Falsafah Pelajaran Membaca
7 April 2022| | 0 Comment“Kura-Kura yang baik, ingatkah kamu sewaktu masih dalam telur? Kamu tidak pernah tahu dan tidak pernah dapat memilih tubuh dan cangkang, …” – Falsafah Pelajaran Membaca.
Oleh: Beri Hanna |
Pemenang Sayembara Novel Renjana 2020 dan pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2021. Jualan di @bukuodessa dan bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Falsafah Pelajaran Membaca.
Dengan menumpang perahu warga, sore itu saya sampai di Sarammun, bagian selatan Sungai Batang Hari.
Dusun kecil yang tersembunyi ini hanya bisa dicapai lewat orang-orang yang tahu jalur ke rawa-rawa, lalu sedikit berjalan kaki mendaki bukit dan pindah naik perahu lagi—yang lajunya menyamai jalan kungkang.
Kepala Dusun, yang saya tahu keturunan Rajo Amun sang pengarang—yang konon, dilahirkan Maritumbu saat ditenggelamkan di sungai, menyambut kedatangan saya. Nantinya saya tahu Maritumbu ditenggelamkan hanya karena ramalan ahli nujum: bahwa anak dalam kandungannya seorang yang dapat menulis cerita-cerita ajaib. Bahkan dia juga yang nantinya membunuh Maritumbu, setelah lebih dulu membunuh Rajo Banatarum yang tidak lain adalah bapak kandungnya pula.
Sepintas tentang hidup Rajo Amun, saya ketahui dari Kepala Dusun, dihabiskan untuk lari dari orang-orang yang ingin membunuhnya, terutama Rajo Banatarum. Sampai Rajo Amun tersesat di hutan—kini hutan itu menjadi Dusun Sarammun—dan menikahi perempuan yang tidak lain adalah ibu kandungnya, Maritumbu. Tak ada alasan menolak, lagi pula waktu itu Maritumbu tidak tahu Rajo Amun yang cepat tumbuh dewasa itu, anak yang lahir dari rahimnya.
Singkat cerita setelah mereka menikah, pada suatu hari ketika gerimis turun berkepanjangan, Rajo Amun bermimpi membunuh Rajo Banatarum. Maritumbu yang diberi tahu cerita mimpi itu tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari masa lalu yang langsung menyala bagai api, mengingat ramalan ahli nujum.
Tak ingin tersulut api menyala, cepat Maritumbu tersenyum. Sambil berlari ke belakang lalu muncul lagi sambil menyelipkan parang tumpul di pinggang Rajo Amun: semata-mata hanya ingin melihat kematian Rajo Amun, bukan Rajo Banatarum.
Sebelum pergi untuk membunuh Rajo Banatarum, Maritumbu sempat berbisik, bahwa yang membuatnya termenung dan khawatir adalah karena jauh hari mimpi itu juga pernah muncul dalam tidurnya.
Melepas kepergian dan berharap kabar kematian Rajo Amun menuntas segala kegelisahan justru menjadi kegelisahan yang menyiksa pikiran dan batin tidak dapat terbendung ketika melihat Rajo Amun muncul sambil menenteng mayat Rajo Banatarum. Saat itu semua kejadian semakin rumit dan tidak dapat terkendali. Tidak ada yang mampu diucap Maritumbu selain memasrahkan diri pada parang tumpul yang semula ia selipkan di pinggang Rajo Amun sekaligus anak kandungnya itu.
Seharusnya Rajo Amun mati sejak dulu. Sejak ahli nujum yang agung meramal semuanya. Tetapi, sesuai pula dengan ramalan ahli nujum, walaupun Maritumbu sudah berusaha membekali Rajo Amun dengan parang tumpul, entah bagaimana caranya, ramalan si ahli nujum ditutup dengan kematian Maritumbu.
Banyak lagi cerita tentang keganjilan-keganjilan, termasuk dongeng siluman-siluman lubang sumur di dalam sungai—tempat dimakamkan istri sekaligus ibu Rajo Amun, yang ia gali sendiri—dari kitab yang tersimpan.
Saya banyak diam ketika Kepala Dusun bercerita sambil membakar sebatang ranting seukuran pena yang sesekali diisapnya.
“Mau satu?” tanyanya sambil menyodorkan ranting itu.
Saya mengangguk sambil menerima ranting yang ditawarkan.
“Bakarlah,” katanya. | Falsafah Pelajaran Membaca – Beri Hanna
Saya bakar ranting itu seperti mengisap rokok. “Di luar sana,” kata saya mencairkan suasana, “orang-orang tidak tahu kalau ranting bisa jadi rokok.”
“Ini memang ranting rokok, bukan dari tembakau,” kata Kepala Dusun.
Saya mengangguk sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah saya bawa dari saku.
“Rokok apa ini?” tanya Kepala Dusun sambil memutar-mutar bungkus rokok itu untuk melihatnya dalam cahaya sore yang hampir gelap.
“Dji Sam Soe,” kata saya.
“Nanti kita coba.”
Saya tersenyum. Sementara itu, Kepala Dusun beranjak dan datang lagi dengan peti kayu yang tertutup rapat. Ia minta saya untuk membuka peti itu. Ada beberapa kertas usang yang tulisannya perlu dibaca dengan teliti. Beberapa bagian tidak jelas, rapuh karena usia.
“Jadi, akan diapakan ini nanti?” tanya Kepala Dusun.
“Akan saya salin ke kertas supaya dapat dibaca jelas.”
Kepala Dusun mengangguk sambil menyalakan api. Dalam nyala api merah, Kepala Dusun mulai membaca isi kertas dengan lantang dan, saya menuliskannya di atas kertas yang sudah saya bawa. Saya karang paragrafnya dan saya tambahkan sendiri untuk beberapa bagian yang dibaca Kepala Dusun dengan keraguan.
Kura-Kura Kitab Siluman Kebun Bukit Warun
Karangan Rajo Amun, tanpa tahun
“Dan ketahuilah bahwa neraka itu ada di dalam sumur. Itu menjijikkan;
“Aku telah menjilatnya. Aku telah memakan sebagiannya. Jangan kau lakukan apa yang aku lakukan, kecuali kau Siluman Batu Pinang.”
Setumpuk jenis-jenis burung di bawah langit asing yang kehilangan sayap mengangguk-angguk curiga.
“Siapa Siluman Batu Pinang?” tanya satu di antara burung-burung itu, entah kepada siapa.
Lalu Siluman Batu Garu menyahut, “Siluman Batu Pinang adalah siluman Batu Pinang dan tidak tergantikan oleh apa pun.”
Burung-burung sejenis bersatu padu, berdiri dan kembali mengangguk.
Di hamparan luas lubang sumur mendadak muncul cahaya redup. Siluman Lain dari gumpalan tiupan angin barat jatuh ke dalam sumur.
“Sungguh hitam;
“Sungguh hitam;
“Dan hitam di mana-mana dan hitam ada di mataku,” ucap Siluman Lain lalu berhenti ketika melihat seekor kura-kura.
“Maukah kamu mengambilkan aku sebuah kitab yang masih tersimpan?”
“Wahai siluman…. hmmm, tunggu. Siluman apakah engkau sesungguhnya?” tanya kura-kura itu.
“Aku adalah Siluman Lain;
“Sungguh hitam;
“Dan hitam ada di mana-mana dan hitam ada di mataku;
“Maukah kamu mengambilkan aku sebuah kitab….”
“Yang masih tersimpan? Hmmm. Mengapa kau mengulangi apa yang sudah kau katakan, Siluman Lain?”
“Jangan tanyakan itu;
“Sebab kau tahu, aku Siluman Lain;
“Sungguh hitam;
“Dan hitam……”
“Baiklah,” potong kura-kura.
Dan kura-kura itu melompat keluar. | Falsafah Pelajaran Membaca – Beri Hanna
“Asinnya aneh,” kata kura-kura dan meludah berkali-kali. “Ini bukan lagi air sumur.”
Kemudian si kura-kura terbang seperti capung menemui siluman Batu Garu.
“Akan aku ceritakan padamu tentang sesuatu; di bawah sumur ada siluman; dan siluman itu memohon permintaan. Tentu kau tahu apa permintaan itu.”
Dan Siluman Batu Garu memejamkan mata. Di permukaan sumur ia teteskan batu-batu yang meleleh dari air matanya.
“Apa artinya?” tanya kura-kura.
“Kau bisa melihatnya sendiri. Semua ini tidak berguna. Jangan kau paksa aku kembali ke gulungan angin. Carilah kitab itu dan bawalah pada Siluman Lain yang memintanya.”
Kura-kura mengangguk lalu terbang: kebingungan mencari kitab yang tersimpan. Kura-kura tidak tahu, jalan dalam pandangan matanya tercipta dari apa yang ia pikirkan atau memang telah ada di sana sebagai jalan yang sebenarnya dan, dapat dilihat oleh makhluk-makhluk lain.
Kura-kura diam memandangi jalan itu dan jalan itu terus bertambah panjang dan semakin panjang.
“Ini dia. Sesuatu yang membingungkan dari semuanya. Mengapa ada siluman-siluman ini dan mengapa ada? Mengapa ada jalan-jalan ini dan mengapa ada?”
Kura-kura terbang ke jalan itu dan burung-burung tanpa sayap mencegatnya.
“Janganlah kau pergi ke sana, wahai Kura-Kura. Kami tahu apa yang ada di sana: Matahari yang membakar.”
“Hai, Burung-Burung tanpa sayap. Tidakkah kalian lihat aku punya cangkang yang kuat!”
“Itu tidak cukup kuat.” | Falsafah Pelajaran Membaca – Beri Hanna
“Yakinkan aku dengan sesuatu, maka aku tidak akan pergi ke sana.”
Dua ekor burung di antara burung lain yang tidak memliki sayap, mengangguk lalu bergerak untuk mencapit daun lontar pada dua ujungnya sehingga terbentang dan tampaklah tulisan:
Lupakanlah mimpi.
Lupakanlah dirimu sendiri.
Lihatlah ke dalam dan jangan ke luar.
Sandarkanlah dirimu pada dirimu yang ada di dalam;
yang kau lihat;
tidak lewat mimpi;
tidak dengan kesadaran atas dirimu.
Dan dirimu, dirimu, ada di dalam dirimu dan terlupakan.
Gantungkanlah aku pada ujung pandanganmu.
“Mengertikah engkau wahai seekor Kura-Kura?” satu burung lain bertanya.
“Bahkan tidak sama sekali!” jawab kura-kura.
“Baiklah. Mendongaklah engkau dan lihatlah langit itu;
“Bukankah ini negeri khayalan di mana gajah-gajah dapat terbang? Ketahuilah gajah-gajah itu akan mati setelah terbang dan jatuh karena asap langit bagaikan batu tajam. Sarang-sarang, batu bertumpuk sebagai benteng dan jalan-jalan akan terus berdiri, merapat, tumpang tindih dan menyemak, seperti retakan kulit di tumit manusia. Sedangkan kita, terus berjarak dan merangkak. Mengertikah kamu, wahai Kura-Kura?”
“Tidak.”
“Baiklah. Lihatlah ke bawah. Bukankah dirimu ada karena ibu, bapak, nenekmu sebelumnya lebih dulu ada? Sadarilah matamu buta menjadi telinga;
“Telingamu tuli menjadi hidung;
“Hidungmu tersumbat menjadi lidah;
“Lidah dan bibirmu telah menjilat langit dan menjadi tubuh;
“Kakimu melangkah ke arah yang salah dan, kamu membiarkannya terus melangkah, menemukan garis ke sela-sela perut;
“Jangan tuntun kaki ke sana, sebab kami tahu di sana matahari membakar.”
Meski tidak paham dengan semuanya, kura-kura itu terbang merendah, masuk ke dalam sumur.
“Sungguh hitam,” gumam kura-kura.
Di sana kura-kura dan Siluman Lain kembali bertemu.
“Aku tahu meski aku hampir tertidur. Kau kembali karena tidak berhasil menemukan kitab itu.”
“Kau benar, Siluman Lain. Bahkan jalan-jalan yang aku lihat tidak menjamin kitab itu tersimpan di sana.”
“Baiklah, wahai Kura-Kura;
“Perhatikanlah mataku dan janganlah berkedip. Ada dirimu, dirimu, dan dirimu yang lain di dalam mataku.”
“Mengapa tiga?” | Falsafah Pelajaran Membaca – Beri Hanna
“Karena dirimu lebih dari diri yang kamu miliki;
“Jangan lihat matahari ketika tenggelam tapi lihatlah buah kelapa di antara pohonnya yang tumbuh di kebun bukit warun;
“Janganlah bertanya di mana kebun bukit warun dan jangan pula bertanya apa yang ditanam di kebun bukit warun”
“Baiklah,” kata kura-kura pasrah lalu menyuruk dalam cangkangnya.
Kura-kura melupakan asin sumur, hitam yang sungguh, dan siluman-siluman.
Kura-kura mendadak melihat satu burung tanpa ekor dan sayap, berdiri di antara semak. Ia bertanya, mengapa burung dapat berdiri dan tidak bisa bernyanyi. Mengapa burung itu hanya diam. Lama termenung, sadarlah si kura-kura bahwa si burung telah terkutuk untuk menjadi jahat: meracuni apa-apa dengan semburan air wabah yang mengembangbiakkan siluman-siluman.
“Maka hiduplah siluman, tumbuhlah dan hiduplah;
“Wahai Kura-Kura yang baik, janganlah kau lihat ke arahku, cukuplah kau pejamkan matamu dan dengarkan suaraku;
“Akan aku ceritakan padamu tentang kematian;
“Dia datang malam itu membuka percakapan dengan dirinya yang lain;
“Di hadapan permukaan sungai aku bertanya, benarkah itu dirinya yang lain? Dan bagaimanakah itu?;
“Memang sudah beberapa hari ini aku terganggu dengan kemunculan tubuh asing yang mengaku pernah bermimpi menjadi manusia;
“Ia selalu datang dan mengatakan hal yang sama. Tentu saja aku tidak pernah melihatnya dan sebab itu pula aku merasa bahwa ia bukanlah manusia melainkan sosok yang dulu pernah menjadi manusia, sama seperti aku;
“Tidak ada orang selain dia yang mampu melakukan ini. Dan untuk itu, dia datang dengan diri yang lain lalu membuka percakapan seperti yang dia dengarkan malam itu: ‘Akan aku ceritakan padamu tentang kematian.’;
“Kura-Kura yang baik, ingatkah kamu sewaktu masih dalam telur? Kamu tidak pernah tahu dan tidak pernah dapat memilih tubuh dan cangkang, begitu juga dengan dia, dia, dan dia yang ada di mana pun;
“Setelah kamu memecahkan telur lalu tumbuh dan bergerak, barulah pemahaman itu muncul. Padahal, waktu terkungkung dalam telur, kita sesungguhnya telah membuat perjanjian dengan yang Maha Mencipta;
“Bahwa tubuh yang telah dipilih akan menemani nyawa untuk menyembah-Nya. Namun, semua ingatan tentang itu dihapuskan sebelum kita melihat dunia, dan yang tersisa hanya keinginan untuk berdosa;
“Mengapa demikian? Carilah jawabannya di dalam kitab yang masih tersimpan. Pergilah. Temui setiap burung bersayap, jangan tertipu dengan burung tanpa sayap. Lepaskan burung bersayap dan ikutilah ke mana ia pergi.”
Kura-kura tersadar dan termenung dalam kenangan hitam dan asin. Tidak ada yang bisa dilakukan kura-kura saat melihat dia telah duduk di hadapan bening air sungai.-
| Falsafah Pelajaran Membaca – Beri Hanna
“Itu penutupnya,” kata Kepada Dusun.
Saya termenung sesaat. “Kitab yang masih tersimpan?” tanya saya, memecah kebisuan.
Wajah Kepala Dusun tampak menyembunyikan sesuatu.
“Kebenaran dan kepalsuan tumbuh bertumpang tindih,” kata Kepala Dusun dengan suara berat.
“Apa maksudnya?”
“Kebenarannya, kamu orang ke sekian yang menyalin tulisan Rajo Amun. Bulan lalu ada yang datang kemari untuk melihat parang tumpul Rajo Amun.”
“Dan kepalsuannya?”
Kepala Dusun diam sejenak. Ia mengisap ranting dalam-dalam dan mengembuskan asapnya secara perlahan.
“Mau satu lagi?” tanya Kepala Dusun menyodorkan ranting. Saya ambil satu ranting, saya bakar dan isap seperti tadi.
Saya mulai curiga. Saya pecah kebisuan dengan menanyakan risiko mengisap rokok ranting dan Kepala Dusun bilang tidak ada. Saya beri tahu kalau merokok tembakau ada risikonya. Dia tanya apa? Saya jelaskan sudah tertulis di bungkus rokok. Dia tertawa dan saya tanya apa yang lucu, dia menjawab dengan kepala tertunduk, kita tidak sedang belajar membaca. Saya mengumpat dalam hati. Seharusnya saya punya parang tumpul dan bisa saya gunakan untuk apa saja.***
Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung |
Baca juga:
– Cerpen Jean Giono – Salib
– Cerpen A. Waritz Rovi – Kesaksian Mata Cecak
