Menekuni Karakter Pahlawan dalam Saga dari Samudera
29 November 2024| | 3 CommentsKetika membaca Saga dari Samudra, ia terhubung ke beberapa judul buku dan film. Salah satunya adalah Tutur Tinular.
Oleh: Lolik Apung |
Sekretaris Redaksi Bacapetra.co. Puisinya yang berjudul “Sehasta Cerita di Sisi Api” tergabung dalam Antologi Puisi Sekelebatan Memori Patah Hati (GPU, 2024), kumpulan puisi dalam rangka 5 Tahun Jalan Bersama Bacapetra.co.
Buku ke-63 yang dibincangkan di Klub Buku Petra pada Jumat, 5 April 204, berjudul Saga dari Samudera, yang ditulis oleh Ratih Kumala. Buku ini diangkat dari kisah Babad Tanah Jawi, menceritakan kehidupan salah satu toko syiar Islam di tanah Jawa yaitu Sunan Giri. Menulisnya melalui pendekatan saga atau keluarga, buku ini meramu sejarah melalui pintu fiksi, yang memudahkan pembaca mencerna sejarah dengan lebih baik.
Bincang Buku Petra malam itu dihadiri oleh Romo Beben Gaguk, Oping Sanjaya, Beato Lanjong, Grace Djerta, Reta Janu, dan Lolik Apung. Adapun Romo Beben bertindak sebagai pemantik.
Romo Beben menilai karakter Sunan Giri kecil atau Jaka Samudera yang ditulis Ratih membuatnya tertarik. Sebagai seorang pahlawan karakter Jaka berkembang dari bayi terbuang di tengah samudera menjadi pedagang besar yang menaklukkan samudera hidup untuk menjadi seorang pendakwa. Sedangkan sebagai seorang manusia, Jaka berkembang dari bayi yang hidup bergelimang harta bersama Nyi Ageng Pinatih menjadi seseorang yang rendah hati. Kepahlawanan akhirnya tidak diukur dari seberapa luas dan banyak wilayah taklukan, melainkan seberapa kuat seorang mengalahkan dirinya sendiri dari keangkuhan dan egoisme.
Menurut Romo Beben, karakter-karakter itu ditunjukkan penulis sepanjang cerita, Ratih tampak memaparkan karakter-karakter itu dengan gaya yang performatif. Artinya karakter Jaka dijelaskan melalui laku hidupnya. Kisah ini mengingatkannya akan kisah hidup Nabi Musa dalam Alkitab. Kedua cerita ini menggariskan pola umum kelahiran seorang pahlawan yang biasanya berkembang dari posisi lemah, kecil, terpinggirkan, dan terbuang untuk merangkak menjadi seorang pemenang.
Karakter Jaka, menurutnya, dibentuk oleh beberapa lingkungan. Di dalam lingkungan itu terdapat konflik-konfliknya sendiri. Karakter pertama dibentuk oleh dirinya sebagai bayi buangan. Karakter kedua dibentuk oleh keberadaannya sebagai anak angkat Nyi Ageng. Lalu karakter ketiga dibentuk oleh lingkungan perguruan Ampeldenta. Di sana, ia bertemu dengan anak-anak yang mem-bully baik secara verbal maupun fisik. Meski demikian, ia tidak membalas perlakuan itu. Ia kemudian bertumbuh sebagai seorang pendekar yang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain.
Karakter lain yang berkembang, ia temukan dalam perjalanan ke pelabuhan Kampung Tatas. Jaka yang bertujuan untuk berdagang justru membagi barang-barang dagangannya itu secara gratis, padahal itu sebenarnya milik ibunya. Di sini, ia menemukan diri sebagai seseorang yang berbelarasa. Di sana juga ia menemukan jalan lanjutan dari fase hidupnya yaitu menjadi seorang pendakwah. Ada situasi, yaitu situasi berbelarasa yang mendorongnya berdakwah. Heroisme Jaka adalah heroisme batiniah yang menaklukkan dirinya untuk memenangkan hati orang lain. Ketika ia bertemu dengan Ki Waru, seorang penjaga tradisi jauh di pedalaman, ia tidak lantas memakai ‘power’ untuk melenyapkan Ki Waru, dan kawan-kawan. Ia justru membangun dialog dengan Ki Waru, untuk menyamakan persepsi masing-masing tentang agama/tradisi yang mereka percayai.
Secara bentuk dan alur cerita, Romo Beben menilai, Ratih Kumal memperhatikan semua detail fungsional dari bangunan ceritanya. Tidak ada tokoh yang sia-sia atau tidak mempunyai hubungan dengan tokoh lain, juga tidak ada kisah yang tidak terhubung dengan kisah yang lain.
Oping Sanjaya yang bertindak sebagai teman bincang yang kedua tidak banyak mengulas karakter Jaka Samudera. Ketika membaca Saga dari Samudra, ia terhubung ke beberapa judul buku dan film. Salah satu film yang terhubung dengan kisah ini baik secara bentuk maupun tema adalah adalah Tutur Tinular. Film ini juga mengisahkan kehidupan seorang bayi yang dilarungkan ke tengah laut. Menurut Oping, kisah-kisah semacam ini sudah lebih banyak difillmkan dibanding ditulis, sehingga ia sendiri mempunyai satu pertanyaan untuk penulis novel ini yaitu mengapa masih menulis sastra saga? Oping juga bertanya tentang ada apa dengan laut Indonesia yang menjadi latar cerita novel ini?
Barangkali cerita seputar laut hendak memprovokasi pembaca untuk memperhatikan keberadaan laut Indonesia, bahwa identitas manusia Indonesia sebenarnya adalah identitas maritim, bukan identitas agraris. Lolik merasa jika kondisi geografis Indonesia yang lebih didominasi oleh laut, seharusnya menjadikan laut sebagai sumber penghasilan, bukan pertanian yang justru membuat banyak areal hutan ditebang untuk kepentingan agraria. “Ratih Kumala mungkin ingin mengajak kita kembali ke laut,” tutupnya.
Perspektif Romo Beben dan Oping tentang Saga dari Samudra ini diperluas oleh Retha Janu yang menjadi pembicara ketiga. Retha semula berpikir jika buku ini akan dibaca dalam waktu yang lama. Namun ia kaget karena ia bisa menyelesaikan buku ini dengan lancar dalam satu hari satu malam. Buku pertama karya Ratih yang dibacanya adalah Wesel Pos, yang terkesan berdrama FTV. “Kalau saya membayangkan buku ini dan dibandingkan dengan film-film laga di televisi, saya memilih untuk membaca buku ini, sehingga saya bisa membayangkan sendiri karakter, latar, maupun pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Hal yang Retha refleksikan setelah membaca Saga dari Samudra adalah kalau ingin orang lain menjadi baik, kita harus lebih dulu jadi baik. Hal itu terjadi pada Jaka Samudera atau Sunan Giri atau Raden Paku. Raden Paku jadi baik karena warisan kebaikan yang didapatnya dari Nyi Agen Pinatih. Hal yang sama terjadi juga pada Taksa, penjahat yang diampuni oleh Nyi Agen Pinatih. Pesan kedua yang ia refleksikan adalah tentang persahabatan. Jaka Samudera hampir tidak mempunyai momen ‘kesendirian’ dalam hidupnya. Ia punya banyak teman di perjalanan, seperti Taksa, Subir, Lipur, Sunan Ampel, Kasim, dan lain-lain. Teman-teman itu ada yang cerewet dan ada juga orang-orang yang hadir dalam diam.
Setelah Etak, Beato menjadi pebincang yang ke-4. Buku ini dia baca dalam tempo yang cepat, sehingga membuatnya tidak mengingat banyak hal dari novel ini. Ia menikmati novel ini sebagai sebuah sejarah alternatif. Buku ini menurutnya mengikuti jejak buku-buku Iksaka Banu yang meramu kisah-kisah dengan memakai pendekatan fiksi. Ia membayangkan akan amat asyik mempelajari sejarah apa pun, jika ditulis dengan pendekatan seperti ini.
Grace menjadi pebincang yang ke-5 pada malam itu. Waktu kecil, ketika ia menonton film saga, film-film itu menjadi film-film favorit, tetapi ketika bertambah dewasa, ia makin menyadari film-film itu sudah tidak relevan lagi baginya. Jika buku ini difilmkan, ia tidak yakin akan menyukainya. Karena itu, ia menyukai buku ini sebagai teks buku saja, sebab mengajak ia untuk berimajinasi tentang Indonesia di abad 14/15. Tentu saja beberapa imajinasi tetap tidak masuk akal baginya, misalnya ketika peti yang memuat bayi Jaka Samudera menabrak kapal besar dan membuat kapal itu oleng. Juga ketika bayi itu mengeluarkan cahaya saat dirampok oleh Kubu Ireng. Grace tetap merasa buku ini menarik dan membayangkan sejarah lebih baik ditulis dengan pendekatan naratif seperti ini.
Saya jadi pebincang ke-5 malam itu. Menurut saya buku ini harus dimasuki dengan pintu dongeng agar mudah dipahami, meski saya tidak setuju dengan beberapa bagian dari buku, misalnya pertemuan Jaka Samudera dengan Ki Waru. Bagian ini memiliki bias persepsi akan kebudayaan lokal yang dianggap sebagai tradisi kafir dalam kacamata agama.
Tentang laut, saya merasa ada pesan besar yang ingin disampaikan Ratih, yaitu agar bangsa Indonesia tidak lagi memunggunggi laut, seperti yang terbaca dalam pembacaan Oping Sanjaya. Gerak memunggungi laut ini sudah terjadi sejak zaman penjajahan. Sejak itu Indonesia hanya berbajukan budaya darat atau agraris. Padahal, cerita kejayaan Nusantara sebelum penjajahan adalah cerita kejayaan kebudayaan maritim. Sudah saatnya Indonesia mengenakan kembali kebudayaan maritim itu.
Menjadi pahlawan di era ini bisa dilakukan dengan apa saja, termasuk mungkin dengan menulis. Menulis dengan baik kisah-kisah sejarah, barangkali melalui pintu fiksi, adalah cara lain menciptakan karakter pahlawan.
Saga dari Samudra mendapat bintang 4 dari peserta Bincang Buku Petra malam itu. [*]
Baca juga:
– Membicarakan Orang-Orang Biasa
– Membaca Novel Gemulung Seperti Membaca Skrip Film

Buku ini memiliki judul yang sangat menarik dan isi nya yang sayang edukatif
buku ini memiliki judul yg sangat tepat jika buku ini dapat di film kan ini akan sangat menarik
menurutku judul nya sangat bagus dan menyambung dengan isinya