Menu
Menu

Bisikan dengki si Gila Ketiga segera menyebar ke seluruh Orang Gila yang menyaksikan Persidangan Batu itu.


Oleh: Syafiq Addarisiy |

Pengajar di PP. Assalafiyyah dan alumnus di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Bergiat di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, Kompas.id, Basabasi.co, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Pewara Dinamika, dan lain-lain.


1./ Batu Terbang dan Lima Orang Gila

Di sebuah rumah makan di suatu negeri jauh, negeri yang pulau-pulaunya adalah cuilan surga yang terluka, negeri yang lagu-lagunya adalah nyanyian-nyayian bidadari pencari, negeri di mana banyak hal ajaib ada di dalamnya, terdapat sebongkah batu yang dipercaya bisa terbang. Kehebatan batu itu sudah terkenal ke seantero penjuru negeri. Meski begitu, lima Orang Gila memutuskan untuk tidak memercayainya.

Lima Orang Gila itu sendiri gila bukan karena kehilangan kewarasannya. Mereka memiliki akal yang sempurna. Mereka gila sebab tak mengamini apa yang banyak orang yakini, sebab tak memercayai bahwa si Batu sungguh-sungguh bisa terbang. Mereka menganggap mustahil hal itu dapat dilakukan oleh batu dari ras mana pun. Akhirnya, karena sudah kelewat geram, mereka berkumpul di suatu rumah makan dan memusyawarahkan apa yang harus dilakukan terhadap tingkah si Batu.

“Terbang adalah tugas burung. Batu, meski yang tertanam di cincin Nabi Sulaiman sekali pun, tidak bisa melakukan itu,” kata si Gila Pertama.

“Betul. Batu memang bisa melayang jika dilemparkan, tapi tak ada batu yang bisa terbang,” susul si Gila Kedua.

“Akan gawat jika Batu itu terus mengaku-aku bisa terbang, dan sudah tanggung jawab kita untuk mencegah hal itu terjadi!” sambung si Gila Ketiga menimpali.

“Ya, begitulah yang seharusnya. Bayangkan jika rakyat negeri ini kehilangan pegangan tentang kebenaran gara-gara Batu itu menggembar-gemborkan kebohongannya soal terbang. Apa yang bakal terjadi?” tanya si Gila Keempat.

“Hanya ada satu cara mencegahnya: menguak kebohongan Batu itu di hadapan seluruh rakyat secara langsung!” pungkas si Gila Kelima.

Bagaikan nabi dan rasul yang mendapat wahyu langsung dari Tuhan, keempat Orang Gila itu terdiam, terpantik kesadarannya oleh ucapan si Gila Kelima. Mereka pun mulai berandai-andai tentang suatu sidang peradilan di mana si Batu musti membuktikan kemampuan terbangnya.

Si Gila Pertama membayangkan tentang wajah jelek si Batu ketika akhirnya seisi negeri tahu bahwa ia tak bisa beranjak dari tanah di mana ia berpijak. Si Gila Kedua senyam-senyum sendiri memikirkan si Batu yang terdiam kaku dan gemetaran. Si Gila Ketiga dan Keempat dan Kelima bahagia membayangkan si Batu menangis dan ngompol di tempat.

Tapi kebahagiaan itu buyar seketika ketika satu Manusia Waras yang juga sedang makan di samping meja mereka tiba-tiba berkomentar, “Untuk apa pula membuktikan kemampuan terbang si Batu? Apa akan membuat kehidupan di negeri kita ini membaik?”

2./ Manusia Waras

“Kau mau tanggung jawab jika seluruh rakyat negeri kita ini jadi memercayai ada Batu yang bisa terbang?” sahut si Gila Ketiga dengan nada tinggi.

“Kau ingin rakyat tanah kita tercinta ini dijangkiti penyakit bodoh akibat dibanjiri tipu muslihat?” sahut si Gila Keempat dengan nada tak kalah tinggi.

Si Manusia Waras tersenyum kecil dan pergi ke luar rumah makan. Kelima Orang Gila mengiringi kepergian si Manusia Waras dengan tatapan marah, sebelum melanjutkan pembahasan tentang persidangan si Batu.

“Dia musti mempraktikkan kemampuannya terbang di tempat persidangan nanti.”

“Betul. Di tempat yang sudah kita sediakan. Di depan mata kita semua.”

“Ya. Jika tak mampu, maka ia betul-betul telah menipu seluruh rakyat negeri ini.”

“Memang itulah faktanya, dan kita musti menghentikan pembodohan publiknya itu. Demi masa depan seluruh rakyat kita.”

Jadilah Sidang Batu itu diselenggarakan di tempat, waktu, dan hari yang telah ditentukan. Si Batu diam menunggu di podium sidang dengan tenang. Diam-diam, kelima Orang Gila itu memendam kagum terhadap bagaimana cara si Batu membawakan diri di hadapan majelis Sidang Batu.

Kekaguman mereka itu betul nyata, meski tak lama. Sebab, setelah beberapa saat, sesudah menganggap situasi lumayan terkondisikan, si Gila Ketiga berbisik pada si Gila Keempat, “Lihat caranya menunggu sidang ini dimulai, sombong sekali.”

“Betul,” sahut si Gila Keempat, “pandai sekali ia menyembunyikan ketakutannya. Dasar penipu!”

Bisikan dengki si Gila Ketiga segera menyebar ke seluruh Orang Gila yang menyaksikan Persidangan Batu itu. Bisik-bisik segera menjelma kegaduhan yang merata. Tapi kegaduhan itu segera terhenti tatkala si Gila Pertama, dengan suara yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar berwibawa, berkata: “Selamat pagi, Batu.”

Tak ada jawaban.

Setelah tersenyum kecil, si Gila Pertama melanjutkan, “Jadi, Batu, maksud kami mengundangmu kemari adalah untuk menunjukkan pada seluruh rakyat tanah kita tercinta terutama para hadirin yang tak percaya, bahwa kemampuan terbangmu bukan sekadar kebohongan belaka. Untuk itu, kami memintamu untuk tidak berlama-lama dan memperpanjang masalah yang sudah kauciptakan. Terbanglah.”

Tak ada jawaban.

“Kau mengerti, Batu?”

Tak ada jawaban.

Si Gila Pertama berdehem kecil lalu berkata, “Aku yakin kau mengerti dan mau bekerja sama dengan kami untuk merampungkan kasus ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bukan begitu?”

Tak ada jawaban.

Keheningan yang sebelumnya begitu padat mulai retak. Bisik dan kasak-kusuk kembali membahana. Semua membicarakan sikap diam si Batu yang khusyuk dalam diamnya sendiri.

“Tak usah berlagak! Dasar Batu!” teriak salah satu pengikut Orang Gila.

“Cepat buktikan kemampuan terbangmu!” sambung yang lain.

“Tak usah fafifu. Kami sudah tahu tipu muslihatmu!”

“Kalau tak kunjung bersuara, kita kelahi saja!”

Si Gila Pertama yang memimpin persidangan memandangi kawan-kawan seperjuangannya. Ia terharu melihat betapa bersemangatnya mereka semua. Ia seperti melihat keajaiban: Semangat yang padu untuk menyingkap tirai kebohongan.

Melihat itu, si Gila Pertama tahu mesti berbuat apa: Diam saja memandangi itu semua. Baginya, itulah kenikmatan meski sadar bahwa itu tak akan menyelesaikan apa pun. Ia tahu seharusnya ia melakukan sesuatu, tapi ia sendiri tak tahu harus berbuat apa sampai si Gila Kelima menepuk pundaknya dan berkata, “Langsung ke intinya saja: Sampaikan ke publik kebenarannya!”

Seperti mendapat pencerahan langsung dari surga, Si Gila Pertama membulat matanya, memandang ke arah Batu Terbang yang masih tegak dan tenang di tempatnya, lalu berkata, “Hei, Batu, mengakulah, berhenti menebar kebohongan dan lekaslah mengudara jika kau mampu!”

Mendengar itu, si Gila Kedua, Ketiga, Keempat, dan orang-orang gila lainnya segera menyambung dengan semangat yang menggelora.

“Dasar Batu Penipu! Tunjukkan kemampuan terbangmu!”

“Ngomong kamu; dasar Batu!”

“Cepat terbang!”

“Penipu!”

“Kita bakar saja dia!”

Tak ada jawaban dari si Batu. Batu Terbang itu masih tenang dan tegak di tempatnya semula, seperti sedia kala, seakan tak terjadi apa-apa.

3./ Batu Terbang, Orang-orang Gila, dan Tak Ada Manusia Waras

Entah dari mana, di tengah kemelut teriakan dan pekik kemarahan Orang-orang Gila itu, si Manusia Waras berjalan membelah kerumunan dengan ketenangan yang sama dengan si Batu. Ia lalu berkata, “Wahai Batu, tidakkah kau lihat betapa lucu orang-orang di depanmu? Mereka memaksamu terbang. Padahal, yang sungguh mereka inginkan adalah yang sebaliknya.”

Seluruh Orang Gila memandang si Manusia Waras dengan tatapan sekawanan serigala mengepung seekor anak domba. Ucapan si Manusia Waras itu melukai hati mereka semua dalam sekali tempo. Tapi si Manusia Waras tak peduli, dan terus mengajak bicara Batu Terbang itu.

“Kau lihat, Batu, mereka mendatangimu, memaksamu menunjukkan kemampuan terbang yang mereka yakini tidak kau miliki. Jadi, maukah kau, Batu, menunjukkan pada mereka kebolehanmu? Sedikit saja.”

Tak ada jawaban. Batu itu tetap diam, tenang, seakan tak terjadi apa-apa.(*)


Ilustrasi dari Wikiart.org.

Baca juga:
Cerpen Bulan Nurguna – Munmun dan Sansan
Cerpen Aura Asmaradana – 2/11


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

6 thoughts on “Persidangan Batu”

  1. Lovinea berkata:

    Wah bagus sekalii

  2. Hizbi berkata:

    ngena banget cerpennya

  3. penulis pemula berkata:

    cerpen yang menarik dan menginspirasi

  4. Laila berkata:

    ketawa terus baca cerpennya.

  5. wafiroh berkata:

    cerpenya bagussss

  6. wafiroh berkata:

    wah cerpennya bagus banget

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *