Puisi-Puisi Arif Purnama Putra – Badan Tak di Badan, Angan Tak Diangan
10 Februari 2025| | 0 Commentsmenung mana sebenarnya dipikirkan/ badan tak di badan/ angan tak diangan/ o, ini protagonis menjelma tumpangan antagonis – arif purnama putra
Oleh: Arif Purnama Putra |
Lahir di Surantih, Pesisir Selatan. Buku tunggalnya yang telah terbit Suara Limbubu (JBS, Yogyakarta 2018) dan sebuah novel Binga (Purata Publishing, 2019), serta Menyilau Tenju Langgai (Purata Publishing, 2023). Penghargaan yang pernah diraih antara lain Penerima Anugrah Sastra Andalas 2022, Pemenang Puisi Visual Payakumbuh Poetry Festival 2022, dan Emerging Ubud Writers and Readears Festival (UWRF) 2024.
di ubud, kekasihku
ingin kutemui lagi dirimu di ubud
saat lenggok sepasang tekukur
mematuk bunga-bunga kamboja
di halaman depan
tempat kau bisa duduk
memandangi langit ubud yang kemerahan
setengah bergerai keemasan
pada petang yang kian rebah
ingin kutemui lagi dirimu di ubud
bau dupa yang kau pasang tiap pagi
serupa wewangian pemanggil dewa-dewi
kataku, “pernah malaikat tersesat di sini?”
katamu, “bahkan yang menyerupaimu kerap mendatangi kami di sini.”
kau betina dataran tinggi
liuk jalanmu seolah sapaan paling ramah
lenguh—rengek kanak-kanak
aku bilang, “jam berapa ubud lengang?”
kau jawab, “lengang bersemayam dalam diri, tapi sepi ada di mana-mana.”
aku gertak kuda jantan
mengibaskan ekor layaknya harimau kelaparan
ketika kau mengatakan, aku ingin kau bertahan
tapi aku adalah hewan kandang
tak biasa keluyuran di padang lapang
kukira kau menanggalkan buhul di leherku
rupanya menarik jantan di saku celanaku
kancing-kancing itu tanggal
rurut sebagaimana janggal
saat kupandangi lenggokmu datang
ingin kutemui lagi dirimu di ubud
dengan petang kemerahan
daun-daun kamboja dan bunga-bunga lerai dari tampuknya
ketika tekukur menjadi pengantar
magrib yang diam
lagi, kau kata “malaikat tak pernah tersesat di sini.”
/ubud, 2024
.
mendatangi mujurmu
apa ini, kekasihku
tahun-tahun berubah almanak usang
kau mencipta bulan-bulan baik
aku menduru angan-angan
pancaroba kian uzur
semakin ke sana semakin susah ditebak
tapi musim lain mendekat
tak berisik
tak sumbang
tak serupa mumbang
malam-malam menghilang mambang
“musim mujarab ini, kekasihku
pagutlah segala nasib mujurmu.”
ini aku, kekasihku
nasib malang biar kutanggung
segala yang lansai mendekatlah padamu
biarlah piutang menagih lunas dariku
tunggulah aku di halaman belaka
membawa tanah sirah dan baju berkubang lecah
/padang, 2024
.
sepulang dari sana, kuingat wiji temanku
sudah serupa sakit ulak-alik
aroma badan masam bagai disengat matahari saban hari
bau sabun penginapan dan sampo racikan umbi-umbian
melekat lama di kulitku
tak sanggup direnggut peluh keringat
dibawa kecipak kolam renang,
serupa sungai di kampung-kampung kehilangan kanak-kanak
ia riang, berenang ragam gaya
air kaporit dan daun melati gugur tak karuan
ia bentangkan tangan
meluncur serupa kapal selam
tak sadar ia hanyalah biduk pincalang
pagi yang lembab,
aroma harapan dari asap doa
lengkap dengan sarapan; bunga dan biskuit
patung memandang kiri-kanan
pahat-memahat kadang tak jelas dibuat untuk apa
wajahnya bergambar murung
matanya nyala—nyalang menyerupai bara
wiji temanku
pria setengah taat
gelagat orang bagak
serupa tabiat anjing punco pemburu babi
/ubud, 2024
.
suatu petang yang demam
kami terbaring
di ruangan yang menguap aroma pesakitan
batuk bolak-balik terdengar
di luar cuaca kusut
berpilin antara baring dan murung yang tak tanggung
hujan deras,
lihatlah, anakku
kita sama-sama terkurung dalam demam sialan
mulutmu aroma tomat busuk
berbaur anyir kretek murahan dariku
kita hanya terbaring
memandangi hujan jatuh
dari ruang tamu
potret masa kanak-kanak
wajah ibumu dan aku seolah berkait
semua dipajang seolah layak disaksikan
kau terdiam, terbaring tangan telantang
kukira kau pulas
sebab matamu setengah nyalang
kau benar mirip ibumu
pintu rumah terbuka cukup luas
pandangan kita lepas
melihat awan berbohong:
gabak dan cewang
burung-burung pulang buru-buru
petang yang rebah malu-malu
kau memandangiku memelas
“baba, fufu baba, fufu baba.”
kita terkurung di rumah
ibumu terkepung di luar sana
/padang, 2024
.
di pagang; tiga hari bersama saut situmorang
ia memenggal nama-nama
dalam sebuah wawancara
di tangannya serupa bedil bergantung
kapan saja mulutnya dapat memerintah
tiga hari kulihat tak pernah ia menarik pelatuk
apa benar-benar berisi peluru
atau selongsong belaka
di tangan kanannya, sebuah pahatan menguar
seolah simbol ketangguhan
di tangan kiri, sunyi mendekam
sunyi yang beda, bahkan kata-kata tak sanggup menggambarkan
tiga hari bersama saut
kata-kata berpagut
sahutan timbul-tenggelam
tanya dan jawab tak sepadan
sudah serupa tukang galas pasar lengang
orang-orang memenggal namanya dalam diam
tapi kata-kata terus mendekatinya
mendiami segala ruang; tak ia tanggalkan apa-apa yang ia ketahui
mulutnya menjelma bedil tak ber-type
dibuat dari piuh tangan ibu
diolah tahun-tahun murung
tahun berkabung menyerupai pendam keju dari valtellina
tiga hari bersama saut
ia ceritakan jalan menuju rumahnya
taman dipenuhi mahoni
bunga-bunga mekar
dan doa-doa mujarab mengikuti
tiga hari bersama saut
aku ingat untaian kata-kata
“sakit dikandung badan siapa yang tau
tumpangan dari mana itu, mengapa membawa sunyi
ia kurung-berkurung
kepung-mengepung.”
menung mana sebenarnya dipikirkan
badan tak di badan
angan tak diangan
o, ini protagonis menjelma tumpangan antagonis
di mana pemberhentian selanjutnya
ia tidak tau
Ilustrasi: The Poet, or Half Past Three (Marc Chagall), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Iin Farliani – Paling Pudar dari Kata
– Puisi-Puisi Surya Gemilang – Jangan Sentuh Aku Dulu
– Puisi-Puisi Sunlie Thomas Alexander – Tahun-Tahun yang Menguning seperti Labu

Arif Purnama Putra menggunakan gaya penulisan yang sangat unik dan ekspresif, dengan bahasa yang sederhana namun sangat efektif dalam mengungkapkan emosi dan perasaan
Salah satu kekuatan kumpulan puisi ini adalah penggunaan metafora dan simbolisme yang sangat kreatif dan inovatif. Arif Purnama Putra menggunakan metafora dan simbolisme untuk mengungkapkan perasaan dan emosi yang sangat kompleks dan mendalam.
Kumpulan puisi ini juga membahas tentang eksplorasi identitas dan eksistensi, dengan Arif Purnama Putra mencoba untuk memahami dirinya sendiri dan tempatnya di dunia. Puisi-puisi ini membahas tentang perasaan kehilangan dan ketidakpastian, namun juga tentang harapan dan keinginan untuk menemukan makna dan tujuan hidup.
“Badan Tak di Badan, Angan Tak Diangan” oleh Arif Purnama Putra merupakan karya sastra yang sangat menarik dan mendalam. Dengan gaya penulisan yang unik dan ekspresif, serta penggunaan metafora dan simbolisme yang kreatif, kumpulan puisi ini membahas tentang tema-tema yang sangat personal dan intim, serta eksplorasi identitas dan eksistensi.