Bagian Terlewatkan dari Riwayat Guru Tawadu
7 Oktober 2025| | 8 CommentsMeski dekat dengan Guru Tawadu dan Marjili, sampai hari ini tak sekali pun aku menyinggung perihal Laila.
Oleh: T. Agus Khaidir |
Lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 4 Februari 1977. Karyanya “Ihwal Nama Majid Pucuk” adalah cerita pendek terbaik pilihan Kompas pada 2022 dan menjadi judul antologi yang memuat berbagai cerita pendek pilihan harian tersebut di tahun yang sama. Saat ini tinggal di Medan, Sumatera Utara. Bekerja sebagai wartawan dan fotografer.
Sehari setelah kematian Guru Tawadu, mengatasnamakan sumpah jabatan kepala lingkungan dan tanggung jawab moral kepada warga, Tamsil Kalimaya mendatangi Marjili Samsuri untuk memastikan kebenaran satu riwayat. Persisnya bagian lain dari riwayat Guru Tawadu, yang selama ini terlewatkan dan karenanya dianggap mendesak segera diungkap demi mengakhiri curiga dan syak wasangka.
Sebelum kesohor sebagai orang pintar; juru nasihat dan muara segenap tanya, Guru Tawadu melakoni pekerjaan tukang koyok. Tukang obat keliling yang menggelar lapak di tanah-tanah lapang, emper-emper toko, pelataran parkir, berpindah dari pinggiran kota yang satu ke pinggiran kota yang lain.
‘Tinggi gunung ada puncaknya dalam laut ada dasarnya, tiap sakit ada obatnya.’
Guru Tawadu, yang saat itu masih kerap mengenalkan diri sebagai Darlis Debijis atau Leboy Kenser El Dorado; nama-nama yang dipakainya untuk kirim-kirim salam di radio, di samping sesekali tampil juga dengan nama pemberian ayah ibunya; Adenan Jailani, memiliki beberapa asisten yang diajak mendampinginya berganti-ganti. Kecuali satu. Ke mana pergi ia tetap membawa Marjili Samsuri.
Sebabnya sungguh pasti. Seantero kota paham betapa memang tak ada orang yang lebih dipercaya Guru Tawadu selain Marjili. Mereka sudah berkawan-kawan sejak lepas remaja, sejak masih sama-sama bekerja serabutan menjaga rumah bilyar dan arena dadu kopyok milik Jalal Capitol. Pendek kata, selapik seketiduran sebantal sekalang hulu. Akrab dan rapat sekali. Seperti dua badan bersenyawa. Marjili memegang semua kartu rahasia Guru Tawadu, pun sebaliknya.
Dengan kata lain, Tamsil datang pada orang yang tepat. Persoalannya, Marjili bergeming belaka. Padahal ia telah dibujuk dirayu sedemikian rupa. Tamsil menyodorkan sejumlah uang kepadanya, selain mentraktir menu paling aduhai di kedai Idam Marley: Mi Bangladesh dengan dua telur mata sapi setengah matang dan sate kerang, ditambah Fanta Susu Dingin dalam gelas berukuran jumbo. Sebungkus Gudang Garam Merah, tentu saja, tak lupa diselipkan ke kantongnya.
Namun Marjili memang hanya tersenyum. Hanya menggeleng. Tamsil senewen. Barangkali setengah putus asa juga. Tanpa Marjili, bagian terlewatkan ini tidak bisa diungkap dan riwayat Guru Tawadu bakal selamanya tak lengkap.
Benarkah begitu? Tidak banyak yang tahu, sebenarnya ada orang selain Marjili Samsuri yang juga menyimpan riwayat itu.
Umumnya, orang-orang di kota kecil ini mengenal Guru Tawadu sebagai lajang tua. Padahal tidak. Saat masih keluyuran petantang-petenteng sebagai tukang koyok dia pernah menjalani pernikahan diam-diam yang berlangsung singkat dengan seorang perempuan, yang sebelum meninggal dunia kurang lebih setahun lalu, memintaku datang menemuinya.
Terang pesannya. “Setelah bertemu nanti panggil dia Paman, Om, Pakcik, Tuan, Guru, atau apa saja, lah. Terserah. Asal jangan Ayah.”
*
Kukira ada baiknya kuceritakan sedikit tentang perempuan ini. Terutama bagian ketika ia bertemu Guru Tawadu, merasa jatuh cinta, menikah, lalu berpisah. Namanya Laila. Pertemuan pertama mereka terjadi pertengahan Maret 1992, pada gelaran kampanye PPP yang menghadirkan Buya Ismail Hasan Metareum. Pertemuan berlanjut kurang lebih dua pekan berselang. Kampanye PDI di tanah lapang yang sama. Tak ada Guruh, tak ada Megawati, tapi ada Soerjadi.
Sebenarnya mereka sudah saling kenal lebih lama. Barangkali sejak dua atau tiga tahun sebelum hari-hari itu. Sebangsa kenal nama tak kenal rupa. Darlis Debijis atau Leboy Kanser El Dorado, ‘Pemuda Kesepian di Tanjung Pengasingan’, nyaris saban malam menyenggol Nilam Cahya, nama udara yang dicaplok Laila bulat-bulat dari sandiwara Nini Pelet. Kadang-kadang dia juga memakai nama Ayu Wandira, perempuan pemilik boneka kayu cendana di serial Mahkota Mayangkara.
Lewat kalimat-kalimat serba meliuk di ratusan lembar kupon atensi yang dibacakan penyiar, mereka pelan-pelan saling mengenal. Saling mengerti dan menyesuaikan diri. Sebelum kerap jadi sasaran salam Darlis Debijis atawa Leboy Kanser El Dorado, baik sebagai Nilam Cahya maupun Ayu Wandira, tak satu kali pun Laila minta diputarkan lagu-lagu Jamal Mirdad dan Farid Hardja. Sebaliknya, Tommy J Pisa, Obbie Mesakh, terlebih-lebih Richie Ricardo, juga tidak pernah masuk hitungan Leboy Kanser El Dorado. Sementara dengan identitas Darlis Debijis, permintaannya tak jauh-jauh dari Fariz RM atau Harvey Malaiholo, atau setidak-tidaknya Dian Pramana Putra dan Utha Likumahuwa.
Sepanjang tahun-tahun itu keduanya pernah beberapa kali merencanakan kopi darat, tapi selalu gagal sampai akhirnya bertemu di gelaran kampanye PPP yang kala itu disangka Laila menampilkan Rhoma Irama.
“Seperti Ani dan Ricca, Golkar dan Pe Tiga sama-sama menginginkan dia. Rhoma Irama terjebak dalam dilema. Satu sisi mencintai di lain sisi ancaman pencekalan menghantui. Jalan buntu, akhirnya dia memilih untuk tak memilih. Melepas yang satu menampik yang lainnya.”
Laila terpana setelah tahu laki-laki di hadapannya adalah orang yang sekian lama sekadar muncul sebagai bayang samar yang mengganggu hari-harinya. Segera ia mengaku sebagai Nilam Cahya dan Ayu Wandira.
“Astaga, tak disangka, ya, kita malah ketemu di sini. Aku Adenan Jailani.”
“Maaf. Maksudmu?”
“Namaku. Nama di luar radio. Panggil saja Jai.”
“Oh, ya, ya. Aku Laila.”
Pertemuan di arena kampanye PDI dua pekan berselang sepenuhnya mereka cari-cari. Mereka tak peduli apakah di sana akan ada orasi Guruh dan Megawati. Mereka bahkan sama sekali tak tahu siapa Soerjadi. Mereka hanya ingin bertemu muka, bertukar kata berbagi cerita dalam gurau-gurau senda.
Beberapa bulan berjalan, Laila mulai paham betapa kepiawaian Adnan Jailani merangkai kata tak lepas dari pekerjaannya sebagai tukang obat keliling. Namun bukan lantaran ini dia jadi dibekap ragu. Laila mulai mencintai Adenan Jailani, tapi dari Marjili Samsuri dia tahu laki-laki itu punya dua kebiasaan yang berpotensi membahayakan sekiranya kelak mereka betul-betul berumah tangga.
Laila baru mengenal Adenan Jailani tapi sudah lebih lama berteman dengan Marjili Samsuri. Tidak akrab betul tapi kenal baik. Mereka pernah satu sekolah di SMP dan SMA. Marjili satu tingkat di atasnya. Laila awalnya takjub saat mengetahui Marjili karib Adenan Jailani. Kebetulan yang menyenangkan, pikirnya, sebelum belakangan tahu betapa ternyata Marjili sedang kecanduan pil anjing dan rajin memasang nomor SDSB, dan Adenan Jailani mengikutinya.
“Tidak ada yang lebih celaka dari laki-laki pemabuk dan penjudi, Laila. Laki-laki seperti itu tak layak dijadikan suami,” kata ayahnya.
“Apalagi asal-usulnya tak jelas pula. Tinggalkan dia segera, Laila, sebelum makin jauh dan kelak hidupmu akan sengsara,” ucap ibunya menambahkan.
Letak masalahnya di sini. Hubungan mereka justru sudah terlanjur jauh. Saat Laila menyampaikan niat Adenan Jailani datang melamar, dia sedang hamil dua bulan. Ayah dan ibu Laila terperanjat dan murka, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak punya pilihan, tepatnya. Sehari sebelum akad, di hadapan seluruh anggota keluarga dan tuan khadi yang akan menikahkan, Adenan Jailani dipaksa bersumpah di bawah Alquran untuk berhenti menelan pil anjing dan menjauhi segala bentuk judi. Adenan Jailani menyanggupi.
“Saya akan jadi suami yang bertanggung jawab, percayalah,” katanya.
Tentu saja waktu itu tidak ada yang percaya. Termasuk Laila sendiri. Namun mereka pasrah saja. Apa lagi mau dikata. Barangkali inilah memang jalan terbaiknya. Bisa dipastikan tak ada kebanggaan yang bisa diharap. Namun paling tidak pernikahan akan menyelamatkan wajah keluarga dari malu berlarat-larat.
Maka menjadi kejutan besar bagi mereka tatkala menyadari betapa Adenan Jailani benar-benar berubah. Dia bahkan melakukannya dengan mulus. Hampir selalu ada konsekuensi bagi pemabuk yang mencoba menghentikan kebiasaan. Tidak sedikit yang malah jadi makin berantakan. Seperti Marjili. Setelah menegak sekaligus 19 butir pil anjing yang membuatnya semaput dan harus terkapar tiga pekan di ranjang rumah sakit, Marjili memutuskan berhenti. Namun di masa transisi dia malah minum dan mengisap ganja. Terutama minum. Sekali duduk di lapo tuak Marjili bisa menghabiskan dua teko besar sendirian.
Adenan Jailani tidak. Dia total berhenti tanpa konsekuensi. Tidak minum mengisap ganja apalagi. Kurang lebih tujuh bulan kemudian, berangkat dari saran dan petunjuk Jalal Capitol yang sudah melangkah lebih dulu, Adenan Jailani melepas pekerjaan sebagai tukang obat dan datang kepada Ramon Suleman bin Sayuti bin Munawar bin Baron bin Sayed Darwis El Berahim untuk berguru. Berjarak sekitar tiga atau empat bulan, Marjili Samsuri diajaknya serta.
Bagi mereka Ramon Suleman bukan orang jauh. Bertahun-tahun, mereka, juga rata-rata orang di kota ini, memanggilnya Leman Dogol lantaran kepiawaian yang cemerlang dalam perkara menghitung peluang dan kemungkinan dalam permainan kartu. Leman hampir selalu bisa menang, bahkan dengan bermodalkan kombinasi kartu paling jelek pada situasi terburuk sekali pun. Dia juga cukup diperhitungkan dalam ketangkasan dadu. Angka besar, angka kecil, entahlah, sepertinya Leman mampu membedakan suara tiap-tiap guncangan dadu hingga nyaris tak pernah menebak keliru. Ia mampir paling tidak sepekan sekali ke arena milik Jalal Capitol, dan disinilah perkenalan mereka terjadi. Demi mendapatkan tip Adenan Jailani dan Marjili Samsuri kerap melayani Leman sepenuh hati.
Leman sendiri pada dasarnya bukan orang sembarang. Dia memiliki garis keturunan orang-orang istimewa, dari ayahnya, dari kakek dan neneknya, dan terutama dari kedua buyutnya; orang-orang pintar dan berilmu dan lantaran itu dipandang terhormat. Oleh sebab itu memang cukup baginya untuk sedikit saja berubah, menyingkir dari meja judi, bertutur kata lembut dan bersalin pakaian yang lebih mumpuni, maka segenap kehormatan serta-merta kembali. Dengan jubah-jubah panjang, dengan atau tanpa sorban, tidak ada lagi yang memanggilnya Leman Dogol. Bermula dari dua-tiga muridnya, tuturan ‘Tuan Guru’ disematkan pula di depan namanya, yang lambat-laun jadi umum dan disebut dengan segan.
Tuan Guru Ramon Suleman tidak mengajarkan perihal agama. Tidak ada penekanan soal pahala dan dosa, sorga atau neraka. Tidak ada hukum-hukum yang konkret menyangkut Tuhan dan Ketuhanan. Pendek kata, tidak ada ayat-ayat. Dia bicara seputar manusia sebagai makhluk dan hubungannya dengan manusia lain dan semesta kemanusiaan. Tentang hidup dan kehidupan, cinta dan kasih sayang, dan Adenan Jailani, jadi murid yang terbilang paling cepat belajar.
Di lain sisi, selama periode ini praktis Adenan Jailani tidak punya penghasilan dan Laila mengambil alih peran sebagai pencari nafkah. Sangat berat baginya lantaran kondisi fisik yang masih belum pulih benar pascamelahirkan. Namun apa boleh buat. Demi anak dia memang harus bekerja. Laila menerima upah cucian para tetangga, menjajakan asuransi dan krim-krim pemulus wajah, serta menjadi bagian dari kelompok organ tunggal yang naik panggung di kenduri-kenduri pada penghujung pekan. Suaranya lumayan merdu, dan jika perlu, dapat menggoyangkan dada dan bokongnya sampai batas-batas tertentu.
Keadaan berubah setelah tuan guru meninggal dunia. Murid-muridnya tercerai-berai mengambil jalan sendiri-sendiri. Ada yang jadi penceramah, berjalan dari pintu ke pintu, sampai jauh ke luar kota. Sampai ke Bangladesh, sampai ke India. Ada yang bergabung dengan organisasi keagamaan yang dalam praktik kesehariannya tidak hanya bersinggungan dengan agama, tetapi juga berbagai isu sosial kemasyarakatan dan politik. Di antara yang menempuh jalan ini, tiga orang lolos sebagai anggota legislatif dan satu orang terpilih menjadi bupati. Ada yang memilih berdagang. Ada juga yang mengikuti tes CPNS, lulus, lalu ditempatkan sebagai staf administrasi di kantor camat. Adenan Jailani, atas saran Marjili Samsuri membuka layanan konsultasi. Seturut ajaran Sang Guru, layanan ini dijalankan tanpa patokan tarif. Meski demikian, Marjili membuatkan satu kotak kecil dari kayu, kira-kira separuh ukuran kotak infak masjid, dan meletakkannya tak jauh dari akses keluar masuk ruang praktik.
Titik baliknya di sini. Di luar dugaan banyak yang datang. Dalam sehari, praktik konsultasi Adenan Jailani bisa berlangsung lebih dari delapan jam, rata-rata 10-12 jam, dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam. Namun kelaris-manisan ternyata tak berbanding lurus dengan penghasilan. Orang-orang datang dan pergi dan benar-benar memberi seikhlas hati. Bahkan seringkali ditemukan amplop yang tidak ada isinya sama sekali.
Bagi Adenan Jailani tak jadi soal. Tuan guru mengajarkan keikhlasan, dan dia memang sebenar-benarnya ikhlas menerima segenap keikhlasan tersebut sebagai rezeki. Marjili Samsuri berbeda. Menurut dia, jika dibiarkan bentuk keikhlasan begini lambat laun akan mencuatkan kedongkolan, yang kemudian potensial meningkat jadi geram, jadi marah. Kemarahan, bilangnya, melunturkan keikhlasan. Maka tidak ada lagi kebaikan. Lebih banyak mudarat dari manfaat.
Marjili Samsuri lantas memberi jalan keluar. Konsultasi Adenan Jailani tetap bernilai seikhlas hati, tapi ada perubahan bobot dan durasi yang berpatok pada jumlah uang yang dimasukkan ke kotak sumbangan. Untuk ini Marjili melakukan dua perubahan revolusioner. Dia memindahkan kotak ikhlas ke hadapan Adenan Jailani. Kotaknya sendiri sedemikian rupa dimodifikasi; satu sisi kotak dicopot dan diganti dengan lembaran plastik transparan.
Laila menentang Marjili. Menurut dia, tindakan Marjili tidak saja telah melenceng dari ajaran tuan guru, lebih jauh juga seperti bermain-main dengan pokok-pokok hukum Tuhan. Marjili menampik. Pun Adenan Jailani. Perdebatan memanjang, dan ketika segenap ruang diskusi dan kompromi dirasanya sudah tertutup, Laila memilih angkat kaki. Sidang-sidang singkat di pengadilan agama berujung pada putusan cerai. Adenan Jailani bersedia membagi harta gono-gini. Laila menolak dengan alasan tak ingin ikut menanggung dosa. Ia hanya menuntut hak asuh anak dan majelis hakim mengabulkannya.
*
Meski dekat dengan Guru Tawadu dan Marjili, sampai hari ini tak sekali pun aku menyinggung perihal Laila. Tentu saja aku tidak memberitahu mereka, bahwa aku tahu persis, ‘Tawadu’ yang dilekatkan Marjili pada nama Adenan Jailani bukanlah sebangsa perwujudan sikap rendah hati; mengikiskan kesombongan atas segala bentuk kedigdayaan dan kecemerlangan pengetahuan di hadapan Yang Maha Agung, melainkan sekadar parodi. Kotak yang transparan di salah satu sisinya itu memang menjadikan Adenan Jailani ‘Tawadu’, atau ‘tahu warna duit’, mana yang besar mana yang kecil, hingga membuatnya bisa mengatur kapan harus bicara panjang lebar berbusa-busa dan kapan sekenanya saja.
Sekali lagi, aku tidak memberitahu mereka. Terutama Marjili. Aku tahu tabiatnya, dan tak ingin memberinya kesempatan untuk berbagi beban rahasia.[*]
Ilustrasi: Father of Unpleasant Duties (Adriaen Brouwer), dari WikiArt.org
Baca juga:
– Pulangnya Matahari yang Hilang – Cerpen Sulfiza Ariska
– Mengapa Hubungan Percintaan Harus Berjalan Selamanya – Cerpen Abul Muamar

Keren
Ceritanya sangat bagus
mantap
Ceritanya bagus dan menarik di baca jadi nggak bosan, aku suka banget
sangat menarik cerpennya..
Sangat bagus Ceprrenn nya
Ceritanya sangat bagus
Cerita nya sangat bagus