Kisah Cincinnatus – Cerpen James Baldwin
24 Agustus 2025| | 7 CommentsAda kabar baik dari Cincinnatus. Orang-orang pegunungan itu berhasil dikalahkan dengan kekalahan telak.
Oleh: Wakhidatus S. |
Sarjana sastra yang sedang belajar cara untuk menjamah makna kata bahasa lain dengan memaksimalkan kosa kata Bahasa Indonesia yang tersedia.
Ada seorang pria bernama Cincinnatus yang tinggal di ladang kecil tidak jauh dari Kota Roma. Dulu, dia kaya raya. Bahkan, dia pernah memegang jabatan tertinggi di pulau itu. Namun, karena suatu hal, dia kehilangan semuanya. Sekarang dia jatuh miskin, sehingga harus mengerjakan seluruh pekerjaannya sendiri. Kala itu, menggarap tanah dianggap sebagai hal yang mulia.
Cincinnatus adalah orang yang sangat bijaksana dan adil sehingga orang-orang percaya padanya, dan meminta nasihatnya; dan ketika seseorang berada dalam masalah dan tidak tahu harus berbuat apa, tetangganya akan berkata,
“Pergilah dan beri tahu Cincinnatus. Dia akan menolongmu.”
Pada masa itu, di pedalaman pegunungan, tidak jauh dari sana, tinggallah sebuah suku yang terdiri dari orang-orang barbar, yang sedang berperang melawan bangsa Romawi. Mereka membujuk suku lain yang terdiri dari prajurit perkasa untuk membantu mereka, kemudian berbaris menuju kota, menjarah dan merampok sepanjang jalan. Mereka membual dengan mengatakan bahwa mereka akan meruntuhkan tembok Roma, dan membakar rumah-rumah, dan membunuh semua laki-laki, serta memperbudak wanita dan anak-anak.
Pada awalnya, orang-orang Romawi, yang bermartabat dan berani, tidak menganggap adanya bahaya. Setiap laki-laki di Roma dulunya adalah prajurit, dan pasukan yang dikirim untuk melawan para perampok adalah yang terbaik di dunia. Tak ada seorang pun yang tinggal di rumah bersama wanita, anak-anak dan pemuda, kecuali para “tetua” berambut putih, seperti namanya, mereka adalah orang yang membuat undang-undang untuk kota, dan sekelompok kecil pria yang menjaga tembok. Semua orang berpikir bahwa mengusir orang-orang gunung itu kembali ke tempat asal mereka akan menjadi hal yang mudah.
Namun pada suatu pagi, lima penunggang kuda bergegas menuju kota dari pegunungan. Mereka menunggang kuda dengan kecepatan tinggi; dan baik kuda maupun penunggangnya tertutupi oleh debu dan darah. Penjaga yang berada di gerbang mengenali mereka, dan berteriak kepada mereka yang sedang berpacu kencang. Mengapa mereka menunggang sampai seperti itu? Dan apa yang telah terjadi dengan pasukan Romawi?
Mereka tidak menjawabnya, tetapi melesat memasuki kota dan melintasi jalan-jalan yang sepi; dan semua orang berlari mengikuti mereka, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Roma bukanlah kota yang besar kala itu; dan segera sampailah mereka di pasar tempat para tetua berambut putih sedang duduk. Kemudian mereka melompat dari kuda, dan menceritakan kisah mereka.
“Hanya kemarin,” kata mereka, “pasukan kita sedang berbaris melalui lembah sempit di antara dua pegunungan terjal. Tiba-tiba seribu pria barbar bermunculan dari balik bebatuan yang ada di depan kami dan di atas kami. Mereka telah mengepung jalan; dan jalannya sangat curam sehingga kami tidak bisa melawan. Kami berusaha kembali; tapi mereka juga telah mengadang jalan di sisi lainnya; para lelaki barbar dari pegunungan berada di depan dan belakang kami, dan mereka melempari kami dengan batu-batu tepat dari atas kami. Kami telah terjebak dalam perangkap. Kemudian sepuluh orang dari kami memacu kuda kami; dan lima dari kami memaksa lewat, tetapi lima orang lainnya gugur tertusuk tombak para pria gunung. Dan sekarang, wahai, Para Bapa Romawi! Kirimkanlah bantuan bagi pasukan kita, atau setiap orang akan terbunuh, dan kota kita akan direbut.”
“Apa yang harus kita lakukan?” kata para tetua berambut putih. “Siapa yang bisa kita kirim selain para penjaga dan pemuda? Dan siapa yang cukup bijaksana untuk memimpin mereka, dan menyelamatkan Roma?”
Semua orang menggelengkan kepala dengan muram; seolah-olah sudah tidak ada harapan lagi. Lantas seseorang berkata, “Beri tahu Cincinnatus. Dia akan menolong kita.”
Cincinnatus sedang membajak ladang ketika para utusan yang dikirim kepadanya datang dengan sangat tergesa-gesa. Dia berhenti dan menyambut mereka dengan ramah, lalu menunggu mereka berbicara.
“Kenakan jubahmu, Cincinnatus,” perintah mereka, “dan dengarkan pesan rakyat Romawi.”
Cincinnatus bertanya-tanya apa maksudnya. “Apakah semuanya baik-baik saja di Roma?” tanyanya; dan dia menyuruh istrinya untuk membawakan jubahnya.
Sang istri membawakan jubah itu; dan Cincinnatus mengibaskan debu dari tangan dan lengannya, lalu memakai jubahnya di pundaknya. Kemudian para utusan menyampaikan tugas mereka.
Mereka memberitahunya bahwa pasukan Romawi beserta para bangsawan terhormatnya telah terjebak di celah pegunungan. Mereka memberitahunya tentang bahaya besar yang mengancam kota. Mereka berkata, “Rakyat Romawi menunjukmu sebagai penguasa mereka dan penguasa kota mereka, untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendakmu; dan para tetua memintamu segera datang dan melawan musuh-musuh kita, para pria barbar dari pegunungan.”
Jadi, Cincinnatus meninggalkan alat pembajaknya begitu saja, dan bergegas menuju kota. Ketika dia melewati jalan-jalan kota, dan memberikan perintah tentang apa yang harus dilakukan, sebagian orang merasa takut, karena mereka tahu bahwa dia memiliki kewenangan di Roma untuk melakukan apa yang dia mau. Namun, dia mengerahkan pasukan penjaga dan pemuda, kemudian pergi dengan penuh tekad untuk melawan orang-orang pegunungan yang barbar, dan membebaskan pasukan Romawi dari perangkap yang menjerat mereka.
Beberapa hari setelahnya ada kegembiraan yang besar di Roma. Ada kabar baik dari Cincinnatus. Orang-orang pegunungan itu berhasil dikalahkan dengan kekalahan telak. Mereka telah dipaksa kembali ke tempat asal mereka.
Dan kini pasukan Romawi, bersama para pemuda dan penjaga, pulang ke rumah dengan bendera yang berkibar, dan sorak-sorai kemenangan; dan di depan mereka ada Cincinnatus. Dia telah menyelamatkan Roma.
Cincinnatus mungkin saja telah menobatkan dirinya sebagai raja; karena telah memberikan perintah dan tidak ada seorang pun yang berani mengangkat jari telunjuk untuk menentangnya. Namun, sebelum rakyat sempat mengucapkan terima kasih yang cukup atas apa yang dia lakukan, dia mengembalikan kekuasaan itu kepada para Tetua Romawi berambut putih, dan pulang kembali ke ladang kecilnya dan alat pembajaknya.
Dia telah memimpin Roma selama enam belas hari.[*]
Tentang James Baldwin |
James Baldwin (James Arthur Baldwin) adalah seorang penulis Afrika-Amerika dan aktivis hak-hak sipil yang mendapat pujian atas esai, novel, drama, dan puisinya. Novelnya yang terbit pada tahun 1953, Go Tell It on the Mountain, telah dinobatkan majalah Time sebagai salah satu dari 100 novel berbahasa Inggris terbaik.
Ilustrasi: Cincinnatus (Marcello Bacciarelli), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Mengapa Orang-Orang Hilang dari Sebuah Cerita?
– Sebelum Kita Membakar Jembatan

cerita bagus banget
aku ingin menjadi penulis juga
puisinya sangat menarik pembaca, bagus, serta mendapatkan ilmu tambahan
ceritanya nyata
Ingin menjadi penulis
Aku juga ingin menjadi penulis bersama mu
Saya juga ingin jadi penulis