Puisi-Puisi Andi Batara Al Isra – Persembahan dari Duri dan Belukar
10 November 2024| | 0 CommentsSetiap fajar dan petang, kuletakkan/ mawar persembahan dari duri dan belukar
Oleh: Andi Batara Al Isra |
Buku solo pertamanya adalah kumpulan puisi Di Seberang Gelombang (Penerbit Sofia; 2019). Buku lainnya, Rumata’: Dua Belas Tahun Membangun Kebudayaan, yang ditulis bersama para peneliti dari Antropos. Saat ini aktif sebagai dosen di Departemen Antropologi Unhas dan sebagai peneliti serta manajer program di Antropos.
Epona
-in your nemeton, these grey stone walls
are cold and silent as the fallen.
Usai kauhidupkan tanah
dengan rahimmu, orang-orang
yang membangun kota dari abu
mandi darah dalam
lekuk ceruk tubuhmu.
Padas sakral menjelma hutan beton
profan yang lindap namun pantang
dipertanyakan. Bentang aspal
tak mengurai riwayat panjang
perjalananmu dengan manusia.
-while I stand before you, while we perish,
while I lay down a crimson rose.
Aku memilih jadi kuda
yang lari dari karavan dan pertempuran
lalu kembali ke padang lapang.
Meski terlalu sepi jika harus
menikmati sisa hidup bersamamu.
Setiap fajar dan petang, kuletakkan
mawar persembahan dari duri dan belukar:
telah menerjang tapak-tapakku
lewati waktu, tak mengapa asal
kau kekal menjaga segala apa.
-the sky is falling on me
as your hand’s turning old and weak.
Tapi sabar memang berbatas:
Mereka bertanya tentang pengasingan,
pengabaian, dan doa-doa yang tak didengar.
Mereka melempar sumpah sambil darah
terus tumpah. Kau pasrah pada mereka.
Dari tanah yang disiang merah, pohon
bangkai telah tumbuh, seluruh manusia
meraung dengan senjata
menusuk mulut. Apa
yang telah kita lakukan pada Ibu?
–
Catatan: Larik yang tercetak miring diambil dari lirik lagu Eluveitie, A Rose for Epona.
.
Syits
Tuhan lebih senang memberi Adam
hadiah ketimbang tulah,
lepas darah tumpah kali pertama
Hawa telah jadi ibu kesuburan.
Tuhan berkata, telah Kutundukkan
kuda-kuda dan padang-padang
padamu, ajarkanlah Idris dan seluruh sesiapa
tentang kuasa dan pengampunan ibu-bapakmu.
Tapi siapa yang menabuh gendang itu?
Perang akan meletus setelah pedang dan
lidah diasah menebas sesama saudara.
Kau lihat langit saga seperti amarah Tuhan?
Tapi siapa yang meniup seruling itu?
Malam menyala, orang-orang berpesta pascapemusnahan
semua kita. Adakah ampunan kesekian
setelah unggun hanya sisakan abu dan arang?
.
Lullaby
Aku berbaring dengan kunang-kunang:
cahaya bintang yang tersesat di kamar
dan tak bisa pulang.
Ibuku pernah bilang,
kalau kunang-kunang adalah
sisa api Prometheus yang lari terbang
karena tak ingin jadi dosa manusia.
Lalu aku membayangkan dosa-dosaku
memang serupa bara yang hanguskan
ingatanku sendiri tentang masa kecil
selain lagu dan cerita sebelum tidur.
Aku melihat jendela penuh
bulir hujan serupa mataku
yang basah dan tak mampu kubasuh.
Ayahku pernah bilang,
kalau hujan datang
dari keringat Zeus yang lelah
menjaga Pantheon dan dewa-dewa.
Lalu aku ingat keringat orang tuaku
memang seperti bandang yang ditampung
tubuh dan bajunya agar tidak jatuh
menetes ke pelupuk mataku.
.
MN938384.1
Kita kenang kau
lewat ketikan
epitaf di media sosial,
selepas jeritan yang tak terdengar
dan emotikon muram
berseliweran di beranda.
Cerita orang berderetan
tentang pantai, pesta, dan isolasi.
Kau terbaring dengan ingatan masa kecil
jauh sebelum ayah ibumu pergi.
Semuanya seperti biasa,
ramai pelintas dan penyintas
bicara tentang kematian
kau tanpa pelukan.
.
Necropolis
/1/
Bintang,
menjelmalah jadi kunang-kunang
masuk lewat sela-sela jendela
temani aku bermain sampai lelah.
Bulan,
menjelmalah jadi pembantu
ceritakan dongeng sebelum tidur
tentang orang tua yang terlalu sibuk.
/2/
Ibu kota telah memisahkan ibu dari kita:
bahan makanan terpaksa memasak sendiri dirinya,
ayah menatap kosong jendela sepanjang malam,
rumah adalah toilet yang tak pernah disiram,
anak-anak punah tanpa pernah tua, sebab ibu
telah lupa di mana terakhir rahim disimpan.
/3/
Kota ibu
penuh orang tua yang dikejar waktu,
luput melihat anak-anak mereka tumbuh.
Anak-anak tak kenal gunung dan laut:
tak kenal bintang sebab langit
malam terbakar lampu kota.
Tubuh mereka dingin dan tak karib matahari.
Orang-orang menanam besi yang subur
jadi beton bercabang-cabang hingga ke
dalam mimpi. Mereka takut pada tembok
dan pagar, tapi mereka hidup di dalamnya.
Mereka demam dan batuk begitu
membuka pintu, sebab udara penuh racun
yang tak bisa didaur Pohon
– di dalam mitos, pohon digambarkan
sebagai raksasa yang memohon ampun
saat rambut hijaunya dikutuk jadi abu-abu.
Kota ibu
penuh foto anak-anak yang tertutup debu,
luput saat orang tua mereka benar-benar terkejar waktu.
Ilustrasi: Rose Garden (Paul Klee), dari WikiArt.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Alejandra Pizarnik
– Puisi-Puisi M. Firdaus Rahmatullah – Titik Mata
– Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta

Puisinya sangat ngena dengan apa yang terjadi saat ini