Yang Kami Ingat dari Omong Kosong yang Menyenangkan
14 Februari 2025| | 0 CommentBaik di Menunggu Minggu Pagi maupun di Omong Kosong yang Menyenangkan, Robby mematikan tokoh Ibu, walau dengan cerita dan cara yang berbeda.
Oleh: Gregorius Reynaldo |
Anggota Klub Buku Petra. Penyiar di Radio Manggarai.
Klub Buku Petra memilih Omong Kosong yang Menyenangkan sebagai bahan bincang buku pada Jumat, 8 Maret 2024 lalu. Ini merupakan edisi Bincang Buku Petra yang ke-62. Novela karya Robby Julianda itu terbit pertama kali pada Januari 2019, bercerita sepanjang sembilan puluh halaman, dan beberapa pembaca menganggapnya sebagai ‘cerita yang habis dalam sekali duduk’. Tidak salah, sebab Robby juga membuka kisahnya dengan tegas: Cerita ini akan berakhir dalam delapan jam ke depan.
Sepanjang cerita, hadir banyak potongan-potongan cerita melompat dengan cepat, pertemuan-pertemuan, juga kepergian. Penggunaan piranti intertekstual yang ditebar Robby Julianda sepanjang cerita juga menjadi pembacaan tersendiri untuk teman-teman yang hadir di Bincang Buku Petra malam itu.
Selama dua jam, sembilan teman pebincang hadir dengan pembacaan masing-masing terhadap Omong Kosong yang Menyenangkan: Beato sebagai pemantik, Nadya Tanja, Lolik Apung, Opin Sanjaya, Grace Djerta, RD Beben Gaguk, Yuan Jonta, Armin Bell, dan dr. Ronald Susilo.
Beato, sebagai pemantik, membahas kecenderungan Robby menggunakan interteks yang cukup banyak dan beragam dalam Omong Kosong yang Menyenangkan. Menurut Beato, ini bukan kali pertama Robby Julianda menggunakan referensi interteks dalam tulisan-tulisannya. Ia menggunakan teknik ini pada Pilihan Ganda dari Tuhan dan novel Menunggu Minggu Pagi.
“Bukan pertama kali (Robby Julianda) melakukan hal seperti ini (menggunakan interteks-referensi musik, film, dan lain-lain). Di satu cerpennya yang terbit di Tempo 2017 lalu, Robby menggunakan cara yang sama,” jelasnya.
Beato juga menemukan bahwa Robby cukup banyak mengambil referensi dari novel pertamanya berjudul Menunggu Minggu Pagi, seperti tokoh Sal dan Malano. Hal yang dibawa Robby dari novel pertamanya juga adalah cerita tentang perjalanan dan pulang.
“Kedua buku itu, memiliki kesamaan cerita tentang pulang, walaupun tidak identik. Di Menunggu Minggu Pagi misalnya, Robby Julianda bercerita tentang perpindahan tokohnya dari indekos ke kampung halaman, ke rumah bapaknya. Di buku ini, dia bercerita tentang bagaimana dia keluar dari pekerjaannya dan pulang ke kampung halaman,” kata Beato.
Beberapa kesamaan juga ditemukan pada cara Robby mematikan tokoh perempuan dalam cerita. Baik di Menunggu Minggu Pagi maupun di Omong Kosong yang Menyenangkan, Robby mematikan tokoh Ibu, walau dengan cerita dan cara yang berbeda.
Meskipun melihat kesamaan dalam dua novel itu dan kecenderungan menggunakan interteks yang banyak, Beato juga melihat Robby membawa cara bercerita yang baru. Seperti mitos-mitos daerah asalnya, kritik terhadap pemerintah, dan tulisan-tulisan yang arkais. Beato melihat hal-hal ini sebagai keberhasilan penulis untuk menangkap fenomena yang terjadi di sekitarnya, cerita-cerita yang personal, dan menyajikannya kepada pembaca.
Setelah Beato, Nadya mengambil kesempatan menceritakan pengalaman membacanya. Selama membaca novel ini, Nadya mengaku tidak berekspektasi apa-apa terhadap ceritanya. Ini pula yang didapatnya hingga selesai membaca. Nadya cukup terkesan dengan cara Robby membuka novelnya: Cerita ini akan berakhir dalam delapan jam ke depan—sesuatu yang dinikmati Nadya yang lalu membayangkan momen-momen seperti obrolan depan toko. Sal dan Lani ngobrol banyak hal, random tetapi juga detail. Namun Nadya merasa kurang puas dengan cerita yang terpotong-potong dan berpindah terlalu cepat. Perpindahan itu menganggu proses membacanya.
“Saya mengibaratkan ini seperti film dan banyak cerita yang kurang memuaskan. Seperti dalam film ada cerita yang terpotong-potong, tiba-tiba ada scene ini lalu berikutnya pindah lagi ke cerita yang lain,” jelas Nadya.
Juga pada beberapa cerita yang terlalu detail. Nadya mempertanyakan fungsi hal tersebut, yang mungkin tidak terlalu penting dalam bangunan novel ini. Di bagian akhir pembacaannya, Nadya mengaku bingung mengapa Robby memilih gambar kaleng sarden—yang menurutnya tidak signifikan dalam cerita—sebagai sampul buku ini.
Berbeda dengan Nadya, Opin Sanjaya mengaku menikmati buku ini. Opin bilang kalau beberapa potongan cerita dalam novel ini berfungsi dengan baik dan digarap dengan konsisten . Dia sudah terkesan sejak kalimat pertama. “Saya melihat Robby tidak mau bertele-tele dalam bercerita tetapi juga sangat hati-hati,” katanya.
Beberapa referensi seperti musik, aktor, dan humor, menurut Opin bekerja dengan baik. Menurutnya, buku ini bisa dinikmati seperti orang mendengarkan lagu. Namun, Oping juga menyertakan sejumlah catatan, seperti penggunaan diksi yang ‘mengganggu’.
Lolik Apung yang mengambil kesempatan setelah Opin seperti menjawab sejumlah hal yang masih jadi pertanyaan oleh pebincang-pebincang sebelumnya.
Dalam hasil pembacaannya Lolik berpandangan, buku ini mungkin menjadi kecenderungan sastra Indonesia hari ini. Potongan cerita yang banyak, perpindahan antarcerita yang cepat, dan kejadian yang tidak biasa menjadi alasannya. Juga pada simbol yang muncul. Hal-hal ini membawanya pada kesimpulan bahwa Omong Kosong yang Menyenangkan bisa digolongkan sebagai sastra kontemporer.
“Misalnya tadi interteks yang dia pakai seperti film adalah produk-produk budaya modern. Begitu juga dengan lagu atau humor-humor yang kebanyakan menurut saya cukup modern. Jadi di awal kita bisa menyimpulkan kalau Omong Kosong yang Menyenangkan bisa digolongkan sebagai karya sastra kontemporer,” jelas Lolik
Pengkategorian karya ini selanjutnya dilihat lebih jauh, antara sastra pakar dan sastra pasar. Ada karya yang disukai pakar tapi tidak disukai pasar, yang disukai pasar tapi tidak disukai pakar, dan golongan keduanya. Disukai dan tidak disukai. Namun Lolik menyerahkan kepada pembaca, ke mana mereka mau menggolongkan novel ini. Dirinya juga tidak lupa memberikan catatan terhadap novel ini terutama tentang relasi-kuasa.
“Saya melihat ada relasi kuasa dalam beberapa karya sastra yang kita baca selama ini termasuk buku ini juga. Ada relasi kuasa yang tidak seimbang. Tokoh Sal itu sepertinya diposisikan di titik yang superior dan Lani semacam perpindahan saja. Jadi saya lihat ini cenderung menganggap remeh Lani sebagai tokoh perempuan,” kata Lolik.
dr. Ronald Susilo mendapat kesempatan setelah Lolik. Memulai pembacaannya, Dokter Ronald menanggapi apa yang sudah disampaikan Lolik tentang cerita yang bergerak cepat, sesuatu yang dilihat sebagai kecenderungan sastra Indonesia hari ini. Menurutnya, perkembangan dunia sekarang berpengaruh juga terhadap cara orang membaca. Pembaca sudah mulai bosan dengan novel yang tebal, yang membangun ceritanya dengan sabar dan detail. Namun, dalam pandangannya, novel-novel seperti ini pada akhirnya kurang membekas di kepala pembaca.
“Nanti mungkin ada pertanyaan tentang tokoh novel yang mungkin paling membekas dalam pengalaman membaca seseorang. Tokoh-tokoh dalam novel ini mungkin tidak akan diingat atau cukup membekas dalam kepala pembaca karena tidak cukup kuat penokohannya,” jelasnya.
Terkait banyaknya potongan cerita yang bergerak cepat, pendiri Klub Buku Petra ini melihat banyak hal kecil diceritakan Robby dalam Omong Kosong yang Menyenangkan, tetapi seperti Robby tidak bersungguh-sungguh menceritakannya. Meski demikian Dokter Ronald mengaku tetap menyukai cara kerja Robby yang seperti itu.
Di antara pembacaan tersebut, Dokter Ronald banyak bercerita ringan tentang pengalaman-pengalamannya yang dipanggil kembali setelah membaca Omong Kosong yang Menyenangkan. Kaleng sarden yang muncul di sampul novel mengingatkannya pada pengalaman tinggal di seminari semasa sekolah. Lalu beberapa referensi interteks yang cukup akrab di kepalanya, seperti musik dan film.
Romo Beben malam itu menjadi pebincang keenam yang berbagi pengalaman membaca novel ini. Romo Beben mengaku menikmati Omong Kosong yang Menyenangkan. Pernyataan itu disambut riuh teman-teman pebincang.
Sepanjang pembacaannya, Romo Beben mengambil banyak makna dari novel ini. Misalnya tentang kesedihan dan kebahagiaan. Apa yang menjadi cerita-cerita yang biasa menurutnya mempunyai hal-hal yang tetap menarik. Hal ini yang menurut Romo Beben pada akhirnya menjadi pertimbangan mengapa novel ini muncul. Cerita-cerita tentang kesedihan dan kebahagiaan. Namun, sama seperti beberapa pebincang sebelumnya, Romo Beben memiliki catatan kecil pada hasil pembacaannya. Dia mengaku menginginkan ada kejutan di balik cerita-cerita yang biasa itu.
Yuan Jonta yang mendapat kesempatan berikutnya mengaku senang dan menikmati novel ini. Pada cara Robby Julianda menyampaikan kegelisahan, kritik, dan pada teknik menulisnya.
“Sepertinya Robby Julianda sedang berusaha mengungkapkan kegelisahannya. Ada banyak kritik sosial yang disampaikan secara lembut, acak, tersebar dimana-mana. Walaupun tidak membekas, tapi tetap disebut,” jelas Yuan.
Yuan juga melihat Robby sebagai penulis yang mempunyai kemampuan observasi dan pengalaman indrawi yang kuat, hal yang membuat narasi dalam novel ini bagus menurutnya. Teknik menggunakan kalimat panjang dan pendek di setiap paragraf kata Yuan cukup bagus, sehingga pembaca tidak bosan dengan novel ini. Namun, Yuan menilai novel ini mungkin akan lebih berkesan untuk dibaca jika Robby lebih memperdalam akar ceritanya.
Grace yang mendapat kesempatan berikutnya mengaku tidak terlalu menikmati Omong Kosong yang Menyenangkan. Hal ini karena transisi cerita yang cepat dan alurnya yang maju-mundur, sehingga pembacaan Grace akhirnya banyak pada kerja-kerja tokoh dalam cerita serta berusaha melihat bagaimana cara Robby menulis novel ini.
Grace bilang kalau tokoh Tom, yang nama aslinya Rustam, menarik perhatiannya. Grace menggambarkan Tom sebagai tokoh yang mungkin dibuat sebagai representasi penulis.
“Di semua kesempatan di mana tokoh utama ini ketemu orang baru, dia selalu menyebut Rustam. Saya bahkan sempat berpikir Tom atau Rustam ini sebenarnya adalah penulisnya sendiri karena dia digambarkan sebagai tokoh yang tahu banyak,” jelasnya.
Cara Robby menghadirkan tokoh-tokoh dan bagaimana potongan-potongan cerita disajikan juga mengingatkan Grace pada workshop penulisan cerpen yang dibawakan Yuan Jonta dan Marcelus Ungkang pada tahun 2023 yang lalu di Klub Buku Petra. Di workshop itu, Grace ingat ada satu materi yang menjelaskan tentang banyak hal bisa dijadikan cerpen, termasuk hal-hal remeh yang terjadi di sekitar.
Dalam workshop itu, Yuan Jonta juga menjelaskan proses menulis cerpennya tidak selesai dalam satu hari atau bahkan seminggu. Selama proses menulis yang lama itu, ada hal-hal yang terjadi di sekitar, dan hal-hal tersebut bisa juga dimasukkan ke dalam cerita.
“Saya akhirnya membayangkan kalau mungkin Robby Julianda itu juga menulis dengan metode yang sama, makanya ada banyak potongan-potongan yang dia masukkan ke dalam cerita,” jelas Grace menutup hasil pembacaannya.
Armin Bell menjadi yang terakhir menyampaikan hasil pembacaannya, sambil menanggapi beberapa hasil pembacaan teman-teman.
Armin melihat cara Robby menaruh referensi musik, cerita, film akan membuat pembaca ingat dengan hal-hal personal ketika terhubung dengan beberapa referensi interteks yang dihadirkan dalam Omong Kosong yang Menyenangkan. Dan hal ini, menurut Kaka Armin, bekerja dengan baik. Membaca halaman-halaman pertama Omong Kosong yang Menyenangkan juga mengingatkannya pada satu cerpen Ernest Hemingway, “Hills Like White Elephants”.
Bagaimana Robby membawa interteks, juga bagaimana ceritanya disajikan terhubung dengan beberapa buku dan cerita yang pernah Armin baca sebelumnya. Cerita yang disajikan sepotong-sepotong, membuatnya terhubung dengan penulis Jepang, Yasunari Kawabata, yang juga hadir dengan gaya menulis yang sama dalam novel-novelnya.
Armin dalam hasil pembacaannya juga menanggapi soal bagaimana tokoh perempuan digambarkan dalam cerita, hal yang sebelumnya juga disampaikan Lolik dalam hasil pembacaannya soal relasi-kuasa. Penokohan Lani, misalnya, adalah contoh bagaimana tokoh perempuan dihadirkan dalam cerita dari asumsi laki-laki.
Pada akhirnya, Armin memuji teknik menulis Robby yang baik, dan mengatakan bahwa ini menjadi buku yang menyenangkan untuk dibaca, dan bisa habis dalam sekali duduk.
Kesembilan peserta bincang buku malam itu sepakat memberikan bintang tiga setengah terhadap Omong Kosong yang Menyenangkan.[*]
Baca juga:
– Menekuni Karakter Pahlawan dalam Saga dari Samudera
– Karavansara, Bicara Relasi Homoseksual Tanpa Menuliskannya
