Menu
Menu

Vero hanya tersenyum dan menyerahkan seember labu siam. Keesokan harinya laki-laki itu kembali.


Oleh: Ajen Angelina |

Dosen di Unika St. Paulus, Ruteng; saat ini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Curtin University. Anggota Klub Buku Petra, senang menulis sejak SMP. Novel pertamanya Surat-Surat Habel dan Veronika diterbitkan Basabasi tahun 2019. Terpilih sebagai salah satu emerging writers di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026.


Vero menggerus tumitnya dengan batu gosok, menekan sekuat tenaga agar kulit-kulit kasar yang pecah itu kembali halus, atau bila perlu, lenyap tak berbekas. Biasanya ia tak pernah peduli, tetapi Sabtu lalu Frans bilang bagian paling seksi dari perempuan Manggarai adalah tumit mereka.

Kalimat itu menyusup ke dalam tidurnya, menghantui sejak semalam. Bahkan saat ia terbangun dan mengganti popok Endé Bina pagi tadi, gema suara Frans bukannya mereda, malah berdengung makin kencang. Begitu kencang hingga aroma pesing yang menyengat seolah tak tercium oleh hidungnya.

Ia berhenti menggosok tumitnya. Tangannya gemetar sesaat sebelum melempar batu gosok itu ke lantai kamar mandi, mengeluarkan bunyi dentum yang cukup keras. Tiga tahun lalu suaminya, Nadus, merantau ke Kalimantan, meninggalkannya terikat pada mertua yang lumpuh bagian kanan akibat stroke sejak lima tahun lalu. Sejak Nadus pergi, baru kali ini ia tidak segera menepis kata-kata seorang lelaki.

Ia buru-buru menyudahi mandinya. Begitu melangkah keluar, matahari bulan Mei yang garang langsung menyergap. Jarak pendek dari kamar mandi ke pintu rumah cukup untuk membuat kulitnya yang basah dingin berubah lengket.

Di dalam kamar, ia menggosokkan tawas ke ketiak—keras dan lama—seraya menatap pantulan tubuh polos miliknya di cermin lemari. Buah dadanya menggantung bagai mangga ranum yang jika tak dipetik akan diincar kalong buah. Tubuhnya melekuk sempurna dengan perut rata.

“Andaikan aku dan Frans bertemu sepuluh tahun lalu, mungkin ceritanya berbeda,” desahnya.

Ia menepis pikiran itu dan segera mengenakan daster. Ia merapikan rambut sebelum keluar menuju ruang tengah. Cahaya matahari menerobos masuk melalui pintu depan dan jendela yang terbuka. Jam di dinding ruang tamu menunjukkan pukul dua siang. Ia berdiri cukup lama memandang jam itu dan baru beranjak ketika mendengar erangan dari kamar di bagian ujung kanan, dekat dapur.

Di kamar itu, Endé Bina terkapar lemah di ranjang beralaskan perlak, tanpa kelambu. Tubuhnya kurus, seolah-olah tak pernah ada lemak di sana. Aroma minyak urut yang menusuk bercampur dengan pesing samar-samar menguar. Cahaya matahari dari jendela kamar tak mampu mengusir suram di ruangan itu.

Endé, ada apa?”

Perempuan itu terus mengerang, matanya tertutup. Vero mengecek sarung dan mendapati popok perempuan itu kering. Mungkin ia mimpi buruk, batin Vero.

“Vero… Vero… di mana Nadus?”

Perempuan tua di hadapannya terlihat makin menyedihkan. Akhir-akhir ini ia sering mencari anak bungsu kesayangannya itu, seolah anaknya tak pernah berpamitan padanya tiga tahun lalu. Sebulan ini mertuanya lebih banyak tidur, padahal sebelumnya ia selalu bisa duduk di tempat tidur meski lemah.

Vero berdiri lama di sisi ranjang, tanpa tahu di mana harus meletakkan tangannya.

Sepuluh tahun lalu saat ia dan suaminya menikah, mertuanya itu masih baik-baik saja: cekatan menanam talas di kebun samping rumah, terampil menganyam tikar di bale-bale, dan berapi-api menceritakan banyak hal pada Vero. Ia perempuan tua yang kuat, sendirian menghidupi tiga orang anaknya sebagai penganyam tikar. Meski ia tak pernah bisa membaca, ketiga anak laki-lakinya lulus SMA dan telah merantau mendapat kerja baik di luar kampung.

Endé Bina memiliki aura tenang dan penuh kasih. Vero masih ingat bagaimana perempuan itu menerima saja ketika anaknya memperkenalkan istri yang masih remaja ingusan dan tak jelas asal-usulnya sepuluh tahun lalu. Selain itu selama sepuluh tahun menikah, saat menantunya itu tak kunjung hamil, mertuanya selalu menjadi tameng ketika warga kampung bergunjing. Setiap kali melihat tubuh itu terbaring, napas Vero terasa pendek dan berat.

“Vero… Di mana Nadus?” Perempuan tua itu kembali bertanya lirih. Kelopak matanya yang keriput perlahan terbuka. Bola matanya yang keruh menatap Vero dengan tatapan nanar.

“Nadus sebentar lagi akan datang, Ende,” jawab Vero, sengaja mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Ende Bina tidak menjawab. Ia menutup kembali matanya. “Kalau ia datang, bangunkan saya.”

Vero mengangguk, mematung di sudut tempat tidur, dan baru keluar setelah mertuanya tertidur pulas.

Ia menuju dapur, menyalakan tungku dan menjerang air. Pikirannya melayang pada Frans, kepala tukang yang mengerjakan rumah Marta, tetangga yang berjarak tiga rumah dari tempatnya. Laki-laki itu semacam oase yang muncul di hidupnya yang kering. Frans muncul tiga bulan lalu di depan rumahnya, meminta labu siam di kebun belakang untuk lauk ia dan anak buahnya.

“Marta sudah menyediakan sayur yang banyak untuk kami, tetapi nafsu makan anak buah saya seperti babi,” ujarnya malu-malu saat itu.

Laki-laki itu berusia akhir 30-an. Badannya besar dan berotot. Tangannya kasar dan kuat. Ia punya wajah seperti banyak lelaki Manggarai: hitam, pesek, dan berambut keriting. Hanya saja, senyumnya membuat matanya bersinar.

Vero hanya tersenyum dan menyerahkan seember labu siam. Keesokan harinya laki-laki itu kembali. Kali ini membawa ikan kering dari kampungnya sebagai ucapan terima kasih atas labu yang ia berikan. Setelah itu, setiap malam Minggu Frans akan bertamu, biasanya bersama salah satu anak buahnya.

Namun Sabtu lalu—tepat tujuh hari yang lalu—laki-laki itu datang sendiri. Mereka berdua duduk di dapur. Vero merebus sayur untuk makan malam Endé Bina sebelum mertuanya itu minum obat wajib dari Puskesmas. Frans duduk di sampingnya. Mereka berdua menghadap tungku api.

“Pekerjaan kami selesai minggu ini dan minggu depan aku akan pulang, Vero,” ujar Frans. Nada suaranya berubah serius. Padahal sebelumnya mereka membahas hal-hal remeh, seperti lelucon tentang tumit perempuan Manggarai itu.

Vero yang sedang memasukkan kayu bakar ke dalam tungku memandangnya sekilas. Laki-laki itu berdehem sebelum melanjutkan.

“Selama ini aku selalu datang ke rumahmu membawa seorang anak buahku karena aku menghargaimu, Vero.” Ia menatap mata Vero lekat-lekat. “Marta selalu bilang kau perempuan baik-baik dan aku tak boleh macam-macam.”

Ia seketika terdiam. Vero merasakan dadanya bergemuruh.

“Aku tidak mungkin main-main tentangmu, tentang kita. Waktu melihatmu pertama kali, aku langsung jatuh hati. Karena itu, Vero… kaburlah bersamaku.”

Bunyi panci yang bergoyang karena gelembung air mendidih menyentak Vero kembali ke dapur. Dadanya terasa sesak. Ia menelan ludah berkali-kali.

Ia, kalau boleh jujur, sudah lupa pada sentuhan lelaki dan sibuk merawat Endé Bina selama ini. Selain itu suaminya, Nadus, semakin menjauh dan mulai jarang ia pikirkan. Selama tiga bulan ini ia selalu menantikan kunjungan Frans di hari Sabtu. Selama tujuh hari ini ia terus memikirkan kunjungan terakhir. Apakah Frans serius ingin mengajaknya kabur?

Wajah Marta muncul di benaknya, lengkap dengan nada suaranya dua hari lalu.

“Frans serius denganmu, Vero. Ia laki-laki baik. Sudah dua tahun ia menduda.” Mereka duduk di ruang tengah. Awalnya Vero merasa aneh mengapa perempuan itu harus datang menjelaskan tentang Frans yang hanyalah tukang itu.

“Frans itu sepupuku. Kami sekampung. Di kampung ia terkenal baik, tak pernah macam-macam. Saya jamin,” ujar Marta. Vero memandangi Marta waktu itu tanpa benar-benar tahu harus percaya atau tidak.

“Frans itu laki-laki yang tak pernah melakukan sesuatu sembarangan, apalagi mengajak perempuan kawin lari. Ia begitu karena kamu. Ia serius. Kau mau ikut bersamanya, kan?”

“Entahlah, Marta,” desahnya saat itu.

“Buat apa kau tinggal di rumah ini? Anak-anak kandung Endé Bina saja tak ada yang mau merawat. Sudah lima tahun kau hidup sengsara seperti ini, Vero. Kau masih muda, jangan layu dan menjadi tua di tempat ini!” Marta terus mencerca, seolah menyiram bensin pada api yang baru menyala.

Vero hanya mendesah dan duduk di kursi, meminta Marta menurunkan volume suaranya. “Endé Bina itu sudah tak sadar lagi, Vero,” bisik Marta tajam. “Dia bahkan tak tahu ketiga anaknya meninggalkan dia padamu yang orang asing.”

Ende Bina bukanlah orang asing, Vero ingin mengungkapkan itu tetapi urung melihat mata Marta yang berkilat-kilat.

Marta mendekatkan wajahnya, menatap Vero lekat. “Apa yang kau takutkan? Frans itu duda, anaknya tiga. Dia tidak mengharapkan anak lagi darimu yang mandul. Jika itu yang kau takutkan.”

Dada Vero teriris mendengar kata mandul. Sudah lama sekali ia tak mendengar orang lain mengatakan itu terang-terangan. Dulu, Endé Bina memarahi siapa saja yang mengatainya mandul.

“Menantuku tetap perempuan meski belum hamil. Kalian urus saja menantu kalian yang kurang ajar,” amuk mertuanya suatu kali pada sekelompok perempuan tua yang menggunjing namanya. Sejak itu, tak ada yang berani menyebut mandul di depan ia dan Ende Bina.

“Lagipula,” sambung Marta, suaranya melunak tetapi penuh racun, “apa kau yakin Nadus di Kalimantan sana tak punya istri lagi? Laki-laki itu butuh pelayanan, Vero. Tiga tahun dia tidak pulang, apa kau percaya dia tidur sendirian?”

Ia ingin menjawab bahwa ia tak sendirian. Nadus suaminya itu selalu menelepon dan mengirim uang yang cukup untuk beli popok Ende Bina dan keperluan lain. Dua anak laki-laki Ende Bina yang merantau ke Papua dan bekerja di sana juga tidak lepas tangan; sesekali mereka menelepon dan tidak pernah absen mengirim uang setiap bulan. Uang untuk popok, obat, beras, dan bahkan untuk dirinya sendiri selalu ada. Ia tidak kekurangan meski, setiap Sabtu sore, ia selalu mendamba langkah kaki Frans di halaman.

“Kasihan Endé Bina, Mar” ujarnya lemah.

“Lalu bagaimana dengan kau?” sergah Marta cepat. “Apa kau tidak kasihan dengan dirimu sendiri?”

Suara tutupan panci kembali terdengar, kali ini lebih keras. Ia cepat-cepat mengeluarkan beberapa kayu dari tungku, lalu mengisi termos. Suara air yang memenuhi termos terdengar nyaring di telinganya, mengingatkannya pada ucapan terakhir Frans, Sabtu lalu di dapur ini, sebelum pergi.

“Vero, aku menunggu jawabanmu. Sabtu depan, datanglah ke rumah Marta. Kalau kau muncul sebelum pukul tujuh malam, artinya kau setuju untuk pulang bersamaku ke kampungku,” ujar laki-laki itu sebelum mencium keningnya. “Aku janji akan memberikanmu rumah yang lebih baik dari ini. Rumah bersama anak-anakku yang membutuhkan Ibu.”

Lamunannya buyar saat suara erangan Endé Bina kembali terdengar. Vero menepuk kedua pipinya sendiri untuk menyadarkan diri, lalu melangkah menuju kamar mertuanya. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul lima sore.

Aroma busuk menyengat menguar memenuhi udara. Dengan sigap, Vero kembali ke dapur mengambil ember dan sabun. Ia mengganti popok sekali pakai yang penuh kotoran dan menyeka seluruh bokong perempuan itu. Mata Ende Bina terbuka saat Vero sedang menyeka bagian belakang tubuhnya.

“Vero, pasti bau sekali kotoranku itu.”

Tanpa sadar Vero tertawa kecil. “Namanya juga kotoran, Endé. Mana ada yang wangi.”

Ia melanjutkan pekerjaannya, membungkus popok kotor itu ke dalam plastik. Ia kembali ke kamar Endé Bina dengan kain lap, sabun, dan ember berisi air hangat, lalu melap seluruh tubuh mertuanya dengan pelan sebelum kemudian memasang popok baru.

“Vero… Kasihan sekali kau, Nak.” Tiba-tiba perempuan tua itu menangis. Ia meraih tangan Vero dan meremasnya dengan sisa tenaganya yang lemah. Sorot matanya mendadak bening, seolah-olah seluruh kabut pikunnya luruh saat itu juga.

“Kau boleh pergi, Vero. Kau masih muda dan tidak layak membusuk bersamaku di sini. Pergilah bersama Frans itu.”

Vero terkesiap. Rupanya Ende Bina mendengar percakapannya dengan Marta beberapa hari lalu. Ia tidak mampu menjawab. Lidahnya kelu.

“Akan lebih baik kalau kau pergi daripada membersihkan kotoranku setiap hari.”

Vero terdiam. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya terlempar ke enam tahun lalu, setahun sebelum mertuanya terkena stroke. Saat itu akhirnya ia hamil, tetapi mengalami keguguran ketika usia kandungan baru dua bulan. Ende Bina dengan tubuh tua dan lelahnya yang mengurusinya; menyuapkan ia makan, membersihkan gumpalan darah yang keluar dari tubuhnya yang tak berdaya, dan mencuci bersih seprai serta bajunya yang amis. Tak sekali pun keluar nada jijik atau marah dari mulutnya. Ia membelai kepala Vero dan membisikkan kata-kata pengharapan, bahwa semua akan baik-baik saja, ia tidak sendiri. Itu adalah hal yang hanya mereka berdua ketahui.

Ia juga masih ingat di tahun kelima pernikahan mereka, saat Nadus memarahinya dan memaki-makinya mandul, perempuan tua dengan tubuh ringkih itu memukul anak kandung kesayangannya dengan sapu, membuat suaminya tak pernah lagi macam-macam.

Bahkan seminggu setelah Nadus ke Kalimantan, mertuanya itu memanggilnya dengan suara bergetar. Ia menyuruh Vero membuka laci lemari paling bawah dan mengambil bungkusan di balik tumpukan baju lama. Ada uang sepuluh juta rupiah di sana—hasil tabungan anyaman tikar selama bertahun-tahun.

“Pergilah, Vero. Biarkan anak-anakku membayar seseorang untuk merawatku. Pergilah,” katanya waktu itu, memaksa Vero menerima uang itu untuk memulai hidup baru.

Namun Vero tak pernah mengambil uang itu. Ia tak tahu harus ke mana. Baginya, Endé Bina adalah rumahnya.

Tanpa sadar air mata Vero menetes, jatuh di atas tangan keriput yang sedang menggenggam tangannya erat. Ia menoleh ke arah jendela kamar yang mulai gelap. Di luar sana, jalan menuju rumah Marta dan pelukan Frans terbentang terbuka. Namun, Vero merasakan tumitnya justru mencengkeram erat lantai semen yang dingin di rumah ini.

Ende, saya siapkan makan, ya,” ujar Vero seraya berdiri, mengalihkan pembicaraan.

Ende Bina tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Vero melangkah cepat keluar dan mematung di ruang tengah. Jam dinding di atas kepalanya menunjukkan tepat pukul tujuh lewat lima. [*]


Ilustrasi: The Kitchen (James McNeill Whistler), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Dunia Ibu – Happy Salma
Saat Badai – Armin Bell


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

30 thoughts on “Keputusan Vero”

  1. eve berkata:

    beautifully written <3

  2. Ayu Rachma berkata:

    gejolak antara kebebasan atau setia dan bertahan. tapi vero tetap disisi Ende. wah, bikin terharu. Besar kali hati mu Vero.

  3. noulyy berkata:

    terharu banget gimana setia dan baik hatinya si Vero, sahabatnya memang baik namun itu bukan keputusan yang bagus karena Vero pun tidak merasa terlalu terbebani untuk hidup bersama mertuanya.

  4. Nanang berkata:

    baguss bangettt😭

    1. 082180830561 berkata:

      Cerpen yang sangat menarik, kritik sosial bagi orang yang cepat tergoda untuk melepaskan penderitaan demi kenikmatan semata. 🙏

  5. Aul berkata:

    setiap manusia tidak bisa yg namanya berperang dengan batinnya sendiri sekalipun dipendam sendiri pasti akan meledak menggebu-gebu,sama seperti tokoh vero

  6. Fauzan berkata:

    Pesan yang dapat diambil dari cerita ini adalah tentang pengorbanan, kesetiaan, dan cinta yang tulus. Vero, sebagai menantu, telah mengabdikan dirinya untuk merawat mertuanya yang sudah tua dan sakit, meskipun ia memiliki kesempatan untuk meninggalkan semuanya dan memulai hidup baru dengan Frans.

    Cerita ini juga menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya tentang darah, tapi juga tentang cinta dan kesetiaan. Ende Bina, meskipun memiliki anak kandung yang tidak setia, telah menerima Vero sebagai bagian dari keluarganya dan menunjukkan cinta yang tulus kepadanya.

    Pesan lain yang dapat diambil adalah bahwa kita tidak boleh meninggalkan orang yang membutuhkan kita, terutama mereka yang telah membantu dan mendukung kita. Vero memilih untuk tetap berada di samping Ende Bina, meskipun ia memiliki kesempatan untuk meninggalkan semuanya, menunjukkan bahwa ia adalah orang yang setia dan bertanggung jawab.

    1. Najma Kamila berkata:

      cerpen nya sangat sangat bagusss,dan seruu

      1. Zul Fikri berkata:

        Tulisanmu sangat memukau. Bahasanya indah dan sangat puitis, tapi tetap terasa natural dan kuat. Aku bisa merasakan betapa beratnya pilihan yang harus diambil Vero antara kebahagiaan diri sendiri dan rasa bakti pada Endé Bina. Adegan saat Endé Bina sadar dan mengizinkan Vero pergi itu bener-bener bikin terharu. Bagus sekali!”

        “Wah, cerita yang sangat dalam dan menyayat hati Najma. Karakter Vero dan Endé Bina digambarkan dengan sangat hidup. Aku suka sekali bagaimana kamu menggambarkan konflik batinnya—antara rasa ingin bahagia bersama Frans tapi terikat oleh kasih sayang dan tanggung jawab pada mertua. Kalimat penutupnya pas banget, meninggalkan kesan yang mendalam. Salut!”

  7. zahratu berkata:

    ikut netesinn air mataa bacanyaa

  8. Satria wibawa berkata:

    Cerpen ini menyajikan konflik batin yang terasa nyata. Sosok Vero digambarkan sederhana, tapi penuh makna. Keputusan yang ia ambil terasa dalam dan menyentuh, seolah mengajak pembaca ikut merasakan dilema yang sama.

  9. Satria wibawa berkata:

    Karya yang indah dan penuh makna. Penokohan Vero sangat kuat dan relate dengan kehidupan nyata. Gaya bahasanya ringan tapi mengena—membuat pembaca betah sampai akhir.

    1. nda berkata:

      bagus bgtttt bgttt ceritanyaa

    2. Aurel Hala berkata:

      gilaa keren banget karyanya indah banget cerpennya bikin terinspirasi tau gak

  10. Titi haryati berkata:

    vero wanita hebat

    1. Naiza berkata:

      keren dan bagus banget ceritanya, waktu aku baca sampe bayangin kejadiannyaaa, tapi keren kok ceritanya

  11. azra nabila berkata:

    keren banget bisa bikin orang masuk ke dalam ceritanya dan terbawa suasana di dalam ceritanya

  12. Baca Bareng berkata:

    relate dengan kebanyakan kehidupan masyarakat indonesia. Pertarungan batin tokoh Vero bisa dirajut sangat apik.

  13. laila berkata:

    aku baca nya sampe nangis lohhh,kerenn bangett yang buat

  14. Asifa Nf berkata:

    sedih bgtt, hugg veroo kamu keren bgt

    1. Puput berkata:

      Sebenarnya pilihan Vero memang paling realistis loh. Merawat Ende memang melelahkan, tapi Ende memperlakukan Vero dengan baik. Ditambah uang masih lancar. Dengan frans, belum tentu uang lancar apalagi Frans punya tiga anak. Boleh jadi, kalo Vero dengan Frans, hidupnya lebih melelahkan. Merawat tiga anak Frans dan uang yang tidak seberapa. Dan kemungkinan lain, tidak ada yang akan memperlakukan Vero sebaik Ende.

      Pilihan yang bagus Vero!

  15. syakila berkata:

    njiirrr sedihh bangettt 😭😭😭,kerenn yg buatttt

    1. jazira ad dia berkata:

      sedihhh bangettt verooo semangat yaaa 😭

    2. Najma Kamila berkata:

      cerpen nya sangat sangat bagusss,dan seruu

  16. Fariska berkata:

    keputusan vero terbaik

  17. Naufal berkata:

    Nangis banget bacanya 😭😭😭, keren deh

    1. kaira berkata:

      tokoh vero yang bimbang dalam mengambil keputusan dimana ia harus merelakan kebebasan nya demi mengurus mertua nya yang sakit sebuah sikap yang bijaksana saat mengambil keputusan dari pandangan saya karena dia lebih mementingkan kebersamaan yang sudah terjalin 5 tahun lebih dimana mertua nya selalu membela nya hingga akhirnya jatuh sakit

      1. Titi haryati berkata:

        vero wanita hebat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *