Menu
Menu

Pandangan tentang tubuh adalah konstruksi sosial. Han Kang membebaskan tubuh Young Hye dari kontrol patriarkat dalam novel The Vegetarian.


Oleh: Lolik Apung |

Dari Ruteng. Anggota Klub Buku Petra. Sekretaris Redaksi Bacapetra.co.


Identitas Buku
Judul Buku: The Vegetarian
Pengarang: Han Kang
Tahun Terbit Asli: 2007
Tahun Terbit Terjemahan Indonesia: 2017
Penerbit: Baca
Tebal: 222 halaman

***

Han Kang muncul sebagai kejutan dengan memenangi Nobel Sastra tahun 2024 yang lalu. Ia perempuan Asia pertama yang memenangi penghargaan itu. Salah satu karya yang dinilai Akademi Swedia adalah The Vegetarian (2007). Novel ini mengekspos tema-tema gelap seperti derita dan trauma manusia. Han tampak berusaha membidik rentannya manusia di tengah budaya over-konsumsi yang diwakili tokoh protagonis, Young Hye. Dengan memakai tiga narator berbeda, Young Hye hanya bisa bersuara melalui mimpi-mimpinya. Akademi Swedia menilai Han sebagai inovator prosa kontemporer yang berkarakter puitik dan eksperimental. Saya sepakat. Manusia bisa lebih puitik ketika dihantam penderitaan.

Setahun setelah Han menerima penghargaan itu, saya baru bisa membaca The Vegetarian. Saya pinjam dari perpustakaan Klub Buku Petra; ternyata buku ini hanya berjarak 10 langkah dari saya yang hari-hari duduk di perpustakaan itu tanpa sekalipun melirik dan membacanya. Apakah semua buku mesti dibaca? Atau hanya perlu membaca buku sesuai kebutuhan? Yah, kebutuhan mencari Han ternyata didorong nobel yang diterimanya. Saya wajib mencari dan membaca karyanya.

Buku ini bercerita tentang Young Hye, seorang istri yang bekerja sebagai seniman grafis. Young Hye diceritakan dengan memakai sudut pandang ketiga, dari tiga orang berbeda: Suaminya (Mr. Cheong) di bab I, kakaknya (In Hye) di bab III, dan suami dari kakaknya di bab II. Suatu hari ia memutuskan berhenti makan daging setelah mengalami mimpi buruk makan daging mentah (hal. 14-16). Esoknya ia memutuskan menjadi seorang vegetarian. Di Manggarai, mimpi makan daging berarti akan ada peristiwa duka yang datang melanda.

Keputusan Young Hye menjadi vegetarian itu menciptakan efek bola salju. Ia tidak hanya tidak mau makan dan masak, tetapi juga membuang semua daging dari kulkas ke tempat sampah. Ia juga mulai berhenti berbicara dengan semua orang termasuk suaminya. Sang suami lalu melapor ke keluarga istrinya itu. Kecaman dari seluruh anggota keluarga datang, khususnya ayahnya, seorang veteran perang Vietnam. Young Hye mendapatkan tamparan di wajah dan dipaksa makan oleh ayahnya (hal. 49). Di momen itu, ia mengambil pisau yang ada dalam jangkauannya dan mengiris nadinya dengan cepat. Makan malam yang seharusnya ceria berubah mencekam. Young Hye dilarikan ke rumah sakit.

Visualisasi meja makan ini adalah salah satu situasi absurd yang ada dalam The Vegetarian. Absurditas lain hadir tatkala Young Hye menyerahkan tubuhnya untuk digrafisi oleh kakak iparnya (hal. 98-106, hal. 123-128). Aktivitas grafis ini berulang hingga suatu hari mereka ‘tertangkap’ oleh In Hye (hal. 142-144). Respons mengejutkan datang dari kakaknya. Ia masih bersikap tenang menunggu suami dan adik kandungnya bangun tidur dan bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukan semuanya itu. Kontrol yang dimiliki tokoh ini menambah absurditas. Seharusnya dilukiskan dengan ribut, penuh amarah, dan tidak terkontrol. Namun Han tampak memilih jalan yang smooth. Ia menempatkan diri pada kacamata suami dan adiknya. ‘Adiknya sedang mengalami gangguan psikis, dan hal itu bisa dipahami’. Meski demikian, narasi ini tampak beraroma liberal, yang barangkali disadari oleh Han dan ingin dikritisinya.

Bagi saya, karya ini seperti gedoran di pintu moralitas yang bertahun-tahun di-cor melalui agama, lingkungan sekolah, dan adat-istiadat. Apakah bisa atas nama humanisme universal, adegan-adegan Han kompatibel dan dapat diterima di dunia referensial yang diacunya, dalam hal ini Korea? Apakah humanisme universal sastra yang diusung Han bisa dipahami oleh pembaca dengan cor moralitas yang tebal? Jika saya bertemu dengan penulis, pertanyaan utama yang mungkin saya ajukan lebih dahulu adalah bagaimana Han mengatasi demarkasi moral dunia timur dalam dirinya dan masuk ke rimba amoral yang absurd? Atau bagaimana Han berhasil membebaskan tubuh dari jubah moralitas?

Dalam salah satu forum menulis, saya menanyakan hal ini kepada pemberi materi yang juga penulis nasional. Jawabannya adalah ‘kalau demarkasi itu tidak bisa dilampaui, tidak perlu dipaksakan. Cukup bermain di batas itu dengan cara yang paling kreatif.’ Saya terdiam. Di beberapa kesempatan, saya merasa menulis melampaui batas moralitas memang menarik sekaligus menantang. Dan sialnya, saya tidak pernah bisa melampaui hal itu, meski saya juga belum melakukan riset apakah memang benar, karya-karya yang melampaui rasa moralitas selalu sukses?

Moralitas sebagai sesuatu yang sifatnya bawaan pabrik terletak di alam bawah sadar manusia. Penulis acapkali dibimbing oleh rambu-rambu itu dalam proses kreatif. Sedangkan pembaca melakukan internalisasi bacaan melalui selector moralitas. Meski sifatnya bawaan, ide tentang moralitas bukanlah ide bawaan. Ia dibentuk oleh pranata dan institusi moral yang eksis di lingkungan sosial, sehingga moralitas adalah konstruksi sosial. Di luar konstruksi itu, individu mudah dinilai sebagai amoral. Misalnya pranata masyarakat akan cendrung menganggap pria yang bertato sebagai orang yang tidak bermoral, meski ia rajin mengikuti kegiatan ibadat, tunduk pada perintah adat-istiadat, atau takut melukai semut. Tidak heran misalnya, Nietzche menganggap moralitas sebagai fenomena sosial. Ia tidak inheean di dalam individu. Individu-individu membentuk moralitas menjadi moralitas kawanan.

Lebih jauh, pandangan masyarakat tentang tubuh juga adalah konstruksi sosial. Han ingin membebaskan tubuh Young Hye dari kontrol patriarkat Mr. Cheong, suami In Hye, dan dari ayahnya si veteran perang. Itulah mengapa Han menggambarkan Young Hye menolak semua bentuk eksploitasi atas tubuhnya, kecuali gambar grafis. Ia hendak membuka lipatan-lipatan penindasan atas tubuh oleh sistem sosial patriarkat yang secara tidak sadar dipakai di dalam hubungan keluarga, dalam lembaga perkawinan, dan oleh negara, dengan tidak menempatkan Young Hye sebagai narator atas tubuhnya sendiri. Ia hanya menjadi narator di alam bawah sadar melalui mimpi-mimpinya (hal. 14, 22, 33).

Bagi saya, ketidakberdayaan perempuan menghadapi penjajahan patriarkat juga adalah ketidakberdayaan laki-laki. Patriarkat dengan segala tuntutan sosialnya, tanpa disadari melelahkan dan membentuk laki-laki yang tidak jujur dengan dirinya sendiri. Label ‘kepala keluarga’ yang disematkan sistem sosial, membuat mereka menghalalkan segala cara untuk menjamin asap dapur tetap mengepul. Apakah sistem masyarakat yang korup bisa dikaitkan dengan keberadaan sistem ini? Bisa jadi. Patriarkaitmembenarkan dominasi peran dan akses politik yang lebih besar kepada laki-laki dibanding perempuan. Penyelewengan menjadi tak terhindarkan dan bahkan dianggap wajar.

Dalam konteks Indonesia, moralitas menjadi alat kontrol penguasa. Masyarakat harus menyampaikan kemarahan atas kisruh yang menimpa negara dengan cara yang santun. Moralitas menginfeksi prosedur, meski amarah masyarakat adalah akumulasi dari kebijakan-kebijakan yang menindas. Bagaimana mungkin pendapat disampaikan dalam bingkai moralitas ketika ketidakdilan ada di depan mata? Dan bagaimana mungkin ketidakadilan dihapus hanya dengan berdoa bersama? In Hye barangkali adalah representasi atas moralitas yang menginfeksi prosedur. Ia masih berbaik-baikan dengan suami dan adiknya ketika mereka ditemukan berdua di atas sebuah ranjang.

Han bisa jadi tidak menawarkan solusi atas ini. Di akhir novel The Vegetarian, ia hanya melukiskan lanskap pegunungan dengan pohon-pohon berjejer yang menemani perjalanan Young Hye dan kakaknya menuju rumah sakit jiwa yang terletak di pegunungan. Pohon adalah tujuan inkarnasi Young Hye di mimpi-mimpinya (hal. 220). Ia dilindas konstruksi sosial, melalui tiga narator yang tidak memberikannya kesempatan untuk berteriak. [*]


Baca juga:
Tentang Menulis Liyan – Mahfud Ikhwan
Teman-Teman Saya dalam Novel Kambing dan Hujan – Marcelus Ungkang


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

3 thoughts on “Protagonis yang Dilindas Narator dalam Novel The Vegetarian Karya Han Kang”

  1. Ghoniy Evandra berkata:

    boleh si menarik

  2. Thiasalexander berkata:

    Uda bagus sih ini approve lahh

    1. nayzhaanhelis berkata:

      saya senang sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *