Menu
Menu

Ini semacam vakansi dua zaman:// Di tepi batang air itu, aku jalan menurun,/ Nasib pun bergulir tak tentu, beruntun


Oleh: Boy Riza Utama |

Sudah menerbitkan kumpulan puisi tunggal bertajuk Hindia, Sebentang Peta Kumal (2020). Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.


Dispereert Niet, Meneer

Dispereert niet, Meneer…

Demi kanal dan sejumlah sodetan Kali Ciliwung
Bikinan Tuan Jan Pieterszoon Coen yang agung

Atau Kanal Banjir Barat yang dibentangkan pada
Saat Johan Paul van Limburg Stirum berkuasa

Banjir di Batavia memang selalu mengalir leluasa
Buat menerjang kotapraja dari masa ke masa

“Dispereert niet, Meneer!” teriak para bumiputera
Ketika rumah sinyo dan noni dikuras babunya

Kalau nanti bah kembali tiba
Orang terkenang itu cerita

Dispereert niet, Meneer …

(2020)

.

Ang San Mei

—penghormatan untuk Pramoedya

Ang San Mei, yang menutup mata
Pada awal abad kedua puluh,
Terdengar seperti berkata,

“Minke, kita sudahi ini semua
Karena cinta, kadang-kadang,
Tak selalu punya daya
Untuk menaklukkan semua.”

Dunia yang demam kuning
Sudah berlalu dalam dirinya

“Tidak, Mei, kehidupan selalu
Menyediakan tempat dan waktu
Untuk menyembuhkan sesuatu
Termasuk bangsa yang sakit
—Bangsaku dan bangsamu.”

Minke hendak mengucapkan itu
Tapi demarkasi ini tak tertembus
Dan ucapannya, rasa-rasanya,
Belum setajam peluru

(Kata-kata masih berserakan
Dan belum selembut selai
Yang memolesi roti pagi
Di antero Gubermen)

Abad yang memalukan
Sedang berlangsung
Dan ia tahu itu

“Aku bikin Medan, Mei,
Karena teringat perjuanganmu
—Aku buat segala yang pernah
Kau impikan, tapi tak kesampaian itu.”

Masa-masa yang aneh
Berangsur berlalu
Meski Minke tak mengerti,

“Apa yang paling mencemaskan, kini
Apabila kuncir tak ada lagi?
Apa yang paling menentukan dari
Sebuah zaman yang tak punya perasaan?”

Minke ingin mengutip seorang Perancis
Yang mengucapkan kata-kata filosofis
Setelah penyerbuan Bastille—tapi ia tak mampu

“Mei mungkin buta warna
Tapi ia sudah menempuh
Hidup yang terang.”

Mendengar itu, Ang San Mei
Mengedipkan matanya
Pada awal abad dua puluh satu
Di depan seorang bocah
Yang menekuri bacaan tentangnya

Minke yang tulus
Tersenyum bangga

“Dunia lebih baik, sekarang
Dan rintisanku tak sia-sia.”

(2020)

.

Di antara Garis van Mook

Di antara garis van Mook
Dan dekapan aksi polisionil
Asmara berlangsung dalam sunyi:

Gadis Sunda dipinang seorang lelaki
Yang kelak tumpas di tangan kompeni

Gadis yang punya leluhur di Cianjur
Dan bujang yang kampungnya tak ada lagi

Sejak mortir pertama ditembakkan
Ke sana, pada abad kesembilan belas

Dari radio, si bujang mendengar:
Sebuah bangsa gagal berkhianat

Setelah Perjanjian Linggarjati
Sebelum kembali bertemu di Renville

Tapi di luar status quo, kini
Ia enggan mundur—setapak pun

Bersama laskar pembangkang lainnya—
Ia ikut menanti serangan balasan

Berupa agresi
Kesekian kali

Meski harus kehilangan tanah air
Dan asmara di antara garis van Mook

Sebab tahu kemerdekaan selalu bertaut dengan luka
Sehingga ia duduk membelakangi muasal maut itu—

Tuan yang kelak menanti hari penghabisan
Di L’Illa de Sòrga

(2020)

.

Ode bagi Reggie

1
Sebab bergawal hikayat Moenah
Dari situ berawal seluruh gundah:

Munci berlabel meubel, menjelma
Inventarisstuk milik abad lalu, juga
Woordenbook yang sabar untuk duduk
Memberi dan mengajari kata-kata baru

Dan jauh sebelum dutch wife ikut bergelung
Dalam kebudayaan Indisch nan adiluhung,
Sebelum Anna de Rommer mulai bikin praktik
Atau De Berebijt berdiri, ingatlah Coen punya taktik:

Anak gadis Eropa, sebagaimana adanya
Dalam Regering bij Plakaat pada 1625,
Bersama keluarga mereka, mesti berombongan
Datang ke Batavia sebagai jalan pembebasan

Dari hukuman Tuhan
Dan martabat para tuan

Lalu terkenang pandangan Roebiam
Dan pertanyaan yang berdebam—menghantam,
“Apakah peetjok bakal menular dari bibirnya,
Pada abad 20 itu, ke lidah dua putrinya?”

Tentu tak beroleh jawaban
(Memang galib demikian)

Maka mesti diingat: pada 1808, saat seribu kilometer
Jalan Raya Pos lahir di benak Daendels, dari Anyer
Sampai Panarukan, jumlah sinyo dilipatgandakan
Dan anak-anak Eurasia kembali ke pangkuan Holland

Namun, bisakah pengakuan itu mengalir bersahaja
Sebagaimana Putri Laurentien diterima keluarga
Kerajaan Belanda? “O, adakah yang tak mungkin
Buat ia yang berada di sisi Pangeran Constantijn?”

2
Sebab bergawal hikayat Moenah
Maka mesti berawal ini kisah:

Louis Baay berpisah dari perempuan inlander,
Dan pada tarikh ini: tahun 1919, 11 September
Seseorang yang lahir hari itu menulis cerita perih
Tentang perempuan yang berdiri di luar pagar, tersisih

Menatap sepasang bola matanya dalam-dalam, dalam diam,
Sebelum dihalau oleh pelayan yang bukan suruhan madam;
Ibu yang merahasiakan rindunya kepada Djengkilung
Di muka seorang bocah peranakan yang dulu ia kandung

Bukan sebagai hukuman Tuhan—
Hanya demi martabat seorang tuan

(2020)

.

Vakansi Dua Zaman

1/
Ini semacam vakansi dua zaman:

Di tepi batang air itu, aku jalan menurun,
Nasib pun bergulir tak tentu, beruntun

Maka dari sirahnya, kuraih keberanian
Semisal arak-arakan sapi dalam perkawinan,
Sebagai mahar, yang dulu ia tawarkan

Saat demam tentang tanah berpori minyak
Belum sampai ke situ dan ranji masih
Diusung tinggi, lekat sampai ke mimpi

Atau para saudagar dari negeri asing
Yang akan pulang membawa angan-angan

Soal rantau di pulau jauh
Dan kapal bermuatan penuh

2/
Ia leluhurku
Pejabat tinggi

Jiwanya tergadai
Di sebuah onderdistrik

Dan untuk setalam florijn sebulan
Matanya mesti menyaksikan bergantang emas
Ditukar kerja rodi serta penyiksaan

Sebelum Jepun masuk
Dan membuat gadis-gadis di situ melumuri
Wajah mereka dengan arang dan abu tungku

Tapi di jalan menurun itu
Di tepi batang air, aku pun sampai
Ke kediaman utama
Dan mendapati:

Di dinding dingin itu suaranya bersipongang,
“Jauh-jauh bersurai, di kubangan juga
Mayat sang bangau, kelak, habis terurai!
Tinggi-tinggi tupai mencari penghidupan
Mati dalam jatuh juga dan pudurlah harapan!”

(2020)

.

Filibustero

Demi rahib Dominikan
Yang menyediakan kediaman

Sudah kurahasiakan sedih di sebuah suaka
Bernama pikiran atau pintu ke lain dunia

Dan beratus kali cambuk serta tatapan
Publik kolonial hinggap di badan dan kepala

Tapi tak kunjung hadir pelbagai tanda:
Fajar dari barat, apokalips, dan kiamat

Mungkin hikayat belum selesai dirangkai puak
Dan mesti dengan darah juga, lagi-lagi,
Segalanya ditebus dan diberi arti:

Keputusasaan melimpah
Menjadi bah

Padahal kisah mesti berlanjut walau kitab
Etnologi ragu-ragu menyadur kemurunganku kini:

Dunia tambah mencekam,
Lambung tercekik lapar

Di luar, luka sebuah bangsa, melepuh,
Kegelisahan terus memberat-melebar

Sementara kematian tampak biasa berlangsung
Menghamparkan segala kecemasan
Dan memadat sebagai ruang bagi penyesalan
—O, rimba raya penyiksaan!

Mungkin ini semua agar aku mengerti
Dan mulai berdiri di luar koloni

Demi rahib Dominikan
Yang menyediakan kediaman

(2020)


Ilustrasi: Photo by Henry & Co. from Pexels | vakansi dua zaman

Baca juga:
Rumah untuk Nenek – Cerpen Goh Sin Tub
Tamu yang Tak Diharapkan – Cerpen Connie Rae White
Autotomi – Puisi-Puisi Wisława Szymborska

Bagikan artikel ini ke: