Menu
Menu

aku mencoba,/ bahkan saat hari-hari terasa seperti kabut/ yang menolak bubar dari kaca jendela


Oleh: Rika Prima Nanda |

Lahir di Saruaso, 11 Maret 1994. Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat.


Surat kepada Hari Esok

Kehidupan, bisakah kau dengarkan detak yang terlewat?
Bukan dering alarm, tapi napas yang tertahan
di antara satu keputusan kecil dan satu penyesalan besar.
Kita bangun, kita duduk,
Membaca pesan-pesan yang tak pernah benar-benar ditulis untuk kita.

Ada kopi dingin di meja,
dan sepatu yang urung dipakai—
karena langkah-langkah sudah terlalu lelah
untuk berjalan ke arah yang sama lagi.
Terkadang, hidup terasa seperti pintu otomatis
yang tak kunjung terbuka saat kita berdiri tepat di depannya.

Apakah semua ini akan tercatat?
Tawa kecil di trotoar saat hujan turun,
tatapan kosong di lift yang tak kunjung naik,
pelukan setengah hati sebelum pekerjaan memisahkan lagi.
Bisakah semua itu disimpan,
atau kehidupan hanya menyaring
yang spektakuler dan melupakan sisanya?

Kita tidak pernah diajari
bagaimana cara memeluk diri sendiri di sore yang hening,
atau bagaimana berdamai dengan bayangan
yang muncul di langit-langit kamar setiap malam.

Tapi mungkin hidup bukan tentang
kemenangan besar atau kekalahan dramatis,
melainkan tentang bagaimana kita tetap menyiram tanaman
meski cuaca tak tentu,
bagaimana kita tetap menjawab “baik”
meski suara di dalam kepala masih berbisik: “aku tidak tahu.”

Jika suatu hari nanti seseorang membaca surat ini,
entah di antara lipatan buku tua atau di catatan ponsel
yang tak sengaja terbuka,
biarkan ia tahu:
aku mencoba,
bahkan saat hari-hari terasa seperti kabut
yang menolak bubar dari kaca jendela

Hidup ini bukan pertunjukan.
Tapi jika memang panggung telah berdiri,
aku harap aku pernah cukup berani
untuk menari—meski tanpa musik,
dan tetap tinggal—meski tidak ada penonton.

Bukittingi, 2025

.

Di Balik Wajah Pagi

Pagi datang seperti utang yang belum lunas,
langit membentang tanpa maksud,
dan cermin di kamar mandi memantulkan wajah
yang tidak lagi kuingat bentuknya.

Kupakai baju yang sama seperti kemarin,
Bukan karena tak ada pilihan,
tapi karena semua warna telah kehilangan arti.
Hari berjalan pelan seperti luka
yang sengaja tak disentuh agar tak berdarah lagi.

Telepon berdering, tanpa nama,
aku biarkan—
karena suara siapa pun tak lebih nyaring
dari kebisingan dalam kepala.

Kehidupan tidak selalu membunuhmu dengan badai,
kadang ia hanya duduk diam,
membiarkanmu memeluk kekosongan
sampai terasa seperti selimut basah.

Aku ingin marah,
tapi tak ada yang bisa disalahkan selain waktu,
yang terus bergerak tanpa mengajak,
meninggalkan kita seperti debu di lemari tua.

Bukittingi, 2025

.

Surga di Bawah Meja

Ada dunia kecil di bawah meja makan,
tempat aku sembunyi sambil menggenggam biskuit
dan membayangkan diriku seekor naga,
penjaga kerajaan dari serangan sendok dan garpu.

Hari-hari tak punya ujung,
hanya jeda antara pelukan ibu
dan suara radio yang memutar lagu-lagu
yang kini tinggal gema dalam ingatan.

Waktu belum tahu cara mengiris,
belum pandai menyembunyikan luka dalam tawa.
Yang kupikirkan hanyalah
apakah bonekaku sudah makan siang,
dan apakah langit akan tetap biru setelah aku tidur siang.

Sekarang aku di sini,
di dunia nyata yang terlalu terang,
kadang terlalu sunyi.
Dan aku rindu tempat kecil itu,
di bawah meja,
di mana dunia tak lebih besar dari imajinasi.

Bukittingi, 2025

.

Hari yang Enggan Meminta Maaf

Hari ini enggan meminta maaf
atas mentari yang terlalu hangat,
dan aku pun tak akan meminta maaf
karena akhirnya tersenyum,
tanpa alasan yang jelas.

Kupotong roti dan kuoleskan selai
seperti merayakan kemenangan kecil
yang aku tahu hanyalah
aku bangun, dan tak merasa takut.

Langit seperti halaman kosong
yang siap kutulisi ulang dengan hidupku,
bukan dengan rencana besar,
tapi dengan langkah-langkah pelan,
dan tangan terbuka.

Kehidupan tidak selalu menepati janji,
tapi hari ini, ia datang membawa bunga
yang tumbuh dari pot yang dulu nyaris kubuang

Aku memutuskan untuk mencium harumnya.

Bukittingi, 2025

.

Yang Tersisa Setelah Pelukan

Cinta tidak selalu datang dengan bunga,
kadang ia muncul dalam cara kita diam bersamaan,
membiarkan keheningan berkata,
“Aku masih di sini.”

Kau bukan puisi yang harus aku pahami,
kau adalah ruang kosong di antara dua kata,
yang justru membuat kalimat itu bernyawa.

Aku pernah mencintaimu di pagi buta,
saat napasmu belum sadar dunia,
dan kau mencintaiku di senja,
saat aku terlalu lelah untuk berkata apa-apa.

Cinta adalah mengingatkanmu untuk membawa payung,
menyimpan screenshot percakapan lucu,
menunggumu selesai bicara
meski aku punya banyak hal yang ingin dikatakan.

Dan kalau suatu hari kita lupa cara berpelukan,
aku harap kita tetap ingat:
kita pernah membuat semesta iri
karena kita tidak ingin beranjak.

Bukittingi, 2025


Ilustrasi: After the Water, the Clouds (Rene Magritte), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Saddam HP – Rahim
Puisi-Puisi Ama Gaspar – Matahari dan Bulan di Sikka
Puisi-Puisi Polanco S. Achri – Apa Ular Boleh Bersedih?


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

11 thoughts on “Puisi-Puisi Rika Prima Nanda – Saat Hari-Hari Terasa Seperti Kabut”

  1. nah_ berkata:

    Terima kasih telah menciptakan puisi yang memeluk hati tanpa pamrih.
    Puisi yang maknanya mendalam hingga menyentuh hati para pembaca. Ungkapan penuh kehangatan yang mampu menyentuh jiwa.

    Kuharap, aku masih bisa terus membaca setiap karyamu, kak.
    Bahagia dan sehat selalu ya.

  2. zahra berkata:

    jatuh cinta sama semua puisinya. diksinya terlalu sederhana sampai tidak sadar menggores beberapa bagian dari dalam

  3. Nabila berkata:

    Menurut saya puisinya baguss menarik dan juga kata kata ringkasan nya good sama ceritanya menyentuh hatii dan di setiap baitnya pas dan konsisten

  4. lii berkata:

    puisi yang bagus dengan kata-kata yang menyentuh hati pembaca

  5. lii berkata:

    puisinya sangat bagus dengan kata-kata yang menyentuh hati pembaca

  6. vinzzz berkata:

    puisi puisi diatas sungguh menyentuh hati and yaa menarikkkk, terus berkarya kakak-kakakkkk

  7. OCTAMA DWITANINGSIH berkata:

    sangat suka dengan gaya bahasanya

  8. Hanan berkata:

    Penuh isi, dan pemilihan kata yang bagus

  9. Meimeij berkata:

    Cerita dalam puisi tersebut sangat menyentuh dan mampu membuat pembaca puisi masuk kedalam hangatnya arti dari kata perkata .

  10. Wiwid berkata:

    Cerita puisinya sangat menarik, pemilihan kata yang sangat mudah dimengerti sehingga dapat membuat hati tersentuh

  11. angel berkata:

    bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *