Puisi-Puisi Sunlie Thomas Alexander – Tahun-Tahun yang Menguning seperti Labu
10 Januari 2023| | 0 Commentstapi tahun-tahun yang menguning/ seperti labu; diikat pita merah di sudut altarmu/ membuatku kesasar
Oleh: Sunlie Thomas Alexander |
Lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Menyelesaikan pendidikan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia sudah menerbitkan tiga buku kumpulan cerpen, sebuah buku kumpulan puisi, dan dua buku kumpulan esai.
Petak Sembilan
—tao see bio—
di sepanjang uluran nasib ini, sejarah
seperti bergeser dari tenungmu
hanya sepasang dewa pintu
dengan tombak runcing yang setia
menjaga waktu dan guci
dari kedatangan orang-orang
yang membumbungkan mimpi
aku mencari musim semi kedelapan
yang ditinggalkan oleh mereka
yang pernah berdagang di lorong-lorong ini
tapi tahun-tahun yang menguning
seperti labu; diikat pita merah di sudut altarmu
membuatku kesasar
dalam labirin kota tak bernama
yang kau rawat dengan semata gaib matamu
buah-buah menatap lapar, harum dupa
menyesaki jalan pulang
“hoi dewa bermuka ramah, berilah kami hoki,
dewa bermuka marah, jagalah kami dari amuk api!”
bersungut-sungut para pelancong
membakar doanya di guci
bersama merekalah, aku menepi
dari sebuah kota lain
yang hangus oleh benci
(hai bandar judi, dadu siapa
yang terberkati kali ini?)
Jakarta, 2009
.
Dongeng Peranakan
—maxine hong kingston
(tang ting ting)—
kau tahu, bilamana daun-daun
tak lagi kembali ke akar
: bibit berakar di tempat jatuh!
begitulah mereka memungut umpama
helai demi helai, sambil mengenang
suatu musim gugur kelabu
namun di atas tanah kita tumbuh, ribuan mil
dari pepokok batang silsilah—dipupuk
oleh tabah dan derita, maxine
kita bukanlah perindu
bukan pula pelupa yang lugu
karena itu kubayangkan ladang kisah baru
dengan sisa ingatan pada cerita ibu
yang lucu, tentang orang-orang yang
menjual sepetak kampung halaman
untuk tiket, uang saku,
dan masa depan biru
seraya itu kau takik dongeng kanak-kanak
di antara hantu-hantu yang terus
gentayangan dari waktu ke waktu
Yogyakarta, 2015
. tahun-tahun yang menguning seperti labu
Hong Kong (1)
hong kong adalah layar kusam
di gedung bioskop tua
penuh kecoa dan asap rokok
pada masa kecilku: ketika
chen lung memainkan jurus mabuk
dan setiap lelaki jatuh cinta
kepada lim chin ha
hong kong adalah surat-surat lusuh
berbau ikan asin dari daratan
yang telat tiba, dan cerita ayahku
tentang orang-orang miskin
berjualan korek api di mulut gang
hong kong adalah rasa malu negara tengah
yang mesti dipotong sebagai ganti rugi opium
setelah rakyat china dijadikan pemadat, dan
kota-kota pesisir dibombardir kapal perang
hong kong adalah ribuan perempuan indonesia
bekerja jadi pekerja migran, juga kenanganku
atas seorang gadis kecil ribuan tahun silam
(di samping sex shop, seorang wanita muda
merias diri dan melirikku manja, ingatkan aku
pada xiang gang xiao jie—kecantikan oriental
yang tersipu di halaman majalah lama)
.
Hong Kong (2)
setelah 100 tahun betah jadi koloni barat
mereka menolak kembali jadi orang china
seraya mengembangkan payung hitam
di jalan-jalan dan membakar ban
“God Bless Americans for
World Hero President Trump!”
tulis seorang anak muda pada posternya,
dan seorang nenek mengibarkan
bendera britania raya
setelah perang candu, setelah
jutaan bangsa han mati sia-sia
seperti anjing, 100 tahun silam
.
Hong Kong (3)
dulu di hong kong ada sebuah lagu,
mungkin semacam tongyao, yang
masih kuingat sama-samar terjemahannya
dalam bahasa Indonesia:
kita memang senasib
sama-sama bermata sipit
hidup di tempat sempit
dan makan pakai sumpit
Yau Ma Tei, Hong Kong, September 2019
.
Taipei: Kedatangan Kedua
kutemui lagi hujan dan angin yang sama;
langit berwarna resah, juga mereka
yang kadang lebih ramah dari cuaca
tapi papan-papan reklame yang meriah,
bimbang menyapaku dalam hànyŭ:
“bagaimana kabarmu selama ini
di selatan yang (semakin) gerah?”
di setiap ruas jalan yang ngungun
mengenang daratan besar, masih juga
aku kerap kesasar
ke kota-kota leluhur
yang luput dari rapuh ingatan
“di sekolah dulu kami lebih banyak
diajarkan membaca peta china, begitu
pula sejarah panjang bangsa han!”
samar kuingat cerita seorang kawan
hampir setahun yang silam
: dan ia masih terus mengangankan
kemerdekaan taiwan
tetapi aku hanyalah seorang peranakan
yang telah lama dilupakan (atau dicampakkan)
dari dongeng revolusi
di beranda rumah
Taipei, 2017
. tahun-tahun yang menguning seperti labu
Rumah
—untuk yonetha
seperti ibuku, kau pun akhirnya
menjadi alasanku untuk pulang
dari setiap lelah, dan tabah merayakan
hidup yang tak mudah
hingga kita sama mengerti, cinta adalah
sebuah kampung halaman berbeda
tempat tawa dan kesedihan
tak saling tepis-menepis
melampaui ibuku, kau bahkan
membuatku senantiasa betah,
juga percaya bahwa rumah
adalah rantau yang paling abadi;
tempat luka dan harapan
selalu saling menerima
hingga kelak anak-anak kita
bakal menyimpan rindu mereka
yang paling bengal
dalam bening doa
Yogyakarta, November 2022
Ilustrasi: Foto Kaka Ited (diolah dari sini).
Baca juga:
– Puisi-Puisi Arie Saptaji – Film-Film yang Kutonton Bulan Ini
– Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua – Cerita Dua Tanjung

Chen Lung, hmmmm. Jadi inget Fu Sheng. Puisi “Rumah”, perih tapi indah.