Kucing-Kucing Ulthar – Cerpen H. P. Lovecraft
24 Februari 2026| | 14 CommentsSampai dua hari penuh, kucing-kucing malas di Ulthar tidak menyentuh makanan, hanya tertidur di dekat api atau di bawah matahari.
Oleh: Isabella Agnes Erylia |
Lahir di Banjarnegara. Bermukim di kota kelahirannya.
Konon, di Ulthar, yang letaknya berada di seberang Sungai Skai, tak seorang pun diizinkan untuk membunuh kucing; dan hal ini dapat kupercayai selagi aku menatap ke arah dia yang sedang duduk mendengkur di depan api. Sebab kucing itu penuh misteri, dan dekat dengan hal-hal aneh yang tak bisa dilihat oleh manusia. Dia adalah jiwa antik dari Aegyptus, dan membawa kisah-kisah dari kota-kota terlupakan di Meroe dan Ophir. Dia adalah kerabat dari para raja hutan, dan pewaris rahasia Afrika yang kuno dan menyeramkan. Sphinx adalah sepupunya, dan dia berbicara bahasanya; tetapi dia jauh lebih kuno dibandingkan Sphinx, dan mengingat apa yang telah dilupakan oleh Sphinx.
Di Uthar, sebelum penduduk melarang pembunuhan terhadap kucing, hiduplah seorang petani tua dan istrinya yang senang menangkap dan membunuh kucing-kucing milik tetangga mereka. Aku tak tahu apa alasan mereka melakukan itu; banyak dari mereka membenci suara kucing di malam hari, dan merasa terganggu ketika para kucing berlari diam-diam melintasi halaman dan kebun pada malam hari. Tetapi apa pun itu alasannya, pria tua dan wanita ini merasakan kesenangan saat menjebak dan membunuh setiap kucing yang mendekati gubuk mereka; dan dari suara-suara yang terdengar setelah gelap, banyak penduduk desa menduga bahwa pembunuhan itu sangatlah aneh. Namun para penduduk desa tidak membicarakan hal tersebut kepada si pria tua dan istrinya; karena ekspresi kusut dan layu di wajah keduanya, dan karena gubuk mereka begitu kecil dan amat tersembunyi di bawah pepohonan ek rindang di sebuah halaman yang terbengkalai. Sejujurnya, meskipun para pemilik kucing membenci orang-orang aneh itu, mereka lebih takut pada keduanya; dan alih-alih mengecam mereka sebagai pembunuh yang kejam, mereka hanya berhati-hati agar tidak ada hewan peliharaan kesayangan mereka atau pemburu tikus yang mendekati gubuk terpencil di bawah pepohonan gelap. Ketika terjadi kelalaian yang tak terhindarkan saat seekor kucing menghilang, dan terdengar suara-suara setelah hari gelap, si pemilik akan meratap tanpa daya; atau menghibur diri dengan berterima kasih pada takdir bahwa bukan salah satu anaknyalah yang menghilang. Penduduk Ulthar adalah orang-orang yang sederhana, dan tidak tahu dari mana semua kucing berasal.
Suatu hari, rombongan pengembara aneh dari selatan memasuki jalan-jalan berbatu sempit di Ulthar. Mereka adalah pengembara yang kelam, dan tidak seperti rombongan lainnya yang melewati desa setiap dua kali setahun. Di pasar, mereka meramal nasib dengan imbalan perak, dan membeli manik-manik dari para pedagang. Tidak ada yang tahu dari mana pengembara ini berasal; tetapi mereka sering terlihat merapalkan doa-doa aneh, dan mereka mengecat bagian samping kereta-kereta mereka dengan gambar-gambar aneh manusia dengan kepala kucing, elang, domba dan singa. Dan pemimpin rombongan itu mengenakan penutup kepala dengan dua tanduk dan cakram aneh di antara kedua tanduk tersebut.
Di dalam rombongan itu terdapat seorang anak laki-laki yang tidak memiliki ayah maupun ibu, hanya memiliki seekor anak kucing hitam yang dia sayangi. Wabah penyakit tidak berpihak padanya, tetapi masih meninggalkan seekor makhluk kecil untuk meringankan kesedihannya; dan ketika seseorang masih sangat muda, dia dapat menemukan penghiburan besar dari tingkah laku si anak kucing hitam. Jadi, anak laki-laki yang dipanggil Menes oleh para orang kelam itu lebih sering tersenyum dibandingkan menangis selagi dia duduk bermain bersama kucingnya di tangga kereta yang dicat dengan aneh.
Pada hari ketiga kelompok pengembara itu singgah di Ulthar, Menes tidak bisa menemukan kucingnya; dan selagi dia menangis di pasar, beberapa penduduk desa memberitahunya soal si pria tua dan istrinya, serta suara-suara yang terdengar pada malam hari. Ketika dia mendengar hal tersebut, tangisnya berubah menjadi renungan, dan pada akhirnya menjadi doa. Dia merentangkan tangannya ke arah matahari dan berdoa dalam bahasa yang tidak bisa dipahami oleh para penduduk desa; meskipun sebenarnya para penduduk itu tidak terlalu berusaha untuk memahaminya, karena perhatian mereka tertuju pada langit dan bentuk-bentuk aneh yang dihasilkan oleh awan. Kejadian itu sangatlah aneh, namun ketika si anak laki-laki mengucapkan permohonannya, di atas sana tampak terbentuk sosok-sosok bayangan eksotis yang kabur; makhluk-makhluk hibrida yang dimahkotai cakram yang diapit oleh tanduk. Alam memang dipenuhi oleh ilusi semacam itu untuk mengesankan mereka yang berimajinasi.
Malam itu para pengembara meninggalkan Ulthar, dan tidak pernah terlihat lagi. Para penduduk menjadi resah ketika mereka menyadari bahwa tak ada seekor kucing pun yang bisa mereka temukan di seluruh desa. Kucing yang biasa terlihat di setiap perapian telah menghilang; kucing besar dan kecil, hitam, abu-abu, belang, kuning dan putih. Si Tua Kranon, sang wali kota, bersumpah bahwa orang-orang kelam itu membawa semua kucing sebagai balas dendam atas pembunuhan yang terjadi pada anak kucing Menes; dan dia mengutuk rombongan beserta si anak laki-laki tersebut. Tetapi Nith, si notaris bertubuh kurus, mengatakan bahwa petani tua dan istrinyalah yang harus dicurigai; karena kebencian mereka terhadap kucing tidak diragukan lagi dan semakin terang-terangan. Meski begitu, tak ada seorang pun yang berani mengadukan pasangan menyeramkan itu; bahkan ketika si kecil Atal, anak laki-laki pemilik penginapan, bersumpah bahwa dia melihat semua kucing di Ulthar berada di halaman yang terkutuk itu di bawah pepohonan saat senja, berjalan perlahan dan khidmat membentuk lingkaran di sekeliling pondok, berpasangan, seolah-olah tengah melakukan ritual makhluk yang tak pernah terdengar sebelumnya. Penduduk desa tidak tahu seberapa banyak yang harus mereka percaya dari anak sekecil itu; dan meskipun mereka takut pasangan jahat itu telah menyihir para kucing sampai mati, mereka lebih memilih tidak menegur si petani tua hingga mereka berpapasan dengannya di luar halamannya yang gelap dan menjijikkan.
Maka Ulthar tertidur dengan amarah yang sia-sia; dan ketika orang-orang terbangun saat fajar, lihatlah! Setiap kucing telah kembali ke perapian mereka yang biasa! Besar dan kecil, hitam, abu-abu, belang, kuning dan putih, tak ada satu pun yang hilang. Para kucing itu tampak mengilap dan gemuk, dan mendengkur dengan puas. Para penduduk membicarakan kejadian itu dengan satu sama lain, dan sangat terkejut. Si Tua Kranon lagi-lagi bersikeras bahwa orang-orang kelam itu telah mengembalikan mereka, mengingat para kucing tidak kembali hidup-hidup dari gubuk pria tua dan istrinya. Tapi semua orang setuju: penolakan para kucing untuk memakan jatah daging atau susu mereka adalah hal yang sangat aneh. Dan sampai dua hari penuh, kucing-kucing malas di Ulthar tidak menyentuh makanan, hanya tertidur di dekat api atau di bawah matahari.
Butuh waktu seminggu sebelum para penduduk desa menyadari bahwa tak ada cahaya yang muncul di jendela gubuk di bawah pepohonan. Lalu Nith si kurus berkomentar bahwa tak ada seorang pun yang melihat si pria tua dan istrinya sejak malam para kucing menghilang. Seminggu kemudian, wali kota memutuskan mengatasi ketakutannya dan mengunjungi rumah yang anehnya sunyi itu sebagai kewajiban, meski untuk berhati-hati dia membawa serta Shang si pandai besi dan Thul si tukang batu untuk menjadi saksi. Ketika mereka berhasil mendobrak pintu yang rapuh itu mereka hanya menemukan ini: dua kerangka manusia bersih di lantai tanah, dan beberapa serangga merayap di sudut-sudut yang gelap.
Setelahnya terdapat banyak pembicaraan di antara penduduk Ulthar. Zath, si petugas koroner, berdebat panjang lebar dengan Nith, si notaris kurus; dan Kranon, Shang, dan Thul dihujani oleh banyak pertanyaan. Bahkan si kecil Atal, anak laki-laki pemilik penginapan, juga diinterogasi dengan cermat dan diberi permen sebagai hadiah. Mereka membicarakan si petani tua dan istrinya, rombongan pengembara kelam, tentang Menes kecil dan langit saat dia berdoa, tingkah para kucing pada malam rombongan pengembara itu pergi, dan apa yang kemudian ditemukan di dalam gubuk di bawah pepohonan tua di halaman terbengkalai.
Pada akhirnya penduduk menerapkan aturan yang luar biasa, yang diceritakan oleh para pedagang di Hatheg dan dibicarakan oleh para pelancong di Nir; bahwa di Ulthar, tidak seorang pun boleh membunuh kucing. [*]
*
Tentang H. P. Lovecraft |
H. P. Lovecraft (20 Agustus 1890 – 15 Maret 1937) adalah penulis asal Amerika yang dikenal luas sebagai penulis rangkaian cerita Mitos Cthulhu dan Necronomicon, buku fiksi tentang seremoni gaib dan pengetahuan yang dilarang. Howard Phillips Lovecraft menulis naskah horor, fantasi, dan fiksi ilmiah, khususnya subgenre yang dikenal sebagai weird tale. Karya-karyanya memberi pengaruh pada penulis-penulis genre horor bertahun-tahun setelahnya, termasuk Stephen King–yang menyebut Lovecraft sebagai penulis cerita horor klasik yang terbesar dari abad ke-20. Beberapa karyanya yang paling ikonik: The Call of Cthulhu (1928) dan At the Mountains of Madness (1936). Cerpen “Kucing-Kucing Ulthar (The Cats of Ulthar)” pertama kali dipublikasi pada bulan November 1920.
Ilustrasi: Study of A Cat (Suzanne Valadon), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Sel Tahanan 3.47 – Cerpen Kate Hughes
– Di Pekuburan Tempat Al Jolson Dimakamkan – Cerpen Amy Hempel

bagus banget bisa dibaca terus dan dapat dipelajari
cerita ini sangat bagus, saya menyukai latar belakang cerita tersebut karna saya saya seorang pecinta kucing saya sangat suka dengan cerita yang di buat terimakasih
saya sangat suka cerita ini
Terima kasih, jazira ad dia! Senang sekali kamu suka dengan cerita ini. Kucing-Kucing Ulthar memang punya daya tarik tersendiri, terutama dengan misteri dan nuansa dongeng gelap khas Lovecraft. Menurutmu, bagian mana yang paling berkesan? 😊
Cerpen yang bagus. Meski ditulis dari latar Mesir tapi saya sebagai pembaca bisa memahami isi dan maksudnya dengan sangat jelas.
Terimakasih sudah menerjemahkan karya luar negeri yang bisa menjadi referensi kesusastraan non indonesia.
saya sangat suka cerita ini
cerpen yang sangat bagus karena menonjolkan bahwa pandangan kucing bukan sekadar hewan biasa, melainkan makhluk misterius yang memiliki keterkaitan dengan dunia kuno dan hal-hal gaib. Deskripsi tentang kucing yang dikaitkan dengan peradaban kuno seperti Mesir serta makhluk seperti Sphinx memperkuat kesan bahwa kucing memiliki kedudukan spiritual dan simbolik yang tinggi.
cerpen yang sangat bagus, saya menyukainya karena menonjolkan bahwa pandangan kucing bukan sekadar hewan biasa, melainkan makhluk misterius yang memiliki keterkaitan dengan dunia kuno dan hal-hal gaib. Deskripsi tentang kucing yang dikaitkan dengan peradaban kuno seperti Mesir serta makhluk seperti Sphinx memperkuat kesan bahwa kucing memiliki kedudukan spiritual dan simbolik yang tinggi.
Cerpen yang bagus. Meski ditulis dari latar Mesir tapi saya sebagai pembaca bisa memahami isi dan maksudnya dengan sangat jelas.
sangat bagus
bagus
“Kucing-Kucing Ulthar” adalah sebuah mahakarya tentang Karma. Lovecraft berhasil mengubah hewan domestik yang biasa kita lihat menjadi agen keadilan yang tak terelakkan. Cerita ini mengajarkan bahwa kekejaman terhadap yang lemah (baik itu anak yatim atau hewan) akan memicu kemarahan dari kekuatan-kekuatan yang jauh melampaui logika manusia.
saya bisa mengerti tentang cerita ini dan bagus ceritanya
sangat bagus