Surat untuk Para Penyair – Paus Fransiskus
24 Mei 2025| | 6 CommentsPaus Fransiskus menulis surat untuk para penyair. Dalam surat itu, Paus Fransiskus meminta para penyair untuk pergil melampaui batas-batas tertutup dan ditentukan, dan menjadi kreatif.
Oleh: Mario F. Lawi |
Penyair, penerjemah, dan esais. Buku-buku puisi dwibahasanya adalah Bui Ihi: The Cooling of the Harvest and Other Poems (dwibahasa Indonesia-Inggris, terjemahan Inggris dikerjakan oleh John McGlynn, 2019), dan In Porta Siderum (dwibahasa Latin-Indonesia, 2023).
Para penyair terkasih, saya tahu bahwa kalian lapar akan makna, dan karena itulah kalian merefleksikan bagaimana iman mempertanyakan kehidupan. “Makna” ini tidak dapat direduksi menjadi sebuah konsep. Tidak. Ini merupakan makna keseluruhan yang mencakup puisi, simbol, perasaan. Makna sejati tidaklah ditemukan di dalam kamus—yang ada hanyalah makna kata-kata, dan kata-kata adalah semata sarana untuk menyatakan segala hal dalam diri kita. Saya menyayangi banyak penyair dan penulis sepanjang hidup saya, khususnya Dante, Dostoevski, dan lain-lain. Saya juga harus berterima kasih kepada para murid saya di Colegio de la Inmaculada Concepción di Santa Fe, kepada mereka saya berbagi bacaan-bacaan ketika saya masih muda dan mengajar sastra. Kata-kata para penulis telah membantu saya memahami diri saya, dunia, masyarakat saya, dan bahkan memperdalam pemahaman saya terhadap hati manusia, petualangan iman pribadi saya, dan misi pastoral saya, bahkan dalam tugas penggembalaan saya sekarang. Karena itu, kata-kata sastrawi seperti duri dalam hati yang menggerakkanmu kepada kontemplasi dan membuatmu berada dalam petualanganmu. Puisi begitu terbuka; puisi melemparkanmu ke khazanah lain.
Dalam terang pengalaman personal ini, hari ini saya ingin berbagi pada kalian sejumlah gagasan tentang pentingnya pelayanan kalian.
Hal pertama yang ingin saya ungkapkan adalah ini: kalian adalah mata yang melihat dan bermimpi. Kalian tidak hanya melihat, kalian juga bermimpi. Seseorang yang telah kehilangan kemampuan bermimpi kekurangan puisi, dan hidup tanpa puisi tidaklah berfungsi. Kita manusia mendambakan sebuah dunia baru yang mungkin tak pernah sepenuhnya kita lihat dengan mata kita, tetapi kita tetap menghasratkannya, mencarinya, memimpikannya. Seorang penulis Amerika Latin pernah berkata bahwa kita mempunyai dua mata. Satu dari daging, satu dari kaca. Dengan mata daging kita memandang apa yang ada di depan kita, dengan mata kaca kita melihat apa yang kita impikan. Celakalah kita jika kita berhenti bermimpi, celakalah!
Seniman adalah manusia yang dengan matanya melihat sekaligus bermimpi, melihat dengan lebih dalam, bernubuat, dan mengumumkan dengan cara berbeda dalam melihat dan memahami hal-hal di hadapan kita. Tentu saja, puisi tidak membicarakan kenyataan berdasarkan prinsip-prinsip abstrak, tetapi dengan mendengarkan kenyataan itu sendiri: kerja, cinta, kematian, dan semua hal kecil dan besar yang mengisi hidup. Milik kalian adalah—mengutip Paul Claudel—“mata yang mendengarkan.” Seni adalah antidot terhadap mentalitas penuh perhitungan dan seragam; seni menantang imajinasi kita, cara kita melihat dan memahami hal-hal. Dalam pengertian ini, Injil sendiri merupakan sebuah tantangan artistik. Injil membawa beban “revolusioner” itu, yang kalian pahami dengan baik, dan ekspresikan melalui kegeniusan kalian dengan kata-kata yang memprotes, memanggil, berteriak. Gereja pun membutuhkan kegeniusan kalian karena gereja butuh protes, memanggil dan berteriak.
Saya juga ingin menyampaikan hal kedua: kalian juga adalah suara dari kecemasan-kecemasan manusia. Seringkali kecemasan-kecemasan ini terkubur dalam dalam hati. Kalian tahu dengan baik bahwa inspirasi artistik tidak hanya menyamankan tetapi juga mengganggu kemapanan karena inspirasi tersebut menghadirkan realitas kehidupan yang indah dan yang tragis. Seni adalah tanah subur tempat “oposisi-oposisi kutub” realitas—begitu Romano Guardini menyebutnya—dinyatakan, selalu menuntut bahasa yang kreatif dan fleksibel yang sanggup mengangkut pesan dan visi yang kuat. Sebagai contoh, ketika Dostoevski, dalam Karamazov Bersaudara, berkisah tentang seorang bocah, putra seorang pelayan, yang melempar batu dan mengenai salah satu anjing tuannya. Si tuan kemudian menyuruh semua anjing mengejar si bocah. Si bocah lari, mencoba lolos dari kemarahan kawanan anjing, tetapi pada akhirnya, ia dikoyak-koyak di bawah tatapan puas sang jendral dan tatapan putus asa ibunya.
Adegan ini memiliki kekuatan artistik dan politis yang dahsyat: membicarakan realitas kemarin dan hari ini, realitas perang, konflik-konflik sosial, dan keegoisan personal kita. Itu hanya satu bagian puitik yang menantang kita. Dan saya tidak hanya merujuk pada kritik sosial di bagian tersebut. Saya berbicara tentang ketegangan-ketegangan jiwa, kompleksitas keputusan-keputusan, dan kontradiksi-kontradiksi eksistensi. Ada hal-hal dalam hidup, kadang, tak bisa untuk bahkan kita pahami maupun kita temukan kata-kata yang tepat untuk melukiskannya: inilah tanah subur kalian, medan aksi kalian.
Inilah juga tempat di mana seseorang kadang mengalami perjumpaan dengan Allah. Itu adalah sebuah pengalaman yang selalu “meluap”: engkau tak dapat menampungnya, engkau merasakannya dan pengalaman itu melampauimu; selalu meluap, pengalaman akan Allah, seperti baskom terus-menerus diisi air, sampai meluap.
Inilah yang ingin saya minta dari kalian hari ini: pergilah melampaui batas-batas tertutup dan ditentukan, jadilah kreatif, tanpa menjinakkan kecemasan-kecemasan kalian atau kecemasan-kecemasan kemanusiaan. Saya takut pada proses penjinakan ini karena proses ini mematikan kreativitas, mematikan puisi. Dengan kata-kata puisi, kumpulkanlah hasrat gelisah yang menghuni hati manusia agar hasrat itu tidak dingin atau padam. Pekerjaan ini memungkinkan Roh untuk bertindak, menciptakan harmoni di tengah ketegangan dan kontradiksi kehidupan manusia, menjaga api gairah yang baik tetap menyala, dan berkontribusi pada pertumbuhan keindahan dalam segala bentuknya, keindahan yang diekspresikan secara tepat melalui kekayaan seni.
Inilah pekerjaan kalian sebagai penyair: memberi kehidupan, memberi bentuk, memberi kata-kata pada semua yang dihidupi, dirasakan, diimpikan, dan diderita manusia, menciptakan harmoni dan keindahan. Ini adalah pekerjaan yang juga dapat membantu kita lebih memahami Allah sebagai “penyair” agung umat manusia. Apakah kalian akan menghadapi kritik? Tidak apa-apa, hadapi kritik itu sambil juga belajar darinya. Namun, jangan pernah berhenti menjadi orisinal, kreatif. Jangan pernah kehilangan keajaiban karena telah hidup.
Jadi, mata yang bermimpi, suara kegelisahan manusia; dan karena itu, kalian juga memiliki tanggung jawab besar. Dan apa itu? Itulah hal ketiga yang ingin saya katakan: kalian adalah salah satu dari mereka yang membentuk imajinasi kami. Karya kalian berdampak pada imajinasi spiritual orang-orang di zaman kami. Saat ini, kami membutuhkan kejeniusan dari sebuah bahasa baru, dari cerita-cerita dan gambar-gambar yang kuat.
Saya juga merasa perlu, saya akui, akan penyair yang mampu menyerukan pesan Injil ke seluruh dunia, membuat kami melihat Yesus, membuat kami menyentuh-Nya, membuat kami langsung merasakan-Nya dekat, menghadirkan-Nya kepada kami sebagai realitas yang hidup, dan membuat kami memahami keindahan janji-Nya. Karya kalian dapat membantu menyembuhkan imajinasi kami dari segala hal yang mengaburkannya atau, lebih buruk lagi, dari segala hal yang berusaha menjinakkannya. Menjinakkan citra Kristus dengan membingkainya dan menggantungnya di dinding berarti menghancurkan citra-Nya. Sebaliknya, janji-Nya membantu imajinasi kami: membantu kami menata kembali hidup kami, kisah kami, dan masa depan kami. Dan di sini saya kembali mengingat mahakarya lain karya Dostoevski, yang kecil tetapi mengandung semua hal ini: Catatan dari Bawah Tanah. Karya ini menyatukan semua kebesaran dan kesedihan manusia, semua kesengsaraan. Inilah jalannya.
Para penyair yang terkasih, terima kasih atas pengabdianmu. Teruslah bermimpi, bertanya, membayangkan kata-kata dan visi yang membantu kami memahami misteri kehidupan manusia dan membimbing masyarakat kami menuju keindahan dan persaudaraan universal.
Bantulah kami membuka imajinasi kami sehingga melampaui batas-batas diri yang sempit dan terbuka terhadap seluruh realitas, dengan segala aspeknya, sehingga menjadi terbuka terhadap misteri suci Allah. Maju terus, tanpa lelah, dengan kreativitas dan keberanian!
Saya memberkatimu.
Paus Fransiskus |
Paus Gereja Katolik ke-266 dan Kepala Negara Kota Vatikan sejak 13 Maret 2013 sampai kematiannya pada tanggal 21 April 2025. Paus Fransiskus bernama lahir Jorge Mario Bergoglio. Ia adalah seorang kritikus vokal terhadap teori ekonomi trickle-down, konsumerisme, dan pembangunan berlebihan; dia menjadikan aksi terhadap perubahan iklim sebagai fokus utama kepausannya. Sebelum terpilih sebagai paus, pada tahun 1960, Bergoglio memperoleh lisensiat dalam bidang filsafat dari College Maximus of San Jose di San Miguel, Provinsi Buenos Aires. Dia mengajar sastra dan psikologi di College of the Immaculate Conception, sebuah sekolah menengah di Santa Fe dari tahun 1964 sampai tahun 1965. Pada tahun 1966, dia mengajar kursus yang sama di Colegio del Salvador di Buenos Aires.
“Surat untuk Para Penyair” ini diterjemahkan oleh Mario F. Lawi dari versi Italia dalam https://www.vaticannews.va/it/papa/news/2024-11/lettera-papa-francesco-ai-poeti-libro-versi-a-dio.html. Versi awal esai ini terbit sebagai bagian dari buku antologi Versi a Dio. Antologia della poesia religiosa (Sajak-Sajak kepada Allah: Antologi Puisi Religius) terbitan Crocetti editore, beredar di toko buku pada 12 November 2024, dengan kurator Davide Brullo, Antonio Spadaro dan Nicola Crocetti.
Baca juga:
– Jorge Luis Borges – Prolog Esai-Esai tentang Dante
– Esai Italo Calvino – Dunia adalah Articok

Sangat bagus mengingatkan kita kepada paus
bagus sekali
saya suka membaca cerpen ini
Cerpennya sangat bagus dan sangat ringkus untuk mengenal seorang paus dan mengenang nya
Cerpen ini sangat bagus mengingatkan kita pada paus fransiskus
sangat bagus unyk cerpen ini dan memudahkan pembac dalam membaca teks