Menu
Menu

Jennie mengetuk pintu berkali-kali, tetapi aku tak menjawab. Aku terlalu sibuk. Kertas itu harus habis. Ia harus keluar malam ini.


Oleh: Erna Surya |

Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpennya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Senang membaca sastra klasik dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah belajar di UNS jurusan Linguistik Penerjemahan.


Jarang sekali perempuan biasa seperti aku diizinkan tinggal di rumah semegah ini. Sebuah rumah tua bergaya kolonial, berdiri di atas bukit, dengan jendela-jendela tinggi dan taman yang meriap bagai waktu yang lupa disapu. Dindingnya menua, berlumut di beberapa sisi, seakan mengingat setiap napas yang pernah berembus di dalamnya. John bilang rumah ini sempurna untukku—sunyi, jauh dari hiruk kota, dan penuh udara segar yang menyehatkan. Ia bilang aku perlu beristirahat, menenangkan pikiran yang terlalu sering mengembara.

Katanya aku tidak sakit, hanya kelelahan saraf. Hanya terlalu banyak berpikir. Namun aku tahu di dalam tubuhku ada sesuatu yang lain—sesuatu yang halus, lembut, tapi selalu berdenyut di bawah kulitku, seperti benih rahasia yang tak mau berhenti tumbuh.

Aku menulis ini diam-diam, sebab John tidak suka aku menulis. Ia bilang tulisan hanya menguras tenaga dan membuatku semakin lemah. Namun, aku merasa hanya lewat tulisan aku bisa tetap hidup. Kalimat adalah jendela kecil yang kutarik pelan agar udara bisa masuk, agar aku tak sepenuhnya terkurung.

Kamar kami di lantai atas. Ruangan luas dengan jendela di tiga sisi dan jeruji halus di setiap bingkai—katanya untuk keamanan anak-anak, tetapi aku tahu lebih dari itu. Langit-langitnya tinggi, lantainya kasar, dan yang paling mencolok: kertas dinding itu.

Warna kuningnya aneh. Bukan kuning bunga, bukan kuning matahari, bukan pula kuning emas. Tetapi kuning yang sakit—kuning yang sudah lama kehilangan cahaya. Kuning seperti kulit yang terbakar waktu, seperti daging yang hampir busuk tetapi belum mati. Kuning yang berbau lembap, getir, dan selalu seolah menempel di udara.

Awalnya aku membencinya, tapi semakin lama aku menatap, semakin aku merasa kertas dinding itu hidup. Berliku-liku, tidak berpola sama sekali. Ada garis yang naik, turun, melingkar, dan selalu berhenti di tempat yang tak terduga. Seolah seseorang menggambarnya dalam keadaan demam.

Di malam hari, ketika bulan naik perlahan dan John tertidur di sampingku, aku duduk di tepi ranjang dan menatapnya lama. Kadang aku merasa ada yang bergerak di balik kertas itu. Samar, seperti bayangan seseorang yang terjebak di dalam dinding dan sedang berusaha keluar.

John selalu lembut. Kadang terlalu lembut hingga rasanya seperti pisau yang disarungkan. Ia memanggilku “sayang kecil”, seperti seorang anak perempuan yang nakal tetapi dicintai. Ia memegang pergelangan tanganku dan bilang aku harus berbaring lebih sering, makan lebih banyak, dan jangan berpikir tentang hal-hal yang tak perlu.

Aku mengangguk. Tetapi di dalam kepalaku, aku tetap berpikir. Tentang kertas itu. Tentang perempuan di baliknya.

Siang hari aku sering duduk sendirian, menulis di buku kecil ini sambil berpura-pura tidur. Kadang aku mendengar langkah kaki pelan di lorong. Mungkin Jennie, adik John, yang membantu kami. Ia perempuan baik, tetapi matanya selalu mengawasi dengan tenang—seperti ia tahu ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalamku.

Aku mencoba mencintai rumah ini, tetapi setiap sudutnya seakan menatap balik. Setiap malam, bayangan di kertas itu semakin jelas. Aku mulai yakin bahwa di balik pola yang acak itu ada bentuk tubuh perempuan yang membungkuk, berusaha merangkak keluar. Ia bergerak perlahan, seolah tali tak terlihat melilit pergelangan kakinya.

***

Suatu malam, aku hampir mendengar suaranya. Bukan suara yang jelas, melainkan gesekan lembut di antara lapisan kertas, seperti kuku menggores dari dalam. Aku menahan napas.

John tertidur di sampingku. Wajahnya tenang, tetapi aku merasa seluruh ruangan berdenyut.

Keesokan paginya aku bilang padanya bahwa aku ingin pindah kamar. Ia tertawa. Katanya aku terlalu imajinatif. Ia mencium keningku dan berkata, “Kau tahu aku mencintaimu, ‘kan? Jangan biarkan pikiranmu mengkhianatimu.”

Aku hampir menangis. Sebab yang mengkhianatiku bukan pikiranku, melainkan kenyataan yang terus berubah setiap aku menatap kertas itu.

Hari-hari berikutnya terasa panjang. Aku tak tahu apakah aku tidur terlalu lama atau tidak tidur sama sekali. Waktu seakan melarut, seperti jam pasir yang bocor pelan-pelan.

Aku mulai memperhatikan bahwa perempuan di balik pola itu berubah posisi. Kadang ia membungkuk, kadang ia setengah berdiri, kadang wajahnya menempel begitu dekat di belakang kertas, sampai aku bisa merasakan napasnya dari celah sobekan kecil yang mulai kupelintir dengan jari.

Aku mulai mencium baunya—bau lembap yang tak bisa hilang walau jendela kubuka lebar. Bau itu menempel di kulitku, di bantal, di rambutku. Aku yakin Jennie juga menciumnya, sebab suatu siang ia masuk dan memandang kertas itu lama. Namun, ketika aku bertanya, ia hanya tersenyum canggung dan berkata, “Mungkin lembap karena hujan.”

Malamnya aku mendengar suara langkah di halaman. Ketika kulongok, bulan menggantung seperti mata setengah tertutup, dan di jalan berdebu aku melihat sesuatu bergerak. Perempuan itu—aku yakin—merangkak di bawah cahaya bulan, mengikuti pola bayangan pepohonan yang mirip dengan pola kertas dindingku.

Ia tidak menatapku, tetapi aku tahu ia tahu aku melihatnya.

***

John semakin sibuk. Ia bilang pasiennya bertambah, dan aku harus belajar berdiri sendiri. Ia tidak tahu bahwa semakin aku sendiri, semakin kertas itu bicara padaku.

Kadang aku merasa dinding itu bernapas. Pola-pola yang dulu tampak acak kini menjadi jaring, dan aku tahu perempuan itu sedang memegangi jeratnya dari dalam, menunggu waktu yang tepat untuk keluar.

Aku mulai menarik-narik ujung kertasnya. Awalnya hanya sedikit, di sudut bawah dekat tempat tidur. Tapi sekali kau memulai, tak ada jalan kembali. Suara robekannya menimbulkan kepuasan aneh—seperti kulit yang akhirnya lepas dari luka lama.

Aku melakukannya setiap kali John pergi. Jennie memergokiku sekali, tapi aku bilang aku ingin membersihkan noda di dinding. Ia percaya, atau berpura-pura percaya. Aku tak peduli.

***

Sekarang aku tahu. Perempuan itu memang ada. Ia terjebak di balik pola kertas yang aneh, dan di siang hari ia bersembunyi, tetapi malam-malam berbulan penuh ia merangkak ke luar. Kadang aku melihat banyak perempuan merangkak bersama di taman—semuanya berusaha menembus jeruji tak terlihat yang mengelilingi rumah ini.

Mereka keluar saat senja, tetapi selalu kembali sebelum pagi. Mungkin karena mereka belum berani keluar sepenuhnya. Tetapi aku berbeda. Aku akan membantunya. Aku akan membebaskannya.

Aku menunggu hari ketika John pergi seminggu penuh. Saat itu aku menutup pintu, mengunci semua jendela, dan mulai menarik kertas itu dari dinding. Setiap lapisnya seolah berteriak, tapi aku tak berhenti. Aku mengelupasnya dengan jari, dengan gigi, dengan seluruh tenaga yang kumiliki.

Jennie mengetuk pintu berkali-kali, tetapi aku tak menjawab. Aku terlalu sibuk. Kertas itu harus habis. Ia harus keluar malam ini. Dan ketika akhirnya separuh ruangan terkelupas, aku melihatnya. Perempuan itu keluar. Rambutnya acak, matanya seperti cermin rusak, tubuhnya kurus dan panjang, tetapi wajahnya, wajahnya adalah wajahku.

***

Aku tertawa. Aku menangis. Aku merangkak mengelilingi ruangan, mengikuti jejaknya di dinding yang sudah sobek. Setiap putaran membuatku semakin ringan. Aku bukan lagi istri John. Aku bukan lagi pasien. Aku bukan siapa-siapa, dan justru karena itu aku bebas.

Ketika John pulang dan memaksa pintu, aku sudah merangkak mengitari kamar puluhan kali. Ia berdiri di ambang, wajahnya pucat, lalu jatuh pingsan. Aku melewatinya pelan, merangkak di atas tubuhnya, terus berjalan mengikuti lingkar yang tak pernah selesai.

Karena sekarang aku tahu: aku sudah keluar. Dan aku tak akan kembali ke balik kertas itu lagi.[*]


Tentang Charlotte Perkins Gilman

Charlotte Perkins Gilman, juga disebut Charlotte Perkins Stetson (3 Juli 1860 – 17 Agustus 1935), adalah tokoh feminis, sosiolog, novelis, penulis cerita pendek, puisi dan nonfiksi, serta dosen untuk reformasi sosial asal Amerika Serikat.


Ilustrasi: Green, Yellow and Orange (Georgia O’Keeffe), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Origin: Robert Langdon Berlari Lagi
Esai Alberto Manguel – Suara Kassandra


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

18 thoughts on “Kertas Dinding Kuning – Cerpen Charlotte Perkins Gilman”

  1. giri wulan berkata:

    cerpen nyaa baguss, aku sukaa cerita nyaa teruss buat aku menarik dan seru sih inii

  2. Riel berkata:

    Wah, cerita ini benar-benar kuat dan menyeramkan sekaligus menyedihkan. Dari awal sampai akhir, suasananya terasa mencekam tapi juga penuh emosi. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan kegilaan tokohnya lewat kertas dinding yang dikupas—simbol banget dari perasaan terjebak dan ingin bebas. Bagian ketika perempuan itu akhirnya “keluar” dari balik kertas benar-benar bikin merinding, tapi juga terasa seperti kemenangan. Cerita ini bikin aku mikir tentang bagaimana tekanan dan kesepian bisa membuat seseorang kehilangan jati diri, tapi di sisi lain menemukan kebebasan dengan caranya sendiri. Singkatnya, ini cerita yang gelap tapi sangat bermakna.

    1. rivaldengo berkata:

      cuandirumasaja

    2. Lexi berkata:

      Panjang banget ceritanya

  3. Marsa Azizaturrahmah berkata:

    Mudah dipahami

  4. Farel berkata:

    Cerpen sangat menarik dan mudah di pahami

  5. dandelions berkata:

    haaahh jadiiiiii… gimana gimanaa?? 😣

    1. bella berkata:

      cinta itu palsu

      1. Lexi berkata:

        Memang cinta itu palsu ya

      2. shyntiaaa berkata:

        bagus banget cerpen nya baca dari awal sampai akhir sangat menyenangkan

      3. shyntiaaa berkata:

        bagus banget cerpen nya baca dari awal sampai akhir sangat menyenangkan

    2. Lexi berkata:

      Aku juga bingung 😕

      1. shyntiaaa berkata:

        bagus banget cerpen nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *