan di batin Furuhata ketika mengetahui bahwa manusia bisa mengubah rupa sesuka hati.

.

Perang dengan Mars

Tidak lama lagi Furuhata akan mengayunkan langkah keluar dari peti mati. Sudah seribu tahun lebih kakinya tidak menjejak tanah. Hatinya dipenuhi rasa haru.

Begitu keluar, ia mendapati dirinya sedang berada di suatu tempat seperti terowongan yang digali. Ia menoleh ke samping. Sebentuk benda seperti pistol air sedang berputar.

“Apa ini?” tanya Furuhata.

“Ini alat untuk membuat lubang. Tanah, semen, bahkan besi, bisa dibor dengan mudah pakai alat ini. Misalnya lubang itu. Sayalah yang mengebornya beberapa saat lalu. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit,” ungkap Profesor Chita.

Mulanya Furuhata menganggap itu bohong belaka, tetapi begitu ia dengar bahwa alat yang menyerupai pistol air itu menggunakan energi besar serupa yang dilepaskan oleh atom, Furuhata jadi paham.

“Jadi, gerakan barusan ini menggunakan energi dari yang dilepaskan oleh atom?” tanyanya.

Profesor Chita mengiyakan dengan ekspresi wajah seolah meremehkan.

Setibanya di luar, terbentang sebuah kota yang serupa dengan gambar yang acap dimuat di halaman majalah sains tentang imaji dunia sepuluh juta tahun lagi. Hal pertama yang terlihat oleh Furuhata adalah ratusan ruas jalan yang membentang horizontal dan vertikal. Ruas-ruas jalan itu tidak ada yang bersimpangan empat—bentuk perempatan yang diketahui Furuhata. Seluruhnya bergerak naik turun sehingga tak ada tempat penyeberangan. Sampai ujung jalan hingga sejauh mana pun, tidak ada langkah terhenti yang disebabkan oleh lampu lalu lintas.

Dan, yang lebih mengejutkan, tidak tampak satu pun kendaraan semacam mobil yang melaju di atas jalan-jalan ini. Orang-orang pun melesat cepat seperti peluru yang ditembakkan. Kecepatannya luar biasa.

“Orang-orang bergerak dengan sangat cepat, ya,” celetuk Furuhata polos.

Profesor Chita yang mendengarnya lagi-lagi tergelak.

“Bukan begitu. Yang Anda lihat itu bukanlah manusianya yang bergerak, melainkan jalanannya. Jalanan zaman dulu, ‘kan, diam di tempat, yang bergerak adalah mobil atau kereta di atasnya. Nah, jalanan zaman sekarang, semuanya bergerak dengan tenaga yang cepat. Manusia tinggal naik ke atas jalanan, yang akan membawa mereka ke mana saja.”

“Wah, pasti perlu mekanisme yang sulit untuk membuat jalanan bergerak begitu. Untuk tenaga penggeraknya saja perhitunganya pasti rumit, belum lagi sumber tenaganya …”

“Tidak usah khawatir, di masa kini, energi sangat berlimpah. Asalkan materi bisa dipecah, energi bisa diperoleh. Energinya pun sangat besar, jauh daripada zaman dulu. Tidak perlu kuatir dengan urusan energi.”

Furuhata terpukau mendengar penuturan Profesor Chita, kepalanya manggut-manggut. Rupanya dunia saat ini sudah tak lagi mengkhawatirkan tenaga penggerak. Manusia tentu hidup dalam kenikmatan berlimpah.

Tiba-tiba Furuhata terpikirkan satu pertanyaan penting yang ingin ia tujukan pada Profesor Chita.

“Prof, apa di zaman sekarang ini ada perang?”

“Perang? Ya, ada perang juga,” sahut Profesor Chita.

Tiba-tiba, terdengar suara keras yang menggema, seakan menjelajah hingga ke seluruh kota. Suara itu mengucapkan sesuatu dengan cepat. Raut muka Profesor Chita agak menegang.

Suara keras itu akhirnya berhenti. Furuhata lekas bertanya, “Apa itu barusan? Suara keras itu pasti berasal dari alat pelantang.”

“Betul. Itu adalah pengumuman dari Departemen Komando Migrasi. Orang-orang dengan urutan nomor tertentu diminta untuk cepat naik dari bawah tanah dan berkumpul di depan roket pengangkut manusia.”

“Wah, berarti kita sekarang bukan di atas tanah?”

“Bukan. Kita berada 500 meter di bawah tanah.”

“Kota bawah tanah, ya. Prof Chita, saya ingin lihat seperti apa kondisi di atas. Saya ingin segera menyaksikan sejauh apa perubahan yang terjadi di atas tanah.”

“Jangan! Itu tidak bisa,” sahut Profesor Chita cepat, melarang keinginan Furuhata. “Hanya orang-orang yang mendapat komando yang boleh keluar ke atas.”

“Ke mana mereka akan pergi?”

“Ke Venus. Umat manusia di seluruh bumi akan dikirim ke Venus secara bertahap.”

“Venus? Maksud Prof, Venus yang planet itu?” Furuhata terperanjat. “Rupanya sudah tiba jualah hari ketika manusia bisa pelesir ke planet lain.”

“Kalau segalanya berjalan lancar, dalam tiga bulan ke depan, seluruh manusia di Bumi ini akan pindah ke Venus.”

“Wah, kalau begitu, Bumi akan kosong melompong? Sebetulnya apa yang sedang terjadi, sampai harus mencampakkan Bumi yang elok ini?”

“Karena setahun lagi, Bumi akan bertumbukan dengan komet X, dan Bumi akan hancur lebur.”

“Begitu rupanya.” Furuhata mengangguk-angguk. Lanjutnya, “Ternyata itu alasan perlunya meninggalkan Bumi. Tapi kalau begitu, kenapa ke Venus? Kenapa bukan ke Mars, yang iklimnya paling mirip mendekati Bumi?”

Seketika Profesor Chita menatap balik Furuhata dengan pandangan waspada.

“Ternyata Anda orang yang kolot, pun isi pikiran Anda. Sekarang ini, manusia di Bumi tengah berperang dengan makhluk dari Mars. Begitu kami merancang perpindahan manusia ke Venus, makhluk Mars mulai melancarkan serangan. Itu sebabnya, sampai sekarang hanya tujuh persen roket pembawa manusia yang mendarat di Venus. Roket lainnya, yang 93 persen, dihancurkan oleh makhluk Mars. Mereka menghabisi manusia. Dan memang, makhluk Mars itu lebih licik. Namun menurut saya, umat manusia harus bergegas dalam bersiap menghadapi perang jagat raya. Adalah suatu kepongahan kalau kita berpikir bahwa hanya manusia bumilah makhluk terbaik di alam semesta.”

Mendengar hal itu, Furuhata lekas tersadar; bahwa saat di awal tadi Profesor Chita mengatakan sedang ada perang, ternyata yang dimaksud adalah sebuah perang jagat raya.


Tentang Juza Unno |

Juza Unno (1897—1949) adalah seorang penulis Jepang yang disebut sebagai salah satu pionir fiksi ilmiah Jepang. Mulai menulis cerpen bertema cerita detektif saat masih bekerja di Departemen Komunikasi dan Transportasi, tetapi kariernya sebagai penulis dimulai pada tahun 1928 setelah menulis novela misteri berjudul Denkiburo no kaishi jiken (Kasus Kematian Misterius di Pemandian Elektrik) untuk Majalah Shinseinen.

Cerpen “Dunia, Seribu Tahun Kemudian” diterjemahkan dari bahasa Jepang. Judul aslinya “Sennen-go no sekai”, dimuat pertama kali dalam kumpulan cerita Juuhachiji no ongakuyoku (Permandian Musikal Pukul 18.00) yang diterbitkan oleh Penerbit Hayakawa pada 1 Januari 1976.


Ilustrasi: Death with Girl in His Lap (Kate Kollwitz), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Kami Menemukan Sumber Kesedihan – Cerpen Yuan Jonta
Mimpi, Istri, dan Serigala – Cerpen Giovanni Boccaccio


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *