Menu
Menu

Bukan Pasar Malam banyak berbicara soal perjuangan setelah kemerdekaan. Karya Pram semakin menarik, karena jadi monumen mengakses penderitaan.


Oleh: Retha Janu |

Guru Les Matematika dan bergiat bersama Teater Saja, Ruteng.


Dengan kesadaran penuh, Bincang Buku Petra ke-70 memilih Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer untuk mengenang satu abad Pram pada 06 Februari 2025. Empat belas pebincang hadir malam itu. Sebagian besar adalah penggemar setia karya Pram dan beberapa yang lain baru berkenalan dengan karya penulis besar ini.

Bukan Pasar Malam bercerita tentang perjalanan tokoh Aku dari Jakarta ke Blora untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. Dalam perjalanan, ia mengalami pergolakan batin saat menemukan kenyataan hidup yang keras di sekitarnya. Hal itu membuatnya merenungkan makna kehidupan, perjuangan, penderitaan, dan kematian.

Format bincang buku kali ini sedikit diubah. Masing-masing pebincang akan menerima sejumlah pertanyaan secara acak. Pertanyaan-pertanyaan ini dijadikan pertanyaan penuntun.

Mengenal Pram: Bagian Pertama

Bincang Buku BPM ini dibuka dengan cerita pengalaman dr. Ronald Susilo berkenalan dengan karya-karya Pram.

“Sebelum membaca Pram, bacaan saya sejak SMP dan SMA adalah karya-karya pop dari Marga T., Mira W., S. Mara Gd, Agatha Christie, dan buku-buku yang menghibur. Namun, saat kuliah dan terlibat dalam kegiatan diskusi buku sekitar tahun 1999-2000, para pembaca banyak mendiskusikan bacaan-bacaan kiri, seperti novel tentang peristiwa ’65, novel tentang komunis, atau cerita pemberontakan. Tampaknya semua novel yang sudah saya baca tidak masuk dalam kategori tersebut,” kata Dokter Ronald membuka pantikannya.

Selanjutnya dia mengaku mulai mencari bacaan yang bisa ia pakai sebagai jalan masuk membicarakan buku-buku lainnya. Pram melalui Tetralogi Pulau Buru menghantarnya dalam perjalanan sastra yang lebih luas.

“Pembaca pemula jika ingin mengenal bacaan sastra, sebaiknya mulailah dengan membaca Pram,” sarannya. Dia menambahkan, sependek pengalamannya membaca karya-karya Pram, Bukan Pasar Malam adalah salah satu novel Pram yang paling ‘aneh’; “Buku ini seperti bukan Pram.”

Pramoedya Ananta Toer baginya adalah sosok yang dekat dengan konsep realisme sosialis. Tetapi di karyanya yang satu ini, Pram banyak berkutat dengan perasaan dan situasi tokoh tentang kesedihan. “Bagi saya buku ini tidak begitu mengalir seperti ketika saya membaca tetralogi,” kata Dokter Ronald yang juga berkomentar: “Jika pasar malam adalah tempat yang kaudatangi bersama keluarga atau orang dekat dan bersama mereka pula kau akan pulang, maka tidak demikian dengan kematian. Jika tiba, kita akan pulang sendiri.”

Refleksi ini tentu saja berangkat dari kisah kematian tokoh Ayah dalam novel ini. Sebagai penutup dr. Ronald mengajukan sebuah pertanyaan: “Siapa yang kauharapkan hadir saat kematianmu?”

Mengenal Pram: Bagian Kedua

Siapa penulis Indonesia saat ini yang menurutmu punya gaya penulisan seperti Pram?

“Bagi saya, karya Seno Gumira Ajidarma adalah karya penulis Indonesia yang dekat dengan gaya penulisan Pram. Saya juga menyukai tulisan Armin Bell, penulis asal Ruteng yang juga peka dengan hal-hal yang dilihatnya. Hal yang memang juga dimiliki Pram.” Demikian jawaban Beato Lanjong sebagai pebincang kedua malam itu.

Mengapa Pram berbeda dari penulis lain? Apa beda karya Pram dengan karyanya yang lain?

Erni Adar mengaku, walau hampir semua karyanya terlalu kiri, realitas berhasil ditampilkan secara anggun dan memikat. Itulah yang membuatnya selalu menuntaskan setiap karya Pramoedya Anantar Toer yang ia baca. Hal yang membuat karya ini berbeda dari karya Pram yang lain barangkali karena novel ini ia pakai sebagai medium curhat, tempat mengenang kehilangan, mengenang sesuatu yang terlampau personal. Jawaban Erni juga dipantik oleh pengalaman kehilangan Ayahnya. Kisah yang dekat ini membantu Erni memahami kesedihan orang lain.

Jika bertemu penulis, apa yang akan kamu tanyakan? Apakah kamu sudah membaca buku lain dari penulis yang sama? Bagaimana perbandingan buku ini dengan karya lainnya? Apa yang menginspirasi?

Marto Rian Lesit, pembaca berikutnya seolah berjodoh dengan sejumlah pertanyaan yang diajukan padanya. Alumni IFTK Ledalero ini pernah menulis skripsi tentang konsep filsafat penderitaan Adorno dengan pintu masuk Tetralogi Pulau Buru.

“Jika saya bertemu Pram, saya akan bertanya mengapa ia tidak merefleksikan rekonsiliasi secara baik? Kenapa ia terlihat susah sekali memaafkan?” Protes Marto. Menurutnya, salah satu kritik terbaik untuk Pramoedya Ananta Toer muncul lewat tulisan Gunawan Muhammad—memaafkan tidak sama dengan melupakan. Pram penuh kemarahan dalam sejumlah tulisannya.

Marto mengaku sudah membaca hampir semua karya Pram. Dari Tetralogi Pulau Buruh misalnya, bisa dibaca penderitaan sebagai memori kolektif manusia.

“Penderitaan—mengutip Pater Budi Kleden dalam “Membongkar Derita”—menjadi penting untuk merumuskan suatu etika, misalnya etika politik. Dalam tetralogi, etika politik bersoal dengan bagaimana pembangunan seharusnya bertujuan untuk membebaskan orang dari penderitaan dan bukan semata-mata mengejar kemajuan,” ujarnya. Membaca Pram untuknya menjadi penting sebab karya-karyanya adalah cara untuk menumbuhkan empati tanpa perlu pergi ke suatu zaman tertentu.

Lebih lanjut, bagi Marto, Bukan Pasar Malam lebih banyak berbicara soal perjuangan setelah kemerdekaan. Semua karya Pram akhirnya menjadi semakin menarik, karena ia seperti monumen yang bisa mengakses simbol penderitaan masa lalu untuk merumuskan penderitaan masa kini.

Bagaimana kamu membandingkan karya ini dengan karya Pram lainnya?

Buku ini adalah buku favorit pembaca selanjutnya, Yuan Jonta. Ia menyadari karya Pram kali ini berbau humanisme. Yuan cenderung cepat jatuh cinta dengan karya-karya demikian. Baginya buku ini juga jauh lebih kaya dan unik. Humanisme bisa menjadi ideologi menulis yang baik karena semua orang akhirnya bisa menulis.

Yuan juga turut memperkaya bincang buku malam itu dengan pertentangan antara kelompok Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan yang kerap disingkat sebagai Manikebu. Menurutnya, jika banyak buku Pram tampak seperti beraliran Lekra yang tulisan-tulisannya sengaja dibuat untuk membela kepentingan rakyat (sastra untuk kepentingan rakyat), Bukan Pasar Malam terlihat sebaliknya; “Buku ini tampak masuk ke gaya penulisan kelompok Manikebu yang mengusung humanisme universal.”

Dalam buku lain, yaitu Gadis Pantai, Pram tampak meramu dua gaya menulis dari kedua kelompok tersebut. Yuan juga menyukai pendekatan estetik dan pengalaman indrawi yang banyak dipakai penulis dalam Bukan Pasar Malam, yang membuatnya sebagai pembaca bisa benar-benar masuk ke dalam cerita.

Apakah kamu setuju kalau karya-karya penulis (Pramodya Ananta Toer) dibaca anak-anak SMA?

Pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Saya menyukai karya ini, sebab ringan dan dekat dengan pengalaman saya. Buku ini bisa dibaca semua kalangan. Bahkan cocok diberikan ke anak-anak SMP.

Selain itu, buku ini mengingatkan saya pada sebuah pentas teater dari Teater Saja, Ruteng. Ceritanya tentang orang sakit dan mereka yang merawat orang sakit. Bahwa masalah sakit bukan hanya terbatas pada dunia pasien, tetapi juga berteman erat dengan kisah-kisah para perawat pasien. Saya suka bagaimana Pram menggambarkan perasaan tidak berguna tokoh Aku sebagai anak, bagaimana ia menggambarkan hubungannya dengan saudara-saudaranya yang lain, percakapan yang dibangun, ruang batin yang dirasakan tokoh, atau kondisi rumah ketika ada yang sakit. Saya sendiri tidak punya banyak pengalaman merawat orang sakit, dan cerita-cerita dalam novel ini atau pertunjukan yang telah saya tonton turut memberi saya pajanan lain tentang dunia orang sakit.

Membaca buku ini membuat saya merefleksikan satu hal: Kita semua ini orang sakit dengan berbagai bentuk penderitaan yang terus-menerus coba kita sembuhkan.

Apakah ini cerita pendek, novel atau jenis lain? Sudut pandang siapa yang dipakai, bagaimana alurnya?

Grace Katarina mendapat pertanyaan ini dan sebelum ia mulai menjawab ia membagikan cerita kekecewaan sebagai salah satu pengelola Kedai Buku Petra.

Ia ingat pernah suatu waktu, salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai, pernah mereka sodorkan kepada beberapa kawan SMA untuk didiskusikan. Dari 15 peserta diskusi, hanya satu orang (guru yang jadi pemantik diskusi) yang telah menuntaskan buku ini. Sementara peserta lainnya selesai di halaman kedua dan segera mengambil kesimpulan bahwa buku tersebut buruk. Sebagai orang yang akhirnya menyukai karya-karya Pram, Grace mengungkapkan kekesalannya karena tidak punya akses yang sama dengan anak-anak sekarang. Baginya membaca Pram saat duduk di bangku sekolah harusnya menjadi salah satu pengalaman yang bisa dikenang setelahnya.

Setelah puas meluapkan perasaannya, Grace akhirnya menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya: “Novel ini alurnya maju mundur, tetapi mudah dipahami. Sudut pandang penceritaannya adalah sudut pandang orang pertama lewat tokoh Aku.”

Deskrispiskan tokoh utama dalam novel!

Khusus yang satu ini tampaknya bukan pertanyaan lebih ke perintah untuk menjawab. Menurut Ayu yang baru pertama kali mengikuti Bincang Buku Petra, karaker utama Aku adalah seorang revolusioner yang lemah di hadapan orang sakit.

Apa relevansi karya ini dengan situasi zaman?

Pertanyaan ini dijawab Vono, anggota bincang buku yang membuat suasana bincang buku malam itu lebih menyenangkan.

“Ini buku pertama Pram yang saya baca. Ini juga novel pertama yang saya baca.”

Jawaban ini sontak membuat peserta lain semakin bersemangat mendengarkan hasil pembacaan Vono.

“Bagi saya, novel ini masih sangat relevan dengan situasi zaman ini. Ada bahasan soal pendidikan dan ekonomi. Walau sudah merdeka, kita masih sulit mengakses pendidikan karena bersoal secara ekonomi,” ujarnya sambil turut membagi pengalaman pribadinya yang harus menunda kuliah setelah tamat SMA.

Apakah sikap tokoh utama berubah di akhir novel? Apakah tokoh utama belajar sesuatu?

Bapa Frans sebagai peserta dengan usia paling tua dan rumah paling jauh malam itu lebih dulu membagi cerita tentang tulisan “Air Mata Ayah” yang ia adaptasi dari cerita Leo Tolstoy. Bahwa saat Ayah diciptakan Tuhan hanya menitipkan dua butir air mata, yang satu dipakai saat menangis sedih dan satunya lagi dipakai saat menangis bahagia.

Menurutnya tokoh Ayah dalam Bukan Pasar Malam sama seperti karakter cerita yang digambarkan Tolstoy. Walau menderita, ia tak banyak menitikkan air mata. Lalu persis, tokoh Aku agaknya mengalami perubahan karakter yang tidak cukup signifikan. Bagi Bapa Frans, penderitaan sang ayah membuat tokoh Aku berpikir tentang eksistensi manusia.

Kalimat atau paragraf mana yang menginspirasi?

“Sampai di rumah lenyaplah segala kesayuan, kesedihan dan kesengsaraan.” (hal.101).

Gregorius Reynaldo yang akrab disapa Rey menyukai kutipan ini karena ia merasa dipanggil kembali pada pengalaman saat Ayahnya sakit. Rumah yang dibayangkan seperti kutipan tersebut tidak terjadi. Rey melihat, rumah (saat itu) menjadi tempat yang murung, penuh kecemasan dan hal-hal tersebut terasa sangat mengikat.

Apakah novel ini mengubah cara pandang dan memperluas perspektif? Apa yang dipelajari dari ide, sikap tokoh utama, dan lain-lain?

Gonza Thundang yang masih bertahan di bacaannya, Anak Semua Bangsa mengaku tidak sempat membaca buku ini. Karena itu satu-satunya hal yang bisa ia komentari adalah warna sampul buku ini. Warna ungu, merah, dan jingga membuatnya bertanya-tanya seistimewa apa kesedihan yang ingin ditampilkan dalam novel ini.

Apakah ending novel ini memuaskan? Jika ya, mengapa. Jika tidak menurtmu harusnya bagaimana?

“Saya suka Pram karena ia tidak memberikan ekspektasi tertentu kepada pembaca khususnya bila bicara soal ending. Sejak awal kita tahu ada tokoh yang sakit, dan kita tahu kemungkinan besar tokoh ceritanya mati sudah dipersiapkan. Ia benar-benar membicarakan manusia dan kehidupannya,” ungkap Arsy Juwandi.

Sebagai pembaca yang juga turut menjadikan karya Pram sebagai rujukan utamanya saat menulis skripsi, ia mengaku punya pengalaman tidak menemukan apa-apa dari membaca Pram saat ia dijejali sejumlah pengetahuan latar sebelumnya. Yang dimaksud sebagai tidak mendapat apa-apa adalah tidak punya ruang untuk melihat apa pesan terdalam yang ingin disampaikan penulis lewat tulisannya.

Apakah kamu dapat langsung menikmati buku ini? Bagaimana pengalaman dan perasaanmu?

Lolik selaku pebincang terakhir malam itu mengaku selalu  kagum dengan cara Pram menafsir ulang kesedihan.

Buku ini menurutnya menjadi berbeda dengan bukunya yang lain karena penggunaan metafora yang membuatnya merasakan kenikmatan membaca; “Pram juga sangat memperhatikan keindahan bahasa, diksi, dan ideologi cerita.”

Bincang buku malam itu berakhir dengan menyematkan bintang lima pada karya ini dan memang sudah seharusnya begitu.[*]


Baca juga:
Kereta Semar Lembu, Kereta Ingatan
Mengapa Orang-Orang Hilang dari Sebuah Cerita?


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Bertemu Pramoedya Ananta Toer di Bukan Pasar Malam”

  1. Indra berkata:

    Pertemuan yang sangat baik

  2. Julikson berkata:

    Kata katanya sangat indah dan menarik untuk dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *