Menu
Menu

Grace Tioso juga menampilkan sisi lain etnis Tionghoa melalui tokoh Yuni dan Aming yang mudah dijumpai di mana-mana termasuk di Ruteng.


Oleh: Lolik Apung |

Sekretaris Redaksi Bacapetra.co. Puisinya yang berjudul “Sehasta Cerita di Sisi Api” tergabung dalam Antologi Puisi Sekelebatan Memori Patah Hati (GPU, 2024), kumpulan puisi dalam rangka 5 Tahun Jalan Bersama Bacapetra.co.


Buku ke-60 yang dibincangkan di Klub Buku Petra, pada Sabtu, 13 Januari 2024 berjudul Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso. Buku ini dibincangkan oleh 9 orang peserta, dengan Armando, seorang mahasiswa PBSI Unika St. Paulus Ruteng, sebagai pemantik.

Judul buku ini menurutnya sudah menarik perhatiannya sejak awal. Ketika membuka lembar demi lembar cerita, ia menyimpulkan jika judul ini menjadi metafora atas dinamika hubungan yang rumit antara pemerintah Indonesia dengan kaum Tionghoa yang berdiam di Indonesia. Buku ini berusaha menguak kesulitan-kesulitan berupa diskriminasi, penolakan, dan bahkan anarkisme yang dialami oleh orang-orang Tionghoa sejak kedatangan mereka ke Indonesia. Grace menampilkan kasus demi kasus partikuler dari bidang pendidikan, politik, hingga hubungan sosial antar warga. Puncaknya ketika salah seorang tokoh cerita, yaitu Marta berusaha memalsukan dokumennya agar bisa memenuhi persyaratan administrasi mendapatkan beasiswa kuliah di Singapura. Grace menggambarkan karakter-karakter tokoh dengan baik, meski dengan latar belakang cerita yang berbeda.

Cerita-cerita dalam novel ini digambarkan di beberapa negara dan tempat, seperti Indonesia dan Singapura, hal yang menurut Armando sebenarnya ingin menunjukan jika masalah rasial ini bukan hanya kasus yang terjadi di Indoenesia, melainkan juga terjadi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Lepas dari pembacaan yang disampaikan Armando, Berno Beding, dosen di Unika St. Paulus Ruteng yang menjadi teman bincang kedua pada malam itu menyatakan bahwa buku ini harus dibaca dari beberapa konteks seperti sejarah, pendidikan, politik, hingga satire-fiksi yang berusaha mengolok-olok pembaca.

Menurut Berno, judul buku ini yakni ‘perkumpulan anak luar nikah’, bisa juga berarti bentuk dan isi novel ini adalah gaya baru di kepenulisan fiksi Indonesia. Grace melukiskan karakter, latar, dan alur penceritaan yang membuat pembaca bisa ragu apakah ini fiksi atau faksi. “Faksi adalah sebutan untuk gaya penceritaan yang berusaha menggabungkan tulisan sastra dengan data dan fakta sejarah,” lanjutnya. Tempat-tempat yang dideskripsikan oleh Grace juga menampilkan konteks geografis yang nyata. Misalnya tentang kota Klaten (hal. 115).

Lebih jauh, ia terkesan dengan pemburu berita beraksi (bab 13) yang ada dalam diri Krisna. Menurutnya Krisna adalah tipe wartawan yang tidak mudah menyerah, yang mencari informasi dan data selengkap-lengkapnya, yang mungkin bisa jadi sosok wartawan ideal di zaman sekarang. Ia bertemu dengan Yuni, keluarga Marta, hingga mendapatkan informasi penting tentang akun @duolion163. Berno juga mengungkapkan, novel ini juga mengangkat isu politik dan hubungan negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya Singapura menjadi latar cerita karena Singapura adalah salah satu negara modern yang menerima keberagaman dengan lebih baik dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara. Di wilayah lain, stereotipe terhadap etnis Tionghoa lebih kentara dibandingkan dengan Singapura. Grace juga menghadirkan diksi-diksi yang membuatnya mencari lebih lanjut.

Iwan menjadi pembincang ketiga pada malam itu. Menurutnya Grace berusaha membandingkan perbedaan situasi sosial antara Indonesia dengan Singapura, juga berusaha menggambarkan intoleransi dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa; Grace memilih Singapura sebagai pembanding bukan tanpa alasan, sebab Singapura menjadi contoh kemajuan peradaban di melalui keterbukaan Singapura terhadap dunia luar. Iwan menyukai buku ini meski ada banyak diksi atau singkatan yang tidak dimengerti. Dalam novel ini, Grace juga mencatat peralihan generasi para tokoh dengan baik. Iwan melihat, perubahan-perubahan yang dicatat Grace dalam buku ini sebenarnya juga bermaksud mengubah perspektif pembaca tentang etnis Tionghoa: bahwa mereka adalah golongan yang tidak hanya berkecimpung di dunia bisnis, tetapi juga di dunia pendidikan, politik, fashion, dan lain-lain. “Itu justru memperkaya pandangan kita,” tutupnya

Armin Bell menjadi teman bincang keempat pada malam itu. Buku ini mengingatkannya dengan banyak hal. Menurutnya, apa yang dilakukan Grace adalah laporan jurnalistik humanis tentang sejarah etnis Tionghoa di Indonesia. Bulan Mei bagi etnis Tionghoa di Indonesia adalah bulan yang tidak menyenangkan. Selain peristiwa 1998, ada peristiwa Bandung di tahun 1963, juga lahirnya PP No. 10 tahun 1955. Peraturan ini salah satunya melarang etnis Tionghoa membuka usaha di desa, karena berpotensi menimbulkan kesenjangan ekonomi. “Aturan yang sama juga melarang mereka terlibat dalam dunia politik. Peraturan yang justru membuat mereka bertambah kuat, sebab mereka menginvestasikan semua energi yang dimiliki hanya untuk mengurusi bisnis,” papar Armin.

Meski demikian, menurutnya, Grace juga menampilkan sisi lain etnis Tionghoa melalui tokoh Yuni dan Aming yang mudah dijumpai di mana-mana termasuk di Ruteng, yaitu kelompok atau orang-orang Tionghoa yang memiliki cerita yang sama dengan khalayak. Grace menawarkan konsep cerita bergaya feature, yang membuat tokoh-tokoh cerita begitu dekat dengan pembaca. Ia berkisah pada hal-hal yang tidak diakrabi. Menurutnya buku ini ditulis melalui tokoh Krisna, seorang wartawan yang melakukan kerja peliputan melalui tulisan sejarah dan politik yang menimpa etnis Tionghoa. Membaca buku ini membuat kita terhubung dengan gaya menulis Dee Lestari yang cendrung pop. Karena Grace adalah orang Tionghoa, ia menjadi ‘orang dalam’ dalam usaha menulis etnisnya sendiri. “Ini adalah novel yang cepat dan bergerak ke arah visual yang baik,” papar Armin melihat kemungkinan novel Perkumpulan Anak Luar Nikah ini diangkat ke layar lebar.

Perbincangan kemudian dilanjutkan oleh Maria Pankratia. Ia langsung teringat buku-buku Kevin Kwang, Crazy Rich Asian, yang memiliki gaya penceritaan serupa Grace Tioso. “Di Indonesia ada Ika Natasha yang memiliki gaya, alur, dan karakter yang mirip. Novel ini adalah novel metro pop yang gaya berceritanya ringan dan mudah diikuti meski konfliknya banyak,” kata Maria.

Menurutnya, Martha adalah karakter yang unik. Meski ia seorang ibu dan seorang mahasiswa yang pintar, ia memiliki hobi spionase, dengan menjalankan akun @duolion163 yang khusus meriset dan memposting kebenaran tentang para calon pemimpin di Indonesia. Hal ini kemudian menjadi pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin Martha masih sempat ikut terlibat dalam dunia yang berbahaya di tengah statusnya sebagai ibu dan mahasiswi?”

Hal lain yang disukainya ada dalam diri tokoh Krisna, bahwa jurnalisme investigasi mempunyai peran yang signifikan untuk melihat satu peristiwa dari beragam sudut pandang. Jurnalisme seperti ini seharusnya jadi makanan-minuman harian pembaca dan juga harus menjadi metode kerja wartawan. Selain itu, buku ini juga mengubah persepsi Maria tentang orang-orang Cina. “Dalam pandangan saya mereka adalah kelompok orang kaya, padahal sebenarnya, banyak juga orang-orang Cina mengalami kemacetan ekonomi,” ujarnya. Maria juga kaget dengan ending cerita yang menampilkan Martha yang tetap dipenjara. Menurutnya hal itu hendak menegaskan supremasi hukum di Singapura.

Malam kemudian bertambah malam, kini giliaran Oping Sanjaya yang bertindak sebagai teman bincang yang keenam. Buku ini menurutnya menarik karena membuatnya berselancar banyak tentang kehidupan di Singapura: Singapura adalah negara hukum yang tertib; mereka juga ternyata memiliki slogan kurangi bicara, perbanyak kerja. Hal inila yang  membuat Oping menjadi tidak heran mendapat Martha dalam novel Grace Tioso ini tidak mengenal tetangganya. Slogan ini yang justru membuat kehidupan masyarakat Singapura teratur. Mereka sangat individualis yang menyebabkan interaksi antar warganya kurang—berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Oping juga mengakui jika ia menyukai cara kerja tokoh Krisna yang investigatif. Ia lantas mengkritisi sistem hukum di Indonesia. Sistem yang buruk menurutnya menciptakan pribadi-pribadi yang buruk, misalnya kasus pemalsuan identitas yang dialami oleh Martha. Martha sebenarnya adalah orang baik, tetapi berubah jahat ketika hukum mengharuskannya berbuat demikian.

Saya jadi pebincang ke ketujuh malam itu. Saya buka obrolan dengan menyatakan diri mencintai Indonesia apa adanya. Menurut saya, buku ini membahas banyak tema di antaranya adalah persahabatan, politik, beasiswa, eksil, hukum, dan diskriminasi. Tema yang banyak ini membuat ceritanya biasa-biasa saja. Berbeda dengan ketika membaca karya-karya Pram yang menulis dengan semangat perlawanan. Saya setuju jika misalnya akun @duolion163 dimatikan, juga setuju jika Martha memilih trial guilty dibandingkan plead guilty. Plead guilty membuat Marta mengaku bersalah dengan menjalankan masa hukuman yang tidak lama. Seandainya Marta memilih trial guilty, ada kemungkinan cerita akan menarik sebab ia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari kebenaran di hadapan hukum.

Arsy Juwandi datang sebagai teman bincang ke delapan malam itu. Ketika membaca buku ini, ia harus googling untuk mendapatkan visualisasi terhadap peristiwa yang menimpa masyarakat Tionghoa di beberapa tragedi sejarah Indonesia. Yang menarik dari buku ini menurut Arsy adalah cara Grace menciptakan karakter Martha. Grace sama sekali tidak mematikan potensi bersuara yang dimiliki oleh karakter-karakter Tionghoanya. Ia menemukan jalan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk tetap berpartisipasi dalam dunia politis. Membuat akun @duolion163 dan menyampaikan kebenaran apa adanya adalah ide perlawanan yang tidak buruk. Ide ini justru berhasil mengungkapkan kebenaran-kebenaran, meski kebenaran-kebenaran itu tidak disukai oleh banyak orang. Arsy menilai, Grace memikirkan ide ini dengan begitu matang.

Setelah Arsy, Yuan Jonta berkesempatan membagikan ceritanya pada malam itu dengan mulai menggambarkan ideologi ras yaitu pola hidup yang berbeda tiap ras yang ada di Indonesia. “Mengapa berbeda? Karena kebutuhan masing-masing ras ditentukan oleh habitat asal. Di habitat asal, orang mengalami iklim-iklim yang berbeda. Iklim yang berbeda ini kemudian menentukan karakter dan kebudayaan khas masing-masing ras,” jelas Yuan. Ditambahkannya, ideologi ras ini kemudian berkembang bukan oleh faktor alam lagi, tetapi oleh peraturan, hukum, dan situasi politik suatu negara.

“Apa yang terjadi pada sejarah orang-orang Tionghoa di perantauan merupakan konsekuensi dari peraturan, hukum, dan situasi politik yang terjadi di tanah rantau, meski demikian mereka tetap melancarkan semangat perlawanan. Salah satunya dengan menulis cerita, baik oleh ‘orang dalam’ seperti yang dilakukan oleh Grace maupun oleh orang luar, seperti yang dilakukan oleh tokoh Krisna,” tutup Yuan.

Bincang buku pada malam itu, berakhir pada pukul 22.00. Para peserta yang hadir sepakat untuk memberikan bintang 4 pada buku tersebut. Sampai jumpa di bincang buku ke-61.[*]


Baca juga:
Kita Pergi Hari Ini: Abadilah Anak-Anak dalam Diriku
Makan Siang Okta: Kami Membencinya tetapi Kami Ingat Semua Hal


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *