Menu
Menu

Jam malam telah lewat. Pindah ke dinihari. Dingin. Lampu kamar mati, tetapi isi kepalamu hidup sehidup-hidupnya: seseorang pergi dari cerita dengan begitu tiba-tiba.


Oleh: Armin Bell |

Tinggal di Ruteng, bergiat di Klub Buku Petra dan Komunitas Saeh Go Lino. Kumpulan cerpennya, Keluarga Oriente (2024) masuk dalam Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Tiga cerpennya termuat dalam antologi terjemahan Writings from The Archipelago Vol. 1. Bukunya yang lain adalah kumcer Perjalanan Mencari Ayam (2018) dan antologi cerita Bolpuna Mania (2025).


Percakapan tiba-tiba beralih topik. Begitulah yang umumnya terjadi dalam acara kumpul-kumpul. Tanpa penjembatanan yang cukup atau bahkan tak ada sama sekali, nama-nama pemain sepak bola bisa tiba-tiba muncul di tengah percakapan tentang dapur MBG. Kalau ada yang menyadari belokan topik nan tajam itu dan bertanya kenapa Gullit, van Basten, dan Rijkaard hadir di tengah nama bumbu-bumbu dapur dan makanan yang (direncanakan) sehat itu, penjelasannya bisa sangat panjang. Di tengah penjelasan panjang itu, seorang yang lain teringat sesuatu yang lain dan jauh. Percakapan berpindah lagi, demikian seterusnya, dan malam semakin larut.

Akan selalu ada beberapa jeda di acara kumpul-kumpul seperti itu: Seseorang harus menerima panggilan telepon dan membutuhkan sedikit keheningan agar suara dari seberang terdengar lebih jelas. Yang lain mengecilkan suara atau diam sama sekali. Ada yang segera menatap layar HP, memeriksa Status WA terbaru dari kontak-kontak mereka.

Percakapan telepon itu sudah selesai hampir dua menit, keheningan jalan terus. Baru berlalu ketika seseorang berseru ‘astaga’. Suara itu datang dari satu sudut ruangan.

“Kok bisa?” “Dia sakit apa?” “Dia rajin olahraga to?” “Bisa e, tidak minum sopi, tidak merokok, tapi mati cepat.”

Semua bereaksi. Kaget mendengar keterangan pemilik ‘astaga’ tadi: Seorang teman, yang telah lama jarang ikut kumpul-kumpul, muncul di beberapa Status WA dengan takarir yang dapat dipadatkan dalam satu kalimat: Selamat jalan, berbahagialah di surga!

Ada yang meninggal dunia hari itu. Tidak sakit, bukan karena kecelakaan, dia tak akan pernah bangun lagi dari tidur siangnya. Tidurnya (mendadak) abadi.

Hening jadi lebih panjang setelahnya. Acara kumpul-kumpul bubar begitu saja setelah tercapai kata sepakat tentang waktu yang tepat untuk melayat. Jam malam telah lewat. Pindah ke dinihari. Dingin. Lampu kamar mati tetapi isi kepalamu hidup sehidup-hidupnya: seseorang telah pergi dari cerita dengan begitu tiba-tiba. Setiba-tiba percakapan kumpul-kumpul yang mampu berbelok topik. Tanpa lampu sein kiri atau kanan. Juga tanpa jembatan.

Di Malang, ketika masih bekerja sebagai penyiar radio, saya memandu dialog buku. Salah satu tamunya adalah Hasnan Singodimayan—semoga beristirahat dalam damai—yang baru saja meluncurkan novel Kerudung Santet Gandrung. Beberapa pendengar menelepon, seorang di antara mereka telah selesai membaca buku itu dan menanyakan nasib salah satu tokoh yang dalam semesta cerita itu yang tiba-tiba hilang. Dia pindah kota, cerita tentangnya selesai, tak ada lagi sampai di halaman terakhir.

“Kenapa dia dipindahkan, Pak?” Tanyanya begitu. “Padahal kalau masih ada, nasib Merlin (pusat semesta rekaan Pak Hasnan) mungkin akan berbeda.”

Saya lupa persisnya kalimat Pak Hasnan menjawab pertanyaan itu, tetapi kira-kira berisi penjelasan panjang tentang pentingnya pengalaman kehilangan agar kau bisa menghargai apa yang kau punya sekarang. Klise? Barangkali. Terdengar sesederhana kutipan-kutipan yang kerap muncul di Status WA teman-temanmu. Senada dengan: kegagalan adalah guru terbaik, percayalah anda sudah setengah jalan, capek itu wajar menyerah itu pilihan, dan lain sebagainya.

Tetapi Pak Hasnan memberi juga jawaban menarik lain. Dia ‘dipergikan’ dari cerita agar mampu menemukan semestanya sendiri. Di semestanya itu, apakah akan ada Merlin atau tidak ada Merlin atau dia bertemu seseorang yang mengenal seseorang yang mengenal seorang penabuh gendang yang pernah Merlin kenal, kita tak akan pernah tahu. Di suatu simpang, kita bisa saja pernah bertemu dengannya.

Tahun 2004, sebuah film besutan Paul Haggis jadi tontonan yang menarik tentang posisi seseorang dalam cerita. Crash (Lionsgate Film) menampilkan benturan di Los Angeles. Orang-orang dari latar budaya yang berbeda, bertemu di satu titik. Mereka adalah orang-orang dari kehidupan yang terpisah, berjuang mengalahkan stereotipe tentang ras tertentu, tetapi tidak berdaya di hadapan orang lain—yang akhirnya berbenturan dengan mereka sebagaimana dipotret oleh narator serba tahu.

Dengan kehidupan sekompleks itu, bagaimana mungkin kau dapat dengan mudah menghakimi orang lain di media sosial hanya karena sepotong informasi pada sebuah gambar? Sudah begitu habiskah kebaikan padahal ribuan orang masih membutuhkan satu senyum saja dari orang baru setiap hari?

Saya pernah melihat gambar Robin Williams di Status WA seorang teman. Di depan gambar itu ada tulisan: Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always. Tidak ada sumber yang memastikan bahwa Robin Williams pernah benar-benar mengatakan itu tetapi kutipan itu ramai ditampilkan bersama foto aktor hebat itu setelah dia mengakhiri hidupnya tahun 2014 silam.

Robin Williams adalah aktor yang menyenangkan. Dia selalu tampil lucu, membawa kegembiraan bagi banyak orang. Dengan mudah disimpulkan bahwa dia baik-baik saja. Sulit dipercaya dia memutuskan pergi secara tiba-tiba. Cerita-cerita semirip itu kau dengar juga di sekitarmu. Dan kutipan bijak Robin itu menganggumu seketika.

Ya, tentu saja kalau kau punya kesempatan untuk menelusuri lebih jauh, kalimat bijak itu akan kau ketahui sebagai kalimat yang berasal dari era yang lebih lama. Bukan milik Robin Williams.

Quote Investigator, website yang melacak keaslian dan sejarah quotes atau kutipan-kutipan yang kini kita pakai, menemukan bahwa seseorang bernama John Watson-lah yang mengatakan hal itu pertama kali. Watson adalah penulis dan pendeta asal Skotlandia yang memakai nama pena Ian MacLaren. Dalam sebuah kartu Natal dia menulis: Have compassion, for every man fights a hard battle. Ketika akhirnya menulis buku berjudul The Homely Virtues pada tahun 1903, di bab “Courtesy” dia melanjutkan (atau memberi emphasis?) pada ungkapannya itu.

“This person next to us also has a hard struggle with an unfavorable world, with strong temptations, with doubts and fears, with wounds from the past that have been skinned, but which hurt when touched. This is a fact that we must not forget, no matter how trivial it may be. Kindness can never be wasted. If it has no effect on the person for whom it is intended, it must have an effect on ourselves.”

Melalui tulisan itu, Watson barangkali hendak mengingatkan bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia bahkan bagi orang-orang yang kita anggap hidupnya baik-baik saja. Siapa yang tahu apa yang sedang dia alami? Dia barangkali sedang berjuang, menghadapi pencobaan yang berat, dan lain sebagainya. Beberapa orang bisa saja yang sudah sembuh dari luka-luka masa lalunya dan sekarang terlihat baik-baik saja. Tetapi tetaplah berbaik hati padanya sebab luka-luka itu bisa berdarah lagi ketika kau memutuskan berhenti mengalirkan kebaikan dan membabi-buta berkomentar miring di dinding media sosial.

Saya suka Watson memberi penekanan itu: Jika kebaikan tidak berdampak pada subyek tertuju, dia pasti tetap berpengaruh pada pelakunya; kau lega sebab tidak menyakiti siapa pun hari ini.

Sebelum waktu melayat tiba, kau ingat teman-temanmu yang lain. Yang hidup dalam rahasianya masing-masing. Apakah mereka baik-baik saja? Kau berharap, di titik yang entah berapa juta kilometer jauhnya, saat kalian berbenturan langsung maupun tidak, kalian tidak saling menyakiti—langsung maupun tidak.

Percakapan beralih topik secara tiba-tiba. Di rumah duka, beberapa orang bercakap-cakap di suatu sudut di bawah tenda. Tentang MBG yang menyebabkan banyak pelajar keracunan, tentang negara yang tergesa-gesa membuat kebijakan, sampai ke topik tentang Frank Rijkaard yang gagal total melatih Timnas Indonesia. Mendengar itu kau lalu mengerti alasan perpindahan topik pada percakapan beberapa malam sebelumnya. MBG ke AC Milan mungkin jauh, tetapi Frank Rijkaard, legenda klub di kota Milan itu pernah menjadi orang yang dipilih negara menggantikan Shin Tae-yong. Penghubung utamanya adalah kebijakan negara. Jauh sekali? Jauh sekali. Panjang. Tetapi begitulah.

Temanmu yang meninggal dunia itu juga muncul dalam percakapan. Sebagai topik (bukan sebagai peserta kumpul-kumpul). Tentang betapa baiknya dia ketika kalian masih sering bersama. Ada juga bahasan tentang film Dead Poets Society. Juga tentang puluhan buku yang kau beli tetapi tidak kau baca. Bagaimana mungkin pada begitu bejibunnya topik di satu kumpul-kumpul dan berjuta-juta bahan yang melintas setiap hari di beranda media sosial, beberapa orang sibuk mengumbar kebencian di balik akun-akun palsu?

Cerita-cerita bisa pindah jalur tanpa lampu sein, cerita-cerita itu suatu ketika bisa saja ada di jalurmu. Berbaikhatilah. If it has no effect on the person for whom it is intended, it must have an effect on ourselves. [*]


Foto: Kaka Ited, Ruteng (dari seri Crossroads).

Baca juga:
Belajar Membaca
Franco di Vatikan


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

1 thought on “Cerita-Cerita Bisa Pindah Jalur Tanpa Lampu Sein”

  1. 085782117824 berkata:

    John Watson-lah yang mengatakan hal itu pertama kali. Watson adalah penulis dan pendeta asal Skotlandia yang memakai nama pena Ian MacLaren. Dalam sebuah kartu Natal dia menulis: Have compassion, for every man fights a hard battle. Ketika akhirnya menulis buku berjudul The Homely Virtues pada tahun 1903, di bab “Courtesy” dia melanjutkan — atau memberi penekanan — pada ungkapannya itu:

    “This person next to us also has a hard struggle with an unfavorable world, with strong temptations, with doubts and fears, with wounds from the past that have been skinned, but which hurt when touched. This is a fact that we must not forget, no matter how trivial it may be. Kindness can never be wasted. If it has no effect on the person for whom it is intended, it must have an effect on ourselves.”

    Melalui tulisan itu, Watson barangkali hendak mengingatkan bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia, bahkan bagi orang-orang yang kita anggap hidupnya baik-baik saja. Siapa yang tahu apa yang sedang dia alami? Dia barangkali sedang berjuang, menghadapi pencobaan yang berat, dan hal-hal sulit lainnya. Beberapa orang mungkin sudah sembuh dari luka-luka masa lalunya dan sekarang terlihat baik-baik saja. Tetapi tetaplah berbaik hati padanya, sebab luka-luka itu bisa berdarah lagi ketika kau memutuskan berhenti mengalirkan kebaikan, lalu membabi-buta berkomentar miring di dinding media sosial.

    Saya suka penekanan yang disampaikan Watson itu: jika kebaikan tidak berdampak pada orang yang dituju, ia pasti tetap berpengaruh pada diri kita sendiri. Kau akan merasa lega, karena hari ini kau tidak menyakiti siapa pun.

    Sebelum waktu melayat tiba, kau teringat teman-temanmu yang lain — mereka yang hidup dengan rahasia masing-masing di dalam diri. Apakah mereka baik-baik saja? Kau berharap, di titik yang entah berapa juta kilometer jauhnya, saat kalian berbenturan langsung maupun tidak, kalian tidak saling menyakiti, baik secara langsung maupun diam-diam.

    Percakapan pun beralih topik secara tiba-tiba. Di rumah duka, beberapa orang bercakap-cakap di sudut di bawah tenda. Mulai dari program MBG yang menyebabkan banyak pelajar keracunan, kebijakan negara yang dianggap terlalu tergesa-gesa, hingga pembahasan tentang Frank Rijkaard yang dinilai gagal total melatih Timnas Indonesia. Mendengar itu, kau jadi mengerti alasan perpindahan topik dalam percakapan beberapa malam sebelumnya. Hubungan antara MBG dan AC Milan mungkin terasa sangat jauh, namun Frank Rijkaard — legenda klub sepak bola asal kota Milan itu — pernah dipilih pemerintah untuk menggantikan Shin Tae-yong sebagai pelatih. Benang merah utamanya adalah kebijakan negara. Jauh sekali hubungannya? Memang jauh, berbelit-belit pula. Tapi begitulah cara pikir dan obrolan orang kadang berjalan.

    Temanmu yang meninggal itu pun sempat muncul dalam percakapan, hanya sebagai bahan bahasan, bukan lagi sebagai peserta yang bisa ikut tertawa atau menjawab. Mereka membicarakan betapa baik dan ramahnya dia saat kalian masih sering berkumpul. Ada juga yang membahas film Dead Poets Society, hingga beralih ke kelakar soal puluhan buku yang dibeli dengan antusias, tapi sampai sekarang belum sempat dibaca satu pun.

    Kau bertanya dalam hati: bagaimana mungkin, di tengah begitu banyak topik menarik dalam satu kali pertemuan, dan berjuta hal yang lewat setiap hari di beranda media sosial, masih ada orang yang sibuk mengumbar kebencian, menyebar fitnah, atau menghakimi di balik akun-akun palsu?

    Cerita hidup, masalah, dan nasib bisa berbelok arah secara tiba-tiba, tanpa tanda peringatan. Suatu hari nanti, cerita-cerita itu bisa saja ada di hadapanmu, menjadi bagian dari jalan hidupmu sendiri. Maka, berbaikhatilah selalu. Seperti kata Watson

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *