Makanan dalam Cerita Amalia Yunus
29 Januari 2025| | 0 CommentsSelain isu berat badan, budaya patriarki juga ikut diangkat melalui tokoh laki-laki atau pacar tokoh utama dalam novel karya Amalia Yunus.
Oleh: Grace Katarina |
Admin Kedai Buku Petra.
Awalan
Dilansir dari Wikipedia.com, makanan atau panganan merupakan zat yang dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan nutrisi yang menjadi energi. Kualitas suatu makanan dapat dinilai dari yang terkandung dan umur simpan yang dimilikinya. Konsumsi makanan yang tidak tepat atau tidak cukup akan menyebabkan malnutrisi, dan berdampak pada kesehatan. Inilah yang ingin disampaikan oleh Amalia Yunus dalam bukunya yang berjudul Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan.
Dalam beberapa bacaan fiksi, seperti di novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, karya Yusi Avianto Pareanom, makanan selalu digambarkan sebagai perayaan, perjamuan, petualangan, yang adiluhung, agung, dan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat.
Lantas bagaimana jika makanan digambarkan secara terbalik; sebagai sumber penyakit, yang dibuang-buang, yang produksinya mencederai lingkungan, yang menggunakan banyak bahan artifisial, yang mendapat cap bio tetapi distribusinya justru menyumbang emisi karbon, yang disalahgunakan oleh tingkah laku abusif manusia, baik yang dilahap maupun yang ditolak berlebihan?
Bagaimana?
Pada hari Jumat, tanggal 16 Januari 2024, novel Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan menjadi novel ke-61 yang dibincangkan di Klub Buku Petra. Bincang buku ini dihadiri oleh Lolik Apung sebagai pemantik, Boy Doreng, Arsy Juwandi, Retha Janu, Yasinta Ajin, Afin Gagu dan saya sendiri.
Standar Kecantikan
Lolik Apung memulai diskusi dengan menyoroti konflik internal tokoh utama yang terjebak dalam standar kecantikan masyarakat. Konflik ini mencerminkan tekanan sosial yang dihadapi perempuan dalam memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis. Sementara itu pacar tokoh utama mewakili pemikiran patriarkis yang takut kehilangan kendali atas perempuan yang mereka cintai. Isu ini lebih lanjut menyoroti pola konsumsi masyarakat kota yang seringkali memperkuat standar kecantikan yang tidak seimbang.
Lolik juga mengomentari metode penulisan menggunakan sudut pandang orang kedua tunggal yang digunakan penulis, membuat pembaca merasa terintimidasi dan terlibat secara langsung dalam cerita. “Buku ini mengintimidasi, menuduh, dan menunjuk-nunjuk pembaca dengan apa yang ingin disampaikan, sambil juga membuat pembaca merefleksikan pola makan mereka sebelumnya,” ungkap Lolik.
Dia menutup pernyataannya dengan tiga pertanyaan yang memicu diskusi lebih lanjut. Pertama, bagaimana perasaan perempuan terhadap standar berat badan yang seringkali tidak realistis? Kedua, apakah metode penulisan orang kedua tunggal dalam novel ini membuat pembaca merasa terintimidasi? Ketiga, apakah novel ini bermaksud mengkritik budaya patriarki?
Pertanyaan pertama tentang perasaan wanita terhadap standar berat badan mendapatkan respon yang hampir sama dari tiga orang wanita yang hadir dalam bincang buku, yaitu Retha, Ajin, dan Grace. Mereka mengakui bahwa standar berat badan dapat menjadi sumber pikiran dan tekanan.
Retha mengatakan bahwa dirinya tidak terintimidasi dengan gaya penulisan Amalia Yunus, tetapi lebih terganggu oleh beberapa aspek. Namun, ia mengapresiasi daftar isi yang membuatnya merasa dekat dengan tokoh utama. Menurut Retha, buku ini tidak hanya membahas tentang berat badan, tetapi juga dapat diterapkan untuk masalah-masalah hidup lainnya. Formula yang digunakan dapat menjadi metode penyelesaian masalah.
“Amalia berhasil menyentil masalah yang lebih kompleks melalui topik berat badan,” kata Retha. “Makan dengan tujuan adalah salah satu hal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Ajin, di sisi lain, memiliki pengalaman yang berbeda. Ia sedang berusaha menaikkan berat badan, tetapi setuju dengan pendapat Retha bahwa berat badan dapat menjadi beban pikiran. Sterotip kecantikan berpendapat bahwa perempuan dinyatakan cantik jika memiliki berat badan yang ideal. Perempuan yang tidak memenuhi standar ini seringkali dianggap tidak cantik atau tidak menarik. Menurut Ajin, hal ini dapat menyebabkan perempuan merasa dirinya tidak cukup atau tidak pantas jika tidak memenuhi standar tersebut.
Saya sendiri lebih melihat perempuan dengan tubuh ideal mendapatkan posisi yang lebih baik dalam segala hal, meski mereka berbuat ulah. Ini adalah salah satu double standard yang suka tidak suka masih berlaku sampai sekarang. Berat badan memang seberpengaruh itu.
Rupanya, tema berat badan yang diangkat dalam novel ini mendapatkan tanggapan yang berbeda dari empat pembaca laki-laki yang hadir malam itu.
Menurut Boy, banyak konstruksi umum yang jamak kita terima yang ingin penulis lawan, terutama soal berat badan ideal. Bahwa cantik harus kurus, bahwa berat badan ideal didefinisikan dalam angka yang ditunjukkan timbangan, dan bahwa kita harus mencapainya dengan kiat-kiat tertentu, persis seperti yang tokoh “aku” alami. Padahal, menurutnya, tidak peduli berapa berat badannya, selama dia merasa sehat, itu bukanlah masalah besar.
Lalu ada Arsy yang melihat bahwa cara bercerita Amalia Yunus membantu pembaca melihat pola hidupnya sendiri dan memotivasi mereka untuk membuat perubahan. Buku ini juga menurutnya menyoroti konstruksi-konstruksi masyarakat tentang idealnya tubuh manusia, yang sebenarnya merupakan produksi dari orang-orang atau kaum-kaum tertentu.
“Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di dunia yang beragam dan menunjukkan bahwa bentuk ideal tubuh sebenarnya merupakan produk kolonialisme,” papar Arsy.
Lebih jauh menurutnya, tema tentang berat badan dalam buku ini sangat menarik, terutama ketika membahas tentang reality show dan pandangan masyarakat. Buku ini menunjukkan bagaimana negara-negara maju menjual produknya melalui stereotip tubuh ideal dan mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap tubuh. “Kalau mau punya berat badan ideal, kalian harus pakai alat ini, alat itu, harus konsumsi makanan ini, makanan itu. Saat ini jarak antara kebutuhan dan keinginan sangat tipis, kebutuhan bukan lagi datang dari pribadi, namun diciptakan oleh hal-hal seperti yang tergambar dalam cerita,” ujar Arsy.
Pembicara ketujuh pada malam itu adalah Afin Gagu. Ia menyoroti bagaimana penulis membuat pembaca akhirnya melihat pola makannya. “Berat badan ideal yang diangkat oleh penulis tidak lebih dari pola makan yang seharusnya lebih diperhatikan,” ujarnya.
Sedangkan Beato merasa bahwa pilihan Amalia Yunus untuk menjadikan perempuan sebagai tokoh utama dalam novel Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan sangat tepat. Menurutnya, perempuan seringkali menjadi wajah dalam setiap hal, dari iklan hingga beberapa posisi terbaik di kantor-kantor. Namun, novel ini menyadarkannya bahwa tidak semua perempuan mendapatkan tempat yang sama. Ada standar ideal yang harus dipenuhi, dan itu sebenarnya perlu dipertanyakan. Tampaknya, lanjut Beato, penulis ingin mengubah mindset bahwa kecantikan dan kesempurnaan tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang penerimaan diri.
“Ujung-ujungnya, penulis ingin menyampaikan bahwa diri kita adalah apa adanya kita, dan kita tidak perlu mengubah diri kita untuk memenuhi standar orang lain,” tutupnya.
Isu Patriarki
Selain isu berat badan, budaya patriarki juga ikut diangkat melalui tokoh laki-laki atau pacar tokoh utama. Beberapa dari kami sepakat bahwa tokoh tersebut adalah orang yang toxic dan merupakan bukti nyata budaya patriarki. Ia tidak ingin pacarnya menjadi lebih baik, melainkan ingin pacarnya tetap bergantung secara utuh hanya padanya. Ini menunjukkan bagaimana patriarki dapat mempengaruhi hubungan dan membuat perempuan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Arsy melihat bahwa hubungan tokoh “kamu” dengan pacarnya juga menarik, terutama ketika tokoh “kamu” berhasil lepas dari ketergantungannya dan membuat pacarnya tidak suka. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan diri dapat mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
Mengenai gaya penulisan orang kedua tunggal yang digunakan penulis, Arsy memandang buku ini sebagai karya yang unik karena menggunakan sudut pandang orang kedua tunggal untuk memotivasi pembaca dan membuat mereka merasa sebagai pemeran utama.
Boy Doreng merasa bahwa pemilihan gaya penulisan orang kedua tunggal yang digunakan adalah tepat karena buku ini sifatnya lebih seperti buku motivasi dan begitulah, penyampaian ide cerita dalam buku ini layaknya motivator yang sedang memotivasi.
Afin Gagu setuju jika pilihan Amalia Yunus membuat buku ini padat dengan menggunakan gaya penulisan orang kedua tunggal, sebab jika dibuat lebih panjang, pembaca akan cenderung bosan.
Saya sendiri sering menggunakan gaya penulisan ini, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Saya menggunakan “kamu” untuk menunjuk diri saya sendiri, bukan pembaca. Namun, saat membaca buku ini, benar yang dikatakan pemantik, saya merasa seperti ditunjuk, seperti benar-benar diajak bicara oleh penulis.
Sementara itu menurut Beato, secara keseluruhan, buku ini tidak hanya tentang berat badan, tetapi juga dapat digunakan sebagai motivasi untuk mengatasi masalah-masalah lainnya dan memotivasi pembaca untuk membuat perubahan positif dalam hidup mereka.
Hal yang menarik adalah bahwa Amalia Yunus tidak menyia-nyiakan teks. Buku ini tipis, tetapi berat dan berbobot. Amalia berhasil membalikkan kecenderungan penulis perempuan yang seringkali terlalu detail. Dalam buku ini juga, Amalia menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi tokoh utama yang kuat dan berpengaruh.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya tentang berat badan, tetapi juga dapat digunakan sebagai motivasi untuk mengatasi masalah-masalah lainnya dan memotivasi pembaca untuk membuat perubahan positif dalam hidup mereka. Pembabakan yang dibuat Amalia juga bisa digunakan sebagai tahapan penyelesaian masalah lainnya, bukan hanya berat badan.
Buku ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan konstruksi-konstruksi sosial yang telah kita terima secara pasif dan memahami pentingnya self-awareness dan pengambilan keputusan yang berdasarkan pada kebutuhan pribadi.
Gaya penulisan yang diambil penulis berhasil membuat pembaca merasa terlibat dan terhubung dengan cerita. Secara keseluruhan, kami berpendapat bahwa buku ini sangat baik dan berhasil menyampaikan pesan yang kuat tentang berat badan, patriarki dan perempuan dan akhirnya bintang 4 disempatkan untuk buku ini. [*]
Baca juga:
– Menemukan Diri Sendiri dalam Kokokan Mencari Arumbawangi
– Merasa Dekat Sekaligus Bingung dengan Novel Guru Aini

mantap