Puisi-Puisi Galeh Pramudianto – Setelah Parade Nama Berhimpitan di Layar Hitam
20 November 2024| | 0 Commentssetelah parade nama/ berhimpitan di layar hitam/ kekasihnya bilang// “bisakah kita putus selama 2j 57m/ agar aku bisa memahami film ini.”
Oleh: Galeh Pramudianto |
Lahir Juni 1993. Berdomisili di Tangerang Selatan. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris di Jurnal Mantis, Stanford University dan Arkansas International. Sehari-hari mengajar di Tzu Chi School. Bukunya Asteroid dari Namamu (2019).
Songs from the Upper Ground
—Roy Andersson
ia masih belum bisa keluar dari sini
tempat ia baru saja keluar dari bioskop
ia menulis puisi dan itu membuatnya gila
begitu dialog dari songs from the second floor
harusnya atau bisa kita sebut ‘idealnya’
pikirannya masih terngiang dialog
dari tontonan yang barusan kelar
tapi ia jadi teringat dialog di film lain
dan segala jungkir balik yang ia rasakan kini:
terkasihilah orang yang tawaf
dari rooftop sampai basement
terkasihilah orang yang tersesat di dalam mall
setiap inci dari tenant berjalan sendiri bagai labirin hidup
ia ditegur petugas keamanan ketika kedapatan bersandar di railing
untuk sejenak mengambil ponselnya dari tas kecil
rasanya ia ingin loncat saja dari depan hokben
dan terjatuh di halaman pull&bear
kalau-kalau ia hanyalah manekin
dan berakhir di gudang terpencil
sampai pada akhirnya ia seumpama soal cerita matematika
yang dimodifikasi sekenanya
Diketahui:
Di sebuah mall, kita tahu ada berbagai tombol di lift:
B1, B2, LG, G, UG, 1, 2, dan seterusnya
lantai 4 kita tahu sebagai rahasia umum
telah digantikan dengan 3A dan seterusnya
Tokoh kita kini berada di lantai 2
atau berapa saja ia tak tahu persisnya
Ditanya:
Bagaimana cara agar ia keluar lebih cepat dari mall
ketika ia lupa memfoto tempat ia parkir di mana
lalu kebelet buang air besar
dan dapat telepon darurat
kalau keluarga terdekat sedang sekarat
Jadi, di blok berapa ia bisa menjumpai segera motornya
dan kembali ke rumahnya dengan cepat dan selamat?
.
Tiga Pilihan Akhir Cerita yang Bisa Dipertimbangkan
–variasi The Lobster
1 – Setelah tahu kekasihnya tidak dapat lagi melihat, ia menuju toilet restoran dan memutuskan menusuk matanya dengan kunci motor miliknya. Sekali lagi, ia menuju toilet restoran. Ia memutuskan mengambil kunci motor di saku celananya. Ia melihat cermin di toilet. Orang-orang lalu lalang. Ia memutuskan menari di depan cermin dengan menggoyang-goyangkan kunci motor dan orang-orang yang lalu lalang melihat pantulan tubuhnya masing-masing. Dari cermin itu, ia masih menggerak-gerakkan tubuhnya meski pantulan asli tubuhnya di cermin diam belaka.
2 – Ia tidak jadi menusuk matanya dengan kunci motor dan berencana meninggalkan kekasihnya sendiri di bangku restoran. Ia meninggalkan kekasihnya masih dengan segelas es teh, karena kita tahu hampir di tiap restoran makanan akan datang belakangan. Ia menstarter motornya, lalu karena terburu-buru ia langsung nyelonong keluar parkiran. Tiga detik kemudian ia tersungkur di jalan karena truk menabraknya dari belakang.
3 – Ia tidak jadi menusuk matanya dengan kunci motor dan ia bilang ia telah buta ke kekasihnya. Kekasihnya terdiam dan menangis. Kekasihnya memukul bahunya dan menyesalkan kenapa ia harus menusuk matanya. Ia tersenyum dan bilang tidak apa-apa. Lalu ia membuka ritsleting tas, mengambil novela detektif dan membacakan kalimat terakhir untuk kekasihnya.
2024
.
Menggali Sedikit Puisi Tak Terkuburkan
Hari ini orang lain
esok mungkin gilirannya
Ia akan dihabiskan para rombongan di atas bukit
bersama banyak kepala dalam karung
Sejuta trauma pada masa tua
menjangkiti bagai tumor
dan tak terhindar bagai tremor
Garin menemuinya
negosiasi dari masa silam
mengubah pedih jadi seni
serupa kisah nabi yang dibakar
puisi tak terkuburkan
merekamnya nyalang dan hendak pulang
berbalas didong di dalam sel = jalan lain kewarasan
dalam tubuh sejarah yang dipuntir abu
eksekusi adalah lubang hitam kemanusiaan
yang disamarkan mawar
atas nafsu purba berburu.
2022
.
B2, B3
Sepasang kekasih datang
hmm, kulengkapi—sepasang remaja bergandengan tangan
melewati kaca bening yang saling membuka diri
bapak satpam tersenyum menyilakan masuk
“aku ke dulu toilet ya,
kamu pilih aja mau nonton yang mana.”
hmm, kalau hal ini terjadi sekarang padaku
nampaknya tak mungkin
karena kami sudah mengatur rencana
dari sebelum pergi akan menonton apa
siapa penulis dan sutradaranya
premisnya kurang lebih tentang apa
kurang lebih begitulah
“ini di tengah masih kosong,
kok pilih di pojok?”
“katamu tadi pilih aja?”
“maksudku pilih aja filmnya mau apa.”
keduanya tersenyum canggung
seperti sedang membaca pikiran masing-masing
sayup-sayup bisik-bisik pengunjung mereda
cahaya dari layar mulai redup
seiring dengan tirai terbuka sepenuhnya
10 menit berjalan
mereka mulai memiringkan badan
tengggggg, adegan jam weker berbunyi
matahari menjalankan tugasnya
penulis kodian hanya berusaha menjadi sekrup dari atasan
mereka meluruskan kembali posisi
dupppppppp, cahaya itu seperti air
merembes dari langit-langit kamar
mengisi ruang-ruang kosong
membasahi lantai dan dinding
syuuuwwt, tokoh kita di layar siapa pun itu
seperti hidup dalam mati lampu abadi
adegan gelap seolah keharusan
karena bayar listrik makin mahal
mereka melakukannya lagi dengan rileks
jengjengggggg, cahaya samar mulai mengkilap
mereka berpura-pura meregangkan badan
seperti itulah sampai filmnya selesai
00.00
Sepasang kekasih—sepasang remaja pulang
langkah kaki sesekali terdengar di lorong lengang
karpet merah bermotif menguar sisa-sisa bau popcorn dan parfum
mereka toleh depan-belakang kanan-kiri
dan menepi di ujung lorong sepi
tak lama keduanya melanjutkan yang belum selesai
saling menatap di depan poster Kereta Hantu Manggarai.
2024
.
Coming of Age
setelah parade nama
berhimpitan di layar hitam
kekasihnya bilang
“bisakah kita putus selama 2j 57m
agar aku bisa memahami film ini.”
“aku membeli lampu kelap-kelip galaksi
lilin dan minyak atsiri ini
ya sekadar untuk mendramatisasi
pada semua yang kulakukan di kamar ini
aku kerap mencari-cari diriku sendiri
dalam judul-judul greta, ayoade dan chbosky
yang ditulis miring
aku juga pikir sebagian aktor itu butuh dipijat lama
karena terlalu lelah menggendong keseluruhan cerita
di punggungnya.”
“aku membayangkan menjadi raksasa
atau godzilla atau monster atau mecha
apa saja yang penting bisa
menginjak-injak kota dan penduduknya
agar orang-orang bisa teriak lepas
tidak ada lagi buru-buru takut telat
karena kini semuanya buru-buru
untuk sembunyi, berlari
dan menyelamatkan diri
aku ingin menjadi bagian dalam simulasi itu.”
“besok adalah hari ulang tahunku
senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu
dan semua hari yang tertera di kalender
adalah hari ulang tahunku
jadi, ketika kita bertemu setiap hari
akan ada hal menyenangkan yang ditemui tiap waktu
karena aku tidak percaya setelah aku lulus
aku harus bekerja selamanya seumur hidupku
masih banyak daftar tunggu bacaan dan tontonan
apakah ada waktu untuk itu semua?”
ia mengangguk dan tak hendak memotong
dengan semua hal yang telah ia dengar.
2024
.
Jangan Dilarang Ia Meromantisasi Kesedihan-Kesepian-Kebelingsatan
orang-orang kesepian di kota-kota neon
adalah genre favoritnya
sebuah pengingat keramat
energi yang simetris dengannya
jangan dilarang ia meromantisasi ini:
pergi ke mana saja sendirian
menggambar di kedai kopi
membeli bunga untuk diri sendiri
bangun jam 5 pagi dan lari pagi di gbk
meski ia bingung masuknya lewat pagar mana
memasak makan siang dari resep koran lama
ke taman kompleks sebelah sore hari
masuknya nyelip-nyelip lewat gang dekat rumah
dengarkan satu lagu berulang-ulang selama satu jam
menonton giallo dan noir
untuk memecahkan teka-teki tubuh sendiri
mendengarkan shoegaze dan menatap sepatu selama satu jam
seperti saat upacara sekolah senin pagi
dan hal-hal lainnya bisa kamu tambah sendiri:
……………………………………………..
pada akhirnya ia hanyalah seseorang
yang ditulis seseorang lainnya
di kota neon
di barisan mimpi yang telah diblender
ketika ia merindukan seseorang dan sungkan untuk dibicarakan
dan muncul dalam samar-samar bayangannya sendiri.
2024
.
Slow-Burn
pada akhirnya kamu akan meledak sendirian
di sebuah rumah kosong—markasmu
kamu menyebutnya
tempat kamu menghabiskan masa kecil
dengan tumpukan puing sisa bangunan
dan botol-botol plastik hasil buangan
kamu tak pernah takut dengan rumah kosong
orang-orang menyebutnya rumah hantu
bagimu rumah hantu itu adanya di rumahmu sendiri
ketika pertama kali kamu membuka mata
gempuran piring terbang dari orangtuamu
mengepungmu membuatmu limbung
kamu lebih memilih menggelandang
ke rumah kosong itu
tempat di mana kamu membangun pelan-pelan
puing-puing impian—jika itu ada,
maka dimulai dari:
cerita-cerita konyol dari teman kecilmu
mencari encu di empang buat ikan cupangmu
kabur dari kejaran orang tua karena disuruh tidur siang
meski mimisan karena kecapekan
daun sirih di depan markasmu
telah menancap di sisi kiri lubang hidungmu
kamu terselamatkan tidak harus pulang
lalu bermain batu tujuh dan petak umpet di malam hari
hingga tukeran kertas binder untuk menutup hari
tapi kini setelah warna suaramu berubah
dan tumbuh bulu di setiap sudut tubuh
rumah kosong itu telah tiada
kamu tidak ingat persisnya kenapa
kamu coba mencacahnya dengan rekaman
yang pernah kamu buat di ponsel
lalu kamu unggah di media sosial
untuk merekonstruksi bayangan sendiri:
28:12 – ikan cupang
32:09 – congklak
42:25 – gawang kecil
51:15 – rumah kosong
54:17 – ledakan petasan
@dariseseorangsiapasaja
12 tahun yang lalu
“terima kasih sudah menyelamatkan hidupku,
karena di setiap penghujung adegan
kami mengingat luka bakar sebagai pedoman.”
2024
.
Gala Premiere
“Mohon duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket”
“Oh, iya maaf. Tadi aku buru-buru. Kupikir di sini kosong”
“Kayaknya nggak mungkin kosong, deh”
“Ini cocok ditonton bareng keluarga”
“Kalau nggak punya keluarga gimana?”
“Bagi yang berhalangan hadir, aku siap gantiin”
“Bagi yang bingung ajak siapa, boleh ajak aku”
“Aku nggak pernah ikut giveaway sebelumnya,
tapi karena bioskopnya tinggal jalan 10 langkah dari rumah,
jadi yaudah deh ikutan!”
“Pengen ikut, tapi sadar diri aku di luar kota.
Eh, tapi tetep dijadiin deh karena mau ketemu pacar.
LDR. Sambil nyelem, makan popcorn”
“Alasanku datang ke sini, karena di rumah udah kayak neraka”
“Template, jir ceritanya. Formulaik”
“Film tergila yang aku tonton tahun ini”
“Kamu bukannya sempat nonton film cuma pas libur hari raya
atau dapat undangan macam gini ya?”
“Eh, iya juga ya”
“Kudengar-dengar penulis naskahnya
buat latar belakang karakternya 40 rim, lho!”
“Hadah, overdramatic, overused”
“Memangnya ngaruh ke plot cerita?”
“Roman-romannya jadi nggak bisa tidur nih”
“Mau nonton lagi sumpah”
“Ke sini sama siapa aja?”
“Film yang bagus. Banyak unsur budaya ditampilkan di sini”
“Tadi ngomongin apa aja sih?”
“Kami melihat pesan moral yang sangat kuat dan jelas”
“Tak kuasa menahan tangis”
“Aktingnya natural, seperti sungai…”
“Alurnya seru, plot twist”
“Penting banget emang plot twist? Kesannya maksa deh!”
“Pulang naik apa? Bareng dong!”
“Film ini menurutku bisa berakhir 20 menit lebih cepat”
“Film ini seharusnya bisa selesai di 40 menit awal, kalau saja…”
“Kalau apa?”
“Kalau saja aku tak menerima undangan ini”
2023-2024
Ilustrasi: Box Seats at the Theater, the Gentleman and the Lady (Felix Vallotton), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Joy Olree – Singkatnya Hidup
– Puisi-Puisi Michele Mari – Puisi-Puisi Cinta untuk Ladyhawke
– Puisi Decimus Magnus Ausonius – Urutan Kota-kota Terkenal dalam Heksameter

sukaaa bgt gaya kontemporer gini, seru dan fresh bangett