Di Pekuburan Tempat Al Jolson Dimakamkan – Cerpen Amy Hempel
25 September 2024| | 2 CommentsDia akan menjadi yang pertama yang berkata betapa kecilnya hal yang dibutuhkan untuk membuat segalanya salah. Cerpen Amy Hempel.
Oleh: Jimmy Anggara |
Lulusan FSRD-ITB jurusan Seni Lukis yang tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai penerjemah (sambil terus melukis dalam sunyi). Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak maupun digital, seperti koran Kompas dan Detik.com.
“Ceritakan kepadaku sesuatu yang aku tidak keberatan untuk melupakannya,” katanya. “Cerita yang tak berfaedah atau tidak usah sama sekali.”
Aku memulai. Aku bercerita tentang serangga yang terbang melewati hujan, dan tak terkena sebutir air pun, tak pernah basah. Aku bercerita tak seorang pun di Amerika memiliki tepdek sebelum Bing Crosby memilikinya. Aku bercerita kalau bentuk bulan itu seperti pisang—memang terlihat seperti penuh, karena kau melihat ujungnya.
Kamera membuatku sadar diri dan aku berhenti. Kamera itu mengarah kepada kami dan dipasang di langit-langit kamar—semacam kamera yang digunakan bank untuk merekam perampok. Kamera itu menampilkan perawat-perawat di ruang perawatan intensif.
“Ayo, teruskan,” katanya. “Kau akan terbiasa.”
Aku memiliki pendengar. Aku melanjutkan. Apakah dia tahu kalau Tammy Wynette telah mengubah gayanya? Sungguh. Dan sekarang dia menyanyikan “Stand by Your Friends”? Paul Anka juga begitu. Menyanyikan “You’re Having Our Baby.” Dan dia muak dengan segala tetek-bengek feminisme.
“Apa lagi?” katanya. “Kau punya cerita lain?”
Oh, ya.
Untuknya aku akan selalu punya cerita lain.
“Apakah kau tahu bahwa ketika mereka mengajarkan simpanse pertama untuk berbicara, simpanse itu berbohong? Bahwa ketika mereka bertanya siapa yang berhubungan seks di atas meja, dia menuliskan nama tukang bersih-bersih kantor. Dan bahwa ketika mereka memaksanya untuk berkata jujur, dia meminta maaf, dan mengatakan kalau itu adalah direktur proyek. Tetapi simpanse itu seorang ibu, jadi kurasa dia punya alasan sendiri.”
“Oh, bagus sekali,” katanya. “Sebuah parabel.”
“Masih ada lanjutan tentang simpanse itu,” kataku. “Tetapi bakal menghancurkan hatimu.”
“Tidak, terima kasih,” katanya, lalu menggaruk maskernya.
Kami terlihat seperti penjahat baik-baik. Baik atau jahat, aku belum terbiasa dengan masker. Aku terus menyentuh bagian hangat, terima kasih Tuhan, tempat napasku keluar. Dia sudah terbiasa dengan itu. Dia hanya mengikatkan tali-tali yang di atas. Tali-tali lainnya—karena sudah profesional—dia biarkan menggantung.
Kami menyebut tempat ini Rumah Sakit Marcus Welby. Yang berwarna putih dengan pohon palem di bawah sebutan nama-nama di pembuka semua pertunjukan itu. Tetapi rumah sakit Hollywood jauhnya beberapa mil ke barat. Di luar tangkapan kamera, ada pantai di seberang jalan.
Dia mengenalkanku kepada seorang perawat sebagai sang Teman Baik. Kata ‘sang’ di situ terdengar lebih intim. Membuatku menganggap mereka intim, perawat dan temanku itu.
“Aku sedang menceritakan kepadanya bagaimana kami sering minum bir jahe Canada Dry dan berpura-pura kami sedang berada di Kanada.”
“Itulah bodohnya kami,” kataku.
“Kalian bisa menjadi saudari,” kata si perawat.
Jadi mengapa, aku berani bertaruh mereka bertanya-tanya, perlu waktu begitu lama bagiku untuk pergi ke tempat indah itu? Tetapi apakah mereka bertanya?
Mereka tidak bertanya.
Dua bulan, dan berapa lamakah perjalanannya?
Penjelasan terbaik yang bisa aku berikan adalah ini—aku punya teman yang bekerja satu musim panas di kamar mayat. Teman laki-lakiku itu sering bercerita kepadaku. Cerita yang paling mengena bagiku bukanlah yang paling mengerikan, tetapi cerita itulah yang paling mengerikan bagiku. Seorang laki-laki yang tidak punya izin mengendarai kendaraan, menghancurkan mobilnya saat pergi ke selatan. Dia tidak kehilangan kesadaran. Tetapi satu lengannya lepas hingga tampak tulangnya—dan ketika dia melihatnya—dia takut sampai mati.
Maksudku, dia mati.
Jadi aku tak berani melihat dari dekat. Tetapi sekarang aku sedang melakukannya—dan berharap aku akan hidup melewatinya.
Dia mengguncang selimut musim panasnya, menampakkan sebuah kaki yang tak ingin kaulihat. Selain itu, saat kau melihatnya kau mengerti tentang satu hukum yang mensyaratkan dua orang untuk selalu bersama di setiap waktu.
“Aku berpikir tentang sesuatu,” katanya. “Aku memikirkannya tadi malam. Kurasa ada kebutuhan nyata dan urgen di sini. Kau tahulah,” katanya, “seperti ada seseorang yang melakukannya untukmu ketika kau tidak bisa melakukannya sendiri. Dan kau bisa memanggilnya kapan saja kau mau—seperti ketika ada kejadian genting.”
Dia merengkuh telepon sisi ranjang dan mengikatkan talinya ke lingkaran lehernya.
“Hey,” katanya, “akhir panggilan.”
Dia terus begitu, berpura-pura dengan sesuatu. Tetapi aku tak tahu apa.
“Aku tak bisa ingat,” katanya. “Apa yang dibilang Kübler-Ross yang ada selanjutnya setelah Penyangkalan?”
Bagiku tampaknya itu Kemarahan. Kemudian Tawar-Menawar, Depresi, dan begitu seterusnya. Tetapi aku cuma menyimpan itu dalam hatiku.
“Padahal,” katanya, “di mana Kebangkitan Orang Mati? Demi Tuhan, aku ingin melakukannya sesuai aturan di buku. Tetapi dia tak memasukkan Kebangkitan Orang Mati.”
Dia tertawa, dan aku berpegangan erat pada suara itu sebagaimana seseorang tergantung di atas jurang berpegangan erat pada tali yang dilemparkan.
“Katakan padaku,” katanya, “tentang simpanse yang berbicara dengan tangannya itu. Apa yang mereka lakukan ketika hal itu berakhir dan simpanse itu berkata, ‘Aku tak ingin kembali ke kebun binatang’?”
Saat aku tak menjawab apa pun, dia berkata, “Oke—kalau begitu ceritakan padaku kisah binatang lain. Aku suka cerita binatang. Tetapi bukan yang menyakitkan—aku tak ingin tahu tentang anjing yang bisa melihat apa pun kemudian menjadi buta.”
Tidak, aku tak akan menceritakan padanya cerita yang menyakitkan.
“Bagaimana kalau cerita tentang anjing bantu dengar?” kataku. “Anjing itu tidak menjadi tuli, tetapi menjadi sangat menghakimi. Misalnya, ada seekor anjing golden retriever di New Jersey, dia membangunkan seorang ibu tuli dan menyeretnya ke kamar putrinya karena putrinya itu memiliki senter dan sedang membaca di bawah selimut.”
“Oh, lucu sekali,” katanya. “Ya, kau benar-benar membuatku tertawa.”
“Mereka bilang anjing pintar itu penurut, tetapi anjing yang lebih pintar tahu kapan waktu membangkang.”
“Ya,” katanya, “apa pun yang lebih pintar tahu kapan untuk membangkang. Saat ini, misalnya.”
Dia sedang menggoda Dokter Baik, yang baru saja muncul. Tak seperti Dokter Jahat, yang memeriksa tetesan infus sebelum berkata selamat pagi, Dokter Baik mengatakan sesuatu seperti “Tuhan tidak memberikan pasien epilepsi salaman yang adil.” Dokter Baik menghadiahi dirinya sendiri poin karena tidak memukul si pincang yang bisa saja dia pukul di tempat parkir. Karena Dokter Baik sedikit sayang kepadanya, dia berkata mungkin satu tahun. Dia menarik kursi ke dekat ranjangnya dan menyarankan supaya aku menghabiskan satu jam di pantai.
“Bawakan aku sesuatu,” katanya. “Apa pun asalkan dari pantai. Atau toko suvenir. Rasa tidak penting.”
Dokter Baik menutup gorden tempat tidurnya.
“Tunggu!” jeritnya.
Aku menjengukkan kepalaku ke dalam.
“Apa pun,” katanya, “kecuali majalah berlangganan.”
Dokter itu memalingkan mukanya.
Aku melihat mulut temanku itu tertawa.
Apa yang tampak berbahaya seringkali tidak—ular hitam, misalnya, atau turbulensi udara jernih. Sementara benda-benda yang tergeletak di sana, seperti pantai ini, dipenuhi oleh bahaya. Debu kuning yang terhempas dari tanah, udara panas yang mematangkan buah melon dalam semalam—ini cuaca gempa. Kau dapat duduk di sini mengepang pinggiran handukmu dan tiba-tiba saja pasir akan mengisapnya seperti jam pasir. Udara mengaum. Di apartemen-apartemen murah di darat, bak mandi mengisi dirinya sendiri dan taman-taman menggulung ke atas dan terbalik seperti ombak hijau. Jika tak terjadi sesuatu, debu akan terbang lepas dan udara panas semakin memanas hingga rasa takut berubah menjadi hasrat. Keberanian seperti itu hanya bisa dibeli oleh malapetaka.
“Jika kau sedang memikirkannya, itu tak pernah terjadi,” katanya suatu kali. “Gempa, gempa, gempa,” katanya.
“Gempa, gempa, gempa,” kataku.
Seperti orang yang takut naik pesawat terbang tetapi tetap terbang sambil berdoa, kami melakukan itu hingga gempa susulan meretakkan langit-langit kamar.
Itu setelah gempa besar tahun 1972. Kami masih kuliah; asrama kami berjarak lima mil dari pusat gempa. Ketika gempa berhenti dan debar jantung saya mulai memelan, dia menghidangkan lima bagian sampanye yang dicampur dengan satu bagian jus jeruk, dan berkelakar tentang tinggal di Ocean View, Kansas.
Aku tak bisa mengatakan itu lagi sekarang—berikutnya.
Siapa yang berikutnya? Dia bisa saja bertanya.
Apakah aku satu-satunya yang menyadari kalau para ahli telah berhenti berkata jika dan kini berkata kapan? Tentu saja tidak; orang takut berjumlah ribuan. Kami menonton lalu lintas kumbang Jepang untuk mengalihkan perhatian. Pengalihan perhatian dapat berarti lebih banyak kekerasan alami.
Aku ingin dia takut bersamaku. Tetapi dia berkata, “Entahlah. Aku cuma tak takut saja.”
Dia tak takut apa pun, tidak juga naik pesawat terbang.
Aku punya mimpi ini sebelum terbang di mana kami memasang sabuk pengaman dan pesawat melintasi landasan. Perlu tiga puluh lima mil per jam, dan kemudian kami mengudara, menepis puncak-puncak pohon. Dan, kami tiba di New York tepat waktu.
Begitu menyenangkan.
Suatu malam aku terbang ke Moskow seperti itu.
Suatu kali dia terbang bersamaku. Waktu dia terbang bersamaku itu dia makan kacang macadamia sementara sayap pesawat berguncang. Dia tahu ujung sayap bisa menekuk tiga puluh kaki ke atas dan tiga puluh kaki ke bawah tanpa terlepas. Dan dia mempercayai itu. Dia percaya pada hukum aerodinamika. Pikiranku menyerbu. Aku hampir menerima bahwa kapal perang mengapung ketika semua orang tahu baja tenggelam.
Aku melihat rasa takut padanya sekarang, dan tak ingin mencoba menghiburnya. Dia benar kalau dia takut.
Setelah gempa, berita jam enam sore menampilkan klip film anak-anak kelas satu SD berteriak ke arah taman bermain atas instruksi guru mereka.
“Bumi jahat!” jerit mereka, karena amarah lebih kuat dari rasa takut.
Tetapi pantai masih ada hingga hari ini. Setiap orang di sana terbius, mati rasa, atau tertidur. Gadis-gadis menggosok minyak kelapa ke bagian-bagian tubuh mereka yang sulit dijangkau. Mereka seharum kue serabi. Mereka membuka tempat bedak mereka seperti cangkang kerang; cermin menangkap matahari dan melemparkan cahaya putih di sekujur bahu mereka yang berlapis kaca. Gadis-gadis itu menyisir rambut basah mereka dengan bunga sutra seperti yang mereka pelajari dari majalah Seventeen. Mereka berpose.
Satu formasi pengendara mobil ceper yang berperut six-pack menepi untuk melihat. Mereka sangat vokal ketika gadis-gadis itu melihat garis bekas berjemur yang ada di tubuh mereka. Ketika bir habis, mereka pulang—memamerkan mobil-mobil mereka di sepanjang bulevar.
Di atas kesehatan agresif ini ada teras-teras kembar yang terbuat dari besi tempa, dicat merah jambu burung flamingo, seperti Palm Royale. Seseorang di sana mati setiap kali seprai diganti. Ada ambulans di jalan masuk, jadi penghuni yang tinggal di sana berbaris di balkon, bergoyang dan tidak berbicara, melakukan sesuatu lebih baik dari yang lainnya.
Laut yang mereka pandangi berbahaya, dan tak hanya arus bawahnya. Kau bahkan hampir dapat melihat ekor hiu pasir yang menghentak menjaga tubuh peselancar tetap hidup.
Andai dia melihatnya, dia bisa melihat ini, beberapa, dari jendelanya. Dia akan menjadi yang pertama yang berkata betapa kecilnya hal yang dibutuhkan untuk membuat segalanya salah.
Ada ranjang kedua di ruangan ketika aku kembali dari pantai!
Selama dua detik aku tak mengerti. Lalu itu memukulku seperti peti mati yang terbuka.
Dia menginginkannya setiap menit, pikirku. Dia menginginkan hidupku.
“Kau tidak bertemu Gussie,” katanya.
Gussie adalah pembantu orang tuanya yang narkoleptik dan berberat badan 300 pon. Serangannya kadang datang saat dia sedang menyetrika. Sarung bantal-sarung bantal di keluarga itu semuanya hangus terbakar.
“Perjalanan yang berat baginya,” kataku. “Bagaimana kabarnya?”
“Yah, dia tidak tertidur, jika itu maksudmu. Gussie hebat—kau tahu apa yang dia bilang? Dia bilang, “Sayang, berhentilah khawatir. Teruslah berdoa, bersujud—dia bilang itu kepadaku, aku, yang turun dari ranjang saja tidak bisa.”
Dia mengangkat bahu. “Apa yang kulewatkan?”
“Ini cuaca gempa,” kataku.
“Hal terbaik yang harus dilakukan tentang gempa,” katanya, “adalah dengan tidak tinggal di California.”
“Itu berguna,” kataku. “Kau terdengar seperti Pendeta Ike—“Hal terbaik yang harus dilakukan buat orang miskin adalah dengan tidak menjadi salah satu dari mereka.’”
Kami sangat menyukai Pendeta Ike.
Aku menyadari wajahnya bengkak.
“Kau tahu,” katanya, “Aku merasa buruk. Aku akan berhenti bersenang-senang.”
“Orang dulu punya pepatah,” kataku. “Ada waktu di mana serigala membisu; ada waktu di mana bulan meraung.”
“Siapa yang bilang, Indian Navaho?”
“Grafiti di lobi Palm Royale,” kataku. “Aku beli koran di sana. Kubacakan sesuatu untukmu.”
“Meskipun aku tak peduli pada apa pun?”
Aku membalik halaman ke kolom hal-hal sepele. Aku berkata, “Apakah kau tahu semakin banyak udang yang dimakan burung flamingo semakin merah jambu warna bulunya?” Aku berkata, “apakah kau tahu bahwa orang Eskimo memerlukan kulkas? Apakah kau tahu mengapa orang Eskimo memerlukan kulkas? Apakah kau tahu kalau Eskimo memerlukan kulkas karena bagaimana lagi mereka bisa menyimpan makanan mereka tanpa membeku?”
Aku membalik ke halaman tiga, ke berita tentang kota Meksiko. Aku membaca PRIA MERAMPOK BANK DENGAN AYAM, tentang seorang laki-laki yang membeli ayam barbekyu di sebuah stan dekat blok sebuah bank. Melewati bank, dia mendapatkan ide. Dia masuk dan mendekati kasir. Dia mengarahkan kantung kertas cokelat ke kasir dan kasir menyerahkan uang. Harum saus barbekyulah yang akhirnya membuat dia tertangkap.
Cerita itu membuat dia lapar, katanya—jadi aku turun enam lantai naik lif ke kafetaria, dan membawa kembali semua es krim yang dia inginkan. Kami berbaring bersisian, ranjang yang diatur sedemikian rupa yang diangkat bagian kepalanya supaya bisa menonton TV dengan leluasa, mengotori seprai dengan serpihan es krim Good Humor, mengambil almon panggang dari kain kasa. Kami adalah Lucy dan Ethel, Mary dan Rhoda secara ekstrem. Gorden tertutup supaya tidak membuat silau layar televisi.
Kami menonton film yang dibintangi laki-laki yang kami pikir ingin kami tiduri. Pria dia adalah polisi gagah yang ingin mencegah laki-lakiku, pemerkosa kejam yang mengejar pelayan-pelayan koktail.
“Ini film bagus,” katanya ketika penembak jitu membunuh mereka berdua.
Belum-belum aku sudah kangen padanya.
Seorang perawat Filipina berjingkat dan memberikannya suntikan. Perawat itu mengambil tumpukan tangkai es krim dari meja samping tempat tidur—cukup banyak untuk membelat binatang kecil.
Suntikan itu membuat kami berdua mengantuk. Kami tertidur.
Aku bermimpi dia seorang dekorator, datang untuk mendekorasi rumahku. Dia bekerja secara diam-diam, sambil bersenandung sendiri. Ketika selesai, dia membimbingku dengan bangga ke arah pintu. “Bagaimana, apakah kau suka?” dia bertanya, membimbingku masuk.
Setiap balok dan ambang jendela dan rak dan kenopnya dibungkus dengan bendera dekorasi berwarna cerah, dengan pita-pita warna pastel yang mengelilingi cermin yang terang-benderang.
“Aku harus pulang,” kataku ketika dia terbangun.
Dia pikir yang kumaksudkan adalah pulang ke rumahnya di Canyon, dan aku harus berkata Bukan, rumah rumah. Aku memelintir tanganku dengan gaya orang dulu saat mengalami kesakitan. Aku seharusnya menawarkan dia sesuatu. Sang Teman Terbaik. Aku bahkan tidak menawarkan untuk kembali.
Aku merasa lemah dan kecil dan gagal.
Juga gembira.
Aku punya mobil konvertibel di tempat parkir. Sekali keluar dari ruangan itu, aku akan mengendarainya dengan cepat melintasi jalan raya Pantai melalui udara yang berbau kepiting. Berhenti di Malibu untuk minum sangria. Musik di tempat itu pasti seksi dan keras. Mereka bakal menghidangkan pepaya dan udang dan es semangka. Setelah makan malam aku akan berkilau karena nafsu, berdengung karena panas, hidup, dan terjaga sepanjang malam.
Tanpa sepatah kata, dia mencabut maskernya dan melemparkannya ke lantai. Dia menendang selimutnya dan bergerak ke pintu. Dia pasti benci harus berhenti untuk menarik nafas dan menjaga keseimbangan sebelum membanting pintu ruangan Isolasi, dan keluar dari ruangan kedua, ruangan tempat kau menggosok dan mengikat masker putihmu.
Sebuah suara meneriakkan namanya dengan khawatir, dan orang-orang berlarian di koridor. Dokter Baik menghubungi lewat interkom. Aku membuka pintu dan para perawat di meja jaga memandang keras, seolah pelarian ini merupakan gagasanku.
“Di mana dia?” tanyaku, dan mereka menganggukkan kepala ke arah lemari persediaan.
Aku melihat ke dalam. Dua perawat berjongkok di sampingnya di lantai, berbicara kepadanya dengan suara rendah. Seorang memegang masker menutupi hidung dan mulutnya, yang satu lagi menggosok-gosok punggungnya dengan pelan dalam gerakan melingkar. Perawat itu menengok ke arahku untuk melihat apakah aku dokter—dan saat tahu bukan, mereka melanjutkan apa yang mereka lakukan.
“Tenang, Sayang, tenang,” kata mereka.
Di pagi hari ketika dia dipindahkan ke pekuburan, tempat Al Jolson dimakamkan, aku mendaftar ke kelas “Takut Terbang”. “Apa ketakutan terbesarmu?” instrukturnya bertanya, dan aku menjawab, “Bahwa aku akan lulus kursus ini dan tetap takut terbang.”
Aku tidur dengan segelas air di meja samping tempat tidur supaya melalui ketinggian airnya aku bisa melihat apakah bumi pesisir gemetar atau yang gemetar itu aku sendiri.
Apa yang kuingat?
Aku ingat hanya hal-hal tak berfaedah yang pernah kudengar—bahwa ibunya Bob Dylan menemukan tip-eks merek Wite-Out, bahwa dua puluh tiga orang harus berada dalam satu ruangan sebelum ada peluang 50-50 dua orang memiliki hari ulang tahun yang sama. Siapa yang peduli jika itu benar atau tidak? Di kepalaku ada handuk mandi yang membedung hal-hal seperti ini. Tak ada yang lain yang meresap.
Aku mengulas hal-hal yang akan muncul dalam penceritaan ulang: ciuman lewat kain kasa operasi, tangan pucat yang membetulkan posisi rambut palsu. Aku mencatat gerakan-gerakan ini selagi terjadi, bukan dalam pengingatan kembali—meskipun aku tak tahu mengapa melihat ke belakang akan menunjukkan kepada kita lebih baik ketimbang melihatnya langsung.
Sangat mungkin aku akan berkata aku akan menginap.
Dan siapakah yang bisa berkata aku tidak menginap?
Aku memikirkan tentang simpanse itu, yang berbicara dengan tangannya.
Dalam eksperimen, simpanse itu memiliki bayi. Bayangkan bagaimana pelatih mereka begitu senang mendapati induknya, tanpa pemberitahuan, mulai memberi isyarat kepada bayinya yang baru lahir.
Bayi, minum susu.
Bayi, main bola.
Dan ketika bayi itu mati, induknya berdiri di samping mayatnya, tangannya yang keriput bergerak dengan keanggunan binatang, membentuk lagi dan lagi kata-kata: bayi, ayo peluk, bayi, ayo peluk, sudah fasih dalam bahasa kesedihan.
untuk Jessica Wolfson
*
Tentang Amy Hempel
Amy Hempel lahir pada tanggal 14 Desember 1951 di Chicago, Illnois, Amerika Serikat. Ia merupakan penulis cerita pendek dan jurnalis yang mengajar penulisan kreatif di Michener Center for Writers. Ia telah menerima berbagai penghargaan di antaranya Hobson Award dan Ambassador Book Award di tahun 2007 untuk bukunya The Collected Stories.
Cerita pendek “Di Pekuburan Tempat Al Jolson Dimakamkan” ini diambil dari buku kumpulan cerita pendeknya Reasons to Live.
Ilustrasi: Conversation (Ossip Zadkine), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Kantor Para Kucing – Cerpen Kenji Miyazawa
– Kulit – Cerpen Roald Dahl

sangat bagus
sangat menarik