Melukis Grindelwald
17 Oktober 2025| | 11 CommentsIa sedang melukis seorang wanita berkerudung hitam, dengan latar gelap, sedang membaca kitab suci.
Oleh: Yuan Jonta |
Cerpenis asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Salah satu cerpennya ada di buku Antologi Cerpen Bacapetra.co, Pelajaran Menyetir (GPU, 2024).
Di ujung jari-jemarinya yang panjang dan ramping, bulu-bulu tumbuh meruncing. Saya perlu menyentuhnya suatu kali hanya untuk memastikan kalau yang saya lihat itu memang nyata. Sedikit kaku tetapi tetap lembut, selayaknya serat kuas kering, bau cat dan terpentin merayu menusuk hidung.
Dia bekerja seperti seorang pianis: lembut, berirama, dan cekatan; dengan sepuluh jari dia melukis wajah-wajah yang tampak benar-benar hidup.
Suatu hari, saat sedang asyik menggeser-geser video pendek di layar telepon—yang membosankan dan menyenangkan, saya menyaksikan atraksinya yang menakjubkan. Ia sedang melukis seorang wanita berkerudung hitam, dengan latar gelap, sedang membaca kitab suci. Di masa teknologia, sudah cukup banyak pelukis yang cekatan dan rapi. Namun Xora, dengan palet kayunya, selalu berhasil menampilkan gambar-gambar yang membangkitkan kenangan.
Suatu hari saya mengunjungi galeri kecilnya, sebuah ruangan sempit dan bersuara pendingin ruangan yang saling berebut ruang dengan nyanyian lembut Sinatra. Lukisan-lukisan wajah dipajang hampir di seluruh dinding. Rapat, tidak sejajar, tetapi sungguh menarik. Semula dia berpikir kalau orang bertopi koboi itu datang untuk membeli lukisannya. Rupanya, saya meminta sesuatu yang lebih personal, tentu dengan harga yang tidak biasa.
Saya memintanya menjadi pelukis pribadi.
Di pertemuan kesekian ini, dia menatap saya sebentar, kuas-kuasnya masih di udara, menari seiring saat dia memainkan jari-jarinya. Ia seakan mengundang saya memandang ke sana.
“Hari ini mau melukis siapa?” katanya saat mata saya tertuju pada gerakan manisnya itu.
“Johnny Depp,” jawab saya. “Saya sedang memikirkannya tadi malam.”
“Jack Sparrow?”
“Grindelwald.”
“Baiklah.”
Langit terang. Dari ventilasi, cahaya tepat menyentuh wajahnya. Garis-garis wajah itu menjadi tegas dan licin; melihat saya, ia memberi senyum tipis. Ia kemudian membuka perkakasnya, menuangkan cat ke atas palet dan memeragakan tangannya seperti pistol.
“Siap?” ucapnya sambil mengarahkan pistol jari itu. Segera saya balas dengan anggukan kecil.
Dia mencampur warna putih dan sedikit hitam, menjadi seperti abu-abu.
Saya menutup mata sejenak, membiarkan aroma cat dan teksturnya itu menyentuh ingatan. Saya terbang ke sana, saat asap memenuhi kamar apartemen. Saya masih ingat betul denyut bara itu, panasnya terasa sampai ke dalam kulit. Dari tempat yang tidak terlihat, bunyi kaca pecah dan bongkahan besi jatuh memenuhi ruangan. Jauh, sangat jauh, saya mendengar suara baling-baling. Secercah harapan muncul, tangki-tangki nirawak akan datang menyelamatkan. Namun semakin lama saya tunggu, suara-suara itu tampak tidak membesar maupun mengecil, saya merasa harapan itu sirna. Sebaliknya yang saya rasakan adalah panas yang kian naik, tangki-tangki sialan itu malah meniupnya kian panas. Saat itu saya sudah tidak merasakan kesakitan lagi. Saya menutup mata, menerima kematian yang sudah mengetuk. Dan entah oleh apa saya diselamatkan, saya tersadar ketika membuka mata dan menemukan saya berada di ruangan serba putih.
Sejak saat itu saya memutuskan untuk menjauh, meninggalkan hiruk-pikuk, mengasingkan diri. Mengabaikan saran mereka soal rekonstruksi.
Xora bersandar di kursi rotan, memandangi saya kembali. “Saya masih ingat, waktu kecil dulu, kami menyaksikanmu menunggangi naga. Konyol sekali. Bagaimana mungkin seseorang menunggangi naga hanya untuk pergi ke minimarket.”
“Gila bukan?”
“Gila? Itu absurd!” timpalnya sambil terkekeh. “Kalau saya yang jadi sutradaranya, naga itu pasti saya pakai untuk sesuatu yang lebih… heroik.”
“Hmm… Misalnya?”
“Mungkin membak-,” suaranya tertahan.
“Membakar…?” Saya tahu betul kata apa yang mau diucapkannya. “Katakan saja, tidak masalah.”
“Entahlah… pokoknya bukan untuk berbelanja di minimarket.”
Diam kembali hadir di antara kami. Dia melanjutkan proses melukisnya.
“Bagaimana mungkin kalian berpikir kalau menunggangi naga ke minimarket adalah ide yang bagus untuk film?” Ia menggoda lagi.
“Mungkin… penulisnya memikirkan orang sepertimu. Yang terus tertarik pada hal absurd.” Saya merasa menang.
Diam kembali bergelayut di antara kami.
“Kau tau.” Saya bicara pelan seperti biasa. “Setelah kejadian itu, tidak seorang pun mengunjungi saya di rumah sakit.”
“Mantan manajermu?”
“Termasuk tikus gendut itu.”
“Saya juga pernah merasa ditinggalkan. Waktu kecil, ibu membakar semua lukisan. Saya merasa seperti kehilangan anak-anak sendiri. Lucu bukan? Saya masih anak-anak dan tahu rasanya kehilangan anak.” Xora tertawa kecil.
“Untung kau tidak membuang bakat ini.”
“Ibu bilang, orang tidak bisa hidup dari melukis. Ia mau saya punya karir. Kalau beruntung, menjadi sekretaris seperti dirinya.” Ia kemudian menggerakkan jari-jarinya di udara seperti sedang mengetik.
“Oh, ya… saya punya kabar baru,” katanya lagi. “Saya sudah bertemu dengan instruktur pikiran yang baru. Dan sepertinya, yang satu ini cocok.”
“Berarti kau bisa bercerita lebih sedikit ke saya.”
“Denganmu beda,” ia memprotes. “Saya pasti lebih bebas.”
“Lama-lama, kalau kau sudah lebih nyaman.”
“Denganmu beda.” Dia menunduk sebentar. Saya ikut melihat ke arah pandangnya, cat putih mengendap di ujung jari manisnya.
“Hei,” dia mengangkat wajahnya, “sebaiknya kau juga bertemu instruktur pikiran itu. Dia penyabar, dan nampaknya orangnya cerdas.”
“Saya tidak mau.”
“Tidak untuk apa-apa, hanya bercerita kepada yang lebih ahli. Mungkin kau akan dapat sesuatu yang baru,” ia mengangkat bahu,
“Saya baik-baik saja.”
“Menurut saya semua orang butuh. Kau juga pasti butuh.”
“Saya merasa baik-baik saja, Xora.”
“Mungkin nanti,” katanya menawar.
Ia kembali menyapukan kuasnya ke palet. Saya kembali menutup mata, mencoba mengabaikan rasa sesak di dalam dada. Ada sesuatu di dalam intonasi suaranya yang tiba-tiba teratur itu yang mengganggu.
“Xora, tolong setel Sinatra, saya mau tidur dulu.” Lalu pelukis itu menyerukan perintah suara. Perangkat audio mulai memainkan lagu: And now, the end is near…
Saya menegakkan tubuh, menikmati setiap sapuan kuas dan aromanya. Membiarkan sensasi itu mengantar saya ke dalam lelap.
Pertama melihat Xora, saya sudah tahu bahwa kami akan menjadi sepasang manusia yang cocok. Entah karena alasan apa hingga pikiran itu tiba-tiba memberi tahu demikian. Semula saya mengira pertemuan kami adalah untuk hiburan saya semata. Namun semakin lama, saya merasa, Xora juga selalu menantikan pertemuan itu. Tanpa terkatakan, kami saling memberi ruang. Seperti hari ini, kami sering bertukar cerita. Apa saja: tentang rencana masa depan yang mustahil terlaksana, tentang sutradara yang mengejar popularitas semata, tentang model cat dulu yang susah kering, tentang masa teknologia yang serba huru-hara, tentang manusia artifisial, tentang pemerintah yang memperjual-belikan data, dan banyak hal. Rasanya kami sangat bebas bercerita, karena kami sama-sama menyedihkan.
Saya tersentak dari tidur ketika mendengar suara kaca pecah.
“Maaf, maaf, aduh bagaimana ini? Maaf…” katanya saat melihat saya terbangun. Sebuah cermin besar pecah, entah karena disenggol atau karena apa, saya tidak mau bertanya.
“Tidak apa-apa.” Saya berusaha membuatnya tidak risau. “Sudah mau pulang?” Xora menjawab dengan angguk bersalah.
Saya berdiri, mengambil sapu di sudut ruangan. Xora ikut berjongkok ketika saya mengumpulkan serpihan kaca yang berkilat di lantai. Sunyi menyelip di antara gesekan sapu dan nafas kami. Saya menepuk pundaknya kecil-kecil: “Tidak apa-apa,” upaya saya membuatnya tidak risau.
Saya membuang pecahan kaca itu di tempat sampah di depan rumah lalu berdiri di ambang pintu. Bersiap melepasnya pulang. Ia melanjutkan berberes, masih dengan raut wajah bersalah. Setelah selesai, ia berjalan pelan ke arah saya dengan wajah masih menunduk.
“Hei,” katanya seakan-akan sedang berbicara dengan jari kaki. “Saya serius ketika bilang, barangkali kau juga perlu bertemu dengan instruktur pikiran itu.”
“Saya merasa baik-baik saja, Xora.”
Ia meneruskan langkahnya sambil menunduk, menuju mobil antik yang diparkir di halaman rumah. Ia menutup pintu mobilnya pelan, lalu saya berlari mengejarnya. Dari sisi mobilnya saya memandangi wajahnya yang masih nampak bersalah.
“Xora…” panggil saya ke dalam pigura pintu itu. Ia menurunkan kaca mobilnya. “Saya mau bilang… barangkali untuk sementara jangan datang dulu.”
“Maaf soal cermin itu.”
“Tidak masalah. Bukan karena itu.”
“Apa karena saran tadi?”
“Bukan-bukan. Saya hanya merasa sedang ingin sendiri saja.”
“Maaf kalau saya berlebihan.”
“Sungguh kau tidak ada salah apa-apa, Xora,” Saya menepuk pundaknya lagi, lalu mengangkat ibu jari untuknya.
Ia masih seperti menimbang sesuatu yang berat. Saya mau menyentuh lagi, tetapi batal karena merasa itu sudah berlebihan. Dari layar dasbornya lalu menyala cahaya merah-hitam berganti-ganti. Dia lalu memandang ke arah saya lagi memberikan anggukan kecil, isyaratkan akan pergi. Mengoper persneling, mobil itu berjalan pelan meninggalkan pintu gerbang, lalu kecepatan dan suaranya bertambah, namun kian lama kian meredam, melaju, menuju kota yang penuh antena, panel surya, dan bau ozon; tempat orang-orang berteman dengan mesin.
Langit merah, dan sebentar lagi kilat cahaya kota teknologia akan membuat semuanya gemerlap.
Saya memasuki pintu rumah, memandangi cermin yang separuh bawahnya telah pecah itu. Saya berdiri di depannya, melihat hasil lukisan itu. Wajah itu tampak tegang dan pucat; kulitnya hampir sewarna abu, hidungnya tegas, rahangnya tajam; dilukis rapat dan halus, seperti tidak ada timbul tenggelam pada dasar kanvas. Di bawah cahaya lampu, wajah itu terlihat menakutkan dan indah sekaligus. Ada garis samar di sekitar mata.
Johnny Depp. Grindelwald.
Sempurna.
Lamat-lamat, saya kehilangan wajah itu, saya melihat sepasang mata menatap tajam. Saya menantangnya, mata saya sendiri. Lalu dia yang dari balik cermin itu berbicara: “Saya serius ketika bilang, barangkali kau juga perlu bertemu dengan instruktur pikiran itu.”
Saya membuka perban itu, melingkar, melingkar, melingkar, sampai saya melihat wajah yang tidak menyenangkan itu.
“Saya baik-baik saja, Xora.” [*]
Ilustrasi: The Mask (Frida Kahlo), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Kasalabra – Cerpen Erwin Setia
– Iblis Merah – Cerpen Jemmy Piran

ini sangat sangat menarik
haloo selamat sore,ini pertama kalinya setelah sekian lama saya tidak membaca,ceritanya bagus sekali mungkin apabila di pahami lebih dalam lagi ada banyak makna tersurat,trauma,kesedihan dan perjalanan hidup dua manusia yang sama sama mencoba untuk bahagia agar bisa terus melanjutkan hidup tapi saya tidak yakin barangkali makna ceritanya tidak sejauh itu.
Bagus
Wahhh
Berkata
bertanggungjawab
Ulasan Narasi: Senyap Aroma Terpentin dan Luka yang Terawat
Narasi pendek ini berhasil membangun suasana yang kental dan karakter yang menarik melalui detail sensoris yang kuat dan dialog yang minim, tetapi bermakna. Cerita ini terasa seperti sebuah cuplikan singkat namun padat yang menyimpan misteri dan trauma mendalam.
Kekuatan Utama (Strengths)
* Penggunaan Detail Sensoris (Indrawi) yang Kuat:
Penulis sangat efektif dalam membangun suasana melalui indra penciuman dan perabaan. Aroma cat, terpentin, tekstur kuas kering di jari Xora, hingga sensasi panas dan asap dari kilas balik trauma, semuanya memberikan kedalaman dan realisme. Frasa seperti “bau cat dan terpentin merayu menusuk hidung” dan “denyut bara itu, panasnya terasa sampai ke dalam kulit” langsung menarik pembaca masuk ke dalam adegan.
* Karakterisasi Xora yang Unik:
Xora digambarkan sebagai sosok seniman yang eksentrik (bulu di ujung jari) tetapi sangat mahir, bekerja dengan “lembut, berirama, dan cekatan; dengan sepuluh jari dia melukis.” Ia bukan sekadar pelukis; ia adalah pemantik kenangan dan sosok yang jujur. Kontras antara kelembutan seninya dan sifatnya yang terus terang (soal naga absurd dan saran bertemu terapis) membuatnya menjadi karakter yang berkesan.
* Pengungkapan Trauma (Pacing & Mystery):
Pengungkapan trauma masa lalu karakter ‘saya’ dilakukan secara bertahap dan artistik. Kilas balik tiba-tiba saat Xora mencampur cat memberikan jeda dramatis yang efektif. Penulis dengan cerdik menahan informasi, hanya memberi petunjuk tentang asap, kehancuran, dan penyelamatan ke “ruangan serba putih.” Ini menjaga ketegangan hingga akhir, di mana trauma tersebut terhubung dengan kondisi fisik ‘saya’.
* Metafora Seni dan Kenyataan:
Lukisan tidak hanya menjadi subjek, tetapi juga cermin. ‘Saya’ meminta lukisan Grindelwald/Johnny Depp, karakter yang kompleks, teralienasi, dan berkuasa, yang secara metaforis mencerminkan kondisi ‘saya’ yang terluka, mengasingkan diri, tetapi masih memiliki ego. Puncak ceritanya, di mana wajah lukisan itu menyatu dengan wajahnya sendiri di cermin pecah, adalah penutup yang sempurna dan menghantui.
Elemen yang Menarik untuk Diperdebatkan (Points for Discussion)
* Pernyataan Akhir dan Implikasinya: Pengungkapan bahwa ‘saya’ menanggalkan perban dan melihat “wajah yang tidak menyenangkan itu,” serta mendengar suara Xora dari pantulan cermin, mengonfirmasi dua hal:
* ‘Saya’ mengalami luka fisik parah di wajah.
* ‘Saya’ mengalami masalah psikologis serius (halusinasi atau disosiasi).
Hubungan antara Xora dan ‘saya’ sebagai dua jiwa yang sama-sama “menyedihkan” dan “ditinggalkan” menjadi semakin dalam, berakar pada trauma masing-masing.
Kesimpulan
Narasi ini adalah eksplorasi yang efektif tentang trauma, seni, dan pengasingan diri. Melalui dialog yang jujur, kilas balik yang mendalam, dan twist yang berfokus pada pantulan cermin, penulis berhasil menciptakan sebuah cerita yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menyisakan pertanyaan dan rasa simpati terhadap karakter utamanya. Cerita ini sangat kuat, terutama dalam membangun atmosfer dan menggunakan seni sebagai alat terapi sekaligus cermin bagi luka yang tersembunyi.
Kesimpulan: Cerpen ini sukses banget main di ranah psikologis, futuristik, dan melancholy. Penulisnya pinter banget ngolah suasana sunyi jadi teror batin yang bikin pembaca ikut nyesek! Top!
haloo selamat sore,ini pertama kalinya setelah sekian lama saya tidak membaca,ceritanya bagus sekali mungkin apabila di pahami lebih dalam lagi ada banyak makna tersurat,trauma,kesedihan dan perjalanan hidup dua manusia yang sama sama mencoba untuk bahagia agar bisa terus melanjutkan hidup tapi saya tidak yakin barangkali makna ceritanya tidak sejauh itu.
sungguh bagus..
Wahhhh