Menu
Menu

Membaca Cerpen Pilihan Kompas 2019.


Oleh: Gregorius Reynaldo |

Notulis. Pustakawan Klub Buku Petra.


Menutup tahun 2020 sekaligus menggenapi dua lusin buku yang telah dibahas di Bincang Buku Petra, Mereka Mengeja Larangan Mengemis – Cerpen Pilihan Kompas 2019 menjadi buku yang dipilih untuk edisi bulan Desember kemarin.

Sebelas peserta hadir dengan hasil pembacaannya terhadap kedua puluh cerpen yang terhimpun di dalam buku tersebut. dr. Ronald Susilo yang bertugas sebagai pemantik memulai dengan kesan pembacaannya terhadap dua puluh cerita dalam Cerpen Pilihan Kompas 2019. Ia mengaku mengalami kebingungan memilih cerpen mana yang paling baik secara pribadi, sehingga harus membaca beberapa cerpen hingga lima kali.

Untuk menganalisis cerpen-cerpen ini, setidaknya ada sepuluh poin utama yang digunakan oleh Dokter Ronald untuk melihat setiap cerpen. “Saya lihat dari judul dan pengarang, ringkasan cerita, konteks, setting (latar), tokoh, lalu gaya bahasa, tema, respons emosi (perasaan ketika membaca cerpen), scene atau potongan adegan yang membekas dalam cerpen, lalu yang terakhir sudut pandang,” jelasnya.

Dari sepuluh poin yang dipakai, satu hal yang sama pada keseluruhan cerpen adalah bahasanya yang sederhana dan mudah dimengerti, meski dengan setting tempat pada cerita yang tersebar di banyak wilayah dengan konteks dan temanya masing-masing. Seperti tema tentang kemiskinan pada cerpen Ahmad Tohari berjudul “Mereka Mengeja Larangan Mengemis” yang mengambil latar tempat di Jawa Tengah dan Jawa Barat, hingga pada cerpen “Hyang Ibu” karya Made Adnyana Ole yang berlatar di Bali. “Semuanya menggunakan cara bertutur yang sederhana,” ungkapnya.

Pada beberapa cerpen, Dokter Ronald merasa memiliki kedekatan dengan tema cerita, yang kemudian juga mempengaruhi respons emosinya ketika membaca. Seperti pada cerpen “Musim Politik” karya Seno Gumira Ajidarma. “Saya yakin teman-teman pembaca yang usianya lebih muda, tidak bisa masuk di cerita ini. Ini pemilu zaman dulu tetapi saya rasa dekat sekali, terutama dengan suasana politik di daerah kita sekarang,” tutur Penanggung Jawab Umum Bacapetra.co ini.

Kedekatan yang sama juga dialaminya ketika membaca “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” karya Miranda Seftiana. “Ini cerita dekat sekali dengan saya karena dia menceritakan seorang dokter spesialis kandungan yang hampir tidak punya waktu dengan keluarga. Jadi sudah pasti sibuk sekali di Rumah Sakit, apalagi cari waktu untuk bersama keluarga,” ungkapnya. Tetapi pada cerpen karya Miranda ini, Dokter Ronald menangkap kesan bahwa penulis terlalu cepat mengakhiri cerita, dengan menarasikan ibu dalam cerita tersebut meninggal keesokan harinya secara tiba-tiba.

Kesan ingin menyelesaikan cerita dengan momen-momen kebetulan juga ditemukan Dokter Ronald pada cerpen karya Rizqi Turama berjudul “Mek Mencoba Menolak Memijit”. “Saya tertarik sekali dengan cerpen ini. Saya tidak tahu berapa lama waktu yang penulis habiskan untuk menemukan judul cerpennya. Menarik karena sejak dari judulnya, penulis sudah membuat kita terkesan, kata-katanya diawali dengan huruf M,” jelas Dokter Ronald.

Cerpen ini bercerita tentang Mek dan suaminya yang kehilangan lahan garapan dan harus pindah ke kota provinsi. Kepindahan tersebut mempertemukan Mek dengan seorang perempuan yang memintanya memijit, tetapi Mek menolak karena sebuah alasan di masa lalu. Sekali lagi, dalam cerpen ini Dokter Ronald menemukan kedekatan dengan cerita yang dibangun oleh Rizqi Turama, tetapi juga terganggu dengan perjumpaan-perjumpaan yang ‘asal taruh’ agar tokoh-tokohnya bisa bertemu.

Lebih lanjut, Dokter Ronald menyampaikan sejumlah kesan mendalam pada beberapa cerpen melalui potongan adegan maupun konteks cerita yang dibangun masing-masing penulis. Pada cerpen “Celurit di Atas Tanah Kuburan”, Dokter Ronald menemukan kesan yang sangat dekat dengan realita kehidupan di Manggarai melalui kecemburuan dan upaya mempertahankan harga diri yang melatarbelakangi perkelahian antara Brodin dan Durakkap. Pada cerpen “Bambu-Bambu Menghilir”, potongan adegan yang berkesan digambarkan pada akhir cerita. “Ada momen ketika Serel dan Darlis bertemu. Mereka sudah pernah berkelahi, tetapi saat itu, mereka bertemu dan saling memaafkan. Dua lelaki ini menutup pertengkaran dengan jantan,” ujar Dokter Ronald.

Sementara pada cerpen “Hyang Ibu”, Dokter Ronald menggambarkan keseluruhan cerita dengan pesan bahwa budi baik selama hidup akan mengalahkan semua hal duniawi, termasuk uang. Pesan ini mewakili keseluruhan cerita di mana sang anak yang sedang bingung bagaimana melaksanakan upacara pemakaman ibunya yang membutuhkan uang yang cukup banyak, sebelum orang-orang yang berjasa pada sosok ibu tersebut datang dan menyiapkan seluruh kebutuhan upacara pemakaman. Saat tiba di hasil pembacaan cerpen ini, Dokter Ronald juga mengemukakan hasil penelusurannya soal biaya upacara, yang menempatkan Bali di urutan pertama untuk biaya upacara tertinggi, sekitar enam puluh delapan persen. Sementara pada cerpen “Mek Mencoba Menolak Memijit”, meski menemukan keganjilan dengan momen-momen pertemuan antar tokoh, Dokter Ronald juga menemukan adegan yang berkesan di paragraf terakhir “Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun demi mendengar ucapan terakhir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak untuk memijit.”

Cara Ahda Imran menggambarkan latar pada cerita “Pembunuh Terbaik” menurut Dokter Ronald cukup baik. “Keren sekali waktu dia menggambarkan kafe-kafe di Turki. Saya membayangkannya seperti adegan sniper di film-film.” Pada cerpen “Ramin Tak Kunjung Pulang,” Dokter Ronald juga kembali memberikan kesan yang sama, kali ini pada alur ceritanya.

Sebagaimana kesan yang baik saat membaca beberapa cerpen-cerpen dalam buku ini, Dokter Ronald juga menemukan beberapa cerpen yang memiliki kesan yang biasa saja atau malah cerpen yang tidak berkesan sama sekali. Seperti pada cerpen “Mbak Mar” karya Putu Oka Sukanta. Menurutnya, cerpen tersebut biasa saja, hanya bercerita hal yang umum terjadi, tentang anak sendiri yang lebih dekat dengan pembantu, dan kekacauan di rumah tanpa pembantu. Pada cerpen “Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi”, meski memasukkan sejumlah nama penulis kawakan Indonesia, “di bagian akhir cerita, ketika masuk ke tokoh saya, saya pikir ceritanya terlalu jomplang,” ungkapnya. Sedangkan pada Cerpen “Mati Setelah Mati”, Dokter Ronald merasa kurang bisa memahami ceritanya. “Saya kurang bisa akses, karena si penulis ini kalau kamu baca cerpen-cerpennya yang lain, hampir semuanya surealis. Ada orang yang suka, tapi saya tidak terlalu suka,” jelas Dokter Ronald.

Setelah mengulas kedua puluh cerpen satu per satu, sebelum mengakhiri sesinya, Dokter Ronald memberikan hasil pembacaannya secara keseluruhan dan pertimbangannya dalam memilih cerpen yang menurutnya terbaik di buku ini. “Setelah saya baca dua puluh cerita ini, ada beberapa yang saya baca berulang kali tetapi tetap membingungkan. Saya bahkan membaca ulang hingga lima kali, untuk memilih cerpen yang paling bagus. Pada dua puluh cerita ini, saya pakai 10 unsur (untuk menganalisis). Saya baca di pertanggungjawaban dewan juri, mereka menggunakan sembilan kategori penilaian untuk menilai cerpen-cerpen ini, dan dari dua puluh cerpen ini, saya mulai dengan menilai kekuatan ide. Dari sini, yang tersisa hanya sepuluh cerpen. Dari sepuluh ini, saya menggunakan keunikan tema untuk melihat cerpen tersisa hingga sisa tujuh cerpen. Begitu terus prosesnya, sampai pada makna cerpen dan relevansinya,” terang Dokter Ronald.

Cerpen pilihan Dokter Ronald akhirnya jatuh kepada “Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat” karya Agus Noor. Pertimbangannya dalam memilih cerpen ini adalah karena semua cerita tidak dibuang sia-sia dan semua pertanyaan dalam cerita dijelaskan dengan baik melalui cerita yang terus mengalir.

Selanjutnya: Cerpen-cerpen yang membicarakan kematian

Bagikan artikel ini ke: