Puisi-Puisi Syeftyan Afat – Tidur di Dalam Mimpimu
10 Oktober 2025| | 11 Commentsaku tak tahu/ apakah aku masih terjaga/ atau sedang tidur/ di dalam mimpimu
Oleh: Syeftyan Afat |
Lahir di Pacitan pada 28 April. Santri di Pondok Tremas dan pernah aktif di Komunitas Literasi Soko Pena Attarmasie. Pernah juga bergabung di Komunitas Senja Bersastra di Malioboro. Saat ini ia sedang menekuni penulisan puisi dan esai, sembari mempersiapkan buku puisi perdananya. Salah satu puisinya masuk nominasi sayembara cipta puisi nasional Festival Sastra Yogyakarta 2025.
Arwah Kerinduan
dari celah genting
& rekah daun jendela,
arwah kerinduan mengendap
seperti kabut pagi
ia tak lagi kembali
pulang kepada rindang
hutan bambu
aroma tanah basah
& suara ayam jago
selintas bayang
kembali tayang
dari tubuh kecilmu
nyaris terlupa
suara sendal ibu
di lantai semen
menjadi semacam mantra
yang membuka pintu
menuju halaman waktu
kau lihat,
layang-layang dari plastik bekas
masih terbang di langit senja
& tangan mungilmu
masih memegang benang
dengan dada penuh harap
ada yang tinggal
& menunggu pulang
dalam setiap kesunyian:
gema tawa kecil di sela belukar,
suara katak dari parit
& deras hujan memukul
genting rumah tua
semuanya
menjadi arwah
semuanya
menjadi arwah
Damparalit, 2025
.
Arwah Kenangan
dari celah pintu setengah terbuka
kau lihat debu menari
seperti doa kehilangan muara
lampu minyak mengibaskan redup
dan lantai papan
menahbiskan langkah
meninggalkan tanda
sebuah arwah
menjelma desau bambu
dan bisikan sumur tua
ia mendekat
menghela napas pada dingin malam
mengangkat wajahmu ke kaca retak
bayangan berlapis-lapis
menyusun tubuhmu sendiri
di antara anak kecil dengan rotan
dan lelaki sunyi yang tak selesai
mencari jati diri
setiap bayang
adalah kamar kosong
penuh tikar lusuh & aroma kayu basah
kau dengar pintu kembali berderit
ada yang mengetuk dari dalam
hanya kenangan, hanya kenangan
ingin tinggal lebih lama.
2025
.
Arwah Kesunyian
kupandangi wajah ayumu
dini hari membungkus tubuh
dengan jubah kabut
dan suara-suara
yang berasal dari kerinduan
matamu
dua sumur tempat bintang-bintang tenggelam
& aku
menyusuri lorong dalamnya
tanpa peta, tanpa penanda
rindu lembap
menggeliat seperti lumut
di dalam paru-paruku
arwah kesunyian
menyentuh bayanganku
dengan jari-jari
mewujud asap
aku tak tahu
apakah aku masih terjaga
atau sedang tidur
di dalam mimpimu
2025
.
Rubaiyyat Arwah
1.
Arwah hanyalah cermin yang retak di dada bumi
menggigilkan wajah, tetapi tak pernah jadi
ia berjalan tanpa langkah, menimbang nasib
dalam cahaya yang tak selesai menyebut dirinya sendiri
2.
Sungai tak tahu dari mana ia bermula
namun arwah meneguk setiap riak sebagai doa
air itu tak menetes ke kulit siapa pun
hanya membasuh sunyi, hanya menafsir luka
3.
Kau kira kematian adalah pintu dari besi
padahal ia jendela, sekadar menatap dan tak bisa pergi
arwah adalah jarum jam yang patah di udara
ia menunjuk angka, tetapi tak begitu berarti
4.
Aku dengar, ia bicara dengan rahasia batu
setiap gema menolak tubuh, memeluk waktu
mungkin hidup hanyalah percakapan singkat
antara bayang dan cahaya yang makin pucat
2025
.
Rubaiyyat Arwah, 2
1.
Arwah memintal malam dari benang yang tak kelihatan
ia duduk di kursi kosong, bercakap dengan bayangan
waktu menolak digenggam oleh tangan manusia
tetapi menetes ke nadi sebagai bisikan
2.
Kubur hanyalah ruang yang bertugas menutup raga
sedang arwah berjalan di atasnya bagai udara
ia menukar batu nisan dengan aksara asing
yang tak terbaca, bahkan oleh doa
3.
Jika hidup adalah kitab, arwah halaman yang hilang
ditandai lipatan, baginya, tak pernah ditemukan pulang
tetapi, setiap pembaca merasa ia ada
seperti senyum samar di ujung terang
4.
Aku menatap cermin: wajahku sendiri menjauh
sebuah arwah menyelip di sana, merengkuh
mungkin tubuh hanyalah baju pinjaman
dan arwah menjahit ulang benang peluh
2025
.
Arwah Masa Depan
Masa depan adalah arwah yang belum menetas,
ia berputar di pusaran waktu,
menyamar sebagai janin di dalam rahim sejarah,
sebuah kehidupan baru belum kunjung diberi nama.
Ia berdiri di depan kita,
tetapi bayangannya selalu di belakang,
mengukur jarak antara janji dan kehancuran,
antara bunga plastik dan kubur yang berakar.
Arwah masa depan
pertanyaan yang menolak dirumuskan,
ia menunda segala kepastian,
ia menyembunyikan takdir dalam lipatan abu.
Kita menatapnya
seperti menatap cermin yang tertutup debu:
apakah wajah itu kita,
atau sekadar pantulan
dari tubuh yang tak pernah kita kehendaki?
Masa depan adalah arwah
yang terus menyalakan lentera di lorong buta,
setiap cahaya yang kita lihat
hanyalah pantulan
dari api
yang sudah lebih dulu padam.
2025
Ilustrasi: Joseph’s Dream (Mikalojus Konstantinas Ciurlionis), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Widya Mareta – Terjebak Pesta
– Puisi-Puisi Puji Pistols – Memoria Mario Ruoppolo
– Puisi-Puisi Candra Lesmana – Untuk Apa Ada Kesedihan?

puisi ini sangat lah bagus
mulai dari saat membaca judul , saya sudah sangat tertarik ….. dan saat membaca puisi nya saya seperti dengan mudah paham arti dibalik nya
gaull bgt bg
Sangat bagus aku suka
cerpen
Cukup baguss
Terasa melankolis, tapi saya suka
suka banget sama puisi puisinya
Puisi hasil perenungan. Sangat indah.
Bagus sekali untuk mendapatkan cuan
Keren abis