Menu
Menu

Menulis juga berarti berani bersikap kritis menanggapi ketidakadilan sosial yang terjadi.


Oleh: Marianus Mantovanny Tapung |

Dosen di Unika St. Paulus Ruteng, anggota Klub Buku Petra, penulis buku “Dialektika Filsafat dan Pendidikan”.


Pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University (2016) menunjukkan, tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (lihat di sini). Posisi paling atas diduduki Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, dan Swiss. Sementara hasil pemeringkatan khusus faktor keberadaan perpustakaan atau infrastruktur literasi, posisi Indonesia naik di urutan ke 36. Indonesia mengungguli Korea Selatan di urutan 42, Malaysia (44), Jerman (47), Belanda (53), dan Singapura (59). Salah satu artikel Kompas.com bercerita tentang “Tradisi Menulis Lebih Rendah daripada Minat Baca”.

Pertanyaannya, mengapa minat dan kesadaran menulis kita rendah? Ada banyak hal yang menyebabkannya. Saya melihat dua hal. Selain karena infrastruktur dan lingkungan tidak cukup mendukung, juga karena kesadaran sumber daya manusia untuk kegiatan yang satu ini belum mumpuni. Cukup banyak orang kita yang belum menjadikan semangat menulis sebagai bagian inheren dari hidupnya, terlebih untuk kalangan pelajar, mahasiswa, bahkan guru dan dosen. Cukup banyak orang belum tahu betul mengapa dan untuk apa menulis?

Nah, untuk sedikit memberi jawaban atas dua pertanyaan itu, saya coba mengupas beberapa pokok pikiran terkait dengan tujuan dan manfaat menulis.

***

Orang akan mengenangkan kita dengan perbuatan-perbuatan baik. Salah satu perbuatan baik yang selalu dikenang sepanjang sejarah manusia adalah dengan menulis. Menulis merupakan aktivitas menciptakan kenangan. Baik kenangan tentang diri, komunitas, dan dunia. Banyak kenangan di dunia ini yang terbentuk dalam struktur aktivitas menulis. Selain merupakan bagian dari aktivasi paduan raga dan jiwa manusia, kegiatan ini juga merupakan bagian dari pembentukan serpihan jejak-jejak literasi peradaban kehidupan. Kenangan dunia telah membuktikan bahwa peradaban manusia dari masa ke masa terbentuk dari proses literasi peradaban yang kuat; salah satunya dengan menulis.

Menulis menjadi bagian dari proses sosiologis, di mana orang bisa menyatu dengan lingkungan masyarakatnya melalui pikiran dan imajinasi yang tertuang dalam tulisan. Dia menjadi aktivitas pematangan diri di tengah masyarakat. Ketika menulis, seseorang melepas egonya dan berani melebur dengan ego sosial yang mengarah pada kematangan sosial. Karya yang dihasilkan bukan lagi miliknya pribadi, tetapi menjadi milik semua orang. Bahkan ada klaim, ketika tulisan seseorang sudah dipublikasi, maka maka karya itu menjadi hak milik semua kalangan. Semua orang bisa menafsirkan, mengolah dan bahkan memanfaatkan untuk kepentingan dirinya. Saat ini, penulis harus rela dan tulus untuk menyerahkan hasil karyanya untuk kepentingan umum.

Penulis yang baik, selalu berhubungan baik dengan masyarakat pembaca. Masyarakat merupakan laboratorium yang utama bagi penulis untuk melakukan riset-riset penting sebagai basis dalam menarasikan pikiran-pikiran dalam sebuah karya tulisan.

Menulis juga merupakan bagian dari proses psikologis, di mana penulis dan juga pembaca berada dalam ikatan emosional tanpa sekat ruang dan waktu. Penulis dan pembaca seperti berada dalam ruang dan waktu yang sama, bahkan berada pada lintasan perasaan yang sama pula. Ini bisa menjadi terapi mental dan kejiwaan seorang; seorang dimatangkan sisi mentalnya. Aktivitas ini merupakan pergulatan mental psikologis yang alot dan memakan waktu dan energi yang tidak sedikit; bagaimana menerka, memahami, dan mencerna suasana batin pembaca saat memuat sebuah tulisan, merupakan hal yang tersulit.

Dengan demikian, mereka yang memiliki karya dalam bentuk tulisan dan karya-karya lainnya, sangat dimatangkan secara psiko-emosional. Karya-karya mereka sepantasnya dihargai karena pergulatan psiko-emosional yang tidak gampang. Secara psiko-emosional, ketika menulis seseorang bisa mengekspresikan sisi manusiawi dalam dirinya, seperti suka dan duka, harapan dan kecemasan di dalam hidupnya.

Menulis berarti menciptakan ruang emosional, tempat di mana seseorang bisa menjadi diri sendiri sekaligus menjadi diri orang lain (pembaca), tanpa halangan dari pihak mana pun. Dalam ruang emosi tersebut, seseorang berhadapan dengan luka dan kekecewaan, duka dan kecemasan di dalam hidupnya; seperti menatap langsung segala derita dan kejahatan yang pernah dialami dalam hidup.

Menulis memiliki dampak yang menyembuhkan. Dengan melakukannya, seseorang menerabas jarak dan semua perasaan maupun emosinya. Kondisi inilah yang bisa menyembuhkan penulis, bahkan pembaca. Setelah menulis atau membaca, batin pun berubah. Ada perasaan lega yang muncul ketika seseorang menulis dengan jujur, apa yang menjadi harapan dan kekecewaannya. Ada semacam kesadaran, bahwa perasaan dan pikiran yang selama ini mendera menjadi lepas dan perasaan menjadi lebih tenang.

Menulis adalah juga bagian dari proses historis: seseorang sedang mengemban tanggung jawab moral untuk ambil bagian dalam membangun sejarah peradaban dunia. Sejarah menulis adalah sejarah milik para pelukis sejarah. Karena menjadi bagian dari pelukis sejarah, para penulis kerap diagungkan, diangkat martabat dirinya dan berpeluang merasakan kenyamanan surgawi kelak. Para penulis selalu dikenang dalam sejarah besar bangsa-bangsa. Bahkan ada bangsa yang besar dan terkenal di dunia karena penuh dengan penulis-penulis yang handal dan melegenda sepanjang hayat. Ada juga bangsa-bangsa yang sudah punah (Yunani dan Romawi), tetapi karena memiliki sejarah yang ditulis, masih dapat dikenang sampai saat ini.

Menulis bahkan merupakan bagian dari proses religius yang sejati. Sebagaimana para pendoa harus bersemedi dengan mencari ruang dan waktu yang khusus dan khyusuk, para penulis juga demikian. Mereka selalu dalam upaya hening untuk mencari inspirasi dan terang ilahi. Dalam hal ini, ruang imajinasi dan meditasi, tentu tidak saja dipahami secara teknis belaka, seperti harus ada waktu dan tempat khusus, tetapi lebih pada bagaimana penulis menempatkan dirinya untuk mendapatkan inspirasi di sela-sela kesibukan kesehariannya dan akhirnya menghasilkan karya.

Dalam konteks sebagai aktivitas religius, pepatah Latin ini mungkin bisa menjadi pendasarannya; “Qui bene scribat, bis orat” (Siapa yang menulis baik, berarti berdoa dua kali). Menulis adalah kegiatan doa. Doa syukur untuk mempersembahkan anugerah akal budi yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai binatang berakal budi (animal rationale).

Menulis adalah bagian dari proses ideologis. Selain merupakan upaya strukturisasi ide-ide liar dalam diri seseorang, kegiatan ini adalah cara paling efektif untuk menyampaikan ide-ide secara lebih sistematis dan terstruktur. Penulis dan pembaca yang ideologis akan memahami sebuah karya dengan cara yang lebih militan dan fundamental dari masyarakat awam, sebab mereka menyadari betapa sulit mengumpulkan, menyusun, merangkai, dan memolakan ide-ide liar menjadi sesuatu yang bisa dimengerti, baik oleh pembaca maupun oleh penulis sendiri.

Tujuan utama menulis dan membaca adalah terjadinya kartasis (pelepasan jiwa). Pelepasan jiwa merupakan tujuan yang harus menjadi luaran dari aktivitas membaca dan menulis. Inilah yang menjadi tujuan ideologis dari kegiatan membaca dan menulis. Wattimena (2016) menyebut, dengan menulis, seseorang mendapatkan ruang untuk mengekspresikan pemikirannya. Pemahaman ini akan membawa perubahan mendasar di dalam batin kita. Jika banyak orang yang mengalami perubahan batin, maka perubahan sosial juga akan secara alamiah tercipta.

Secara ideologis, kegiatan menulis, dalam konteks perubahan sosial, berarti berani mengungkap kebenaran; berarti berani bersikap kritis menanggapi ketidakadilan sosial yang terjadi. Di dalam politik, menulis bisa menjadi pemicu perubahan besar, seperti revolusi atau reformasi radikal. Menulis juga bisa memicu lahirnya gerakan pencerahan yang menyebarkan inspirasi ke seluruh dunia. Begitu banyak contoh atas hal ini, mulai dari reformasi Gereja, revolusi Prancis, sampai dengan musim semi Arab yang masih penuh ketegangan sekarang ini.

Menulis menjadi tanggung jawab moral sebagai homo sapiens (makhluk bijaksana, makhluk berpikir). Inilah yang menjadi keutamaan moral dari kegiatan ini. Seseorang yang melakukannya sedang mengemban tanggung jawab moral sebagai manusia yang ‘diadakan’ dengan kondisi memiliki akal budi dalam dirinya.

Dalam mengemban tanggung jawab moral ini, seseorang tentu harus menghasilkan karya terbaiknya, sehingga dapat memberi sesuatu yang bermanfaat bagi pengembangan diri orang lain. Dosa moral sosial yang tidak bisa diampuni (sakralegi) bila seseorang menulis hal-hal yang buruk, berikut berdampak buruk bagi sesama, baik dalam bentuk tulisan literal (buku), maupun tulisan digital di media sosial. Manusia yang bertanggung jawab secara moral, dapat menunjukkan jati dirinya dengan menulis secara baik dan benar. Seorang bisa dikenal baik atau tidak baik, justru dari tulisannya (You are what you write).

Menulis, sejatinya juga adalah bagian dari proses eksistensial. Penulis yang baik akan menegaskan keberadaan diri dan sesama dengan menghasilkan benih-benih pikiran yang baik pula. Karena mereka telah berbuat baik dengan segenap dirinya untuk kepentingan orang lain, maka para penulis kerap dihargai dan dihormati status sosialnya. Sudah cukup banyak orang menyadari bahwa dengan menulis, pikiran akan selalu dikenang, jiwanya tidak pernah mati, meski badannya tidak bernyawa lagi.

Menulis adalah bagian dari proses menegaskan keberadaan (eksistensi) di dunia ini. Bila Filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) mengungkapkan, “Saya berpikir, maka saya ada” (Cogito, ergo sum), untuk menegaskan keberadaan manusia di dunia ini, maka seorang penulis memiliki falsafah sendiri, yakni: “Saya menulis, maka saya ada” (Scribo, ergo sum). Menulis adalah upaya menegaskan keberadaan diri dan mengakui secara elegan keberadaan orang lain.

Secara eksistensial, siapa yang tidak pernah menulis, bisa dikatakan sudah mati sebelum meninggal. Semua orang tidak tahu kapan dan di mana raganya mati. Namun, meski raga mati, yang bisa tertinggal adalah kenangan. Kenangan akan kebaikan. Biarlah orang akan mengenang dengan tulisan-tulisan kebaikan. Seorang penulis kelahiran Prancis keturunan Catalunya dan Denmark Anaïs Nin (1903-1977)  berkata, “Kita menulis untuk merasakan kehidupan dua kali, pada saat itu, dan ketika kita mengingatnya di dalam tulisan kita.” (*)


Baca juga:
– Membaca Musashi | SAYA DAN BUKU
– Sejarah, Ingatan, dan Fiksi | ULASAN 

Ilustrasi: Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Bagikan artikel ini ke: