Lelaki Setengah Abad yang Menemukan Ikan Besar Merah Jambu
17 Maret 2023| | 2 CommentsSeekor kucing di ujung depan jukung tegak menghadap daratan. Seekor ikan besar yang lemas di belakangnya. Seseorang nelayan yang mengayuh di ujung belakang perahu.
Oleh: Andri Wikono |
Lahir di Indramayu, Jawa Barat. Anggota Komite Filsafat dan Komunikasi Seni Dewan Kesenian Indramayu. Seorang buruh pabrik konstruksi. Menulis puisi, esai, dan cerpen. Buku Hawa Ratminah Waska: Esai-esai Sastra, Sosial, Budaya, dan Politik (Penerbit JBS, 2021) adalah buku tunggal pertamanya.
Tarkawi, seorang lelaki setengah abad bertubuh pendek, kini hidup sendirian di sebuah kampung nelayan yang sudah ditinggalkan para penghuninya. Rumah-rumah yang menghadap laut itu telah kosong dan hanya memperlihatkan pintu yang terbuka-tertutup dipermainkan angin. Perahu-perahu mangkrak di muara seperti cangkang kerang yang terserak tak berguna. Tempat pelelangan ikan tak lagi punya suara. Kampungnya kini tak lebih dari seonggok mayat yang pucat dan sunyi, dan dirinya bagaikan sesisik kesepian yang tak berdaya.
Ia duduk di beranda depan gubuk, di tepi pesisir, dan melamun. Di telapak tangannya terdapat sebuah kelereng bening sejempol kaki. Matanya memicing melihat kebeningan kelereng.
Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Selama ia hidup, kampungnya selalu ramai. Perahu-perahu bersilang-silang di kejauhan. Orang-orang menurunkan sesuatu dari atas perahu. Orang-orang menaikkan sesuatu ke perahu. Ikan-ikan di dalam boks. Ikan-ikan berjajar di jemur. Mobil-mobil bak terbuka datang dan pergi. Orang-orang menjahit jaring di atas perahu dan di depan rumah dengan ditemani lagu dangdut dari sebuah tape recorder. Orang-orang menimbang ikan dengan sebatang rokok yang tecantel di sudut bibir.
Kelereng itu dilemparnya sembarangan. Ia bosan.
Sebentar lagi kampungnya pejal oleh ritual nadran. Arak-arakan di sepanjang jalan. Pertunjukan seni selama seharian. Makan bersama-sama. Sesaji dan bunga-bunga. Air suci. Sebuah ruwatan. Pementasan wayang purwa dengan lakon Budug Basu[1]. Perahu-perahu dihiasi umbul-umbul beraneka warna. Perahu-perahu mengarak kepala kerbau. Melarung saji. Kampungnya menjadi warna-warni dan benar-benar hidup, tapi kini, kampung ini telah mati, mati, bukan mati karena sebuah peperangan panjang melawan perompak.
Tarkawi berjalan di sepanjang pesisir. Menjejakkan sandal belelnya ke pasir. Di ufuk, langit merah membara seperti dendam yang terperam lama.
Kampungnya kini bukan hanya sepi, tetapi berbau busuk. Tentu saja ia sering mencerap bau busuk dan amis. Tapi kebusukan ini sudah terlalu busuk. Dua minggu lalu, ikan-ikan yang sudah ditangkapi oleh para nelayan itu dibiarkan membusuk di gera-gerai pelelangan, di boks-boks ikan, di karung-karung, di ember-ember, di cepon-cepon, di atas perahu, di trotoar, di selokan, di depan rumah, di atas genting rumah-rumah, di sepanjang pesisir, dan di tepi laut. Ikan-ikan yang busuk bertebaran di mana-mana dan mengambang di mana-mana mengundang ratusan lalat, ratusan ribu lalat, jutaan lalat. Lalat-lalat hitam, lalat-lalat hijau, terbang memenuhi pengap udara busuk, dan bunyinya yang bersatu telah mampu mengundang kucing-kucing dan anjing-anjing dari segala penjuru.
Tarkawi berjalan ke pelelangan, seperti biasa, kucing-kucing dan anjing-anjing yang sedari tadi mendedel ikan pun mendadak tersibak mundur. Berdasarkan insting, mereka tahu, manusia bertubuh pendek itu adalah salah satu penduduk di sini yang masih tersisa, dan ia akan mengambil persediaan makanannya di sebuah boks ikan berwarna kuning yang berada di sudut pelelangan. Seperti halnya kucing-kucing dan anjing-anjing itu, dirinya tidak berkerja apa-apa dan tidak mencari makanan apa-apa, kecuali hanya akan menghabiskan hamparan ikan-ikan ini. Ia buka boks itu dan melihat seekor ikan tongkol yang tersisa. Tampaknya hanya inilah ikan paling segar di antara ribuan ikan yang perlahan mengeluarkan belatung atau yang sudah kering.
Kucing-kucing dan anjing-anjing itu menyaksikan seekor ikan segar yang dicangking oleh Tarkawi. Mata mereka menyiratkan rasa lapar. Sudah seharian ini mereka belum dapat ikan sesegar itu. Walhasil, mereka pun mengikutinya. Sadar bahwa dirinya diikuti hewan-hewan itu, Tarkawi mengusir mereka, dan membuat mereka tersentak dan menegang. Anjing-anjing dan kucing-kucing itu hanya melongo di kejauhan, menyaksikan seorang lelaki tua kecil masuk ke gubuknya, lantas mengolah ikan, menyayatinya di depan setumpuk kayu yang terbakar. Beberapa saat kemudian, ikan itu ia geletakkan di sebuah batu di samping setumpuk kayu yang terbakar itu, lalu mengambil batu-bata di belakang rumahnya.
Kedua kaki Tarkawi membentuk setengah huruf O. Orang-orang sering dengan nada meledeknya sebagai klowor[2]. Mata kanannya agak sipit dan penuh bekas sayatan. Itu karena ia pernah mengalami penganiayaan oleh sejumlah pemuda seusianya di sebuah acara unjungan buyut[3] di sebuah desa, 35 tahun yang lalu. Tarkawi tidak mengerti mengapa pemuda-pemuda itu menyepak-nyepaknya. Hanya setelah meludahi wajah Tarkawi, pemuda-pemuda tersebut berkata: “Perawakanmu mengandung teror bagi kami. Kami merasa terintimidasi.” Lalu mereka meludahinya sekali lagi, dan pergi.
Ia angkat empat batang batu-bata. Bertumpuk menyentuh dagunya. Ia tak pernah merasa perlu menggugat Tuhan untuk keadaan fisiknya, untuk kesebatangkaraannya. Sudah 50 tahun ia hidup. Ia bersyukur: Tuhan begitu luar biasa merawatnya lewat orang-orang baik di lingkungan pesisirnya.
Ia meletakkan batu bata itu, tetapi ia mencari-cari di mana ikannya. Rupanya ikan miliknya sedang jadi rebutan anjing-anjing. Segera dirinya mencomot sebuah batu bata dan berlari mengusir mereka. Ikan itu diseret oleh salah satu anjing. Ia mengejar—dengan langkahnya yang pendek—anjing itu sembari melemparnya dengan bata besar, tapi gagal. Tentu saja bata itu terlalu besar untuk diangkat. Anjing itu dikerubuti oleh anjing-anjing yang lain saat dirinya menyabet potongan batu. Ia lempari kerumunan anjing tersebut. Bubar. Ikan berpindah ke anjing yang lain. Ia kejar anjing itu. Ia lempari anjing tersebut. Tidak kena. Anjing itu berbelok ke sebuah gang dan di sana berkumpul banyak anjing. Ikan kembali jadi rebutan.
Ia menghela nafas dan segera melempari kerumunan anjing itu. Bubar. Ikannya sudah berpindah ke anjing yang lain lagi. Ia kejar anjing tersebut dan melemparinya dengan apa saja yang ada di sekitarnya: balok kayu, pecahan genting, ember pecah, tampah, maupun batang ikan. Anjing itu melompati boks-boks ikan di dalam pelelangan. Anjing-anjing lain mengejarnya. Begitupun Tarkawi. Ikan tersebut kembali jadi rebutan. Ia lempari kerumunan tersebut. Bubar. Dan lagi-lagi, ikan itu berpindah ke anjing yang lain lagi. Ia menyentuh kedua lutut dan ngos-ngosan. Sementara anjing tersebut berbelok ke sebuah gang. Ia berlari kecil, dan menyaksikan ikan tersebut kembali jadi rebutan. Ia melihat ikannya sudah compang-camping. Ia tak merasa tak kuat lagi jika harus berlari. Tubuh ikan sudah terbagi-bagi.
***
Tarkawi sempat yakin bahwa setelah satu bulan, orang-orang pasti kembali ke sini. Mereka pulang dari rumah-rumah temannya, saudaranya, atau keluarganya dan kembali ke rumahnya yang lama. Mereka kembali ke sini untuk menggarap laut sebab tak betah kerja di pabrik atau buruh tani atau kuli bangunan atau kenek bus atau apa pun di luar sana. Mereka pasti ingin kembali menggaet perahu dan berburu ikan. Dan seperti halnya dulu, Tarkawi pun bisa bekerja serabutan di sini: memanggul jala, menyulam pukat, menggotong ember-ember berisi ikan, membeli rokok buat para nelayan, membeli galon, membeli tabung gas, membuang sampah, dan apa saja.
Tapi tak terjadi bahkan setelah satu tahun, dan selama setahun ini pun kebiasaannya berubah. Setiap pagi, ia berjalan menuju jalan raya. Dari belakang pintu rumah makan di tepi jalan Pantura itu, seseorang membuang sisa makanan di sebuah karung besar. Tepat di situ ia mulai mengumpulkan serpihan nasi dan sisa lauk. Ia memasukkan nasi dan lauk sisa ke sebuah kantung kresek. Sering kali, seseorang dari balik pintu itu memberinya sekantung plastik berisi teh hangat. Kalau tidak ya, biasanya ia minum air sumur.
Di depan gubuknya, ia mencomot paha ayam yang koyak, tetapi dagingnya masih cukup tebal. Jangan berharap ada lauk ikan di warung itu. Orang-orang sudah tak lagi makan ikan. Bukan karena tak lagi ada nelayan, tetapi karena orang-orang jijik memakan ikan. Dan karena orang-orang yang sudah tidak mau makan itulah nelayan di kampungnya berhenti melaut, meninggalkan kampungnya demi mencari peruntungan di bidang lain. Ia tetap di kampung ini dan jika pun ada ikan, dirinya akan tetap memakannya. Persetan dengan anggapan kebanyakan orang. Namun, lantaran sudah ada jatah tiap pagi, ia tak mau ambil pusing untuk mencari ikan untuk makan, apalagi untuk dijual—tak ada orang yang membelinya. Beginilah awal mula para nelayan di kampungnya pergi.
Suatu isu beredar di kampungnya: ikan-ikan di laut itu makan bangkai manusia. Mayat-mayat mati di dalam karung, dan karung itu mengambang di permukaan laut. Sekelompok nelayan melihat gerombolan cumi yang membludak ke permukaan pada malam hari. Cumi-cumi gemuk itu mengerumuni sebuah karung yang koyak. Dan saat diangkat, karung tersebut berisi mayat gembung dan hitam berlebam. Cerita yang bermula dari cumi-cumi itu pun melebar ke ikan-ikan laut lainnya. Bahwa seluruh ikan laut juga makan daging mayat di dalam karung yang mengambang di muka laut.
“Goblok sekali, kenapa karungnya tidak diberi bandul!” Beberapa orang menceletuk dalam sebuah percakapan di warung-warung jauh dari pesisir.
“Mungkin tali bandulnya putus. Jadi mayat-mayat naik deh,” kata salah seorang dari mereka seraya membanting kartu.
“Berarti mereka tidak profesional!”
“Hus!”
“Lah, ya, dong! Masa jotos bisa, nembak bisa, nyeret bisa, interogasi sangar bisa, tapi mengikat karung saja tidak bisa!”
“Hus!”
“Kalau mayat-mayat naik, para nelayan kena getahnya!”
“Hmmmmm.”
“Skak!” Kata kerumunan catur di sebelah.
Para nelayan senang sekali ketika pertama kali mendapatkan ikan-ikan yang gemuk. Sama sekali tidak berpikir bahwa ikan-ikan itu makan mayat. Sama sekali tidak terpikir pula ketika menjual ikannya, harga ikan sekonyong-konyong jatuh, terlalu jatuh hingga jika dihitung-hitung tiada untungnya, bahkan rugi. Hanya butuh beberapa hari saja untuk membuat semua hasil tangkapan laut, apa pun jenisnya, tidak lagi laku.
“Belilah. Ikan-ikan segar.”
“Maaf, kami sudah tidak makan ikan.”
“Tolong beli. Ikan-ikannya sehat-sehat sekali.”
“Ikan laut makan mayat kok dibilang sehat.”
“Tolong beli, Bu, Pak. Ikan-ikannya bikin kenyang.”
“Yang ada ikan laut bikin muntah! Sudahlah, di musim karungan[4] begini beralih kerja saja. Melaut tidak ada gunanya sekarang.”
Sungguh, para nelayan pun membuang hasil tangkapannya. Para pemilik kapal mencampakkan perahunya. Semua orang yang bergantung dari ikan laut pun lesu. Walhasil, demikianlah mereka pergi meninggalkan pesisir, kecuali Tarkawi, Lelaki Setengah Abad yang sebatangkara. Ia merasa mustahil bertahan dengan kondisi tubuh dan wajahnya. Jangankan untuk mencari kerja kepada orang-orang yang baru mengenalnya, mencari teman pun begitu sulit. Belum lagi usianya yang sudah keropos dan di sela retakan tulangnya tumbuh melati dan kamboja—orang yang memperkerjakannya pun pasti selalu khawatir kalau-kalau karyawannya ini ambruk saat bekerja.
Nasi sudah habis ia makan. Tinggal sesuwir daging ayam yang tergantung di tulang. Seekor kucing kurap memandangnya dengan tatapan mengemis. Tarkawi tak tega untuk menghabiskan sesuwir daging itu, meskipun ia masih merasa lapar. Ia lempar lauk terakhirnya, dan menyaksikan Si Kucing Kurap itu menggigitnya dengan kuat.
***
Hari-hari masih sama di kampungnya yang sepi. Lukisan-lukisan pada lambung perahu-perahu di muara itu mulai pudar. Pukat-pukat di tiang-tiang perahu dan tiang-tiang rumah semakin getas dan kering. Ribuan ikan yang bertebaran di mana-mana menjelma fosil tulang-belulang. Darah-darah ikan di gerai pelelangan sudah lenyap. Jutaan lalat sudah menghilang, menyisakan beberapa ekor yang hilang sesaat. Anjing-anjing dan kucing-kucing semakin kurus, lalu pergi entah ke mana. Tarkawi merasa tubuhnya sudah semakin lemah. Mungkin penyakit kuning sudah menghinggapinya. Batuknya semakin menjadi-jadi. Ia merasa hidup ini mulai tak ada artinya. Seandainya ada maut di sampingnya, Tarkawi ingin menawar diri bahwa jika saya mati, tolong kuburkan di dalam tanah, bukan di dalam laut.
Pagi itu dirinya ingin melakukan sesuatu di luar kebiasaannya yang menjemukan. Ia tak datang ke pintu belakang warung makan langganannya. Ia merasa ingin sekali melaut. Sebuah jukung ia tumpangi dengan membawa sebuah jala yang masih cukup layak. Si Kucing Kurap memanggilnya seakan ingin ikut dengan Tarkawi. Ia pun membawa teman kecilnya. Bersama di sebuah jukung, laut pun berdenyut dan merasa kembali hidup. Cakrawala merah di ufuk sana seperti bibir Nok Tantri penjual jamu gendong yang juga sekarang entah ke mana.
Selama hidupnya, Tarkawi tak pernah melaut. Para nelayan di kampungnya pun tak mau mengajaknya karena tentu saja disebabkan kondisi tubuh Tarkawi. Tangan sekecil itu dan kaki sekecil itu tak bisa cukup untuk menggapai dan menarik pukat. Kasihan, kata mereka. Oleh karena itu, berada di sebuah jukung laiknya seorang nelayan, membuat Tarkawi tersenyum.
Sebuah siluet hitam mementaskan seorang bertubuh kecil dengan seekor kucing kecil di sebuah jukung kecil. Seseorang itu menarik jaring dengan susah payah, membuat jukungnya terombang-ambing dan kucing kecilnya meong-meong.
“Haaaaa! Ayo kemari ikan! Hayo!”
“Meoooong! Meooooong!”
Sebuah siluet memperlihatkan seseorang kecil mengangkat seekor ikan besar dan meletakannya ke geladak. Siluet ikan besar yang dua kali besarnya dari tubuh si nelayan. Ikan itu menggelepar-gelepar. Siluet itu menampakkan kegembiraan. Si nelayan berjingkrak-jingkrak. Kucingnya berjingkat-jingkat.
Matahari bulat besar. Berangsur tenggelam. Sebuah siluet jukung mengarah ke pesisir. Seekor kucing di ujung depan jukung tegak menghadap daratan. Seekor ikan besar yang lemas di belakangnya. Seseorang nelayan yang mengayuh di ujung belakang perahu. Burung-burung meruyak di langit. Laut kembali menampakkan gelombang setelah selama setahun lebih membeku. Tarkawi merasa kembali memiliki daya hidup. Seandainya ada malaikat maut, kali ini ia menego: menunda mati sebelum dirinya memberi kabar kepada orang-orang bahwa ia menemukan seekor ikan raksasa yang belum pernah ada selama 50 tahun lebih di dalam hidupnya dan hidup para tetangganya.
Si Kucing Kurap melompat dari jukung. Tarkawi menyeret ikan yang terkungkung jala. Meski ikan itu lebih besar dari tubuhnya, ia merasa mudah sekali menyeretnya. Ia menyeretnya ke depan rumah. Pasir menyisakan garis besar. Ia mengambil sebuah glodok dan sebuah ember. Glodok yang ditinggalkan tetangganya itu diletakan turun di samping ikan besar. Lantas dirinta berlari ke tepi laut dengan sebuah ember di tangan. Ia menyiramkan air laut ke tubuh ikan. Si ikan menggelepar, dan segera ia seret ikan di dalam jala itu ke mulut glodok, lalu glodok itu dijuntaikan ke atas. Mulut glodok ditutupnya dengan tripleks. Tarkawi menyejajarkan glodok, menyanggah bagian depan-belakang glodok itu dengan setumpuk batu. Ia menuangkan air laut glodok itu berkali kali, dan menciptakan kolam kecil untuk ikan besar dengan ekor yang menjuntai ke langit.
“Saya dapat ikan besar, Cing! Ikan Besar!” ucap Tarkawi seraya mencubit dua pipi Si Kucing Kurap.
“Meoooooong! Mengooooong!”
Langit kian gelap dan bulan bulat kian bercahaya. Cahaya bulan yang perak, membuat ombak laut berkeredap bagaikan penuh hamparan anting perak. Ia masih terlentang di samping glodok di dekat Si Kucing Kurap. Tarkawi tak pernah berpikir untuk menjual ikan itu. Lagi pula, sepertinya orang-orang masih tidak ada yang mau ikan laut. Betapa pun demikian, ia pun tak berniat untuk memakannya esok hari atau esok hari lagi atau esok-esok berikutnya. Sebagai sebuah pengalaman besar di dalam hidupnya, ia hanya ingin para tetangganya datang dan melihat ikan yang didapatkannya. Demikianlah dirinya hanya memandangi ikan besar itu. Di bawah sorot rembulan, ikan tersebut tampak seperti ikan kakap merah. Hanya saja ukurannya lebih besar dan warna merahnya lebih muda. Merah jambu. Tentulah ia gembira dan terlelap di sana. Si Kucing Kurap juga.
Tepat tengah malam, suara-suara manusia membangunkannya. Sudah ia pastikan bahwa para warga akan kembali, kapan pun itu. Dan inilah saatnya ia mempertontonkan betapa dirinya telah menjala seekor ikan merah jambu yang besar. Orang-orang akan mengelu-elukannya sebagai nelayan legendaris.
“Hey! Hey!” Teriak Tarkawi ke sebuah jalan kecil. Ia akan mengatakan kepada kenalannya bahwa dirinya menemukan sebuah ikan ajaib. Tiga orang muncul dari kegelapan semak. Cahaya rembulan menyorotinya. Tarkawi agak canggung karena tubuh-tubuh tegap dan wajah-wajah itu tidak dikenalnya.
“Apa itu tuyul?” Seseorang dari mereka bertanya kepada dua temannya.
“Sepertinya bukan,” kata salah satu temannya.
“Itu klowor yang biasa jual obat keliling,” kata temannya yang lain.
“Aku menemukan ikan besar! Ikan besar! Mungkin ini Budug Basu!” Tarkawi tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, meski pun kepada orang asing. Tiga orang itu menjatuhkan tiga karung di tangannya.
“Aku mendapat ikan besar!” Ucap Tarkawi sekali lagi.
Mereka mendekat dan memandanginya, lalu memandang ikan besar di gelodok. Si kucing kurap menggeliat.
“Ikan besar,” sekali lagi Tarkawi berkata dengan nada yang ragu.
Orang-orang itu mengamati tubuh dan wajah Tarkawi. Namun kemudian mereka berpaling dan menyeret karung-karung itu. Lalu melompati sebuah perahu. Beberapa saat kemudian kembali, dan mendekati Tarkawi. Tarkawi hanya bisa terdiam mengelus-elus ikan besarnya yang kadang gelagapan.
“Dapat dari mana ikan ini?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Saya menjala, tadi.”
“Bohong kau, bocah!”
“Saya tidak berbohong, Pa. Sore tadi saya menjala dan saya bukan bocah.”
“Tidak mungkin tubuh sekecil ini bisa mendapat ikan sebesar itu!”
“Tapi itu terjadi, Pa.”
“Kau berbohong, anak kecil!”
“Saya benar-benar tidak bohong, Pa. Itu jala yang saya pakai.”
“Jala milikmu?”
“Punya tetangga saya. Sudah lama dibiarkan di situ.”
“Kau pencuri!”
“Naik apa kau saat menjala?”
“Jukung.”
“Jukung milikmu?”
“Jukung tetanggaku. Sudah lama dibiarkan di situ.”
“Kau pembohong dan pencuri!”
“Tapi saya tidak berbohong, Pa. Jala dan jukung juga sudah tidak dipakai.”
“Diam! Glodok ini punya siapa?”
“Punya tetangga saya. Sudah lama dibiarkan di situ.”
“Heatrik! Apa itu bekas tato? Di mata kirimu?”
“Bukan. Itu bekas dipukul orang iseng.”
“Kau dipukuli karena kau pencuri!”
“Tidak. Tidak itu keliru, Pa.”
“Hmmm tampaknya, bila usia klowor ini bertambah lagi dan lagi, kelak ia akan menjadi penjahat besar dan membuat orang-orang lain tenggelam dalam kesesatan dan kekufuran5,” kata salah satu dari mereka. Dua temannya mengangguk-angguk. “Kestabilan negara pasti terganggu. Maka, sudah sepatutnya klowor ini dilenyapkan.”
Demikian, Si Kucing Kurap mengeong-ngeong melihat teman tuanya teriak ampun dan kelojotan di dalam karung dan hanya bisa mengeong saat karung itu dilempar ke laut. Laut yang baik akan memeluknya, meredam teriakannya.[*]
Catatan:
1] Sebuah cerita mitologis yang ada di masyarakat Cirebon-Indramayu tentang pertemuan Dewi Sri dengan jodohnya Budug Basu, Sang Raja Ikan.
2] Kata klowor dalam kontek ini merupakan sebutan sekaligus ledekan bagi orang yang tinggi badannya tidak tumbuh normal.
3] Acara peringatan bagi buyut: makam seseorang, petilasan, pohon, atau tempat yang di anggap keramat. Hampir setiap desa di Indramayu memiliki buyut.
4] Sebutan bagi peristiwa Petrus di Indramayu yang berlangsung dengan cara mengarungi target dan melancarkan aksi senyap pada tengah malam atau menjelang dini hari.
5] Kalimat ini merupakan adaptasi dari kisah Nabi Khidir yang membunuh seorang anak yang dianggap, kelak, akan membuat dua orang tuanya sesat dan kufur.
Ilustrasi dari Wikiart.org.
Baca juga:
– Gadis Keningar dan Onthel Belanda
– Tujuh Benda yang Ditemukan bersama Tubuh Arami

setiap cerita yang terdapat dalam buku ini menggambarkan tentang kehidupan yang mungkin tidak terpikir untuk menjadikan cerita pendek seperti cerpen dengan judul INI IBU BUDI yang sering kita dengar ketika duduk di bangku sekolah dasar, namun cerita ini juga mempunyai kalimat yang mendalam sehingga membuat saya memahami setiap kalimat yang terdapat pada buku ini buku ini sangat cocock untuk saya yang seneng akan cerita sedehana namun bermakna.
Penuh emosional