“Memanggul senapan saja mereka kuragukan, Kapten! Apalagi menghadapi risiko seorang mata-mata.”
Oleh: Yin Ude |
Bernama lengkap Muhammad Thamrin. Penulis Sumbawa Timur, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Buku tunggalnya adalah sepilihan puisi dan cerita Sajak Merah Putih (2021), novel Benteng (2021), antologi puisi Jejak (2022), dan kumpulan cerpen Emas (2025). Yin Ude adalah guru ASN PPPK di SMP Negeri 2 Plampang, Sumbawa.
Langit hitam, hitam sekali di mata Mayor Hasan. Padahal langit malam ini sama dengan langit malam kemarin, malam sananya, sebelum-sebelumnya: cerah karena purnama. Dan bintang-bintang jelas berkelap-kelip putih. Tapi seperti itu pula, ketika menatap nyala api unggun yang dikelilingi prajuritnya, ia melihat gulita.
Angin menusuk tubuhnya lewat sela seragamnya. Lalu ia yang sedang tegak di jendela barak itu menghela nafas berat. Wajah kecewa komandan batalyon menamparnya. Kolonel itu telah meremehkannya juga.
“Bagaimana Belanda sampai tahu rencanamu, Hasan?” cecarnya kemarin.
Dari balik gulita yang sesungguhnya, di antara dua barak prajurit ia melihat Kapten Mulyo datang.
Langkah lelaki muda itu tangkas dan tegap, menunjukkan sifatnya yang berani dan percaya diri.
Belakangan Hasan semakin meyakini sifat bawahannya itu setelah dua minggu lalu Kapten Mulyo memimpin penyerangan gudang militer Belanda. Pasukannya berhasil merebut banyak sekali senjata beserta amunisi.
“Sudah dapat?”
Belum sampai sang kapten masuk, Mayor Hasan sudah menyambut dengan pertanyaan.
Kapten menabik, tegas, tapi lengannya kemudian turun dengan lesu. Suaranya lirih, “Semua prajurit telah diperiksa. Barak disisir untuk menemukan petunjuk. Kesimpulan saya tak ada antek Belanda di kompi kita, yang membocorkan rencana penyergapan kemarin.”
Maka komandan kompi kembali ke jendela dan batinnya mendapati api unggun telah padam di tengah lingkaran prajurit yang sedang mengusir dingin dengan nyalanya.
“Bagaimana rencana kita menerima masuknya laskar wanita?”
Mayor menoleh. Sinis. Lalu memerhatikan tiga petugas medis wanita yang sedang bercengkerama di dekat barak medis. Tak pernah ia biarkan senjata di gudang kompi disentuh kaum itu. Setiap melihat mereka menyentuh gagang senapan, tatapan Hasan langsung melembing. Ketika ia menyaksikan tangan-tangan lembut mereka melipat perban atau menggotong tandu, Hasan yakin, memang itulah mereka adanya.
“Tidak!” jawabnya.
“Di luar sana kaum wanita juga ditakuti Belanda, Mayor…” Wakil itu masih menyanggah komandannya.
“Kembali saja selidiki mata-mata dalam pasukan! Itu lebih berguna,” potong Hasan.
Tabik Mulyo menutup sedikit mukanya yang kecut, tapi membesi.
Cahaya lampu teplok memapar wajah Mayor Hasan yang memberengut. Berulang ia menghela nafas, menggeleng-geleng saat dinding menjelma layar.
Adegan demi adegan penyergapan yang ia susun membakar hatinya.
Angin siang yang kering menyambut peleton Letnan Satu Suwarno. Tiga puluh laki-laki berwajah tegang merayap naik ke punggung bukit timur. M1 Carbine Para, Arisaka, Owen Gun hingga hanya bambu runcing di tangan dan dekapan mereka. Sang komandan menggenggam erat pistol Nambu type 94. Ilalang yang tinggi melindungi gerakan peleton lain di bawah pimpinan Letnan Dua Pujo. Mereka telah menguasai punggung bukit barat. Matahari musim kemarau menyorot pagar prajurit timur dan barat itu yang siap tempur.
Pagar itu menunggu konvoi kendaraan tentara Belanda yang menuju selatan, melewati jalan di bawah mereka. Mayor Hasan dan Kapten Mulyo bersama pasukan pemukul, peleton Letnan Satu Arif yang juga telah sedia, bersiap menyerang untuk menutup jalan mundur. Akan segera terjadi: Belanda terdesak terus ke selatan, tak bisa menghindari takdir buruk di jembatan yang telah hancur setelah diledakkan anggota kompi.
Tak berkedip Mayor Hasan mengawasi jalan yang menjadi pusat perhatian seluruh prajurit. Sten Gun-nya telah ia sandarkan ke batu besar di depannya, dengan moncong mengarah ke jalan itu. Ia tersenyum, membayangkan musuhnya tersudut di titik buntu. Di sampingnya, Kapten Mulyo berulang kali menarik nafas. Gemuruh dadanya menanti waktu baku tembak.
Setengah jam waktu berjalan.
“Lama sekali. Apakah sudah benar kerja intelijen kita?” Panas udara memicu keringat di tubuh Kapten Mulyo. Ia gerah. Menjadi tak sabar.
Mayor Hasan tersenyum. Memberi semangat pada wakilnya itu tanpa kata.
Tapi Mulyo menarik nafas, menghembuskannya dengan hentakan.
“Tenang, Kapten. Menunggu untuk kemenangan memang membosankan.” Mayor berucap lembut.
Hampir dua jam. Kapten Mulyo memutar badan, terlentang. Matanya terpejam karena tak sanggup menentang matahari. Tubuh-tubuh prajurit lain mulai lunglai. Karena lelah menanti dan ketegangan tanpa ujung. Seandainya sudah baku tembak, ketegangan itu akan menemukan jalan pelampiasan.
Mayor Hasan mengangkat teropong, mendapati di kejauhan pasukan barat dan timur juga semakin banyak yang merebahkan diri.
“Sampaikan kepada semua pasukan, istirahat, tapi tetap waspada.”
Perintah itu mengharuskan Kapten Mulyo segera mengangkat SCR-300 dari ransel prajurit komunikasi di sampingnya.
Dua jam.
Kapten Mulyo terus memandang komandannya. Mayor Hasan sedang berdoa.
“Telik sandi datang!”
Bisikan Mulyo menghentikan khusyuknya Hasan.
Kahar, telik sandi terengah-engah datang melapor, “Belanda memutar lewat utara, menjauhi area penyergapan!”
Muka komandan kompi sontak memerah…
Mayor Hasan tersentak. Langkah kaki seseorang merenggut dirinya dari lamunan. Sarina, tukang masak sekaligus tukang pijatnya masuk membawa nampan berisi mug penuh kopi.
Sementara perempuan muda itu meletakkan bawaannya di meja, Hasan sudah membuka kemejanya dan tengkurap di tikar di tengah ruang. Begitu selalu, Sarina sudah mengerti tugasnya tanpa diperintah.
Setengah jam kemudian Sarina pergi. Licin minyak pijat tersisa di tikar. Mayor pun menyekanya dengan sehelai sapu tangan dengan bordiran bunga tulip. Itu milik sang perempuan yang tertinggal.
“Ah, perempuan, enaknya memijat. Makin tak kupercaya menggenggam senapan!” bisiknya, melecehkan, seraya mengangkat mug kopi.
Tapi jauh di dalam hatinya, terbetik keinginannya menjadikan gadis itu isteri ketiga.
“Akan kusampaikan besok lusa,” batinnya.
Sebagai komandan, ia gengsi terburu-buru sebab baru dua minggu lebih Sarina tiba di barak, setelah ia “melamar” kerja lewat perempuan medis.
“Ingin membantu perjuangan sebagai tukang masak dan tukang pijat,” katanya saat kali pertama datang.
*
Kuning cahaya obor membentuk bayangan Sarina yang duduk di balai-balai depan barak perempuan. Ia menatapinya. Matanya segera menumbuk hitam masa lalunya.
Ibunya tegak di pintu kamar.
“Perempuan tak perlu sekolah. Buka jendela itu, lihat di luar, bunga di tangkai, menunggu kumbang tanpa berulah!”
Seruannya dengan segera memancang jeruji di ambang.
Riuh cengkerama remaja-remaja pria di teras, di jalan-jalan, di langit-langit mimpinya yang ia tatapi dalam sepi. Dadanya gemuruh. Dan yang paling petir adalah senda gurau nona-nona Belanda di sebuah sekolah, ketika ia di belakang sekolah itu, memetik kangkung empang, untuk belajar memasak brambang asem, yang dikatakan ibu bapaknya, “Buat seorang suami, yang akan segera datang, yang tugasmu menunggunya.”
Senyum gadis itu selalu pada bayangnya di cermin. Alisnya melengkung indah, bulu matanya lentik, hidungnya mancung bangir, bibirnya tipis merah, kulitnya coklat halus, badannya semampai.
Nona-nona Belanda kerap meliriknya. Iri.
“Tapi bagaimana dunia akan melirik? Jika ibu bapak menabiriku dengan kebodohan pingitan?”
Kecut wajahnya.
“Negeri ini sudah begini sejak dulu,” keluhnya.
Maka merah padam wajah Sarina. Menyala sesuatu dalam dadanya: perubahan.
Ia sering bermimpi desanya menjelma sebuah kota di suatu tempat, yang semua orang di sana bebas bersekolah, bekerja, melakukan apa saja yang sesuai dengan isi hati mereka. Terutama bagi perempuan, tak ada kekangan.
Matanya nanar mencari wajah-wajah yang bisa menjanjikannya perubahan.
“Tidak ada!” bisiknya, lirih, sedih. “Orang-orang negeri ini akan selamanya begini….”
Bayangan ceria nona-nona Belanda, keanggunan nyonya-nyonya dan karisma tuan-tuan kulit putih mengalirkan kenyamanan dalam hatinya.
Ketika muncul wajah Meneer Kolonel Egbert, hati perempuan itu kian damai.
Hari itu warga desa dikumpulkan di alun-alun oleh tentara Belanda. Semua laki-laki besar kecil, tua muda diangkut dengan truk. Sarina tak paham ke mana dan untuk apa. Para perempuan dibedakan. Anak-anak kecil dan orang tua disuruh pulang, sedangkan remaja -ada dua belas orang- disuruh menghadap komandan mereka, Kolonel Egbert.
Seorang sersan -sambil senyam senyum, ekor mata melirik nakal kepada para gadis- membisikkan sesuatu di telinga kolonel itu.
Sarina paham ada kejahatan dalam senyum itu.
Muka Kolonel Egbert berubah merah, dan deras tangan kekarnya menampar muka sersan itu.
Entah apa katanya, dalam Bahasa Belanda, Sarina tak mengerti. Yang jelas kemudian semua gadis disuruh pulang oleh sersan yang kecut itu.
Sarina ditahan sebentar oleh sang kolonel.
“Kau cantik, dan akan bagus kalau pintar.”
Kalimat terbata-bata karena logat Belanda itu menggema bagai lagu yang aneh, tapi merdu di ruang batin Sarina.
Dan ia geram saat suara Demang Joko menyusup.
Pria itu pernah menarik tangannya dan berkata, “Kamu ayu, harusnya menjadi isteri keempatku.”
Damainya, jika negeri ini terus diperintah Belanda. Menggema selalu kata hatinya, setelah hari di alun-alun itu.
Dini hari, perempuan desa itu melepaskan diri dari kungkungan jeruji kamarnya. Ibu bapaknya masih lelap, sementara ia gegas melangkah, menyusuri gulita jalan yang telah ia pilih: ikut berjuang agar Belanda tetap berkuasa.
*
Gulita sesungguhnya kembali memunculkan Kapten Mulyo. Ia menuju barak komandan lagi.
“Barak, barang-barang pribadi prajurit telah diperiksa. Tak ada yang mencurigakan.” Lapornya setiba di depan Mayor Hasan. “Bagaimana kalau kita mencoba berpikir bahwa mata-mata itu perempuan.”
Mayor Hasan tertawa. Terbahak-bahak. Matanya sampai memicing, menahan geli teramat sangat.
Ia sedang melihat sekelompok pria mata-mata yang diinterogasinya dalam berbagai medan pertempuran. Lembing di mata mereka, hendak menghujam Mayor Hasan yang akan segera melubangi kepala mereka dengan pelor. Lalu senyum sinis, mengejek, sebagai jawaban tegas atas pertanyaan-pertanyaan interogator. Ludah mereka percikkan pula ke lantai, biar pun akan lumer dalam genangan darah.
Pandangannya beralih pula kepada perempuan medis yang terus bercengkerama.
Pikirannya membawanya lagi ke ruang interogasi. Ratap tangis meminta ampun, meminta dibebaskan meledak, membuat tawa mayor itu meledak lagi.
“Memanggul senapan saja mereka kuragukan, Kapten! Apalagi menghadapi risiko seorang mata-mata,” katanya di antara sisa tawanya.
“Siapa perempuan di sini yang akan berani berkorban menghadapi risiko itu?”
Bibir Kapten Mulyo terkatup. Kepalanya menggeleng-geleng.
Tapi… kepalanya tiba-tiba tegak terdiam. Tatapannya menumbuk sapu tangan merah jambu dengan bordiran bunga tulip dan tulisan kecil “Willem-Sari” yang menjuntai digenggam Hasan.
“Bagus sapu tangannya, Komandan,” selidiknya. Dadanya gemuruh.
“Oh, ini… sapu tangan Sarina, tertinggal.” Agak gugup Mayor Hasan, merasa tak seharusnya sapu tangan itu ada di tangannya.
Sesosok tubuh letnan Belanda terkapar dalam ingatan Mulyo. Ingatan dari penyerangan yang ia pimpin dua minggu lalu.
Perwira penjajah itu baru terjengkang setelah granat salah seorang prajurit kompi meledak di depannya.
Tangan kirinya, yang terulur layu masih menggenggam sehelai sapu tangan biru dengan bordiran bunga tulip.
Tertarik, Kapten Mulyo melihatnya lebih dekat. Ada tulisan kecil “Willem-Sari” di bawah bunga tulip. Dibordir pula.
Ia tersenyum. “Pasti namanya dan kekasihnya,” terkanya seraya meninggalkan jasad musuhnya itu.
“Komandan tak perhatikan tulisan di sapu tangan itu?” Pertanyaan tiba-tiba dari Kapten Mulyo menghentak, memancing rasa penasaran Hasan.
Diangkatkan sapu tangan itu, dibentangkan, dan… muka sang komandan berubah. Kecut!
Lelaki yang ada hati pada Sarina itu kecewa karena ia langsung berkeyakinan bahwa dirinya sudah punya saingan!
“Willem?” bisiknya kalut.
Tak ada tabik lagi. Merah padam wajah Kapten Mulyo. Ia pergi begitu saja. Derap sepatu but-nya di tanah basah meninggalkan jejak kemarahan, yang tak dimengerti komandannya.
Alis Mayor Hasan berkerut, menatap kapten itu yang kini sedang berhadapan dengan Sarina yang tiba-tiba muncul dari balik barak.
Ia tidak mendengar percakapan mereka yang memanaskan udara malam yang semakin dingin.
“Saya lupa sesuatu di barak komandan.”
“Sapu tangan dengan bordiran bunga tulip, kan?”
Berubah raut wajah Sarina. Andai terang akan jelas ekspresinya kecut.
“Itu pasangan sapu tangan kekasihmu yang tewas dalam pertempuran dua minggu lalu, kan?”
Tubuh Sarina gemetar.
Tatapan Kapten Mulyo menghujam. Telapak tangan kanannya terangkat pelan, menempel di pistol yang melekati pinggangnya.
“Sarina! Kemari!”
Seruan Mayor Hasan menghentak kedua orang itu. Bara udara padam tiba-tiba.
Tapi tidak bara di dada Mulyo.
Ia berbalik, menatapi punggung perempuan yang telah masuk ke dalam barak pimpinannya itu.
Tiba-tiba sebuah letusan membelah malam, dari pistol yang teracung tinggi di tangan gemetar Kapten Mulyo.
Mata Mayor Hasan terbelalak. Seluruh prajurit terperanjat dan mengerumuni kapten mereka.
Mereka bingung.
Hanya Sarina yang tahu arti letusan itu. [*]
Ilustrasi: Spionage (Raphael Kirchner), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Lopo Thea – Cerpen Marselus Natar
– Iblis Merah – Cerpen Jemmy Piran

Bagus. Saya jadi tak terasa kalau sudah sampai dipenghujung cerita
cerita yang bagus banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita tersebut
ini yang di sebut cerpen karna ini alur nya bagus
Cerpen ini kuat dalam membangun ironi dan konflik batin tokohnya. Karakter Sarina terasa kompleks dan manusiawi, sementara ending-nya tajam dan berkesan. Layak dipublikasikan di media sastra.
Cerpen yang bagus. Semoga krlak aku juga bisa menulis seperti ini. Aamiin
bagussss sekaliiii cerita dan alurnyaa