Dasamuka: Ambiguitas, Otokritik, dan Tamasya yang Hilang
22 Agustus 2021| | 0 CommentDasamuka adalah sebuah pengantar menuju Perang Diponegoro meski kita tidak akan menemukan detail perang tersebut dalam buku ini.
Oleh: Retha Janu |
Alumnus Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sangat menyukai anak-anak dan bunga matahari. Saat ini aktif menjadi pengajar matematika di Rumah Belajar Ba Gerak, Ruteng, juga bergiat di Komunitas Teater Saja.
Dasamuka adalah buku ke-30 yang dibincangkan Klub Buku Petra. Meski harus bersua dan bertukar pengalaman membaca secara virtual pada tanggal 17 Juli 2021, diskusi buku yang satu ini amatlah menarik.
Sepuluh peserta hadir malam itu: Veronika Kurnyangsi, dr. Ronald Susilo, Maria Pankaratia, Armin Bell, Hermin Nujin, Marto Ryan Lesit, Lolik Apung, Abim Gondrong, Salim (Kupang), Yuan Jonta, dr. Reynald Susilo, dan saya sendiri.
Buku yang ditulis oleh Junaedi Setiyono ini mengisahkan tentang Willem Kappers, seorang sarjana Skotlandia. Ia ditugaskan oleh seorang ilmuwan untuk meneliti tentang bronjong di pulau Jawa setelah kekuasaan Belanda berhasil direbut oleh Kerajaan Inggris pada tahun 1811. Dari seorang Residen Yogyakarta, Willem pun mendapat tugas lain untuk mengamati cara hidup orang Jawa di bawah pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV. Tugas ini mempertemukannya dengan Dasamuka, tokoh yang banyak disinggung oleh anggota diskusi malam itu.
Bertindak sebagai pemantik diskusi, Vero memulai pembacaannya dengan memaparkan sebuah dugaan terhadap judul buku: Dasamuka. Menurutnya, buku ini akan bercerita tentang seseorang yang punya sepuluh rupa. Dugaan tersebut kemudian meleset ketika ia mulai membaca bab pertama. Tidak ada istilah Dasamuka di situ. Ia mengira, barangkali kesepuluh bab dalam buku ini adalah bagian dari Dasamuka (dasa: sepuluh, muka: wajah).
Selepas melahap habis Dasamuka, Vero merasa seperti baru saja melakukan perjalanan jauh. Ada begitu banyak hal yang dilalui dan dipelajari. Salah satunya adalah sejarah. Baginya, Dasamuka adalah sebuah pengantar menuju Perang Diponegoro meski kita tidak akan menemukan detail perang tersebut dalam buku ini. Buku yang berlatar pulau Jawa tersebut juga berhasil menuntun Vero kepada pengalaman lain tentang istilah-istilah yang tidak dijelaskan secara detail melalui catatan kaki. Misalnya, tentang perbedaan istilah loji, puri, gubuk, atau dualisme makna dari lema ‘bronjong’. Hal ini kemudian juga disoroti oleh peserta Bincang Buku Petra lainnya.
Lebih jauh lagi, Vero mengutarakan bahwa buku ini memiliki banyak kejutan. Salah satunya adalah akhir cerita yang menggantung yang dipakai oleh penulis. Bagi Vero, penulis memakai model ini (barangkali) karena sedang menyiapkan cerita lanjutan dari Dasamuka. Selain itu, alur buku ini kemudian hanya bisa dipahami jika kita membacanya sampai selesai.
Kemudian tiba giliran Dokter Ronald untuk bertukar hasil pembacaan. Ia teringat akan cara dan gaya menulis Rm. Mangunwijaya saat membaca novel ini: pelan dan detail. Mereka yang tidak suka membaca novel dengan tipe seperti ini akan kerepotan. “Oleh karena itu, buku ini sebaiknya dibaca kala sedang tidak sibuk,” komentarnya. Kisah bronjong dalam novel ini, baginya, menjadi sebuah adegan yang menegangkan. Hukuman bronjong pada cerita yang berlatar tahun 1800-an itu mengagetkan dirinya, apalagi hal tersebut terjadi di daerah Jawa, di mana sebagian besar orang-orangnya bertutur dengan cara yang sangat halus.
Hasil pembacaan Dokter Ronald, seperti biasa, diikuti pula dengan kesannya terhadap tokoh yang diidolakan. Dari novel Dasamuka, Rara Ireng (kekasih Dasamuka) menjadi tokoh yang menarik perhatian Dokter Ronald. Menurutnya, cerita tidak akan seru tanpa kehadiran si Rara Ireng, tokoh protagonis dalam novel ini. Faktor berikut yang turut menciptakan keseruan adalah alur penuh liku, tokoh yang legion, dan cerita yang berbelit-belit. Hal ini menjadi mungkin untuk ditulis karena barangkali penulisnya menyukai sesuatu yang rumit.
Dokter Ronald memberi apresiasi kepada penulis karena mengangkat kisah Diponegoro. Ia tahu bahwa ada begitu banyak versi cerita tentang Pangeran Diponegoro di antara masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, lewat Dasamuka, Junaedi Setiyono seperti hendak memberikan gambaran berbagai versi itu ke dalam satu gambaran fiksi sekaligus merangkum versi yang beragam tersebut.
Sebagai akhir komentarnya, Dokter Ronald mengkritisi kesalahan pengetikan yang tersebar hampir di seluruh bagian buku. Mengingat harga buku ini cukup mahal, menurutnya kesalahan mendasar seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi.
Selanjutnya, Abim Gondrong menyampaikan hasil pembacaannya. Ia punya cerita sendiri ketika mengulik buku ini. Membaca Dasamuka serupa memanggil pulang ingatannya akan seorang tokoh antagonis dalam kisah pewayangan. Mulanya Mas Abim menebak buku ini akan banyak bercerita tentang pewayangan. Namun, ketika mulai membaca tiga bab pertama, yang ditemukannya adalah pandangan etnik dari seorang tokoh bernama Willem, si peneliti. Hal yang menarik adalah karena Junaedi memberikan pandangan etnik seturut perspektif “orang luar/asing”.
Berbeda dengan para pembaca sebelumnya, menurut Mas Abim cerita ini menjadi kompleks bukan karena alurnya, melainkan karena ambisi dari setiap tokoh. Mas Abim melihat bahwa setiap tokoh dalam novel ini mempunyai sesuatu yang ingin dikejar secara sungguh-sungguh. Mas Abim sendiri terenyuh pada kisah cinta Dasamuka, si karakter kejam yang mempunyai cinta sejati. Sekalipun kisah cinta Dasamuka dengan Rara Ireng cukup menggenaskan, kisah ini menghadirkan sebuah refleksi khusus baginya, bahwa ternyata seseorang dengan karakter yang kejam sekalipun memiliki cinta sejati.
Hermin menjadi peserta selanjutnya yang meyampaikan hasil pembacaannya. Ia mengaku tidak selesai membaca buku ini. Ketika mengikuti bincang buku malam itu, Hermin baru tiba di halaman 244. Meski tidak selesai membaca, bagi Hermin buku ini terbilang asyik. Setelah mendengar akhir cerita yang disampaiakan tiga pembaca sebelumnya, Hermin mengaku tidak akan patah hati. Baginya kenikmatan cerita justru baik pada bentuk yang demikian. Berbeda dengan proses membaca buku-buku lain sebelumnya, Hermin tidak menaruh ekspektasi pada bagian akhir cerita.
Dari beberapa bagian yang telah dibacanya, Dasamuka menggambarkan sepuluh karakter berbeda. Bisa jadi watak kesepuluh tokoh ini ada di dalam satu orang saja seperti pada kisah Lima Pandawa. Di bagian awal Hemin menemukan tokoh Willem dan Den Wahyana, yang pada akhirnya ia pahami sebagai gerbang untuk mengenal Dasamuka. Hermin merasa Dasamuka bukanlah tokoh yang paling menonjol, sebab baginya setiap tokoh hadir dengan porsi yang sama, tetapi mempunyai muara keterkaitan dengan Dasamuka. Pada sisi lain, Hermin menilai tokoh Willem dalam novel ini sebagai seorang tokoh yang diskriminatif terhadap orang Jawa karena pandangan umumnya selama di tanah Jawa. Willem menempatkan orang Jawa sebagai kaum yang tidak berani melawan, menerima berbagai hal begitu saja padahal seharusnya mereka memiliki banyak kesempatan untuk bertindak melawan penjajahan.
Jika ditanya bagian mana dalam novel ini yang paling menyentuh, Hermin memilih kisah Rara Ireng dan Sultan Jarot. Pengakuan Rara Ireng bahwa ia tidak pernah disentuh oleh Sultan yang memiliki penggambaran buruk itu, membuat Hermin tersentuh. Hermin melihat perjuangan perempuan untuk mempertahanan banyak hal meski terkadang dipandang sepele.
Menanggapi apa yang disampaikan Hermin soal Willem, saya sendiri mempunyai pandangan yang berbeda. Bagi saya, sikap Willem bukanlah sebuah sikap diskriminatif. Apa yang disampaikannya adalah murni pandangannya sebagai seseorang yang datang untuk meneliti.
Sama seperti Hermin, saya belum tuntas membaca buku ini. Namun, berbeda dengan penggambaran tokoh Dasamuka dari para peserta bincang buku yang lain, saya merasa Dasamuka adalah tokoh yang cerdik. Kecerdikannya itulah yang membuatnya disebut Dasamuka. Tokoh ini sendiri mengingatkan saya pada kisah si Pondik seorang tokoh dalam cerita orang Manggarai yang cerdik dan licik.
Hal yang saya sesalkan terjadi dalam novel ini adalah pilihan Rara Ireng dan Dasamuka. Mereka memilih mengorbankan rumah tangganya untuk mencapai tujuan lain yaitu harta. Padahal Dasamuka telah berjuang susah payah untuk mendapatkan Rara Ireng. Bagi saya, pilihan itu bukan sebuah pilihan yang bijak.
Maria menjadi peserta selanjutnya yang menyampaikan hasil pembacaannya. Maria baru tiba di bab lima ketika bincang buku ini dimulai. Menurut Maria, cerita dalam novel ini memang menarik, tetapi alurnya terlalu pelan sehingga diperlukan waktu khusus untuk menikmatinya. Ketika membaca buku ini, Maria terkenang novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang juga berlatar kebudayaan Jawa.
Kemudian, istilah bronjong membawa Maria pada review yang ditulis Dahlan Iskan yang secara khsusus membahas tentang alat penyiksaan ini. Dari sana diketahuinya, bahwa hanya ada sedikit referensi baik karya tulis maupun film tentang bronjong, padahal istilah ini sebenarnya cukup menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.
Komentar berikutnya datang dari beberapa peserta yang sama sekali belum membaca buku ini, tetapi ikut mendengarkan peserta lain yang telah menyampaikan hasil pembacaannya. Kak Salim, yang juga adalah salah satu pegawai di Kantor Bahasa NTT, mengaku mengikuti bincang buku ini karena secara khusus ingin mendengarkan cerita tentang bronjong. Referensi tentang bronjong amat terbatas ketika ia berusaha mencarinya. Beberapa hal menarik yang ia temukan, salah satunya adalah alasan mengapa harimau di Jawa mengalami kepunahan. Ternyata bronjong menjadi salah satu penyebabnya. Kebiasaan mengadu manusia dengan harimau atau harimau dengan babi hutan pada zaman dahulu, menyebabkan populasi Harimau Jawa menjadi sangat langka. Bronjong juga disebutnya sebagai sarana hiburan di lingkup kerajaan dan para bangsawan karena dianggap sebagai prestise.
Dari spoiler lain yang diperoleh Kak Salim dari bincang buku malam itu, ia menemukan kesamaan gaya menulis Junaedi dengan karya sebelumnya, novel Arung Dalu. Junaedi memiliki kecenderungan menggunakan beberapa realitas dalam satu novel. Dalam Dasamuka sendiri ada tiga realitas yang dipakai penulis, yaitu Dasamuka sebagai tokoh pewayangan, tokoh fiksi, dan sebagai realitas sejarah masyarakat Yogyakarta. Pertanyaannya adalah, apakah sesungguhnya Dasamuka (Danar) memang ada dalam kisah sejarah Yogyakarta?
Menanggapi kesan teman-teman soal makna Dasamuka, Kak Salim sepakat dengan teman-teman sebelumnya, Dasamuka sepertinya sengaja diniatkan sebagai sebuah ambiguitas; sebagai tokoh sekaligus sebagai sebuah metafor. Adapun sebagai sebuah otokritik, Dasamuka mengajak pembaca untuk berperilaku secara jujur dan tidak bermuka dua.
Komentar berikut datang dari Marto Lesit. Baginya, Junaedi mencoba memproduksi karakter tokoh yang menggambarkan beragam karakter/wajah manusia. Lebih jauh, Marto menyampaikan bahwa Dasamuka merupakan sebuah karya sastra sejarah tentang peradaban Jawa masa itu. Marto memberi apresiasi karena detail sejarah yang diceritakan Junaedi menggambarkan risetnya yang ketat.
Namun demikian, meskipun detil fakta historis yang dipakai buku ini baik, Marto merasa lekas jenuh ketika penulis mulai bercerita terlalu detail. Entah karena model penceritaanya yang cukup kaku atau barangkali, ia sendiri tidak punya cukup referensi tentang budaya Jawa untuk menggeluti Dasamuka.
Armin Bell menjadi peserta bincang buku selanjutnya. Baginya buku ini ditulis dengan cara yang tidak terlampau menimbulkan efek senang atau bahagia. Salah satu tujuan membaca baginya adalah agar bisa berekreasi dalam cerita. Membaca seharusnya membuat pembaca menikmati cerita seperti ketika pergi ke pantai, memandang ombak. Seperti tamasya.
Armin menyebut beberapa buku lain yang baginya ditulis dengan gaya bercerita yang baik adalah dwilogi Bekisar Merah dan Belantik karya Ahmad Tohari. Buku yang akrab dengan suasana Jawa tersebut mampu memberi ruang kepada pembaca non Jawa untuk mengakses buku tersebut dengan nyaman. Atau pada Ronggeng Dukuh Paruk, pembaca memperoleh beragam informasi, juga dalam waktu bersamaan bisa memahami alur ceritanya. Atau pada novel Sampar (Albert Camus) yang bercerita tentang wabah pes. Semua informasi dari novel tersebut tergambar jelas justru melalui relasi antar tokoh yang diceritakan dengan baik. Baginya, membaca juga seharusnya memberi kesempatan kepada pembaca itu sendiri untuk tidak kehilangan ruang personal.
Hal-hal tersebut, menurutnya, tidak ada dalam Dasamuka. Meski buku ini ditulis dengan metodologi yang ketat, tetapi secara teknik penceritaan masih banyak hal yang rasanya perlu dibenahi. Buku ini seolah memberikan pembaca tumpukan informasi yang disajikan dengan sangat baik, tetapi tidak cukup sinematik–jika meminjam bahasa film. Cara bertutur penulis tidak membuatnya menikmati buku ini.
Peserta terakhir yang memberi komentar adalah Lolik Apung. Ia tidak membaca buku ini, hanya melalui judul buku ini ia menilai jika tujuan penulis menghela beragam karakter tidak lain agar pembaca mampu melihat karakternya masing-masing melalui karakter-karakter yang disajikan.
Malam itu, para peserta bincang buku menyematkan bintang tiga untuk novel kedua Junaedi Setiyono ini. Buku berikutnya yang akan dibincangkan di Klub Buku Petra adalah Molas Flores Gadis Pulau Bunga karya Penulis Manggarai, Willy Hangguman. Sampai jumpa!
Baca juga:
– Diseret Puisi ke Hull dan London
– Menikmati Konflik dalam Novel Kerudung Merah Kirmizi
– Lebih Dekat dengan Pemenang Lomba Cerpen ODGJ
