Puisi-Puisi Arifin Muhammad – Nyala Api dalam Dirimu
10 November 2025| | 8 Commentskita bahkan melupakan kapan terakhir kali/ saling memeluk dan menangis bersama// namun selalu ada sisa nyala api/ dalam dirimu—dalam diriku
Oleh: Arifin Muhammad |
Lahir di Lapurau pada 31 Mei 1995. Menulis esai, puisi, dan prosa. Ia pernah mengikuti kelas penulisan kreatif selama satu tahun di Institut Sastra Makassar (ISM). Saat ini menetap di Makassar dan bekerja sebagai penjaga toko buku di Dialektika Bookshop. Buku kumpulan sajak pertamanya, tubuhmu tempat penampungan duka diterbitkan Endnote Press pada 2024.
berbaris tentara, berbaris polisi
berbaris tentara
di hadapanmu
berbaris polisi
kita tidak sedang memegang
apa pun saat ini
tidak memegang masa depan
tidak memegang harapan
tidak juga angan-angan
kita bahkan melupakan kapan terakhir kali
saling memeluk dan menangis bersama
namun selalu ada sisa nyala api
dalam dirimu—dalam diriku
hanya perlu selangkah
saja untuk maju bersama
menyulutnya jadi milik bersama
menyaksikan kobaran besar
yang tak pernah kita duga
selalu ada dalam diri kita
sebab akan selalu ada nyala kecil
dalam dirimu—dalam diriku
di hadapanmu
berbaris polisi
di hadapanmu
berbaris tentara
dan mungkin akan ada lagi
yang mati tertembak esok hari
alangkah mudah ketakutan ini menyebar
tapi keberanian, bukankah juga demikian?
jadilah berani
.
sebuah dunia
ada sebuah dunia dalam lingkaran
yang menyatukan lenganmu lenganku
dalam hangat pelukan kedua tubuh yatim ini
dalam kemalangan yang menggetarkan
tubuh kita ketika langit baru saja gelap
sepenuhnya dan mata kita mulai berkaca-kaca
ada sebuah dunia dalam telapak tanganmu
dalam pelukan yang menghangatkan tubuh bayi
telanjang yang perlahan menghentikan tangisnya
—pada keraguannya terhadap wajah dunia
dalam genggaman telapak
tanganmu kau memberinya cahaya
lenganmu lenganku menyatu
memastikan segala kemungkinan
tak sepenuhnya mesti padam
.
dan dari kejauhan
“jurang tak membelah kita, jurang mengelilingi kita.”
wislawa szymborska
dan dari kejauhan segalanya berubah
mata rabunmu menyaksikan sepasang burung mulai bergantian mengayam lagi sarang dengan hati-hati ketika pohon-pohon tempat mereka bersarang dulu ditebang habis. dan dari kejauhan seekor ular telah melepaskan kulit yang telah lama membebat tubuhnya yang menyaksikan alat-alat berat meratakan belantara sarang, pohon-pohon berguguran beton-beton ditanam. dan dari kejauhan rumah yang telah didiami nenek moyangmu satu per satu kehilangan penghuni tinggal tanah lapang tanpa rimbun pohonan berganti kebun-kebun sawit raksasa. dan dari kejauhan tongkang-tongkang mengeruk lagi terumbu memanjangkan beton-beton mengusir ikan-ikan menjauhi jala para nelayan, kerang berkarat, laut legam pekat. dan makin hari laut terasa menjauh, hutan-hutan tambah mengecil.
dan dari kejauhan kau temukan bayang-bayang
masa depan anak-anakmu yang gundah gulana
.
libur. libur. libur.
“besok hari minggu, nak”
berkata ia sambil mengusap
poni bocah empat tahun itu
“besok mama libur?”
bocah itu bertanya sambil
meraba telapak tangan
ibunya yang gempal
setengah jam kemudian
perempuan itu mendengar
dengkur halus anaknya
suara yang membuat matanya
berkaca-kaca dan dadanya
terasa mengembang hangat
libur. libur. libur.
berarti lembur untuk dirinya
berarti memulai lagi pekerjaan
rumah yang tertunda
penuh keranjang cucian
penuh daftar belanja
penuh ketakutan masa depan
ia membetulkan kembali
poni bocah itu menciumi
kedua pipinya yang buntal
menatapnya dan membatin
lelaplah anakku, tidurlah
semoga kehidupan menuntunmu
dengan pikirannya yang jernih
.
gaza, gaza
tanah penuh lubang-lubang, tanah yang digempur habis-
habisan setelah ribuan bayi-bayi terkubur lebih dini
engkau datang kembali, ribuan jumlahnya dari kepulangan
yang kesekian kali, mendirikan lagi tenda-tenda sambil
menatap langit yang sewaktu-waktu bisa kembali dipenuhi
cahaya api yang barangkali kelak menjadikanmu juga mayat-
mayat dengan potongan tubuh berhamburan seperti yang lalu
di tanah porak-poranda ini saat kemurungan menerabas
engkau memulai kembali dari awal sambil bergantian
menguatkan dalam jurang-jurang yang membelah perasaan
antara bahagia dan duka entah mana sementara
tawa di satu sisi, kemurungan di sisi lain
di sini timbul harapan, di sana keputusasaan
genggaman. genggaman. dari ribuan yang terusir
menyalakan lagi keberanian di tangan-tanganmu
yang tak pernah padam sepenuhnya meski
kesedihan senantiasa melipatgandakan dirinya
.
laying me down
senja telah menuntunmu
pulang dari tempat kerja
dengan perasaan
lebam dan remuk
lebam dan remuk
ketika langit tersisa
semburat terakhir
sambil membayangkan
terapi pulih yang melelahkan
berulang dan berulang
di malam hari dalam
kamar tidurmu pada
ranjang tempatmu berbaring
kau memang telah merapatkan selimut
mematikan lampu dan menutup kedua mata
tapi mengapa? mengapa kehampaan
tetap saja mampu menemukanmu
Catatan:
laying me down (2024) adalah judul lukisan alodia yap, sajak ini merupakan tafsir untuk lukisan itu.
.
satu hari lagi
kau membayangkan dirimu
mati esok hari
dan seorang teman baikmu
hanya menyimpan satu-
satunya pesan dari dirimu
ialah bahasa yang menguatkan
ialah bahasa yang menjadi punggung
tangan menghapus kesedihannya
dari pikirannya yang bercabang saat ia
membayangkan melukai diri sendiri
ialah bahasa yang menuntunnya
bertahan satu hari lagi
Ilustrasi: Foto lukisan Laying Me Down (Alodia Yap), diambil dari Instagram Toyol Gallery.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Yona Primadesi – Studi Kasus Bintang Kejora, 1965-2015
– Puisi-Puisi Afrizal Malna – Panggung Demokrasi dalam Mulut Kodok
– Puisi-Puisi Budi Hatees – Tali yang Mengikat Saudara

hebat
hebat
sangat bagus
Karya karya nya keren bgtttttt saya sngat menyukainyaaaaaa puisi nya sangat menarik untuk di baca
iyaa aku setuju bngett
Puisi karya arifin muhammad sangat bagus
Asik
Puisi karya arifin muhammad sangat bagus