Menu
Menu

Alih-alih mencari tahu apa penyebab kematian Ketua Pertama, 2 Pimpinan lainnya memutuskan membuat diskusi dadakan di ruang diskusi pusat. Kisah Ketua Pertama.


Oleh: Udiarti |

Lahir di Gunung Kidul, saat ini tinggal di Jakarta sebagai guru tari Taman Kanak-kanak. Buku kumpulan cerita pendeknya Rumah Kedua Ibu (Semut Api, 2021) menjadi salah satu dari 10 finalis Sayembara Sastra Ayu Utami “Rasa” 2021.


Sore ini udara tiba-tiba jadi bising. Orang-orang saling bercakap dan menerka-nerka soal apa yang terjadi. Seorang penjual buah di kios ujung jalan, dengan percaya diri menceritakan beberapa kronologi kepada pelanggannya. Nampak pelanggan lebih antusias dengan cerita penjual buah ketimbang berebut membeli buah semangka yang terlihat segar di sore itu.

Cerita demi cerita menjadi susunan yang beragam. Versi penjual buah dengan versi tukang taman, terdengar sama sekali berbeda. Anak-anak mulai bosan dengan cerita-cerita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculan ilmu sihir atau hal gaib semacamnya. Gerombolan anak-anak yang tadinya berjajar di depan toko buah kemudian beralih ke kursi taman, memutuskan pergi mencari keseruan yang lainnya. Penduduk dewasa yang mulai menerka cerita kini turut serta meninggalkan toko buah.

“Sumpah. Saya melihat mereka melewati toko buah saya tadi pagi,” kata penjual buah.

“Bukankah tiap pagi mereka memang lewat sini? Memungut pajak atau hanya sekadar melihat-lihat.” Seorang pelanggan angkat bicara.

“Betul, tapi hari ini wajah mereka berbeda. Lebih pucat!”

“Barangkali belum sarapan.”

“Hus. Asal bicara! Mana mungkin Orang Atasan tidak sarapan.”

Orang Atasan adalah sebutan bagi para pengatur tempat mereka tinggal. Orang Atasan adalah pusat pengatur hidup Penduduk 210-25, sebuah wilayah yang terlihat rapi sekaligus misterius. Banyak aturan dibuat di dalamnya, seperti aturan menghukum orang-orang berselingkuh dengan penjara 12 jam di dalam kereta yang berjalan hingga aturan menghapus kenangan lewat Tabung Pelebur dan sore itu Penduduk 210-25 sedang digemparkan dengan sebuah berita.

Sore itu kabar pemakaman mendadak diumumkan melalui radio-radio pusat yang ditempel pada toko buah, sudut taman, pusat perbelanjaan, hingga sekolah-sekolah. Pemakaman salah satu orang berpengaruh di 210-25. Ketua Pertama dari Orang Atasan dikabarkan meninggal siang ini. Penyebabnya apa, itulah yang sedang diterka-terka oleh penduduk.

Penjual buah mengatakan bahwa Ketua Pertama terlihat berjalan di depan tokonya dengan wajah yang pucat. Penjual buah menduga bahwa Ketua Pertama sedang sakit dan keburu meninggal tadi siang. Berbeda lagi dengan pengakuan tukang taman. Tukang taman bercerita bahwa Ketua Pertama pagi tadi setelah melewati toko buah, mampir sebentar ke kursi taman kota untuk melihat kupu-kupu terbang. Lalu seperti bercakap-cakap dengan kupu-kupu tersebut sambil meneteskan air mata. Barangkali Ketua Pertama sadar bahwa siang ini ia akan meninggal dan itu membuatnya murung sedari pagi hingga ia bercakap dengan kupu-kupu.

Dua versi cerita itu mulai dipercaya oleh Penduduk 210-25. Banyak yang menyangkutkan tentang suasana cuaca hari ini yang terlihat mendung dan lain sebagainya. Orang-orang mulai menjelma menjadi dukun atau peramal kejadian. Sayang, kejadian yang mereka ramal sepertinya bukan kejadian yang semestinya terjadi.

***

Sementara itu, di dalam Gedung Pusat Orang Atasan, tangisan lirih terdengar dari dalam kamar Ketua Pertama. Ketua Pertama adalah pimpinan nomor satu di 210-25. Usianya sudah menginjak 60 tahun, dan masih bugar sesungguhnya. Ia bahkan tak terlihat memiliki jenggot putih seperti Ketua Kedua. Di 210-25 ada 3 Pimpinan: Ketua Pertama, Ketua Kedua dan Ketua Ketiga. Ketua Kedua adalah laki-laki yang usianya 10 tahun lebih muda dari Ketua Pertama. Ketua Ketiga adalah seorang perempuan berdagu runcing berwajah tegas.

Kesedihan tak bisa berlarut-larut. Alih-alih mencari tahu apa penyebab kematian Ketua Pertama, 2 Pimpinan lainnya memutuskan membuat diskusi dadakan di ruang diskusi pusat. Dipimpin oleh Ketua Kedua dan dihadiri 10 perwakilan dari departemen masing-masing.

“Ini sangat darurat. Kita tidak bisa menundanya hingga besok,” kata Ketua Kedua.

Ruang diskusi ini memiliki meja lonjong berwarna merah di tengah ruang. Tembok Gedung Pusat sengaja didesain dengan susunan batu-batu berwarna krem yang terlihat hangat. Demi menunjukkan sebuah kemegahan suatu wilayah, maka Gedung Pusat dibuat tinggi dan lebar lengkap dengan taman beserta pohon-pohon apel di depannya. Konon pohon-pohon apel ini dipasang banyak kamera yang tersambung dengan kamera di mana saja Penduduk berada. Sungguh mengerikan mendengar ada kamera di segala wilayah, tapi demikianlah wilayah 210-25 yang sudah terkenal ketat aturan.

“Kita harus putuskan hari ini juga. Jika tidak, maka kita akan terlambat memakamkan Ketua Pertama,” sambung Ketua Kedua.

“Kenapa ini harus rumit? Apa tidak bisa posisi pimpinan nomor 1 kau ambil alih? Bukankah kau Ketua Kedua yang secara otomatis dapat naik jabatan jika Ketua Pertama meninggal atau lengser?” ketua Departemen Perkawinan angkat bicara.

“Tidak demikian. Saya di sini hanya sebagai wakil. Bisa saja Ketua Ketiga mengambil alih jabatan Ketua Pertama. Tidak harus saya, maka itu mari kita tentukan,” jawab Ketua Kedua.

“Saya juga tidak harus menjadi Ketua Pertama. Saya jauh lebih muda dari kalian berdua, sebaiknya saya ditangguhkan dulu,” Ketua Ketiga turut angkat bicara.

Maka perdebatan sengit terjadi di antara para Ketua Departemen dan Pimpinan. Tak ada yang memiliki keyakinan pasti tentang siapa yang akan menggantikan Ketua Pertama. Beberapa Ketua Departemen merasa pemilihan ini sangat tidak etis mengingat Ketua Pertama harus segera dimakamkan sore ini.

“Saya meminta agar pemilihan ini ditangguhkan, sebaiknya kita mengurus pemakaman Ketua Pertama,” Ketua Departemen Pertanian memberi usul.

Banyak yang menyetujui usul tersebut. Maka sore itu diputuskan untuk memakamkan Ketua Pertama. Beberapa Ketua Departemen juga meminta untuk mengusut penyebab kematian Ketua Pertama. Namun tak ada yang bisa memutuskan secara pasti karena pemakaman ini harus segera dilakukan.

Pada kehidupan 210-25, sebuah kematian tidak boleh disimpan lama-lama. Ia harus segera dikuburkan, apa pun alasannya segala kematian harus segera dikuburkan. Tidak boleh ada waktu yang dibuang untuk urusan lain seperti mengusut kematian dan sebagainya. Selang 3 jam dari dinyatakannya kematian, jasad itu harus segera dimakamkan.

Pemakaman di 210-25 juga memiliki peraturan sendiri. Jika yang dikuburkan adalah bagian dari Orang Atasan, maka semua orang pada jam pemakaman harus keluar rumah dan mengenakan baju berwarna putih. Sebuah simbol untuk mengantarkan arwah yang terbebas ke dunia yang jauh lebih damai. Jika yang meninggal adalah penduduk biasa, maka pemakaman hanya boleh diikuti oleh keluarga, pemakaman harus sehening mungkin. Tak boleh ada suara tangisan menyusuri jalan-jalan atau suara komat-kamit doa terlalu lama di lahan pemakaman. Hal ini untuk tetap menjaga suasana tenang di 210-25.

Namun kematian Orang Atasan adalah masalah yang lain. Penduduk harus turut bersedih karena wajib memiliki perasaan kehilangan orang terpenting di hidupnya. Penduduk 210-25 harus sadar betul bahwa kehidupannya dibentuk oleh Orang Atasan. Kesejahteraan dan keamanan dimiliki wilayah 210-25 karena usaha keras para Orang Atasan. Maka tak boleh ada yang acuh tak acuh jika ada anggota Orang Atasan yang meninggal.

Lalu bagaimana dengan kematian Penduduk miskin seperti gelandangan? Oh mohon maaf, di 210-25 kita tidak akan menemukan Penduduk miskin seperti itu. Semua Penduduk memiliki pekerjaan, jumlah penduduk disesuaikan dengan jumlah pekerjaan yang tersedia di 210-25. Maka kehamilan dan segala bentuk keluar masuk Penduduk, sangat diatur oleh pimpinan 210-25. Tidak heran jika 210-25 dikenal dengan wilayah yang sangat tertib, tenang dan sejahtera.

***

Sebentar lagi pemakaman akan segera dimulai. Penduduk sudah siap di depan rumah mereka. Para pemilik toko juga bergegas pulang untuk melakukan keheningan di depan rumah sebagai bentuk rasa kehilangan yang mendalam. Tak ada musik yang dimainkan, hanya suara hening angin dan bunyi kepak sayap kupu-kupu berterbangan. Pukul 4 sore pemakaman dimulai, pemakaman ini dilakukan selama 1 jam. Ada tanda untuk memberitahu penduduk kapan peti dimasukkan ke dalam liang. Bunyi lonceng pada pukul 4 artinya peti sudah siap dimasukkan ke dalam liang. Pada saat itulah penduduk menundukkan kepala.
Lonceng berbunyi lagi pada pukul 5, artinya pemakaman telah usai. Tak boleh ada kegiatan setelah itu, Penduduk harus masuk rumah dan tidak boleh ada yang berisik. Keesokan harinya barulah penduduk diperbolehkan bekerja dan beraktivitas seperti biasa.

***

Rombongan Orang Atasan sudah sampai kembali di Gedung Pusat. Ya, memang anggota Orang Atasan tinggal di dalam Gedung Pusat. Itulah kenapa Gedung Pusat dibuat sangat megah dan banyak ruang-ruang. Keheningan masih sangat terasa, tetapi entah dengan kesedihan. Beberapa kesedihan atas kematian nampaknya sudah terkikis di 210-25.

Ketua Kedua kembali mengajak para Ketua Departemen untuk berdiskusi di Ruang Diskusi. Kembali membahas tentang siapa yang akan menggantikan posisi Ketua Pertama.

“Waktu kita sudah hampir habis. Kita harus segera tentukan siapa yang akan menggantikan posisi Ketua Pertama,” Ketua Kedua membuka diskusi.

“Baik, kita langsung usulkan saja. Di sini hanya ada 2 calon, saya sebagai Ketua Ketiga dan ada Ketua Kedua. Baiknya kita memakai pungutan suara. Ada 10 suara dari Ketua Departemen, saya dan Ketua Kedua tidak boleh ikut memilih. Demikianlah peraturan yang tertulis di Undang-undang 210-25,” Ketua Ketiga menjelaskan.

Orang-orang di dalam Ruang Diskusi kini sibuk memilih keputusan. Masing-masing hening sambil melihat kertas putih yang masih kosong di depan mereka. Memutuskan siapa yang akan menjadi Ketua Pertama adalah hal yang tidak menyenangkan bagi mereka. Tidak mudah memutuskan siapa yang berhak menjadi Pimpinan Penduduk 210-25. Ini karena sosok Ketua Pertama sudah sangat cocok dan belum ada calon lain yang dirasa layak.

Ketua Pertama memiliki usia yang pas, 60 tahun. Ketua Kedua dan Ketua Ketiga masih dianggap terlalu muda. Maka pening di kepala mereka mulai merayap, didesak oleh keadaan bahwa posisi Ketua Pertama tak boleh kosong. Satu per satu mereka mulai menuliskan pilihan mereka. Satu per satu kertas putih yang sudah dilipat terkumpul di tengah meja.

Pukul 7 malam, perkara memilih pimpinan baru sungguh sangat menyita waktu. Pelayan Gedung Pusat sudah mulai mengetuk pintu memberi tanda bahwa makan malam sudah siap. Tapi hari itu juga, posisi Ketua Pertama harus segera diisi. Bahkan makan malam tidak boleh mengganggu keputusan hari ini.

“Baik, kita sudah selesai memilih. Semua pilihan ada di kertas putih ini. Mari kita hitung,” kata Ketua Ketiga.

Penghitungan dilakukan oleh Ketua Ketiga dengan saksi Ketua Kedua. Kertas putih mulai dibuka, apa yang tertulis mulai dibacakan, sebuah papan putih dengan spidol hitam sudah disiapkan untuk menulis hasil pilihan. Hitungan terus dilakukan, kini sudah sampai pada kertas terakhir. Saat ini sebetulnya keunggulan sudah bisa dilihat, Ketua Ketiga yang usianya jauh lebih muda dari Ketua Kedua menempati suara lebih banyak. Lima untuk Ketua Ketiga dan 4 untuk Ketua Kedua, tinggal membuka satu kertas putih maka hari itu akan usai.
Takdir memilih Ketua Ketiga untuk menjadi posisi Ketua Pertama. Penduduk 210-25 akan dipimpin oleh perempuan untuk pertama kalinya. Maka posisi Ketua Kedua tidak berubah. Lusa anggota Orang Atasan tinggal memilih siapa yang harus menggantikan Ketua Ketiga. Pemilihan itu berjalan adil, jujur, dan tenang.

***

Pukul 6 pagi, lonceng berbunyi 3 kali, radio wilayah 210-25 menyiarkan pengumuman tentang digantinya posisi Ketua Pertama oleh Ketua Ketiga. Penduduk merasa tenang karena kembali memiliki Ketua Pertama. Tak jadi soal bagaimana pun cara Pimpinan 210-25 mengatur mereka. Penduduk 210-25 seperti sudah terbiasa dan memiliki pola yang rutin untuk diikuti. Mulai hari itu aktivitas berjalan seperti biasa di 210-25.

Pada kursi taman, seorang Nenek duduk sambil bercakap dengan kupu-kupu yang berterbangan. Tukang taman merapikan rumput yang sudah mulai tinggi. Pada kupu-kupu yang terbang dengan keheningan, Nenek itu berbisik.

“Tak akan ada yang bertahan lama, orang-orang tak menyadari mitos itu. Kalian dengarkan? Ketua Pertama sebelum kematiannya, membisikkan kalimat perpisahan pada kalian para kupu-kupu. Bahwa siapa pun yang menjadi Ketua Pertama, sesungguhnya hidupnyalah yang paling tidak berumur panjang. Anak muda itu mungkin masih punya waktu bertahan 5 atau 7 tahun lagi,” bisik Nenek itu.

Para kupu-kupu terbang ke sana ke mari. Wilayah 210-25 adalah tempat yang tenang dan sejahtera, tetapi barangkali hanya para kupu-kupu yang tahu seberapa besar kegelisahan disembunyikan.[*]


Ilustrasi dari Wikiart.org.

Baca juga:
Mustika Delima Sendang
Kucing Penunggu Susteran


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *