Mencari Rahasia Ardi Yunanto dalam Buku Bermain Rahasia
31 Agustus 2025| | 2 CommentsDalam Bermain Rahasia karya Ardi Yunanto, konflik yang dialami tokoh utama berpusat antara dirinya dengan sesuatu yang berada di luar.
Oleh: Ayu Guliani Bons |
Admin Program Klub Buku Petra. Tinggal di Karot, Ruteng. Mempunyai hobi membaca, berolahraga, dan bernyanyi. Aktif mendampingi kelompok tani di Kelurahan Pitak, Ruteng.
Bermain Rahasia adalah buku yang dibincangkan dalam Bincang Buku Petra ke-71, di perpustakaan Klub buku Petra pada Sabtu, 15 Februari 2025. Kami memilih membincangkan karya Ardi Yunanto ini sehari setelah Hari Valentine karena buku ini bercerita tentang keluarga dan interaksi yang berlangsung di dalamnya—kami mengawalinya dengan bertukar kado. Buku ini adalah novela yang bercerita tentang rahasia keluarga yang lama tersimpan, hingga seorang anak tumbuh dewasa. Dalam 82 halaman, kita diajak menelusuri memori masa kecil Adinda, sang tokoh utama.
Pemantik pada kegiatan kali ini adalah Armin Bell. Hadir dr. Ronal Susilo, Lolik Apung, Beato Lanjong, Grace Katarina, Rey Bahagia, Gonsa Thundang, Opin Sanjaya, Frans Posenti, Retha Janu, Renata Budiman, dan Caca Paduk.
Armin Bell membuka diskusi dengan menceritakan tentang betapa baiknya buku ini membuka cerita. Namun, minimnya konflik (atau konflik yang tidak tersampaikan dengan baik?) pada bagian-bagian selanjutnya mengurangi kenikmatannya membaca. Narator yang berpindah sudut pandang di tengah cerita menjadi salah satu hal yang disorot. “Kadang penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dan kadang orang ketiga,” ujarnya.
Armin berpendapat bahwa penggunaan sudut pandang orang pertama mungkin akan lebh menarik, sebab pembaca lebih terhubung dengan nasib tokoh utamanya. Apalagi Adinda memiliki cerita solo dengan sedikit intervensi dari tokoh lain seperti Bang Aji dan Inah, serta ayahnya. Dirinya melihat konflik Adinda dengan Ayahnya yang diceritakan di awal merupakan janji akan alur yang istimewa. Konflik ini berfokus pada perlawanan Adinda.
Pada hubungan anak perempuan dan sosok ayah yang biasanya harmonis, ternyata dialami berbeda oleh Adinda. Relasi keduanya cenderung tegang. Sayangnya, ketegangan relasi ini tidak cukup maksimal dimanfaatkan sebagai api yang menggerakkan cerita. Cerita justru digerakkan oleh konflik eksternal. Armin merasa hal ini membuatnya kurang terhubung dengan alur cerita dan menganggap pengaruh peristiwa eksternal terhadap hubungan Ayah dan anak perempuannya agak tidak masuk akal, meskipun ia mengakui mungkin ada alasan yang belum sempat ia cermati.
Terlepas dari kritik tersebut, Armin Bell memuji ketekunan penulis terutama dalam penggunaan kalimat-kalimat panjang yang tetap nyaman dibaca.
Frans Posenti yang datang jauh-jauh dari Cancar, Kecamatan Ruteng malam itu, melihat konflik yang terjadi antara Adinda dengan Ayahnya seperti melihat hubungan dirinya dengan anak perempuannya di rumah, yang juga bernama Adinda.
Meski belum membaca keseluruhan cerita, ia merasakan adanya rahasia berlapis-lapis yang disembunyikan Adinda seperti yang sering dilakukan oleh anak perempuannya di rumah. Menurutnya, respons anak perempuan ketika ditanya oleh orang tuanya cendrung ambigu. Dalam pengalamannya, kadang dia terpaksa harus bertanya kepada teman-teman anaknya atau para guru di sekolah tentang perkembangan anak perempuannya untuk memahami karakter dan perkembangan pribadi sang anak. “Saya merasa cerita ini sangat dekat dengan diri saya, meskipun belum menyelesaikaan bacaan sepenuhnya,” tutupnya.
Setelah Bapa Frans, Retha Janu hadir sebagai pebincang ketiga. Etak membahas konsep ruang aman bagi anak-anak, khususnya dalam konteks menceritakan pengalaman mereka. Menurutnya banyak anak yang sering kesulitan bercerita kepada orang tua mereka tentang hal-hal rahasia karena merasa orang tua bukanlah ruang aman bagi mereka.
Jika bertemu Ardi Yunanto, Etak ingin mengungkapkan kekecewaannya karena novel ini gagal membuatnya menangis. Meski mengakui bagian-bagian tertentu dalam novel menarik, ia tetap merasa novel ini tidak menghadirkan dampak emosional yang diharapkan. Terakhir, ia menyinggung tentang tas, benda yang dirahasiakan antara Adinda dan tokoh protagonis lain yaitu Bang Aji. “Tidak ada alasan yang lebih kuat menjadikan tas sebagai benda yang dirahasiakan yang kemudian menimbulkan kemarahan dari Ayahnya,” ungkap Retha Janu.
Dokter Ronald menjadi pebincang keempat pada malam itu. Ia menyoroti tidak adanya perubahan signifikan dalam sikap tokoh utama dalam buku karya Ardi Yunanto ini. Tokoh tersebut (Adinda) hanya bercerita tentang dirinya sendiri dan belum mencapai kematangan biologis. Menurutnya tokoh utama masih dalam usia remaja, sehingga belum memahami sikap orang-orang di sekitarnya seperti Ayah, Bibi dan Bbunya. Meskipun demikian, tokoh utama juga belajar sesuatu tentang dirinya dan dunia sekitarnya walaupun belum dijelaskan secara spesifik apa yang dipelajari.
Hal lain yang menjadi perhatian Dokter Ronald malam itu adalah tentang pilihan-pilihan kehidupan yang dilakukan oleh Adinda dan saudara-saudaranya yang lain. “Orang tua sering berpikir tentang salah seorang anak yang akan menjaga mereka di usia tua,” paparnya, “Pilihan ini dikonversi dengan keinginan untuk mempunyai banyak anak. Di beberapa pengalaman dengan orang tua yang mempunyai banyak anak, kondisi ini justru tidak terjadi. Anak-anak tetap memilih tinggal jauh dari orang tuanya. Dalam Bermain Rahasia ini, Adinda yang tidak diharapkan menjaga orang tua justru melabrak pakem-pakem patriarki. Ia perempuan, dan ia yang menjaga orang tuanya.”
Setelah dr. Ronald Susilo, Opin Sanjaya menjadi pebincang kelima. Opin relatif membaca buku ini dengan mudah dan cepat. Meskipun alur ceritanya biasa saja, menurut Opin, Ardi Yunanto menyusunnya dengan cara yang menarik, mengajak pembaca untuk bermain tebak-tebakan, sehingga premis cerita dapat dipahami. Oleh karena itu, Bermain Rahasia tidak membuatnya berpikir keras saat membaca.
Lebih jauh, ia berpendapat bahwa karakter utama tidak mengalami perubahan signifikan sepanjang cerita. Opin merasa cerita kurang panjang dan berharap pengembangan lebih detail pada elemen-elemen lain, seperti latar cerita ‘Rumah Jambu’—yang justru memiliki potensi untuk memperkaya alur cerita—dan memberikan penjelasan lebih mendalam tentang krisis moneter yang sempat disinggung di dalam buku itu. “Deskripsi tentang rumah jambu terlalu singkat dan tidak memberikan dampak signifikan pada plot,” kata Opin. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi buku ini karena tidak meromantisasi kekerasan seperti yang biasa ditemukan di dalam film-film kita.
Setelah Opin, saya berkesempatan membagikan pengalaman membaca buku ini. Menurut saya cerita ini berfokus pada dinamika keluarga dengan cerita yang digerakkan oleh konflik antara Ayah dan anak perempuannya. Konflik ini tampak tidak biasa, karena anak perempuan biasanya amat dicintai oleh Ayahnya. Mungkin penulis ingin membongkar hubungan yang kelihatan baik antara Ayah dan anak perempuan padahal kadang berlangsung rumit, seperti Adinda dan Ayahnya. Selain itu, saya juga sepakat dengan beberapa teman yang mengatakan jika latar rumah jambu seolah-olah diceritakan secara sepotong-sepotong.
Pebincang ketujuh malam itu adalah Grace Katarina. Grace juga menilai bahwa hubungan anak dan orang tua lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Hal ini mungkin ingin memperlihatkan aspek lain yang mempengaruhi hubungan itu, misalnya aspek kesibukan Ayah yang memaksanya menyerahkan pertumbuhan sang anak pada Ibunya dan pembantu rumah tangga mereka, yaitu Bi Bina.
Grace menyukai peran yang dimainkan Bi Bina dalam Bermain Rahasia; ia menjadi teman curhat yang baik bagi Adinda. Aspek lain menurut Grace yang juga menjadi pemicu rusaknya hubungan Adinda dan Ayahnya adalah karena cita-cita patriarki sang Ayah yang mungkin tidak tercapai. Ia mengharapkan anak laki-lakilah yang merawatnya, tetapi situasi justru terbalik. Tekanan akibat kondisi kesehatan yang terus menurun juga menjadi penyebab rusaknya hubungan antara Adinda dan Ayahnya. Ayahnya seolah-olah melampiaskan kemarahannya tepat pada si Adinda.
Gonza Thundang menjadi pebincang kedelapan malam itu. Ia menyebutkan kalimat yang sangat berkesan baginya terdapat di halaman 2, yang bercerita tentang momen saat berbuka puasa dan Ibunya bertanya kepada Adinda tentang siapa yang akan menemani dan membawa Ayah ke rumah sakit. Momen ini mirip dengan kisahnya sendiri; ia bertanggung jawab mengurus dan menjaga kedua orang tuanya. Selain itu Gonza juga mengomentari cover buku tersebut. Aspek visual sampul buku menarik perhatiaannya karena warna biru dan gambar tangan yang keluar dari dalam tas menggambarkan rahasia yang coba dibongkar. “Biru sering berasosiasi dengan sesuatu yang mustahil, rahasia, dan sulit didapatkan,” tutupnya.
Setelah Gonza, Beato mendapat giliran menyampaikan hasil pembacaannya. Membaca buku ini mengingatkan Beato akan pengalaman dengan Ayahnya. Ia biasanya memberi tahu semua hal terlebih dulu kepada Ayah. Misalnya saat ia pertama kali merokok, atau saat ia jatuh dari sepeda motor. Meski Ayahnya tidak banyak bercerita, ia menjadi sosok yang berbeda dibandingkan sosok Ayah dalam buku ini: bapaknya tidak bercerita tetapi menunjukan semuanya melalui gestur—berbeda dengan ibunya yang suka bercerita.
Beato menyukai karangan Ardi Yunanto ini karena menurutnya ketika plot atau latar belakang cerita adalah rumah, hal itu biasanya terasa dekat. Lebih lanjut ia penasaran juga dengan mengapa frasa ‘bermain rahasia’ hanya disebutkan satu kali. “Sedangkan yang dimaksudkan dengan ‘rahasia’ dalam Bermain Rahasia ini tampaknya terlalu remeh atau rahasianya bukanlah rahasia yang besar,” tutupnya.
Teman bincang selanjutnya adalah Lolik Apung. Ia mengharapkan ada kesinambungan antara buku ini dengan buku yang dibincangkan pada bulan sebelumnya yaitu Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Ternyata ia menemukan adanya perbedaan intimasi dalam cerita.
Tokoh utama dalam Bukan Pasar Malam digambarkan mengalami perbedaan gejolak batin yang alot ketika ia pulang kampung. Sedangkan dalam Bermain Rahasia, konflik yang dialami tokoh utama berpusat antara dirinya dengan sesuatu yang berada di luar, yaitu Ayahnya dan rahasia-rahasia yang disembunyikannya. “Mungkin karena perbedaan penggunaan perspekif narator. Pram memakai narator orang pertama, sedangkan Ardi menggunakan orang ketiga,” ujarnya.
Lebih jauh Lolik melihat jika buku ini menggambarkan situasi orang-orang yang pernah merantau. Para perantau membayangkan kehidupan yang lebih baik di tanah rantau, tetapi dalam kenyataannya mereka kemudian pulang dengan cerita yang beragam. Ada yang sukses dan ada yang gagal. Dalam Bermain Rahasia hal itu digambarkan melalui tokoh kakak sulung dari tokoh utama, yang diharapkan bisa mengurusi keluarga tetapi karena ia merantau, peran itu digantikan oleh Adinda, yang mana tidak disukai tokoh Ayah. Menurut Lolik, tanggung jawab di kampung ataupun di rumah tidak pernah kecil. “Ia menuntut ketulusan dan pengorbanan, yang kerap kali tidak dirasakan oleh orang-orang yang berangkat merantau,” tutupnya.
Setelah Lolik, Renata dan Caca tampil sebagai pebincang ke-11 dan ke-12. Renata merasa karangan Ardi Yunanto ini cukup relevan dengan kehidupannya, khususnya mengenai karakter anak perempuan yang terkadang tidak jujur dengan Ayah maupun Ibunya. Melalui buku ini ia juga merefleksikan hubungan dengan Ayahnya. Sedangkan Caca berpendapat jika tokoh Adinda dalam cerita ini tampak tidak dekat dengan Ayahnya. Hal ini bisa jadi karena tokoh Ayah yang tidak menerima jika anak perempuannyalah yang ternyata datang merawatnya ketika anak sulung laki-laki yang diharapkannya tidak pernah mengunjunginya karena merantau di tempat yang jauh.
Bincang Buku Bermain Rahasia pada malam itu berakhir dengan sematan bintang bintang 3,5 pada karya Ardi Yunanto ini.[*]
Baca juga:
– Bom Singkatan dan Perjuangan Kita Mengerti Arti Pandemi
– Tiba Sebelum Berangkat; Kisah yang Mengalir

sangat bagus
Kalimat nya bagus menarik bisa dibaca sangat sangat istimewa