Qabil dan Gagak
7 Juli 2025| | 8 CommentsKemudian ia meminta Qabil menangkapku saat melihat sosokku terbang di atas mereka. Qabil memilih tidak menyerahkanku.
Oleh: Amina Gaylene |
Penulis asal Cianjur yang sangat menyukai tempe goreng ketumbar dan bulan. Amina bisa ditemui di akun instagramnya @amina_gy.
Di bentang bumi yang sangat luas juga lengang, ada dendam dan amarah yang siapa pun tak akan sanggup memikulnya. Dendam yang kemudian menjadi sejarah kelam kehidupan. Pada Qabil-lah perasaan purba tersebut bersemayam.
Qabil lahir dengan pasangan kembarnya, Iqlima. Selain dirawat oleh Hawa, sang ibu, sepasang kembar ini juga dibesarkan oleh tanah dan segala yang tumbuh di atasnya. Seperti Hawa yang memberikan air susu, tanah pun menghadirkan aliran sungai. Seperti Hawa yang memeluk hangat saat dingin menggigit, tanah pun membentangkan dirinya sebagai tempat bermain. Saat Hawa memasak, tanahlah yang menyediakan segala bahan. Tanah, kata Hawa, adalah ibu dari segala ibu.
Keluarga ini cukup, mesra dan bahagia. Kalaupun ada kesedihan, kehadirannya tak begitu membebani. Selalu ada terang dan hangatnya matahari setelah hujan kesedihan, bahkan badai sekali pun. Karenanya tak pernah terbayangkan akan adanya musim kesedihan sepanjang tahun apalagi sampai berbuah tragedi.
Tidak sampai tiga tahun sejak kelahiran Qabil dan Iqlima, Hawa kembali melahirkan sepasang kembar yang kemudian dinamai Habil dan Labuda. Keduanya dibesarkan dengan cara yang sama. Setiap harinya mereka menabur kasih sayang, menuai keceriaan, memetik cahaya untuk menerangi malam, dan melipat hangat untuk digelar saat dingin. Adam sang ayah juga turut haru melihat betapa indah keluarga yang dimilikinya.
Ketika ia menatapi langit malam, aku kerap menghampirinya. Qabil menceritakan kekesalannya pada Iqlima saat ia merebut daging punggung Aurochs miliknya. Atau ia marah pada Habil karena pura-pura sakit saat Hawa meminta mereka memanen buah sehingga terpaksa ia pergi sendiri. Juga merasa kasihan pada Labuda, si bungsu yang selalu gatal-gatal saat kedinginan. Ia menghindari menceritakan betapa besar rindunya. Namun itu tergambar jelas pada matanya. Lantaran itu aku lebih suka melihat matanya alih-alih mendengar ceritanya. Pada mata itu aku melihat kejujuran melebihi jujurnya malam saat menampakkan gemintang.
“Lihatlah langit itu. Lihat gemintang itu. Mengapa kita perlu menggapainya jika memandanginya saja sudah cukup?” adalah yang selalu dikatakan sebelum akhirnya Qabil meringkuk dan tertidur.
“Kita berasal dari sana dan akan kembali ke sana. Tempat itu bukan hanya luas, tapi juga penuh keajaiban; apa pun yang kita minta akan terkabul,” jawab Adam saat ditanya mengapa ia ingin membangun tangga menuju surga.
Suatu sore yang hujan, Adam terlelap. Begitu terbangun, ia segera mengumpulkan Hawa dan anak-anaknya. Dalam tidurnya, katanya, ia bermimpi bisa kembali ke surga melalui tangga. Sejak itu, Adam mewajibkan Hawa, Qabil, Iqlima, Habil, dan Labuda bekerja membangun tangga, tanpa pengecualian. Hari-hari mereka pun berubah: tak ada lagi waktu luang, tak ada canda, tak ada kemesraan — hanya kerja, lelah, dan amarah.
Pohon Tarugama sengaja Adam pilih sebagai bahan utama pembuatan tangga. Perlu ratusan tahun untuk pohon ini tumbuh. Lebar batangnya mencapai 20 meter dan tingginya lebih dari 100 meter. Burung-burung membuat sarang di ranting-ranting Tarugama. Akar menjulur seperti urat nadi, menyambungkan kehidupan dari satu sisi tanah ke sisi lainnya. Ia tumbuh diam, tetapi mendengar segalanya. Selain tumbuh di darat, Tarugama juga tumbuh di laut, memberikan keberlimpahan hidup pada ikan-ikan di sekitarnya. Buah Tarugama terbilang kecil, hanya sekepal tangan orang dewasa. Namun warna serupa lembayung dan mengilat serta rasanya yang manis membuat buah ini tiada duanya. Buah Tarugama juga menyimpan banyak khasiat. Hawa selalu memberikan buah ini kala anak-anak terserang demam.
Kulit kayu Tarugama tahan terhadap segala cuaca. Di musim panas ia menyimpan sejuk, di musim hujan ia tak mudah lapuk. Dedaunannya lebar dan pekat. Jika batangnya ditebang, serpihannya mengeluarkan aroma seperti kayu manis yang hangat. Di pesisir, Tarugama dijadikan sebagai penanda musim—jika daunnya gugur, hujan besar akan turun tujuh hari kemudian.
Bahkan para dewa pun mengandalkan Tarugama. Dewa Laut menggunakan daunnya untuk menyelimuti badai agar reda sebelum mencapai daratan. Dewa Angin menyimpan harum batangnya dalam kantong-kantong udara yang ia lepaskan setiap pagi. Dewa Api meneteskan getah Tarugama ke dalam bara, agar nyala api tak hanya membakar, tetapi juga menghangatkan. Dewa Waktu menandai usia dengan lingkaran pada batang Tarugama; tiap lingkaran menandakan satu perjalanan bumi mengelilingi matahari. Konon, hanya pohon inilah yang mengingat setiap nama yang pernah dibisikkan manusia pada angin, setiap janji yang pernah dikubur dalam tanah.
Tarugama berdiri sebagai penjaga dan saksi. Ia tak berbicara, tetapi tahu segala hal yang tersembunyi di dalam bumi. Jika akar-akarnya dicabut, barangkali tanah akan kehilangan arah.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana murkanya tanah jika kamu menebang Tarugama dan menjadikannya bahan untuk membuat tangga, tolak Hawa suatu ketika. Adam percaya bahwa pohon Tarugama adalah keajaiban dan karena itulah ia ingin menjadikannya sebagai tangga. Ia yakin Tarugama dengan segala keagungannya akan membuat surga semakin mudah digapai.
Satu, dua, sepuluh, seratus, sejuta, seratus juta, seluruh pohon Tarugama dicabuti hingga ke akarnya. Bumi menjadi gersang, tanaman dan hewan-hewan mati, ikan di lautan mati, ombak mati, mata air mengering, longsor, kebakaran dan banjir menerjang. Udara terasa lebih berat saat dihirup. Tidak ada lagi suara ranting bernyanyi diiringi tarian burung. Kesunyian terasa sangat menyayat.
Struktur rangka telah dibuat, tebing-tebing diruntuhkan, batu-batunya dipecahkan lalu dikikir menjadi paku. Satu persatu anak tangga dipasang. Tangga sudah berdiri melebihi gunung tertinggi. Jauh lebih tinggi lagi, hingga awan terlihat seperti busa kecil di lautan, hingga suhu sangat dingin, hingga tidak ada udara yang dapat dihirup, hingga langit tidak kembali biru, hingga gemintang tak pernah terbenam. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan surga, tidak ada hamparan tanah ajaib seperti yang Adam sebutkan.
Suatu waktu ibu pernah bercerita padaku bahwa ia sama sekali tak ingin kembali ke surga. Baginya keajaiban di surga tidak menumbuhkan kasih, rasa ingin merawat, dan keterikatan. Ibu dan ayah hidup hanya bermain-main dengan kabul-mengabulkan, hidup dalam kesenangan masing-masing, dan itu sangat membosankan. Di bumi, lanjut ibu, ia merasakan sesuatu yang tak pernah hadir di surga: ibu dapat berbagi senang dan kasih. Saling menjaga dan merawat bagi ibu adalah hidup.
Yang paling ibu syukuri di bumi adalah keberadaan pohon Tarumaga. Buahnya dapat dipetik, dimakan, dibagikan. Di surga, katanya, hanya ada satu pohon yang justru tak boleh disentuh. Buahnya seolah hadir hanya untuk menggoda dan menghukum. “Apa artinya buah yang tak boleh dinikmati?” tanya ibu padaku. “Bagiku, itu bukan tanda kemuliaan, melainkan keganjilan yang mengganggu kebebasan.”
Aku belum pernah ke surga, dan mungkin tak akan pernah. Tapi entah kenapa, aku percaya dan setuju dengan ibu. Bayangkan, baru membuat jalannya saja, kita harus menggunduli bumi, bagaimana jika kita tinggal di sana, jangan-jangan kita harus meledakkan bumi?!
Qabil bercerita panjang lebar semua duduk perkara pembuatan tangga saat aku menghampirinya sedang nangkring di ranting pohon Tarugama terakhir. Ia meminta maaf padaku, juga memintaku menyampaikan maaf pada hewan dan tumbuhan lain yang tersisa. Maaf aku mengambil semuanya dari kalian, katanya. Air mata mengalir di pipinya. Aku bertengger di bahunya, menangis. Bentangan di depan kami tidak lagi hijau dan biru. Lesu, kekosongan dan kematianlah yang tersisa.
Adam sangat putus asa saat tak menemukan surga di ujung tangga. Ia menatap sekeliling dengan mata berkilat antara marah dan kecewa. “Pasti ada yang salah!” serunya. Suaranya menggema hingga dasar bumi. Lalu ia berpikir sejenak. Aku ingat! Kita perlu memberikan persembahan. Qabil, sediakan hewan, dan Habil sediakan buah-buahan. Namun tidak ada lagi yang tersisa di bumi.
Adam tak mau menyerah. Kalau begitu cabut saja rumput apa pun yang masih tersisa, perintah Adam pada Habil. Kemudian ia meminta Qabil menangkapku saat melihat sosokku terbang di atas mereka. Habil pergi dan kembali dengan segenggam rumput layu, sedangkan Qabil memilih tidak menyerahkanku. Itu adalah gagak terakhir, aku tak ingin memusnahkannya, bela Qabil dengan pelan tapi bergetar.
Murka Adam meledak. Lalu ia berusaha menangkapku dengan tangannya sendiri. 23 hari lamanya Adam memburuku, melempariku dengan batu hingga memasang perangkap. Namun aku tetap terbang, menghindar, menyelinap di antara celah waktu dan bayang-bayang. Ia sangat putus asa kemudian memohon padaku dengan suara parau agar ikhlas menyerahkan diri. Aku enggan melakukannya. Aku menatapnya dengan luka yang sama dalam.
Baiklah, kita lakukan cara lain, katanya pada keluarganya. Di ujung tangga terakhir, Adam meminta Hawa dan anak-anaknya berteriak pada langit, memintanya untuk membuka pintu surga. Sebenarnya Adamlah yang benar-benar berteriak. Hawa dan anak-anaknya sedikit saja berteriak, hanya agar tak menyinggung Adam, karena sesungguhnya mereka lebih ingin tinggal di bumi.
Satu-satunya jawaban yang jelas adalah sunyi. Bahkan gema suara mereka pun lenyap ditelan langit. Adam bersedih. Ia menampari kekosongan, memukuli dadanya yang sakit tiada terperi, berteriak, meraung. Tubuhnya bergetar hebat. Getaran tersebut turut menggoyangkan tangga. Hawa memintanya berhenti, suaranya pelan tapi tegas, mencoba menenangkannya seperti menenangkan badai. Tapi Adam tak terkendali. Ia terus mengguncang dirinya sendiri, seolah dengan itu ia bisa mengguncang langit, memaksanya menjawab.
Jauh di bawah sana terdengar gemuruh yang menghantarkan duka. Suara itu merambat naik, anak tangga berguncang tak menentu. Aku terbang di atas mereka menyaksikan peristiwa itu. Kejadiannya begitu singkat, bahkan tak ada ruang untuk kejut menguasai tubuhku. Tangga yang telah dibangun dengan susah payah roboh begitu saja. Adam, Hawa, Qabil, Iqlima, Habil, dan Labuda ikut jatuh.
Satu-satunya yang terlintas dalam benakku hanya Qabil. Aku menukik turun lalu mencengkram kedua bahunya. Susah payah aku menariknya. Kurenggangkan dan kukepakkan kedua sayapku sekuat mungkin. Semua otot tubuhku menegang hingga napas hampir meninggalkan paru-paruku. Usahaku tak sia-sia. Aku berhasil menyelamatkannya, sementara yang lain jatuh dan tertindih oleh reruntuhan tangga. Tak ada yang selamat.
Kini berbulan-bulan sejak kejadian tersebut, Qabil berusaha menanam Tarugama kembali di seluruh permukaan bumi. Aku setia membantu dan menemaninya, menemani duka yang ditanggungnya, sesal yang selalu menyerangnya, serta dendam yang tak tau ke mana akan dilemparkannya.[*]
Ilustrasi: Stairs, Provincetown (Charles Demuth), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Cerita dari Bawah Lampion – Cerpen Jein Oktaviany
– Testimoni – Cerpen Yudhi Herwibowo

Cerpen yang menarik, apalagi dilihat dari strukur dn cara penulis menyampaikan perasaannya pada para pembaca, melalui tulisan.
Cerita yg membingung kan.. Adam hawa dan ada dewa
Mantap sekali ceritanya
menarik, tata bahasa yang rapi, ternyata ini awal Adam dan hawa
Sifat yng di miliki Qabil sangat baik kepada orang maupun itu di sekitarnya
Bagus banget dengan persahabatan qbil yang menemaniya sampei hilang traumanya
sukaa banget sama antusiasnya yang di salurkan melalaui gaya penulisan nya
Cerpen yang sangat baik